Pelatihan Pemuda Pelopor, Radikalisme dan Ustadz Instan

Suasana usai Pelatihan Pemuda Pelopor.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Fenomena keagamaan yang terjadi di bangsa kita akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Sebab di era milenial dewasa ini, semua orang dengan kemudahan akses tekhnologi yang begitu canggih. Siapapun mudah mengakses informasi dari internet. Baik itu informasi tentang berita, belajar agama, kumpulan ceramah agama pun dengan mudah kita dapatkan.

Dalam momentum acara Pelatihan Pemuda Pelopor yang diselenggarakan secara nasional oleh Dewan Koordinasi Nasional Gerakan Kebangkitan Santri (Gerbang Santri) dengan menggandeng Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (KEMENPORA RI) mengangkat tema "Membangun Kepemimpinan dan Patriotisme Pemuda dalam Menangkal Radikalisme".

Acara ini di gelar secara nasional hampir  seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Acara yang sama juga diselenggarakan di Masjid Rodhatul Huda, Celeban, Umbulharjo, Kota Yogyakarta pada tanggal 11 Desember 2017, jam 19.30 - selesai.

Panitia lokal dalam acara ini adalah Persatuan Remaja Masjid Jogjakarta (PRMJ), menggandeng Takmir Masjid Roudhatul Huda Celeban dan Remaja Masjidnya.

Dari Pelatihan Pemuda Pelopor ini ada hal yang menarik yang Penulis tangkap dari pemarapan pemateri tentang radikalisme. Radikalisme ini selalu menyasar rata-rata di kalangan anak muda untuk di rekrutnya. Karena pemuda dipandang strategis untuk memasifkan paham tersebut, dan biasanya hal semacam ini hanya terjadi di kota-kota.

Koordinator Nasional Densus 26 Nahdlatul Ulama Umaruddin Masdar yang tampil sebagai salahsatu pemateri dalam acara ini menyampaikan banyak hal yang berkaitan dengan radikalisme dan hal-hal penting lainnya. Dibawah ini akan coba Penulis uraikan ulang yang disampaikan kang Umar (sapaan akrab Umaruddin Masdar), sebagai berikut.

 Pertama, mereka (orang-orang) yang langsung belajar Al-Quran dan hadits dengan terjemahannya tanpa mempelajari tentang ilmu yang lainnya seperti ilmu hadits dan harus ada bimbingan dari guru yang jelas untuk menjelaskan tentang Qur'an dan hadits tersebut, supaya pemahaman kita terhadap teks tidak dangkal dalam menangkap makna-makna yang terkandung di dalamnya.

Kedua, belajar agama secara instan akan membuat sesorang atau kelompok itu mudah menghalal dan mengharamkan sesuatu, mudah mengkafirkan, mencaci dan membenci yang lainnya. Ini di ibaratkan seperti sebuah pernikahan kalau hanya sekedar bertemu di medsos atau baru (belum lama kenalnya), kebanyakan akan cepat berpisah pula. Sebab segala sesuatu yang instan itu efeknya lebih berbahaya. Seperti halnya mie instan ketika kita makan terlalu banyak aka membuat kita sakit.

Ketiga, dalam memahami agama tidak cukup dengan terjemahankannya tanpa kita mempelajari bahasa arab dan tata makna bahasa arab lainnya. Kita akan mempunyai pemahaman yang dangkal dan tidak bisa menunjukkan bahwa islam itu adalah agama yang damai, agama yang suci dan mampu merangkul semua manusia. Bukan kah di mata Tuhan yang membedakan manusia adalah takwa dan tidaknya. Ini ketika kita melihat yang terjadi dewasa ini, seperti halnya jauh panggang dari api.

Ulama-ulama besar dulu, kalau belajar agama bertahun-tahun, dan langsung di bimbing oleh kyai-nya. Nah, berbeda kondisinya dengan sekarang, dewasa ini orang dengan mudahnya mendapatkan gelar ustadz dan bisa memberikan ceramah kepada jamaah, padahal dia belajar dimana? Berguru sama siapa? Kok tiba-tiba jadi ustadz dadakan bermodalkan peci dan sorban cukup untuk menjadi ustadz.

Apa yang digambarkan diatas, tidak jarang terjadi pada dewasa ini, adanya caci maki dan ujaran kebencian. Sebagai muslim, seharusnya tidak demikian, seharusnya kita terus menyuarakan kedamaian dan keteduhan dalam bertutur kata. Sikap demikian, mungkin akibat kedangkalan berpikirnya. Sehingga tidak paham apa agama Islam yang seutuhnya. Seharusnya dalam berdakwah kita harus mampu memberikan kesejukan dan kedamaian kepada siapa pun, termasuk yang bukan agama Islam. Padahal kalau kita melihat kembali bagaimana cara berdakwah Rasulullah SAW yang begitu luar biasa, jangan kan sesama muslim, non muslim pun akan dia do'a kan yang baik. Seperti yang di uraikan oleh ustadz Usman, dalam sebuah kisahnya Rasulullah SAW ketika berdakwah sering di jahili oleh Abu Lahab dan suruhannya, terkadang di ludahi dan dicerca berbagaimacam penghinaan lainnya, tapi tindakan Rasulullah malah mendoakan yang baik-baik untuk Abu Lahab.  Rasulullah menganggap, biar pun Abu Lahab tidak mau masuk Islam, setidaknya ada anak cucunya nanti yang masuk Islam. Pada akhirnya, ketika Abu Lahab meninggal dunia, ada anaknya yang ahli perawi hadits. Begitu mulianya cara berdakwah Rasulullah.

Sebagai seorang muslim yang baik, kita harus mensyukuri nikmat Tuhan yang telah menganugerahkan Negeri Indonesia tercinta ini dengan semua kekayaan alam dan juga manusianya. Mari kita cintai sepenuh hati bangsa dan Negara ini, kita tebarkan kedamaian yang hakiki.

Adanya kegiatan Pelatihan Pemuda Pelopor ini juga disambut baik oleh Ketua Umum Persatuan Remaja Masjid Jogjakarta (PRMJ) M. Jamil, S.H., ia mengatakan adanya kegiatan ini bisa menjadi salahsatu benteng pemuda biar tidak gampang terpengaruh oleh paham-paham radikalisme.

"Acara ini sangat baik kita sambut untuk remaja masjid dan pemuda, karena di usia muda sangan rawan dimasuki beragam pemahaman, sebelum terjangkiti paham radikal, perlu pemurnian pemaknaan dalam memahami Islam, agar pemuda tidak memaknai islam secara sempit. Karena sejatinya Islam adalah rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Sebagai pemuda, mari kita jaga bersama kemurnian kita dalam memaknai Islam, dan juga kita jaga bersama bangsa dan negara ini dari penyebaran paham radikalisme," ucap M. Jamil yang juga sebagai Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Kota Yogyakarta.

Kegiatan tersebut, selain dihadiri 50 peserta, turut dihadiri juga oleh Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solikhul Hadi, Ketua Pengurus Cabang LESBUMI NU Kota Yogyakarta Ricco Survival Yubaidi, Ketua Remaja Masjid Celeban M. Tholib, Wartawan Senior Rochmad, dan Pengurus Cabang Fatayat NU Kota Yogyakarta Saniyatun.


Penulis: Hairul Rizal, S.H.
Pengurus LKBH Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta / Salahsatu Peserta Pelatihan Pemuda Pelopor

Legenda Dae La Minga akan Tampil dalam Acara Selendang Sutera 2017, Yuk Saksikan!

Yogyakarta, FIMNY.or.id -- Selendang Sutera merupakan sebuah acara pertunjukan beragam kesenian Budaya dari berbagai daerah mulai dari sabang sampai merauke salah satunya di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya Bima. Acara ini di persembahkan oleh Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia (IKPMDI) Yogyakarta. Dalam Acara ini, Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa NTB mempertunjukan salah satu cerita Rakyat yaitu tentang Legenda Dae La Minga yang akan di tampilkan pada (12/11/2017) besok di XT Square mulai jam 20.00 WIB.

“Besok IKPM NTB akan menampilkan sebuah drama ataupun Tari dari daerah Bima, yang dimana pentas ini merupakan salah satu kontribusi mahasiswa Bima pada wilayah tradisi dan kebudayaan. Walaupun pentas ini untuk memenuhi undangan dinas kebudayaan DIY lewat IKPMDI Yogyakarta, dan IKPMDI Yogyakarta mengkomunikasikan dengan IKPM dari berbagai dari 34 provinsi. IKPM NTB yang diwakili oleh KEPMA Bima-Yogyakarta. Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu ini Menampilkan tarian Legenda Dae La Minga yang di mana dalam cerita Dae La Minga ini di dalamnya terdapat tarian-tarian juga antara lain Tari wura bongi monca (Tarian Selamat Datang), Tari Dae La Minga dan Mpa’a Gantao (Silat Bima). Dengan adanya acara ini semoga kedepannya acara ini bisa di laksanakan oleh kita sendiri tentunya dengan dukungan dari semua elemen masyarakat, terutama pemerintah daerah Bima dan NTB maupun oleh para pemuda-pemuda yang peduli dengan tradisi dan Budayanya.” kata Agus Salim selaku Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta/IKPM NTB.     

Adapun sekilas Cerita tentang Legenda Dae Laminga ini yaitu di sebuah desa terdapat sebuah kerajaan bernama kerajaan Sanggar yang di pimpin oleh Ruma Sangaji, dan Ruma Sangaji mempunyai seorang anak gadis yang sangat cantik jelita bernama Dae La minga. Disuatu hari kesultanan sanggar menyelenggarakan sebuah pesta yang di hadiri oleh seluruh warga sanggar dan tamu-tamu kerajaan. Adapun dua tamu kerajaan atau pangeran kerajaan  yang hadir pada pesta itu antara lain pangeran-pengeran dari kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora. Dari kedua Pangeran kerajaan ini ingin mempersuntik Dae Minga dan mereka pun berselisih, melihat suasanya seperti itu Dae la Minga memilih untuk mengasingkan diri ke moti la Halo, sebelum di asingkan ke moti la Halo, Dae Minga melakukan tarian perpisahan bersama dayang-dayangnya, sehabis tarian itu Dae Minga mininggalkan sumpah. Adapun inti dari sumpah itu, Al Imanuddin menyebutkan, “Wahai seluruh warga sanggar, biarlah aku yang mengalami nasib seperti ini jangan lagi kalian, pesona dan kecantikan akan ku bawa semua, jika hanya untuk mengundang kerusuhan buanglah saya ke moti la Halo.” kata Al Imanuddin sekalu koordinator cerita legenda Dae La Minga saat memperagakan ulang kisah tersebut.

Mari kita sama-sama dukung pelestarian kebudayaan dan kesenian daerah di seluruh nusantara, salahsatu caranya dengan ikut meriahkan, datang menonton dan memberikan semangat, yuk besok kita rame-rame bergegas menonton pertunjukannya.


Penulis: Siti Hawa
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemudi asal Bima NTB.

Puncak HSN di DIY, Gunungan Daun Jati Warnai Gerebeg Santri

Gunungan juga meriahkan grebeg santri. 
Yogyakarta, FIMNY.or.id -- Rangkaian peringatan hari santri nasional (HSN) 2017 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY)  berlangsung meriah Minggu (29/10) sore.

Sebagai acara puncak, HSN di DIY diwarnai Kirab Gerebeg Santri. Kirab ini terlaksana di sepanjang Jalan Malioboro dengan titik start dari Gedung DPRD DIY dan finish di Alun-Alun Utara. Peserta kirab terdiri perwakilan pesantren yang ada di DIY.  Total ada 33 kafilah yang ikut dalam kirab Gerebeg Santri tahun ini.

Beragam hal unik yang ditampilkan peserta sebagai koreografi dan kreatifitas, salahsatu diantaranya gunungan tumpeng ukuran jumbo yang dibuat dengan daun jati.

Banyak elemen yang ikut ramaikan jadi peserta, mayoritasnya dari pondok pesantren serta Lembaga dan Banom NU se-DIY.

Perwakilan pesantren antara lain Ulul Albab, Nurul Ummah Putri, Nurul Ummahat, Hidayatul Mubtadi-ien, Albaroqah, Al Munnawir dan Ali Maksum, Al Imdad, Nurul Iman, Nurul Haromain, As Salafiyah, Aswaja Nusantara, Sunan Pandanaran, dan Al Mumtaz.

Selain pesantren, ada juga perwakilan dari elemen organisasi dibawah NU. Seperti Muslimat, GP Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, PMII, Pagar Nusa, LP Maarif, LAKPESDAM dan lain-lain. "Jumlah Peserta kirab sekitar 3 ribu orang," ujar Ketua Panitia HSN DIY KH Muhammad Labib.

Dijelaskan Labib para peserta kirab tidak hanya berjalan menyusuri Jalan Malioboro saja. Setiap kafilah kirab, juga mengusung tema dan dipentaskan sepanjang perjalanan. "Tema yang diusung antara lain keberagaman, kebhinnekaan, tokoh NU dan dunia serta menampilkan kesenian khas pesantren," ungkap Labib. **

HSN di DIY, Kirab Gerebeg Santri jadi Puncak Kegiatan

Perayaan HSN di DIY. 
Yogyakarta, FIMNY.or.id -- Rangkaian peringatan hari santri nasional (HSN) 2017 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilaksanakan pada Minggu (29/10).

Sebagai acara puncak, akan digelar Kirab Gerebeg Santri. Kirab akan dilaksanakan di sepanjang Jalan Malioboro dengan mengambil start dari Gedung DPRD DIY dan finish di Alun-Alun Utara. Peserta kirab terdiri perwakilan pesantren yang ada di DIY. Antara lain Al Munnawir dan Ali Maksum (Krapyak), Al Imdad, Nurul Iman (Bantul), Nurul Haromain, Pesawat (Kulonprogo), As Salafiyah (Mlangi), Sunan Pandanaran dan Darul Yatama (Sleman), Al Mumtaz (Gunungkidul), Ulul Albab (Kota Yogyakarta), Nurul Ummah Putra/Putri (Kota Yogyakarta), Hidayatul Mubtadi-ien (Kota Yogyakarta), Albarokah (Kota Yogyakarta), dan sebagainya. Selain itu, ada juga perwakilan dari elemen organisasi dibawah NU. Seperti Muslimat, GP Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, PMII, Pagar Nusa, LP Maarif, LAKPESDAM dan lain-lain. "Jumlah Peserta kirab sekitar 3 ribu orang," ujar Ketua Panitia HSN DIY KH Muhammad Labib belum lama ini (26/10/2017).

Dijelaskan Labib para peserta kirab tidak hanya berjalan menyusuri Jalan Malioboro saja. Setiap kafilah kirab, akan mengusung tema dan dipentaskan sepanjang perjalanan. "Sekadar bocoran saja, tema yang diusung antara lain keberagaman, kebhinnekaan, tokoh NU dan dunia serta menampilkan kesenian khas pesantren," ungkap Labib.

Labib menjelaskan setelah selesai kirab, para peserta akan berkumpul di Alun-Alun Utara untuk mengikuti sesi pengumuman pemenang. "Kirab akan dinilai dan yang terbaik akan mendapatkan uang pembinaan," serunya sambil menjelaskan ada juga doorprize yang disediakan untuk peserta.

Koordinator acara Gus Zar'anudin menambahkan selain kirab, puncak HSN DIY juga akan diwarnai dengan pengibaran bendera di Puncak Merapi. Bendera yang dikibarkan yakni Merah Putih, Nahdlatul Ulama dan Ayo Mondok.

Ada sekitar 30 orang santri pecinta alam yang akan ikut dalam pengibaran bendera ini. "Dijadwalkan pengibaran bendera dilakukan pagi hari pas terbitnya matahari dengan terlebih dulu dilakukan upacara bendera," teranganya.

Rangkaian acara HSN DIY sebenarnya sudah dimulai sejak awal Oktober lalu. Beberapa kegiatan yang sudah digelar antara lain Sarasehan Pesantren di PP Al Mumtaz dan Al Munnawir serta Turnamen Futsal antar Santri yang digelar di Pyramid Futsal.

Selain di DIY, peringatan HSN juga sudah digelar oleh pengurus NU di Kabupaten dan Kota. Kegiatan meliputi upacara bendera, kirab, expo santri, lomba melukis untuk siswa PAUD dan TK serta lomba fashion show dan paduan suara untuk ibu-ibu muslimat. (*)

Dinas Kebudayaan DIY Gelar Kemah Budaya


Suasana kemah budaya. 
Yogyakarta, FIMNY.or.id -- Akhir-akhir ini ada beragam kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satunya "Kegiatan Kemah Budaya".

Tahun ini Dinas Kebudayaan DIY menggelar kembali "Kemah Budaya" yang berlangsung di desa wisata kaki langit Magunan, Dligon Bantul, DIY pada tanggal 9-13 Oktober 2017 dengan peserta yang dihadirkan kurang lebih 120 orang dari berbagai macam IKPMD se-Nusantara.

Kemah Budaya kali ini mengangkat tema ”Semangat Bhineka Tungggal Ika Sebagai Modal Pembangunan Nasional" salahsatu tujuan digelarnya kemah budaya ini adalah untuk menanamkan nilai sejarah, kebangsaan dan kebudayaan kepada generasi penerus bangsa, seperti pesan Soekarno "JAS MERAH", jangan pernah melupakan sejarah.

Ketua Dinas Kebudayaan Bpk. Drs. H. Umar Priyono, M.Pd. membuka acara secara resmi "Kemah Budaya" yang dalam sambutannya, menjelaskan bahwa kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat, meskipun berbeda tapi tetap satu jua (Bhineka Tunggal Ika)," paparnya.

Dalam Kemah Budaya dilakukan berbagai kegiatan menarik yang sesuai dengan penguatan nilai pembangunan, ekonomi dan penanaman nilai budaya. Kegiatan tersebut antara lain penyampaian materi-materi guna mencairkan otak para peserta, materi tersebut di bawakan oleh orang-orang terbaik lulusan dari dalam dan luar negeri salah satunya KH. Abdul Muhaimin, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Kotagede, Yogyakarta. Sang kyai ini membawakan materi yang sangat luar biasa, selain itu juga ada berbagai macam permainan, jelajah wisata budaya, serta malam inagurasi.

Itulah rangkaian kegiatan yang dilakukan peserta selama berkemah. Selain disuguhi dengan berbagai kegiatan, banyak juga kesan menarik yang melingkup didalamnya, seperti banyak teman, banyak mengenal budaya dan macam-macam pengalaman lainnya.


Penulis: Jumratun
Mahasiswa asal Bima, NTB / Mahasiswi STIPRAM Yogyakarta 

PCNU Kota Yogya gelar Apel Hari Santri Nasional, Kapolresta Hadir jadi Inspektur Upacara

Kapolresta Yogyakarta memberikan amanat saat apel Hari Santri Nasional yang diselenggarakan PCNU Kota Yogyakarta.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pengurus Cabanng Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta menggelar Apel Upacara dalam rangka memperingati Hari Satri Nasional yang diselenggarakan pada hari Minggu, 22 Oktober 2017 di halaman Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede Yogyakarta.

Hari ini, bertepatan pada Hari Minggu, 22 Oktober 2017, merupakan tahun ketiga Keluarga Besar Nahdlatul Ulama serta seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Hadirnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriyah merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Munculnya pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945. Masa silam, di hadapan konsul-konsul Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura, bertempat di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama di Jl. Boeboetan VI/2 Soerabaja, Fatwa Resolusi Jihad NU digaungkan dengan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan seluruh jiwa dan raga yang mendengarnya hingga orang yang membacanya saat ini: 

“..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).” begitu suara lantang Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari kala itu.

Untuk menghidmatkan suasana hari santri tahun ini, Pengurus Cabang NU Kota Yogyakarta menggandeng Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Tommy Wibisono, S.Ik. untuk menjadi Inspektur Upacara Hari Santri Nasional.

Dalam kesempatan memberikan amanat, Kapolresta Yogyakarta mengharapkan kepada seluruh santri untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya masing-masing dengan cara belajar dan menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh biar semakin leluasa berkontribusi nyata untuk Indonesia. 

“Saya harap para Santri menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh agar negara kita semakin hebat kedepanya,” katanya dengan penuh semangat dan lantang.

Selain itu, dalam momentum tersebut Kapolresta Yogyakarta juga mengingatkan kepada santri agar menjauhi dan tidak terpengaruh oleh narkoba, karena narkoba hanya merusak masa depan pribadi dan masa depan bangsa ini. Jadi, katanya santri harus mengisi hari-harinya dengan kegiatan-kegiatan positif dan berkontribusi nyata untuk pembangunan bangsa dan negara Indoneisa. 

“Para santri jangan terpengaruh kearah negatif, apalagi memakai narkoba, dan diharap mengisi kegiatan dengan hal positif yang membuat maju Indonesia” pungkasnya.

Selain menyampaikan amanat atasnama Kapolresta, Tommy Wibisono juga membacakan amanat dari PBNU, dalam amanat PBNU tersebut Tommy mengatakan bahwa negara kita terbingkai dalam Bhineka Tunggal Ika, jangan ada yang saling diskriminasi apalagi berdasarkan SARA. “NKRI adalah negara-bangsa, yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan,” jelasnya.

Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manisia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Kota Yogyakarta yang juga sebagai ketua Panitia Pelaksana Hari Santri Nasional PCNU Kota Yogyakarta M. Jamil, S.H., mengucapkan syukur dan bangganya karena acara apel Hari Santri Nasional khidmad diselenggarakan. “Alhamdulillah apel Hari Santri Nasional hari ini tidak mengecewakan, semua berjalan lancar tanpa hambatan, walau persiapannya kami rasa belum maksimal, namun sangan luarbiasa ramai dan khidmah pada saat pelaksanaannya, ini merupakan kuasa dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang tak terbantahkan,” ucap M. Jamil, S.H., usai apel upacara hari santri digelar.

Selain itu, lelaki yang juga sebagai mahasiswa Magister Kenotariatan UGM ini juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh elemen yang turut andil mensukseskan acara apel hari santri. “Saya sebagai ketua panitia pelaksana, mengucapkan terimakasih banyak pada seluruh jajaran Panitia, pengurus PCNU Kota, Banom (Fatayat, Muslimat, Ansor Banser, IPNU-IPPNU, dan lainnya), Lembaga NU (LAKPESDAM, LP-NU, LP Ma’rif, LAZISNU, dan lainnya), pemerintah (jajaran Polsek Kotagede, Polresta Yogyakarta, Kemenag Kota, Dandim, Pejabat Kecamatan, dan lainnya), seluruh peserta baik dari unsur pesantren maupun unsur sekolah, serta seluruh elemen lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Tanpa ada kekompakan seluruh elemen yang dimaksud, mustahil acara ini terselenggara dan semeriah ini,” cetusnya.

Hadir juga dalam acara tersebut, Ketua Tanfidziah PCNU Kota Yogyakarta, H. Ahmad Yubaidi, S.H., M.H., Rois Suriyah PCNU Kota Yogyakarta KH. Munir Syafa’at, beserta seluruh jajaran pengurus PCNU Kota Yogyakarta. Seluruh jajaran pengurus Lembaga dan Banom NU se-kota Yogyakarta, Jajaran Pengurus PWNU DIY, Jajaran Polsek Umbulharjo, Jajaran Polresta Yogyakarta, Jajaran Dandim Kota Yogyakarta, Jajaran Kemenag Kota Yogyakarta, PP Nurul Ummah Putri, PP Nurul Ummah Putra, PP Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien, PP Ulul Albab Balirejo, PP Minhajul Tamyiz, PP serta SMP-SMA Ali Maksum Krapyak, PP Lukmaniyah, PP Al-Islam, PP Al-Barokah, PP M. Muslimin, PP Nurul Ummahat, MA Nurul Ummah, SMK Ma’arif Yogyakarta, SMP Ma’arif Yogyakarta, SMA Ma’arif Yogyakarta, dan seluruh elemen lainnya.

Lebih dari seribu peserta memadati halaman PP Nurul Ummah Putri, dengan berseragam peci hitam, baju putih, sarungan bagi yang putra. Jilbab hitam, baju putih dan bawahan hitam bagi yang perempuan, serta khidmad melaksanakan seluruh rangkaian acara apel Hari Santri Nasional. (Sumber)
Suasana Saat Apel Hari Santri PCNU Kota Yogyakarta.

PCNU Kota Yogya gelar Apel HSN, Kapolresta Hadir jadi Inspektur Upacara

Kapolresta Yogyakarta memberikan amanat saat apel Hari Santri Nasional yang diselenggarakan PCNU Kota Yogyakarta.
Yogyakarta, FIMNY.or.id – Pengurus Cabanng Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta menggelar Apel Upacara dalam rangka memperingati Hari Satri Nasional yang diselenggarakan pada hari Minggu, 22 Oktober 2017 di halaman Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede Yogyakarta.

Hari ini, bertepatan pada Hari Minggu, 22 Oktober 2017, merupakan tahun ketiga Keluarga Besar Nahdlatul Ulama serta seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Hadirnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriyah merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Munculnya pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945. Masa silam, di hadapan konsul-konsul Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura, bertempat di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama di Jl. Boeboetan VI/2 Soerabaja, Fatwa Resolusi Jihad NU digaungkan dengan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan seluruh jiwa dan raga yang mendengarnya hingga orang yang membacanya saat ini: 

“..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).” begitu suara lantang Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari kala itu.

Untuk menghidmatkan suasana hari santri tahun ini, Pengurus Cabang NU Kota Yogyakarta menggandeng Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Tommy Wibisono, S.Ik. untuk menjadi Inspektur Upacara Hari Santri Nasional.

Dalam kesempatan memberikan amanat, Kapolresta Yogyakarta mengharapkan kepada seluruh santri untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya masing-masing dengan cara belajar dan menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh biar semakin leluasa berkontribusi nyata untuk Indonesia. 

“Saya harap para Santri menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh agar negara kita semakin hebat kedepanya,” katanya dengan penuh semangat dan lantang.

Selain itu, dalam momentum tersebut Kapolresta Yogyakarta juga mengingatkan kepada santri agar menjauhi dan tidak terpengaruh oleh narkoba, karena narkoba hanya merusak masa depan pribadi dan masa depan bangsa ini. Jadi, katanya santri harus mengisi hari-harinya dengan kegiatan-kegiatan positif dan berkontribusi nyata untuk pembangunan bangsa dan negara Indoneisa. 

“Para santri jangan terpengaruh kearah negatif, apalagi memakai narkoba, dan diharap mengisi kegiatan dengan hal positif yang membuat maju Indonesia” pungkasnya.

Selain menyampaikan amanat atasnama Kapolresta, Tommy Wibisono juga membacakan amanat dari PBNU, dalam amanat PBNU tersebut Tommy mengatakan bahwa negara kita terbingkai dalam Bhineka Tunggal Ika, jangan ada yang saling diskriminasi apalagi berdasarkan SARA. “NKRI adalah negara-bangsa, yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan,” jelasnya.

Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manisia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Kota Yogyakarta yang juga sebagai ketua Panitia Pelaksana Hari Santri Nasional PCNU Kota Yogyakarta M. Jamil, S.H., mengucapkan syukur dan bangganya karena acara apel Hari Santri Nasional khidmad diselenggarakan. “Alhamdulillah apel Hari Santri Nasional hari ini tidak mengecewakan, semua berjalan lancar tanpa hambatan, walau persiapannya kami rasa belum maksimal, namun sangan luarbiasa ramai dan khidmah pada saat pelaksanaannya, ini merupakan kuasa dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang tak terbantahkan,” ucap M. Jamil, S.H., usai apel upacara hari santri digelar.

Selain itu, lelaki yang juga sebagai mahasiswa Magister Kenotariatan UGM ini juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh elemen yang turut andil mensukseskan acara apel hari santri. “Saya sebagai ketua panitia pelaksana, mengucapkan terimakasih banyak pada seluruh jajaran Panitia, pengurus PCNU Kota, Banom (Fatayat, Muslimat, Ansor Banser, IPNU-IPPNU, dan lainnya), Lembaga NU (LAKPESDAM, LP-NU, LP Ma’rif, LAZISNU, dan lainnya), pemerintah (jajaran Polsek Kotagede, Polresta Yogyakarta, Kemenag Kota, Dandim, Pejabat Kecamatan, dan lainnya), seluruh peserta baik dari unsur pesantren maupun unsur sekolah, serta seluruh elemen lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Tanpa ada kekompakan seluruh elemen yang dimaksud, mustahil acara ini terselenggara dan semeriah ini,” cetusnya.

Hadir juga dalam acara tersebut, Ketua Tanfidziah PCNU Kota Yogyakarta, H. Ahmad Yubaidi, S.H., M.H., Rois Suriyah PCNU Kota Yogyakarta KH. Munir Syafa’at, beserta seluruh jajaran pengurus PCNU Kota Yogyakarta. Seluruh jajaran pengurus Lembaga dan Banom NU se-kota Yogyakarta, Jajaran Pengurus PWNU DIY, Jajaran Polsek Umbulharjo, Jajaran Polresta Yogyakarta, Jajaran Dandim Kota Yogyakarta, Jajaran Kemenag Kota Yogyakarta, PP Nurul Ummah Putri, PP Nurul Ummah Putra, PP Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien, PP Ulul Albab Balirejo, PP Minhajul Tamyiz, PP serta SMP-SMA Ali Maksum Krapyak, PP Lukmaniyah, PP Al-Islam, PP Al-Barokah, PP M. Muslimin, PP Nurul Ummahat, MA Nurul Ummah, SMK Ma’arif Yogyakarta, SMP Ma’arif Yogyakarta, SMA Ma’arif Yogyakarta, dan seluruh elemen lainnya.

Lebih dari seribu peserta memadati halaman PP Nurul Ummah Putri, dengan berseragam peci hitam, baju putih, sarungan bagi yang putra. Jilbab hitam, baju putih dan bawahan hitam bagi yang perempuan, serta khidmad melaksanakan seluruh rangkaian acara apel Hari Santri Nasional. (Sumber)
Suasana Saat Apel Hari Santri PCNU Kota Yogyakarta.

Pemda Pangandaran Diduga Rugikan Rp98 Miliar Uang Negara, LSM Warmasindo Minta KPK Segera Tindaklanjuti

Gedung KPK. Foto: ROL.
Jakarta, FIMNY.or.id – Lembaga Swadaya Masyarakat Wadah Aspirasi Masyarakat Indonesia (LSM Warmasindo) meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menindaklanjuti pengaduan dugaan tindak pidana korupsi di Kabupaten Pangandaran Jawa Barat.

“Diketahui praktik korupsi itu diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp98 miliar berdasarkan temuan pada buku laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2016 yang patut diduga terdapat keganjilan,” kata pengacara LSM Warmasindo Rio Ramabaskara di Jakarta, Rabu.

Pengacara kelahiran Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menjelaskan, awalnya Ketua Umum LSM Warmasindo Ujang Denny Supriatna mengadukan dugaan korupsi itu ke Polda Jawa Barat berdasarkan Nomor Pengaduan : 20/LAPDU-TPK/WRMS/DPP/I/2017 tertanggal 11 Januari 2017.

Namun pihak Polda Jawa Barat diambil alih KPK yang diperkuat pengaduan resmi oleh tim kuasa hukum LSM Warmasindo ke KPK pada Juni 2017.

Rio menjelaskan Kabupaten Pangandaran memiliki potensi besar pada sektor pariwisata, pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan yang telah memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis sejak 16 November 2012.

Rio mengungkapkan kliennya menemukan berbagai kejanggalan penggunaan anggaran pemerintah yang diduga melibatkan unsur penyelenggara negara dan pemenang lelang proyek.

Rio mengatakan kejanggalan pengelolaan anggaran negara meliputi tidak terdapat laporan bunga deposito Pendapatan Asli Daerah (PAD) berikut relasinya senilai Rp3,77 miliar.

Laporan itu juga tidak tersaji pada dokumen LKPJ terkait pengembalian denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan dan uang muka sebesar Rp5,29 miliar.

Selanjutnya, terdapat sisa anggaran senilai Rp71,2 miliar dibandingkan anggaran tahun 2015 sebesar Rp123,3 miliar yang direalisasikan sekitar Rp51,9 miliar.

Kejanggalan lainnya menurut Rio tertera pada LKPJ TA 2016 yang terdapat perbedaan antara 2015 dan 2016 mencapai Rp5,5 miliar meliputi Dinas Puhubkominfo senilai Rp1,85 miliar, SKPD (Rp150 juta), Dinas Dikbudpora (Rp1,24 miliar) dan Dinas Kesehatan (Rp1,05 miliar).

Kuasa Hukum Lainnya, Syarifudin M Kasim menambahkan dugaan korupsi juga terjadi pada proyek pembangunan jalan menuju pemakaman umum Desa Pager Gunung Kecamatan Pangandaran senilai Rp958 juta terindikasi pengadaan fiktif karena telah dianggarkan dari Alokasi Dana Desa (ADD) dan berstatus bukan jalan kabupaten.

Proyek pembangunan yang dimanipulasi lainnya dituturkan Syarifudin yaitu proyek pengadaan jembagan sepanjang 40 meter di Sungai Sintok Tunggilis Ciparakan senilai Rp1,93 miliar yang dibangun tanpa tiang penyangga tengah.

“Proyek ini menggunakan pondasi bekas sebelumnya sehingga pengerjaan baru mencapai 60 persen sudah ambruk dan mangkrak,” ungkap Syarifudin.

Syarifudin beberkan bahwa dugaan korupsi lainnya yakni proyek program pertanian kedelai seluas 1.500 hektare per 10 kecamatan, jagung seluas 750 ha per sembilan kecamatan, padi sawah (6.000 ha) per 10 kecamatan, padi ladang (300 ha) per empat kecamatan dan kacang tanah.

Syarifudin menyatakan total anggaran pengadaan proyek pertanian itu sebesar Rp9,26 miliar namun terealisasi sekitar Rp4 miliar sehingga diduga terjadi penyimpangan mencapai Rp5,26 miliar. (*)

Ketua PCNU Kota Yogyakarta Bagikan 200 Paket Bingkisan Lebaran didampingi LAZISNU Kota Yogyakarta

Suasana saat pembagian paket bingkisan lebaran. 
Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta KH. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H. membagikan 200 paket bingkisan lebaran pada hari Minggu, 18 Juni 2017, jam 09.00-11.00 WIB, bertempat di Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo, Muja Muju,  Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bulan Penuh berkah, bulan penuh ampunan, Bulan Ramadhan. Di bulan suci ramadhan ini Ketua PCNU Kota Yogyakarta menggandeng Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Yogyakarta untuk memastikan pembagiannya tepat sasaran.

"Alhamdulillah hari ini 200 paket sembako dan sarung dibagikan untuk masyarakat di sekitar lingkungan Pondok Pesantren Ulul Albab dan masyarakat nahdliyin serta pengurus Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta," beber ketua  PCNU Kota Yogyakarta Ahmad Yubaidi.

Lebih lanjut Ahmad Yubaidi mengatakan, pada dasarnya warga NU di Yogyakarta itu banyak, tinggal di masifkan untuk lebih terorganisir untuk membangun dan mengembangkan masyarakat kota Yogyakarta.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PC LAZISNU Kota Yogyakarta Ahmad Subari berharap seluruh masyarakat kota Yogyakarta dapat menyalurkan Zakat, Infaq dan Shadaqahnya melalui LAZISNU Kota Yogyakarta. “Saya menghimbau masyarakat nahdliyin dan seluruh masyarakat kota Yogyakarta mau menyalurkan Zakat melalui LAZISNU,” cetusnya. (PEWARTAnews)

LAZISNU Kota Yogyakarta Beri Santunan 100 Paket Alat Tulis untuk Anak Yatim

Penyerahan Program 100 paket alat tulis dari LAZISNU Kota Yogyakarta untuk anak yatim. 
Yogyakarta, FIMNY.or.id – Bulan Penuh berkah, bulan penuh ampunan, Bulan Ramadhan. Di bulan suci ramadha ini Pengurus Cabang Nahdltul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta beserta Lembaga dan banomnya gencar mengadakan agenda penguatan ummah atau jamiyah. Seperti halnya pada hari Minggu (04/06/2017), bertempat di Masjid Raudhatul Huda, Celeban, Umbulharjo, Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Ifaq dan Shadaqah (LAZISNU) Kota Yogyakarta memberikan santunan 100 paket alat tulis dan sekaligus mengadakan launching program 1000 paket lebaran untuk anak yatim dan dhuafa yang berada di Kota Yogyakarta. 

Usai pembagian Santunan 100 Paket Alat Tulis, dilanjutkan dengan pengajian sebelum buka puasa yang dipimpin oleh H. Abdul Halim, diakhiri dengan buka puasa bersama pengurus PCNU Kota Yogyakarta, Pengurus Takmir Masjid Raudhatul Huda dengan seluruh masyarakat Umbulharjo dan sekitarnya.

Ketua PC LAZISNU Yogyakarta Ahmad Subari dalam sambutannya berharap seluruh masyarakat kota Yogyakarta dapat menyalurkan Zakat, Infaq dan Shadaqahnya melalui LAZISNU Kota Yogyakarta. “Saya berharap seluruh masyarakat kota Yogya menyalurkan Zakat melalui LAZISNU. Pada kesimpatan hari ini LAZISNU Kota Yogyakarta dalam Program NU’SMART menyerahkan 100 paket alat tulis bagi anak yatim/piatu/yatim piatu. Selain itu, hari ini juga dirangkaikan dengan Launching Program Gerakan 1000 Paket Pakaian Lebaran Bagi Anak Yatim dan Dhuafa,” harapnya.

Bagi masyarakat pada umumnya, dapat menyalurkan Zakat Infak dan Shadaqah terbaik anda melalui LEMBAGA AMIL ZAKAT INFAQ DAN SHADAQAH NAHDLATUL ULAMA (LAZISNU) KOTA YOGYAKARTA. Nomor Rekening BRI Syariah atas nama LAZISNU KOTA YOGYA: Untuk Zakat : 1026904451, Untuk Infaq dan Shadaqah : 1026904327. Tlp. / SMS Center & Layanan Jemput Zakat, hubungi nomor : 081578436971 / 081578795666, Twitter: @lazisnuyogya, Email: lazisnuyogya@gmail.com,  Instagram: @lazisnuyogya, FB: fb.com/lazisnuyogya, dan Website: www.lazisnuyogya.or.id.
Penyerahan Program 100 paket alat tulis dari LAZISNU Kota Yogyakarta untuk anak yatim.

KEPMA Bima-Yogyakarta Adakan Kajian Ilmiah tentang Konflik di Bima

Suasana diskusi KEPMA Bima-Yogyakarta.
Yogyakarta, FIMNY.or.id – Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta  telah sukses melaksanakan kegiatan kajian ilmiah pada hari Rabu, 31 Mei 2017 mulai  16:00-selesai, yang berlangsung di aula asrama Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima “Putra Abdul Kahir” Yogyakarta.

Kegiatan ini diinisiasi penyelenggaraannya karena akhir-akhir ini marak terjadi konflik sosial antar desa di Kabupaten Bima. Bersamaan dengan itu, ada informasi penembakan masyarakat yang dilakukan oknum polisi saat pengamanannya. Aparat yang seharusnya megamankan konflik ini, malah ada oknum aparat yang bertidak berlebihan terhadap masyarakat dengan melakukan penembakan bebas. Maka atas peristiwa itu, KEPMA Bima-Yoggyakarta selenggarakan dialog publik ini megangkat tema “Menyorot Konflik Sosial dan Pelanggaran HAM di Bima”.

Agenda ini menghadirkan 2 pemantik. Pemantik pertama, disampaikan oleh Ketua Umum Keluarga Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta saudara Agus Salim,  dengan materi yang di sampaikan “konflik sosial”. Menurut Agus Salim, konflik sosial merupakan suatu proses sosial antara dua belah pihak yang berlainan kepentingan. Latar belakang adanya konflik ini karena adanya perbedaan yang sulit di temukan kesamaanya atau didamaikan, baik itu perbedaan kepandaian, ciri fisik, maupun pegetahuan. “Konflik itu ada konflik vertikal dan ada konflik horizontal,” bebernya.

Pemantik  kedua, disampaikan oleh Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah (UMY) Yogyakarta  saudara M. Ulfatur Akbar, S.IP., M.IP., materi yang di sampaikan tentang “Pelanggaran HAM di Bima”. Ulfatur Akbar mengatakan bahwasannya Hak Asasis Manusia (HAM) merupakan sesuatu yang sudah melekat pada diri seseorang, yang mereka peroleh dan meraka bawa sejak lahir. “Pelaggaran HAM disebabkan karena adanya beberapa faktor antara lain, faktor internal dan eksternal. Faktor internal itu mencakup, sikap egois atau terlalu mementingkan diri sendiri, rendahnya kesadaran HAM dan sikap tidak toleran. Sedangkan faktor ekternalnya mencakup, peyalahgunaan kekuasaan, ketidaktegasaan aparat hukum, penyalahgunaan tehnologi dan kesenjangan sosial ekonomi yang tinggi,” ketusnya.

Kedua pemantik tampil dalam satu panggung, untuk meperlancar jalanyanya diskusi maka didampingi oleh moderator saudara Erwin/Ebha (Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yogyakarta).

Selain diskusi, acara ini dirangkaikan juga dengan buka puasa bersama. Hadir pula Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Yogyakarta saudara M. Saleh Ahalik, S.Pd., dan beliau pun meyampaikan beberapa pendapat berkaitan dengan bagaimana kita menyadarkan masyarakat untuk tidak melakukan konflik itu secara terus menerus. “Kita harus memberitahukan pada masyarakat bahwa konflik itu merugikan semua pihak, baik itu individu maupun semua kelompok masyarakat yang bernaung di daerah terjadinya konflik tersebut,” paparnya

Acara pun berjalan dengan lancar, saat diskusi terlihat meriah karena terjadi interaksi yang aktif antara peserta yang hadir dan para pemantik. Kegiatan tersebut dihadiri juga oleh mantan Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Yogyakarta saudara M. Jamil, S.H., Ketua Sanggar Seni dan Budaya Rimpu Yogyakarta Muhammad Edi Kuriawan Syafrudin, Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) sudara Gajali, serta semua perwakakilan tiap-tiap organisasi di bawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta.


Penulis: Jumratun
Bidang Hubungan Masyarakat Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) Yogyakarta.