Kajian Masalah dan Solusi Pendidikan Alternatif di Dana Mbojo Saat Hardiknas 2016

Suasana Diskusi Hardiknas PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, 2 Mei 2016.
Yogyakarta, FIMNY.or.id – Menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada tanggal 02 Mei 2016 tahun ini merupakan momentum terpenting dalam sejarah perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia, bisa di lihat dari berbagai latar belakang kontroversi dan inovasi pendidikan yang ada. Hardiknas diperingati antara lain untuk mengenang jasa Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara dan seluruh pejuang pendidikan yang patut kita kenang serta hargai jasanya. Hal itu sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) pada BAB II Pasal 3 yang berbunyi: Tujuan pendidikan nasional ialah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan impilikasi dari UU Sisdiknas tersebut, memandang bahwa pendidikan semata-mata untuk mencerdaskan anak bangsa yang bermoral pendidkan religius berkemajuan, berawal dari moment bersejarah tersebut, Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta melakukan disksusi ilmiah pada tanggal 2 Mei 2016 di Aula Asrama Mahasiswa Bima Yogyakarta untuk membedah pendidikan nasional khususunya di Kabupaten Bima, Kota Bima dan dan Kabupaten Dompu dengan mengangkat tema “Meneropong Masalah dan Solusi Pendidikan Alternatif di Dana Mbojo”.

Sebelum membuka pertemuan ilmiah tersebut, ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. menyampaikan sambutannya, “2 Mei 2016 bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, banyak hitam putih perjalanan pendidikan Indonesia yang masih perlu di diskusikan, begitu juga di dana Mbojo, pasti banyak persoalan yang mesti kita carikan solusinya. Dengan mengambil momentum hari Pendidikan Nasional, Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta mengundang seluruh mahasiswa Mbojo yang ada di Yogyakarta untuk menghadiri ini, mudahan dengan adanya kajian ini, kita dapat menemukan benang merah yang menjadi persoalannya, biar kita bisa merekomendasikan solusi-solusinya kepada pemerintah sebagai pemegang kebijakan strategis ‬dalam pembangunan pendidikan nasional”, ucap M. Jamil, S.H.

Pertemuan ilmiah tersebut mengupas sekaligus mengagas pendidikan alternatif di Dana Mbojo. Sebagai informasi bagi yang belum pengetahuan makna penyebutan Dana Mbojo. Dana Mbojo merupakan peyebutan tanah suku Mbojo. Dana Mbojo terdiri dari Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu. Menurut bapak Jainudi, S.Pd. (anggota PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, yang juga sebagai pemateri) menyebutkan bahwa permasalahan serius penurunan kualitas pendidikan di Dana Mbojo disebabkan kurangnya potensi dan kualitas tenaga pengajar dalam menguasai konsep teori yang mumpuni, sehingga dalam aplikasi mengajar sangat terkendala dengan perkembangan dan perubahan pola pikir siswa sebagai objek pengajaran. Disamping kurang kualitas pendidik yang handal dalam mencetak generasi atau sumber daya manusia/siswa yang cermat, cerdas dan loyalitas, namun para pengajar juga kurang memahami potensi, kondisi dan situasi siswa yang ada.

Menggambarkan secara umum kondisi pendidkan di Dana Mbojo memang sangat-sangat memprihatinkan sebagaimana disampaikan oleh bapak Sahrul Al Walid bahwa pendidikan harus mengacu pada pola pikir para intelek serta tokoh-tokoh nasional yang menguasai metode, pola pendidikan alternatif di Indonesia, menurut Prof. Nur Cholis Majid “Memanusiakan manusia dari pemikiran yang jahiliah” bahwa untuk membangun sumber daya manusia/siswa yang utuh, harus memadukan pendidikan moralitas, nilai regius dengan pola pendidikan yang  berbasis modernisasi dari berbagai aspek kemajuan keilmuan  yang ada, sehingga dengan perpaduan tersebut akan menempuh nilai-nilai pendidikan yang mecerdaskan, mendewasakan serta mengembangkan pola pikir siswa.

Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 1996 mencanangkan pilar-pilar penting dalam pendidikan, yakni bahwa pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan sesuatu (learning to do), belajar menjadi seseorang (learning to be), dan belajar menjalani kehidupan bersama (learning to live together). Dalam konteks Indonesia, penerapan konsep pilar-pilar pendidikan ini bahwa sistem pendidikan Nasional berkewajiban untuk mempersiapkan seluruh warganya agar mampu berperan aktif dalam semua sektor kehidupan guna mewujudkan kehidupan yang cerdas, aktif, kreatif, dan mengutamakan persatuan dan kesatuan secara universal dalam berbagai segi kehidupan yang multikultural.

Namun kondisi kekinian pendidikan di Dana Mbojo masih jauh dengan konsep dan teori seperti yang disebutkan di atas, kondisi pendidikan di Dana Mbojo masih berputar sekitar permasalahan kualitas pengajar yang tidak memadai, di samping tenaga pengajar, permasalah perkembangan pendidikan di Dana Mbojo bila dilihat dari dukungan pemerintah daerah memang  masih kurang cukup, terutama fasilitas: sarana dan pra sarana, buku-buku, media pendukung dan lain sebagainya.

Pendidikan nasional pada era modernisasi ini sudah mulai menemukan embrio permasalahan serta alternatif solusi yang di anggap mampu memberikan masukan serta solusi sebagai  perbaikan  kemajuan pendidikan untuk Pemerintah Daerah (Pemda). Dalam diskusi ilmiah yang di lakukan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo- Yogyakarta yang diselenggarakan di Asrama Mahasiswa Bima “Sultan Abdul Kahir” menawarkan solusi konkrit alternatif, diantaranya seperti yang disebutkan dibawah ini.

Pertama, Memadukan pendidikan ala pesantren dengan modernisasi pendidikan nasional. Kedua, Tokoh-tokoh intelektual Dana Mbojo yang berada di kota-kota besar lainnya harus  memberikan subangsih pendidikan di Dana Mbojo, baik berupa konsep teori atau berupa karya. Ketiga, Dalam memajukan modernisasi pendidikan di Dana Mbojo, Pemda harus memberikan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Keempat, Pemerintah  harus mengevaluasi akreditasi dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan.

Kelima, Pendikan yang berbasis kearifan lokal yang bermuara pada nilai-nilai moral religius harus diterapkan melalui sistem yang aplikatif. Keenam, Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan, ilmu pengetahuan, skiill, pengalaman, sikapteladan, dan nilai berdasarkan standar nasional yang merata secara menyeluruh. Ketujuh, Memberdayakan peran serta masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi pendidikan dalam konteks NKRI secarachanges and balances. Kedelapan, Bagi para guru harus menguasai metode dan teori pendidikan yang inovatif serta bagi mahasiswa harus aktif terlibat sebagai agen perubahan pendidikan buat masyarakat.

PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta konsisten dalam memberikan dukungan penuh kepada pemerintah daerah yang berada di Dana Mbojo dalam mengembangkan kualitas pendidikan yang bertaraf nasional bahkan bisa bersaing secara internasional, bentuk dukungan tersebut merupakan hal yang konkrit yang bisa dilakukan oleh PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta baik melalui diskusi ilmiah pendikan yang otonom,  bentuk karya atau usulan yang solutif demi kemandirian serta perkembangan pendidikan berkualitas di Dana Mbojo.


Penulis: Ismail, S.H.I.
[Anggota Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana Mbojo (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogykarta]