Perpustakaan Masa Lalu

Ilustrasi Perpustakaan. Foto: id.techinasia.com 
FIMNY.org – Disetiap sekolah atau madrasah pasti memiliki perpustakan, begitu juga dengan perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Bima (MANSAKOBI) tempatku besekolah dulu. Jujur saya dulu orangnya paling malas dan tidak tertarik dengan yang namanya perpustakaan karna bagiku perpustakaan adalah tempat yang paling membosankan dan membuat saya ngantuk.

Perpustakaan MAN 1 KOBI sangat sederhana, tidak ber AC dan masih bisa di jangkau oleh mata. Meja pustakawan berada di sebelah kanan pintu masuk perpustakan, Dulu ruangannya masih terlihat acak-acakan yang sangat membosankan, cara menata bukunya masih bercampur aduk dan tidak tertata rapi dalam raknya, ketika mencari buku sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Kondisi ruangan sangat panas dan tidak ada udara yang masuk. Hal ini karena jendela yang terdapat di perpustakaan tidak bisa dibuka, karena ruang perpustakaan berada diantara ruangan lainnya.

Walaupun begitu  tetap ada beberapa siswa/siswi  yang dateng keperpustakaan. Namun beberapa dari mereka hanya mengembalikan buku paket yang digunakan saat proses pembelajaran. Cara peminjamannya juga harus berbagi-bagi dan bergantian karna bahan koleksi di perpustakaanku tidak terlalu banyak.

Dengan kondisi perpustakaan yang demikian, saya sangat berharap agar perpustakaan di tempatku sekolah dulu sedikit tertata dengan baik.

Agar para siswa-siswi betah berlama-lama di perpustakaan sekolah. Semoga tulisan saya ini dapat dibaca oleh kepala sekolah MAN 1 Kota Bima.

Sekian itu saja cerita dari saya  terimah kasih.


Oleh:
Siti Hawa (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta / Alumni Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Bima)

Melirik Sejarah dan Perkembangan FIMNY

FIMNY lahir dilatarbelakangi oleh kemauan dan tekad yang kuat dari para intelek muda Ncera yang berada di kota gudeg Yogyakarta untuk turut serta memberikan kontribusi bagi kampung halaman, terutama dalam hal penanaman nilai-nilai moral, keimanan, ilmu dan pengetahuan. Tekad ini bermula dari ide kreatif seorang rekan kami. Tekad tersebut pun diusulkan dalam sebuah forum dalam bentuk pertemuan pada Hari Senin tanggal 2 Juni 2008 di Asrama Mahasiswa Bima Yogyakarta. Dalam pergulatan ide yang sangat alot pada saat itu, para tokoh FIMNY pun sepakat menamakan diri KIMJA (Komunitas Intelektual Muda Jogja Ncera). Para tokoh FIMNY yang dimaksud terdiri dari lima orang  diantaranya, pertama, kakanda Zainudin, S.Fil., M.Si., kedua, kakanda Ismail, S.H..I., ketiga, kakanda Amrullah, keempat, kakanda Sulaiman, dan kelima, kakanda Abubakar. FIMNY-lah nama yang dirintis pertama kali. Untuk menyesuaikan dengan berbagai perkembangan dan perubahan yang ada, KIMJA bermetamorfosa menjadi FIMNY (Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta).

FIMNY pada awalnya memang mengarahkan pengabdian dalam bentuk buletin Jum’at (Klik link Buletin di sini). Wujud nyatanya adalah FIMNY yang kala itu (media 2008) masih bernama KIMJA berhasil mencetak buletin sebanyak 3 (tiga) edisi. Awalnya buletin tersebut merupakan buletin Jumat yang hanya dapat diperoleh secara terbatas di Masjid Al-Ikhlas Ncera, Masjid Diha dan Kantor Desa Ncera pada setiap hari Jumat. Berkat semangat dan dukungan dari berbagai pihak,  kini FIMNY hadir dan melebarkan sayap pengabdian kepada berbagai bentuk forum dan kegiatan sosial-keagamaan, baik di Yogyakarta maupun di kampung halaman (Ncera khususnya dan Bima umumnya).

Dasar pemahamannya adalah bahwa FIMNY wajib turut andil dan peduli terhadap kemajuan masyarakat di kampung halaman maupun kemajuan bagi para intelek yang berada di Yogyakarta. Karena itu, media buletin menjadi salah satu media penghubung antara FIMNY dengan masyarakat di kampung halaman dengan harapan semua lapisan masyarakat, dari pelajar, mahasiswa, pemuda/pemudi, para orang tua, guru-guru dan para ulama dapat mengambil saripatinya guna memperdalam pemahaman dan sebagai sarana tukar pikiran, dengan satu tujuan, yakni kemajuan tanah dan masyarakat di kampung halaman.

Kami hadir bukan bermaksud sebagai guru yang tahu segalanya. Karena itu, kritik dan saran yang membangun sungguh sangat berarti bagi kami. Kami juga hadir bukan bermaksud mendahului dan menggurui siapa pun dan pihak mana pun, karena ini semata dan murni sebagai bentuk kepedulian dan pengabdian kami. Demikian, selamat membaca semoga bermanfaat.

Perubahan nama organisasi Komunitas Intelektual Muda Jogja Ncera (KIMJA) kearah  Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) berdasarkan hasil analisa yang mendalam dari makna huruf yang disepakati terutama KIMJA adalah huruf K = Komunitas, dengan tulisan  JA=Jogja Ncera, yang mengandung arti segologan kelompok organisasi tertentu tanpa melibatkan semua kalangan muda Ncera. Sedangkan Perubahan nama Oranisasi ke arah FIMNY bisa dipahami bersama  dengan makna kata F= Forum dengan tulisan kata  NY= Ncera Yogyakarta, yang mengandung arti yang lebih luas, sehingga kami semua keluarga Organisasi yang berjuang di Yogyakarta berkeinginan  melibatkan semua pelajar-mahasiswa Ncera yang berjuang di berbagai daerah.

Berdasarkan kesepakatan bersama untuk menguatkan lagi sistem kerja organisasi  menuju tujuan  yang lebih jelas, segala bentuk perjuangan bersama betul-betul  berwujud nyata sehingga memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan visi dan misi organisasi sekaligus memberikan arahan bagi perkembangan Pelajar-Mahasiswa serta masyarakat  menuju perubahan  dan perbaikan untuk mensejahterakan masyarakat serta merealisasikan nilai-nilai ajaran islam serta menanamkan motivasi bagi generasi penerus bengsa dan Negara, melalui sumbangan ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Bentuk  perjuangan kearah pencerahan merupakan dambaan semua kalangan mahasiswa  dalam hal ini FIMNY berupaya menguatkan pondasi perjuangan untuk mencari dan menemukan jati diri yang islami. Allah SWT telah berfirman, yang Artinya :

Pelajar dan Mahasiswa sebagai civitas dan pelaku pendidikan merupakan sumber daya potensial yang secara bertanggungjawab di tuntut harus menyiapkan diri dan mengembangkan diri selaku kader penerus dan pelaku pembangunan dimasa yang akan datang. Berkenaan dengan itu, sebagai Intelektual mudah arus siap menghadapai tantangan dan perkembangan jaman serta kemajuan teknologi yang semakin pesat. Dengan mengembang kan potensi diri yang dirasa ini belum maksimal dikembangkan sehingga kemudian dapat dimanfaatkan dan di gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan ideologi dan perbedaan tingkahlaku sangat menonjol  di kehidupan dalam bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya kita menginginkan suatu kehidupan yang ideal yaitusuatu kehidupan yang aman, damai dan suatu kehidupan yang selalu berpegang teguh pada nilai-nilai islami. Kehidupan masyarakat Ncera terutama pemuda pada umum sangat jauh dari yang kita harapkan. Di tengah-tengah keterpurukan akhlak dan moral dalam masyarakat Ncera, maka timbul inisiatif untuk membentuk suatu komunitas (organisasi) yang dinamakan KIMJA (Komunitas Intelektual Muda Jogja Ncera), yang mana pada saat itu intelektual muda Ncera yang berada di Yogyakarta masih sangat minim, namun itu semua tidak mengurangi rasa semangat, tekad dan kemauan yang tinggi dalam mendirikan organisasi KIMJA. Sehingga terbentuklah organisasi yang namanya KIMJA, dan Alhamdulillah apa yang diharapkan untuk kehidupan masyarakat Ncera sedikit terbalas walau hanya pencerahan dalam bentuk buletin.

Dengan seiring berjalannya waktu, intelektualitas para intelektual muda Ncera semakin maju maka nama KIMJA diganti dengan nama FIMNY (Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta), dengan harapan dengan digantinya KIMJA menjadi FIMNY diharapkan perubahan positif baik di lingkungan internal FIMNY lebih-lebih membawa suatu perubahan besar untuk masyarakat Ncera khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sudah saatnyalah kita bangkit dari keterpurukan moral yang terjadi ditengah-tengah kehidupan kita. Allah SWT telah berfirman, yang Artinya :
Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allahwahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung”.(QS. Al-Maidah : 100). “agent of change”. Kata perubahan selalunya menempel dengan erat sekali sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah masyarakat bisa tercapai dengan membanggakan.

Melihat berbagai macam problema yang ada yang sering terjadi dalam masyarakat kita, itu artinya seakan-akan perilaku masyarakat itu tidak lagi terkontrol, itu semua dikarenakan kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam berakhlak, sehingga muncul suatu penyakit yaitu “penyakit moral”. Disinilah kesempatan para mahasiswa untuk memberikan pencerahan dan peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di dalam masyarakat. Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa. Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah masyarakat, lagi-lagi mahasiswa menjadi garda terdepan dan berdiri di tengah-tengah masyarakat dalam melakukan perubahan.

Peran mahasiswa sebagai kaum muda terhadap masyarakat bukan hanya sekedar menyandang status mahasiswa saja, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai peranan dalam melaksanakan perubahan untuk masyarakat, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu individu, sebagai generasi pengganti yang menggantikan pribadi yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu individu. Peran ini senantiasa harus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa pada umumnya. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa pada umumnya dan mahasiswa Ncera pada khususnya, maka, “ruh perubahan” itu tetap akan terus bersemayam dalam setiap pribadi  mahasiswa tersebut.

Gerakan perjuangan organisasi FIMNY tidak boleh berhenti sampai kapanpun, karena sampai kapanpun masyarakat sangat membutuhkan dan sangat bergantung pada perjuangan mahasiswa. Gerakan perjuangan mahasiswa saat ini tidak hanya sekedarwacana saja, akan tetapi harus adanya tindakan riil dan hasil yang positif. Wahai para “agent of change and agent of control”, cobalah untuk bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanianmu untuk bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan yang ada dalam dirimu untuk bisa memberi kebaikan dan berperan besar serta bertanggung jawab untuk memberikan kemajuan  masyarakat, bangsa dan Negara.

Kepemimpinan FIMNY dari Masa ke Masa
Untuk melirik sejarah siapa saja yang pernah ambil bagian dalam kepemimpinan Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) dari masa ke masa, dibawah ini kami sajikan secara sederhana.

Untuk Periode 2008-2009 (pada masa itu masih sebatas berbentuk Buletin dan namanya masih KIMJA), masa periode ini dipimpin oleh kakanda Zainudin. Kakanda Zainudin pada masa kuliah strata satu (S1) dia mengambil jurusan Filsafat, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Usai wisuda di jenjang strata satu beliau juga melanjutkan studi dikampus yang sama, tepatnya di Pascasarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Selanjutnya yakni Periode 2009-2010. Periode ini merupakan awal mula perubahan nama Komunitas Intelektual Muda Jogja Ncera (KIMJA) kearah nama baru yakni Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY). Pada masa ini dipimpin oleh kakanda Ismail. Pada masa studi strata satu (S1) ia mengambil jurusan Jinayah Siyasyah pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Periode berikutnya yakni Periode 2010-2011. Pada periode ini di pimpin oleh kakanda Amrullah. Pada masa studi strata satu (S1) ia mengambil jurusan Perbandingan Majhab dan Hukum (PMH) pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Berikut pada Periode 2011-2013. Pada periode ini FIMNY di pimpin oleh saudara Buhari Muslim. Saat ini Buhari Muslim sedang menyelesaikan masa studi strata satu pada Proram Studi Teknik Informatika, Fakultas Tekhnik, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Dan pada periode sekarang yakni Periode 2013-2015. Pada periode ini di pimpin oleh saudara Dedi Purwanto. Saat ini saudara Dedi Purwanto sedang melanjutkan studi di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Perkembangan dan Tantangan FIMNY Kedepan
Seiring dengan perpuataran waktu yang tiada kenal kata berhenti, waktu yang akan selalu menjadi saksi bisu kesusksesan dan kegagalan yang telah dicapai oleh mansuia, pengorbanan dan perjuangan yang telah dilalaui oleh manusia dan itulah menurut kami yang dinamakan perubahan itu. Yaitu perubahan yang mengarah kepada kemanjuan dan pencapaian tujuan maupun Visi dan Misi organisasi (progress) dan bukan perubahan yang mengarah kepada kemunduran dan kegagalan (regress) yang walaupun kegagalan itu memang harus ada dalam kehidupan umat manusia maupun dalam sebuah organisasi, namun  kegagalan bukanlan suatu alasan untuk tidak mampu menciptakan perubahan besar, akan tetapi hendaknya kegagalan itu bisa menjadi “cambukan” bagi kita untuk memacu dan memperkuat semangat dan keyakinan kita akan perubahan besar dalam masyarakat,  yaitu terciptanya tatanan hidup yang damai, tentram, sejahtera. Kehidupan yang di payungi oleh nilai dan norma yang luhur sebagai cita-cita semua manusia yang pernah dilahirkan di atas planet ini.

Menurut kami perubahan (progrees) itu bisa terjadi kepada siapapun, kapan, dan dimanapun, selama masih ada ruang dan waktu yang menjadi tolak ukurnya, sebab segalanya akan meruang dan mewaktu. Perubahan (progress) yang demikianpun terjadi dalam perjuangan organisasi ini, di buktikan dengan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai melalui program-program kerja baru yang telah dirumuskan dan kemudian dapat terlaksana. Artinya, organisasi sudah melebrkan sayap perjuangannya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara. FIMNY sekarang tidak hanya berkontribusi lewat buletin yang merupakan indentitas dan pelopor utama kemunculan organisasi ini, akan tetapi sudah melebarkan sayap-sayapnya lewat kegitan-kegitan yang berbau pengembangan ilmu pengetahuan maupun pengabdian kepada masyarakat sebagai  bentuk pengejawantahan dari apa yang menjadi Visi organisasi ini, yaitu “menjadi intelektual yan berkualitas”.

Dalam menghadapi jaman global yang sudah merusak tatanan kehidupan masyarakat, nilai dan norma diabaikan, akar budaya kehidupan sudah mulai di lupakan dan bahkan hampir tercabut  dari akarnya dan kemudian terbawa arus deras globalisasi, diakibatkan kurang siapnya masyarakat dan khususnya kaum inetelektual dalam menerima dan membendung tantangan kehidupan global ini. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi FIMNY, maupun organisasi berskala desa Ncera yang ada di berbagai penjuru negeri dan organisasi-organisasi lainnya. Yaitu dengan mempersiapkan generasi-generasi muda, para intelektual yang berkualitas yang mampu menjawab tantangan jamannya dan senatiasa menjujung moralitas yang luhur dalam berbagai bidang kehiduapan. Sebab, di pundak para pemuda dan para intelektual yang bermoral luhurlah beban itu di emban selain kepada tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh budaya, dan tokoh masyarakat.

Ditangan para pemuda dan para intelektual, masa depan suatu masyarakat, bangsa dan negara ditentukan. Maka ketika para pemudanya sudah bobrok dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan tidak lagi peduli dengan nilai dan norma masyarakat, akar kehidupan diabaikan dan bahkan dilupakan harapan manis yang seperti apa yang ingin di capai oleh suatu masyarakat, bangsa, dan negara. Begitupun dengan para intelektual yang tidak peduli dengan norma-norma yang hidup dalam masyarakat, ketinggian ilmu pengetahuan yang tidak diimbangi dengan moralitas yang luhur, dan ketika budaya dalam kehidupan sudah di anggap sebagai tradisi “kuno” dan ketinggalan jaman. Lalu kemajuan seperti apa yang hendak dicapai dari kaum intelektual yang semacam itu. Dan peradaban yang sejenis apa yang akan terbentuk. Buakankan peradaban yang maju dan disegani hanya bisa terwujud melalui kemajuan ilmu pengetahuan yang begandengan tangan dengan budaya yang menjunjung tinggi moralitas. Kita bisa melirik kembali peradaban yang pernah di capai oleh bangsa Yunani Kuno yang mencapai  puncak kejayaannya, maupun kejayaan yang pernah di capai oleh umat islam berabad-abad lamanya yang kemudian menjadi kiblat bangsa-bangsa di dunia terutama bangsa-bangsa eropa, dan kemudian kemajuan peradaban itu kini telah beralih ke benua Eropa.

Kemajuan dan kejayaan peradaban yang telah di capai oleh bangsa-bangsa seprti yang telah di sebutkan diatas maupun kehancuran yang melanda mereka adalah di tentukan oleh tingkat kepedulian mereka terhadap ilmu pengetahuan dan budaya yang luhur yang menjunjung tinggi moralitas. Terutama moral para pemuda dan  kaum intelektual mereka, telepas dari moral pemimpin maupun masyarakatnya. Tetapi moral seorang pemimpin dan moral  masyarakat sangat di tentukan oleh keluhuran moral  dari pemuda dan kaum intelektualnya. Di tengah carut-marutnya kehidupan saat ini khususnya dalam masyarakat dan para pemuda Ncera dan umunya dalam kehidupan berbangsa ini, adalah menjadi tanggung jawab kaum muda dan kaum inteletual untuk membenahinya secara perlahan entah lewat kegiatan dan program kerja organisasi maupun lewat keluhuran sikap masing-masing individu.

Sebab sudah menjadi tanggunjawab para pemuda  dan kaum intelektual untuk sama-sama menjaga dan memelihara budaya yang luhur yang masih ada, membenahi yang telah rusak, dan menghidupkan atau mengadakan kembali yang telah terlupakan atau tercabut dari akarnya. Bukan yang sebaliknya sebagaimana yang kita saksikan saat ini, para pemuda telah menjadi pelopor utama dalam merusak moral kehiddupan, kaum “intelektual” secara tidak langsung telah mengajarkan pada masyarakat dan generasi untuk melupakan nilai dan norma, dan mengajaknya menjadi masyarakat dan generasi yang materialistis-pragmatis yang berimbas pada terbentuknya masyarakat “baru” yang selalu memilki ketergantungan kepada materi-materi dan kesenangan-kesenangan sesaat sebagai tolak ukur berhungan dan berinteraksi dalam kehidupan sosial. Wallahu a’lam  bissowaab. [M. Jamil, S.H. dan Agus Salim]