Home » , » Upaya Memperbaiki Akhlak Rasa Ro Dana Mbojo Kedepan

Upaya Memperbaiki Akhlak Rasa Ro Dana Mbojo Kedepan

Fen Yasin Arfan.
Dalam konteks dewasa ini akhlak moral masyarakat Bima semakin kosmopolitan, berbagai tanda yang menunjukan itu dapat di lihat dengan gaya hidup masyarakat, tentu di dukung oleh westernisasi, modernisasi yang terjadi di masyarakat Bima. Membangun Bima kedepan pada saat yang sama kita harus sungguh-sungguh berjuang untuk memajukan dana ro rasa ndai ta supaya loa kiri taho. Pemerintah kabupaten Bima berselogan mensejahterakan rakyat tetapi belum ada realitasnya.

Rakyat semakin diragukan belum ada respon oleh Pemda Bima, khususnya dibawa rezim pemerintah sekarang otoritas demokrasi terpimpin sangat mengecewakan masrayakat karma memikirkan diri sendiri.

Perkembangan era globalisasi sekarang tidak mengenal westernisasi Islam dalam hal ini kita sangat menginginkan Bima menjadi prioritas yang lebih baik dan aman.

Meningkatkan Kualitas
Dengan adanya seorang intelektual untuk membangun masa depan Bima, kita perlu memahami konteks sosial dalam kehidupan masyarakat dan politik islamisasi generasi awal tersebut, Bima menerima seperangkat budi pekerti dalam kehidupan masyarakat.

Bima selama ini melahirkan perlawanan yang sangat mendesak dan merugikan pemerintah sekarang, terutama kecamatan Belo mulai zaman Belanda sampai sekarang belum pernah aman melalui idiologi.

Neolib
Menurut penulis, tidak terlalu penting memperdebatkan apakah rezim sekarang memerintahkan menganut paham neoliberalisme (neolib) atau tidak. Apakah arti sebuah nama, orang asing mengatakan tidak akan penting kucing itu berwarna hitam atau putih asal dia bisa menangkap tikus.

Kalau para pejabat penting pemerintah selama ini sibuk melayani kaum-kaum neolib sekarang, lihat para pedagang dari luar masuk tanpa ada izin dari pemerintahan. Penulis kira itu amat wajar, soalnya pengusaha banyak mendapatkan fasilitas dari Pemda melalui ijin eksploitasi tentang batu mangan, seperti yang terjadi di wilayah kecamatan Langgudu (desa Kawuwu) dan Wera. Jadi sistem yang kita gunakan selama ini apakah neolib jalan tengah atau kapitalisme tidak akan terkendali, terbukti salah harus di ganti kekayaan itu tak ada lagi bocor, bisa jadi pemerintah sekarang menganut paham neolib.

Utang Bertambah Rakyat Pun Tetap Miskin
Utang gali lubang tutup lubang, tampaknya untuk mengembangkan kondisi ekonomi rakyat yang tergantung dari utang luar. Utang semakin tinggi dibandingkan dengan devisa yang dulu. Kenapa rakyat miskin apakah hal seperti ini dibiarkan saja? Tapi kalau menurut saya, sangat rumit kalau kita lihat secara realitas Bima merupakan kabupaten kaya. Coba kalau dikelola dengan baik maka pendapatan daerah lumayan terangkat, tapi akhir ini dana ro rasa wati wara mataho sama sekali politik sosial ekonomi agama baik secara realitas rakyat kita apa bedanya.

Dengan adanya tokoh intelektual ini untuk membawa aspirasi rakyat menunju Bima mantika ro maraso, rakyat sekarang semakin susah, pejabat tinggi semakin kaya raya. Apakah kita tidak memikirkan semua itu? seenaknya mondar-mandir berfoya-foya dengan mobil dinas? Itu bukan punya pribadi para pejabat, itu aset dinas, jadi dimanfaatkan hanya dengan urusan-urusan kedinasan. Rakyat yang selalu banting tulang bekerja keras untuk mencari nafkah hidup atau kebutuhan rumah tangga mereka. Mari kita mikir seperti itu bagaimana caranya untuk mengembalikan hak rakyat, mari kita bersatu menegakkan keadilan demi rakyat.

Utang bertambah, rakyat nengok kiri kanan, yang kaya sombong tidak saling menghargai si miskin. Kalau dikategorikan secara Islam harta itu milik Allah untuk dibagikan anak yatim piatu dan jalanan, dan lain-lain. Mari kita bersatu menegakan keadilan demi rakyat.

Pejabat-pejabat yang ilmunya luar biasa tapi untuk memperbaiki akhak moral dana ro rasa mereka tidak mampu, percuma banyak intelektual hanya memikirkan dirinya sendiri, kalau seperti itu maunya tidak usah bangun sekolah karena selama ini belum ada yang mampu membangun rasa ro dana mangango ro ngongi, langkah apa yang kita lakukan sekarang kecuali ada orang tertentu untuk membangun Bima kedepan. Siapa yang biasa membangun Bima kecuali orang yang memiliki jiwa kritik, militan dan moralitas.

Saling Klaim Perdamaian Belo Selatan
Para elit yang saat ini memegang jabatan sebagai pemimpin yakni Ferri Zulkarnain, ST yang masih diwakili oleh Usman AK saling klaim perdamaian Belo, karena memberikan fakta peranannya dalam perdamaian konflik di Belo dulu. Penulis mengetahui Usman AK masih menjabat sebagai wakil artinya dia masih menjabat sebagai pemerintah yang di pimpin oleh Ferri Zulkarnain, ST. Selama ini bupati berusaha menyelesaikan tugasnya dengan baik secara horizontal. Selama lima tahun lebih gagal, lalu muncul bupati sekarang pak Ferri yang mengambil langkah di luar untuk membuka tambang emas.

Periode 2005 
Kombinasi H. Najamudin dan H. Syafaruddin adik kandung Harun Arasik adalah untuk kombinasi kebangkitan rakyat Bima. Sistim ekonomi kapitalis akan membela rakyat dari rakmiss, program aksi nyata membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan abadi.

Komitmen itu diberi langsung dalam berbagai politik dengan elemen strategis rakyat yakni kaum tani, buruh, dan pedagang. Jika mendapatkan mandat dari rakyat akan menjadi pemimpin yang mensejahterakan rakyat. Najamudin yang peduli pada rakyat kecil sama dengan Syafarudin mereka tegas memegang prinsip dan amanah rakyat, pemimpin yang peduli dengan rakyat dan bisa menyelesaikan masalah yang sudah tanggung. Kalau menurut saya mungkin periode ini para calon bupati dan calon wakil bupati akan melahirkan politik yang tidak sehat kalau Najamudin membersihkan kroniks maka politik tetap sehat.

Selama ini hanya omong kosong saja belum ada realitasnya rakyat pun tetap miskin, ujar Najamudin waktu kampanyenya di desa Ntonggu.

Penulis pernah membaca majalah “Petani Merdeka” yang di terbitkan tahun 2008 karangan Jhon Abraham yang menarik bagi saya. Isi atau pun rubriknya cocok, sampai dengan bacaan para petani dan pihak konsisten dalam bidang pertanian dan peternakan.

Masa Depan Kabupaten Bima
Masa depan Bima akan ditentukan oleh kebajikan-kebajikan starategis yang di ambil oleh pemerintah yang berkuasa. Kebijakan dengan pendekatan sosial kultural harus dikedepankan bila dibandingkan dengan kebijakan yang hanya berdasarkan pada pertimbangan administrasi birokrasi. Kesejahteraan kemajuan hanya menjadi mimpi bagi masyarakat, kalau pemimpin tidak sungguh-sungguh merealisasikan janji mensejahterakan rakyat. Sebab kalau tidak, isu kemiskinan dan kesejahteraan akan menjadi alat politikus memanipulasi dukungan rakyat yang akan dipergunakan oleh elit-elit politik, akan tetapi yang mau berkusa untuk mencari simpati masyarakat.

Meskipun dalam hati yang dalam, elit politik yang menjual isu kesejahteraan, memberantas kemiskinan dan kemajuan tidak memiliki kapasitas konsep yang lebih dasar atau spirit power, dan kemauan untuk memajukan kabupaten Bima sebagai selogan.

Rezim Ferri Zulkarnain, ST
Bima pada mulai rezim dae Ferri, dana ro rasa wancuku ngango ro ngongina. Gagasan menciptakan masyarakat manipulasi yang dilakukan oleh elit-elit yang berkuasa dalam kasus konflik Ngali-Renda, dengan sangat baik menunjukkan bahwa elit berkuasa tidak memiliki konsep dan gagasan yang realitas menciptakan keamanan dan kedamaian dalam masyarakat, untuk merespon dan menyikapi konflik antar desa yang kecil seperti itu, elit yang berkuasa tidak konsesten atau tegas, tidak jelas dan dituduh oleh masyarakat sebagai konflik sengaja diciptakan untuk sosial yang bagi elit yang berkuasa dan bernilai politik di kemudian hari.

Orang yang berkuasa tidak memiliki agenda politik yang jelas, terarah, terukur untuk menciptakan masyarakat yang aman, damai dan sejahtera. Banyak elit politik yang pandai mengumbar program dan janji politik, tetapi ketika mereka berkuasa menuntut program janjinya untuk segera direalisasikan. Elit berkuasa memiliki dalih alasan yang sangat beragam untuk menunda bahkan mengabaikan sejumlah janji dan programnya. Pada tingkat ini, kita akan mengatakan bahwa elit politik bagi masyarakat Bima itikad baik untuk membangun daerah, program dan janjinya mereka hanya memanfaatkan rakyat untuk ambisi politiknya dalam lima tahun terakhir ini kita menyaksikan manipulasi kaum elit terhadap rakyatnya terjadi dengan begitu baik.

Politikus yang mencari kekuasaan di Bima insya Allah pada periode 2010 banyak mereka yang berminat untuk menjadi elit akan mengubah janjinya baik untuk membangun dana ro rasa mangago ro ngongi. Kita semua tidak opriaritas atau skeptis terhadap gagasan, program ataupun visi-misinya para politikus yang mencari kekuasaan tersebut, tetapi kita harus menguji program tersebut, apakah programnya realitas dan tidak direalisasi, atau programnya hanya sebagai topeng untuk menipu rakyat Bima. Selain itu, kita juga harus melihat latar belakang dan rekam jejaknya. Mereka punya prestasi apa untuk merealisasikan programnya. Kalau tidak memiliki prestasi apa-apa, maka kita harus waspada terhadap elit tersebut.

Menurut hemat penulis, baru kita berbicara tentang kedamaian, keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat Bima yang perlu dibereskan lebih dahulu politikus sakit jiwa, politik yang tidak memilikin kapasitas untuk memimpin, menyingkirkan politikus yang suka bohong, berjanji bohong, suka menipu warganya sendiri.

Secara umum dan elite masyarakat secara pribadi sudah tidak jujur, secara pribadinya mereka mengidap penyakit kronis (korupsi), mereka hanya berorientasi pada memperkaya diri, tidak memikirkan rakyatnya, dengan demikian mereka juga akan mempergunakan segala cara untuk memenuhi ambisi pribadinya. Karna itu, politik dalam masyarakat Bima telah merosot menjadi bisnis untuk memperkaya diri dan keluarganya. Politik di Bima telah terjebak dalam suatu permainan yang menjerumuskan diri pada politik sehinga jatuh dalam bisnis politik yang kotor. Ia mengotori tanganya demi kekuasaan politik, demi partainya, demi untuk memenangkan suatu cause, juga mengotori dirinya sendiri, hanya pabrik kekayaan, kekuasaan dan memperkayakan dirinya sendiri. Mereka terjebak pada pengajaran yang bersifat sempit. Pribadinya dan kelompok dan tidak lagi secara moral dan politik memenuhi amanat rakyat yang diwakilinya untuk memperjuangkan kesejahteraan dan keamanannya, bahkan politik untuk memenuhi ambisinya, membiarkan konflik, kekerasan, dan penderitaan rakyat untuk kepentingan politik, bahkan kemiskinan sengaja dibiarkan begitu saja tetap ada, karena isu kemiskinan “seksi” untuk dijual di masyarakat.

Kesejahteraan yang diharapkan oleh masyarakat Bima selama ini sulit terpenuhi, komposisi elit berkuasa saat ini, mereka yang berkuasa tidak memiliki agenda aksi kongkret untuk merealisasikan program kesejahteraan rakyat. Proyek sosial politik yang diluncurkan oleh elit hanya sekedar pemanis, tidak memiliki sosial kultural yang kuat. Perilaku politikus di Bima dewasa ini tidak lagi mencerminkan nilai-nilai Mbojo seperti “Maja Labo Dahu” atau “Kasabua Nggahi Ro Rawi”. Coba kalau para politikus memahami dengan baik, masih layakkah dipertahankan kekuasaan saat ini?

Apakah impian untuk menuju masyarakat yang sehat, damai dan sejahtera dapat direalisasikan dengan mempertahankan kekuasaan saat ini. Untuk menjawabnya sederhana saja, kita kembalikan kepada masyarakat Bima. Akan tetapi, kalau masyarakat kecamatan Belo Selatan mungkin menyebut Ferri Zulkarnain, ST gagal menangani konflik   horizontal yang terjadi, tidak hanya merusak hubungan sosial tetapi juga menelan korban jiwa.


Yogyakarta, 01 Februari 2010 (Tulisan Lama)
Karya: Fen Yasin Arfan  
(Kader PP Pemuda Muhammadiyah / Pengamat Politik Islam)

0 komentar:

Posting Komentar