Indahnya Iman dan Kesatuan Bagi Ummat

Karena beda antara kau dan aku sering jadi kebencian, karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran, karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu, wasiat sang nabi itu rasanya berat sekali “jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara” mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja menjadi kepompong menyendiri berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam bertafakur bersama iman yang menerangi hati hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari melantunkan kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia lalu dengan rindu kita kembali kedalam ukhuwah mengambil cinta dari langit dan menebarkanya di bumi dengan persaudaraan suci sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sudah menjadi keharusan dalam kehidupan bersama, karena sudah menjadi hukum alam sebelum adanya kitab-kitab para nabi, sudah adanya kehidup bersama yang selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat. Dan dibuktikan oleh Al-Qur’an sebagai kitab universal yang slalu memberi kesejukan pada setiap ummat manusia dan hampir separuh isinya mengatur hukum-hukum sosial. Dan dibuktikan oleh Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai panduan pada setiap massa.

Buku ini adalah renungan-renungan sederhana bagaimana membangkitkan kembali kekuatan ummat yang hari ini terserak-serak bagi buah tak berarti, tentu saja tak hendak muluk, semua ikhtiar itu di mulai dari dalam diri kita. Disini kita menginsyafi bahwa iman berbanding lurus dengan kualitas hubungan yang kita jalin pada sesama bahwa tiap hubungan  yang tak didasari iman akan jadi sia-sia dan baik iman maupun ukhuwah memerlukan upaya untuk meneguhkan dan menyuburkannya dalam dekapan ukhuwah.

Sekilas tentang renungan dalam buku ini adalah sangat indah mudah di baca dan kemudian untuk dipahami oleh kita semua sebagai ummat yang beragama, berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan generasi muda pada khususnya. Buku ini menceritakan bagaimana manusia sebagai pribadi yang lemah dituntun untuk memperkokoh keyakinan kita supaya tidak mudah di goda oleh hal-hal yang bersifat tidak baik dan tidak bermanfaat. Ketika berbicara maupun dalam bertindak harus berhati-hati karena di sisilain ada hak-hak orang lain yang harus diperhtikan oleh kita  dalam bingkai keindahan persatuan.

Renungan ini merupakan salah satu ilmu atau pendidikan bagi ummat untuk memperkokoh keyakinannya karena dengan hadirnya berbagai gejolak dalam kehidupan, entah itu pengaruh hiruk-pikuk gejala sosial yang terjadi saat ini, kalau kita amati bagaimana peradaban  manusia di warnai dengan konflik-konflik, korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, kemiskinan, dan masih tingginya praktek nepotisme di bangsa kita. Buku renungan masa depan ini layak dan patut di jadikan contoh bagi kita sebagai ummat yang beragama untuk menuntaskan kejaliman di muka bumi, tetapi sebelumnya perlu kita simak contoh renungan dibawah ini mungkin  bisa dijadikan sebagai pelajaran dan hikmah bagi semua ummat Manusia.

Pada suatu hari, tiga tokoh berjumpa di salah satu sudut madinah. kisah ini menceritakan tentang kepedulian, membagi kebijaksanaan, dan memberi damai dengan pemahaman serta pemaknaan. Itulah Umar ibn Al-Khatab berjumpa dengan Hudzaifah ibn Al-ya-man dan Ali ibn Abi Thalib. “Bagaimana keadaan mu pagi ini, wahai Hudzaifah” tanya Umar.

“Wahai Amirul Mukmin,” jawabnya, “pagi ini aku mencintai fitnah, membenci al-haq, shalat tanpa berwudhu, dan aku memiliki sesuatu di muka bumi yang tidak dimiliki aleh Allah di langit”.

“demi Allah” kata Umar, “engkau membuatku marah”. “Apa yang membuatmu marah, wahai Amirul Mukmin?” timpal ‘Ali ibn  Abi Thalib.

“Tidakkah engkau dengar apa yang di katakana Hudzaifah?” Hudzaifah terdiam, dan tersenyum pada ‘Ali. “Wahai Amirul Mukminin”, kata  ‘Ali, “Sungguh benar Hudzaifah, dan aku pun seperti dirinya. Adapun kecintaanya pada fitnah, maksudnya adalah harta dan anak-anak, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah fitnah cobaan”. (Q.S. At-Taghaabun [64]: 15).

Bayangkanlah kalau kita membenci orang-arang seperti mereka ini betapa bodohnya kita, membersamai semacam mereka, diamnya menjadi tasbih, bicaranya ilmu, ucapanya penuh do’a. Takan ada yang sia-sia bahkan dalam bercandanya, terkandung ilmu dan kebenaran yang membuat kita merenung dalam-dalam.

Mari berangan-angan untuk berada di tengah-tengah orang yang terhubung dengan langit dan merasakan ukhuwah mereka mendekap hangat kita dalam kebenaran, kemuliaan, dan kebajikan.

Dalam dekapan ukhuwah, mari kita telusuri keindahan itu bersama mereka, insya Allah di lembar-lembar selanjutnya. Tapi sebelum itu, akan kita kenali dulu tanah-tanah gersang yang membuat ukhuwah sulit tumbuh, tak mampu berakar, dan mustahil mekar. Akan kita seksamai juga angin, api, dan air yang bisa saja menggersangkan tanah subur yang pernah kita miliki. Kadang mereka datang untuk membuat ukhuwah tertiup hingga hilang, terbakar hingga bagus, dan terbanjir hingga larut, dalam dekapan ukhuwah, kita mewaspadai ancaman-ancaman padanya.

Bagi ummat, atau generasi muda perlu kita tanamkan dalam hati bahwa persamaan dan  persatuan itu harus di pertahankan kemudian kita praktekkan pada masyarakat. Karena memang perpecahan itu dilarang oleh Allah SWT, jadi sifat-sifat seperti perpecahan ini adalah tindakan yang tidak memiliki nilai-nilai positif dan ummat seperti ini tidak akan bahagia dunia dan akhirat.

Judul Buku    : Dalam Dekapan Ukhuwah
Penulis      : Salim A. Fillah
Penerbit    : Pro-U Media
Cetakan    : III; Rabi’ul Tsani 1432 H/Maret 2011
Halaman    : X + 472 halaman
ISBN          : 11: 979-1273-66-9
Peresensi     : Abidin [Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta / Ketua Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015]