Home » , » Grebeg Sekaten di Kasultanan Yogyakarta Prespektif Hukum Islam

Grebeg Sekaten di Kasultanan Yogyakarta Prespektif Hukum Islam

Sekaten/Grebek mulud dirayakan pada tiap-tiap tanggal 12 bulan maulid, perayaan ini sebetulnya adalah hari raya suci yang dimuliankan oleh ummat Islam, karena pada hari tersebut adalah hari kelahiran dan hari wafatnya Nabi Muhammad SAW. Keramaian Sekaten, sejak masuknya Islam di Jawa yaitu pada zaman Kerajaan Demak, dimana masyarakat Jawa pada saat itu mengalami masa peralihan dari agama Shiwa Buddha kepada agama Islam, atau dengan kata lain jatuhnya kerajaan Majapahit disebut dengan memperingati Surya Sangkala atau musnahlah keemasan tanah air pada tahun Saca 1400 atau tahun Masehi 1478 M.

Sekaten dianggap sebagai tradisi islam untuk mengumpulkan masyarakat  yang pada masa itu, karena agama islam menjadi dasar dan agama resmi, maka pemusatan kekuasaan, titik beratnya ditunjukkan kepada “mengislamkan mereka yang belum mengenal islam”, sebab masyarakat Jawa pada saat itu masih menganut agama Shiwa Budha, dengan adanya adat penyelenggaraan upacara Grebeng Mulud/sekaten itu sebagai tradisi yang berlaku dari zaman ke zaman dilestarikan oleh raja-raja di Jawa sampai akhir masa Kerajaan Majapahit.

Dari suatu pengantar yang telah dipaparkan diatas, timbul-lah suatu permasalah yang harus di pecahkan, adapun permasalahannya sebagai berikut: Pertama, tentang apa pengertian Grebeg Mulud/Sekaten. Kedua, tentang Apa Bentuk-bentuk Ritus Grebeg  Mulud/ Sekaten. Ketiga, tentang apa tujuan Grebeg Mulud/Sekaten Islam. Keempat, Manfaat dari Grebeg Mulud/Sekaten. Kelima, tentang Hukum Sekaten dalam prespektif  Hukum Islam. Keenam, tentang bagaimana Implementasi dari Grebeg Mulud/Sekaten. Tentang permasalahan-permasalahan yang tertera diatas, penulis mencoba menguraikan satu-persatu seperti dibawah ini.

Pengertian Grebeg Mulud/Sekaten
Sebelum membahasa apa itu Grebeg Mulud/Sekaten dalam Islam, sebaiknya kita mengetahui lahirnya terlebih dahaulu Grebeg Mulud/Sekaten. Sejak perang dunia kedua, penduduk Yogyakarta tidak mengenal “Keramaian Sekaten”, yang dikenal juga dengan nama Grebeg Mulud/Sekaten. Untuk melacak sejak kapan dimulai upacara Grebeg tidaklah mudah, mengharapkan sumber-sumber tertulis untuk melacak awal Grebeng adalah hal yang sia sia. (A. Daliman: 1990).

Keramaian Sekaten adalah suatu tradisi yang telah ada sejak kerajaan Demak, sampai saat ini masih dilestarikan di kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Dalam tradisi kerajaan Demak upacara sekaten diselenggarakan sebagai usaha untuk memperluas serta memperdalam rasa jiwa keislaman bagi segenap masyarakat.  Dan tetap menjadi pusat perhatian orang-orang kepada “Gamelan Sekaten” yang menurut tradisi lama, biasa disebut “Kiai Sekati” kepada sang suami, sedangkan pada yang lainnya di sebut ”Njai Sekati” yang dipandang sebagai istrinya. Kedudukan Kiai Sekati dan Njai Sekati disimpan di dua bagsal yang ada disisi kanan dan kiri Stinggil, tetapi belakangan ini Stinggil telah dijadikan Perguruan Tinggi Gadjah Maddha, maka keduanya dipindahkan ke istana kesatrian.

Sebagai permulaan keramaian, pada tanggal 5 Mulud, Kiai Sekati dan Njai Sekati dibawa kebangsal Sri Manganti (Bangsal tempat Sri Sultan menerima tamu-tamu), kemudiakan diadakan upacara yang sudah ditentukan, dibawah ke Masjid besar, Kiai Sekati ditempatkan sebelah utara bangsal sedangkan Njai Sekati di sebelah selatan bangsal.

Mengenai nama Sekaten ada beberapa  pendapat, antara laian: Pertama, Kata Sekaten berasal dari kata Sekati, yaitu nama dari dua perangkat gamelan pusaka Kraton Yogyakarta yang bernama Kanjeng Kyai Sekati, yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tersebut dinamakan “Sekaten”. Kedua, Kata Sekaten berasal dari kata suka yaitu suka hati atau senang hati. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa pada saat itu menyambut hari Maulid Nabi Muhammad SAW, orang-orang pada suka hati dan senag hati. Ketiga, Kata Sekaten berasal dari kata Syahadatain yaitu Dua kalimat Syahadat. Syahadat yang pertama disebut syahadat tauhid, dan kedua syahadat Rasul, terbukti pada saat perayaan hari tersebut, orang-orang datang dengan suka rela masuk kepada agama Islam.

Bentuk-Bentuk Ritus Grebeg  Mulud/SekatenAdapun bentuk-bentuk ritus yang ditampilkan dalam upacara Sekaten Yogyakarta adalaha sebagai berikut: Pertama, persiapan fisik dan non fisik para petugas upacara. Kedua, pengeluaran gamelan pusaka Kraton Yogyakrta, Kanjeng Kyai Sekati yang terdiri dari dua perangkat yaitu Kajeng Kyai Gunturmadu dan ajeng Kyai Nagawilaga dari persemayamannya. Ketiga, pemukulan gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati, didalam Kraton Yogyakarta, yaitu di bangsal Ponconiti tratag barat dan timur. Keempat, penyebaran udhik-udhik oleh Sri Sultan pada saat pemukulan gamelan Kanjeng Kyai Sekati di dalam Kraton Yogyakarta, baik untuk para pengunjung maupun untuk para pemukul gamelan. Kelima, pengeluaran/pemindahan gamelan Kanjeng Kyai Sedati dari Kraton ke Masjid Besar. Keenam, pemukulan gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sedati di masjid Besar. Ketujuh, Kehadiran Sri Sultan ke Masjid Besar untuk mengikuti upacara peringatan hari besar Maulud Nabi Muhammad SAW. Kedelapan, penyebaran udhik-udhik oleh Sri Sulan untuk para pemukul gamelan pusaka, Kanjeng Kyai Sekati, di pangongan halaman Masjid Besar. Kesembilan, penyebaran udhik-udhik oleh Sri Sulan diantara saka guru (tiang utama) Masjid Besar. Kesepuluh, penyamatan bunga kanthil (cempaka) pada daun telinga kanan Sri Sultan pada saat pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW sampai pada asrokal. Kesebelas, kembalinya Sri Sultan dari Masjid Besar ke Kraton. Keduabelas, kembalinya gamelan pusaka, kajeng Kyai Sekati, dari Masjid Besar ke persemayamannya di dalam Kraton.

Dari rangkaian kegiatan tersebut diatas, para abdi dalem yang akan bertugas dianjurkan untuk membersihkan/mensucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas (mandi keramas), karena gamelan sekaten adalah benda pusaka krataon, sehingga dalam memperlakukannya harus dengan penghormatan yang khusus.

Tujuan Grebeg Mulud/Sekaten IslamDalam upacara Grebeg terdapat 5 tujuan kegiatan, diantaranya wilujengan (selamatan), pembuatan gunungan, numplak wajik, kirap/gladi resik prajurit, dan pelaksanaan upacara Grebeg/Sekaten. Tujuan-tujuan tersebut, penulis uraian seperti dibawah ini.

Tujuan pertama, Wilujengan (selamatan). Grebeg adalah upacara sakral untuk keselamatan negara (wilujengan, sugengan negari) dalam rupa gunungan yang dipersembahkan raja atas nama kerajaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi Raja, Kerajaan, dan Rakyat. Acara ini didahului dengan acara makan yang terdiri dari berbagai macam-macam makanan khusus.

Tujuan kedua, Pembuatan gunungan. Pembuatan gunungan bertujuan sebagai hajat dalem untuk mewujutkan salah satu rangkaian wilujengan (selamatan) kerajaan serta kurban yang dilakukan oleh Sri Sultansesuai dengan tradisi zaman Hindu. Gunungan cukup banyak bahannya, terutama jenis-jenis makanan dan tumbuh-tumbuhan serta buah-buahan yang disusun dan ditata menjadi gunungan. Juga sebagai simbol adalah sebagai berikut: Pertama: bentuknya menyerupai gunung menunjukkan kepada kesakralan. Kedua: sebagai hajat dalem, maka gunungan dianggap memiliki kekuatan magis, maka dalam pembawaanya sampai ke Masjid Agung harus disertai dengan upacara resmi serta melewati bagian-bagian penting halaman kraton yaitu bangsal Kencana, Srimanganti, Kemandungan, Sitihinggil, Pagelaran dan Alun-alun Lor (utara). Ketiga: gunungan yang terdiri atas buah-buahan, sayuran, telur, makanan dari beras ketan, ditambah dari berbagai makanan lainnya melambangkan suatu negara agraris yang makmur. Keempat: penerapan klasifikasi dualism yang saling melengkapi dengan dibuatnya gunung laki-laki dan perempuan. Kelima: gunungan yang berbentuk lingga dan yoni yang berpaduan keduanya melambangkan kesuburan dan dibawa ke Masjid Agung untuk diberi doa secara islam oleh seorang penghulu menunjukkan adanya sinkretisme dalam kehidupan beragama masyarakat kraton. Keenam: lewat gunungan ini sultan mengadakan selamatan makanan yang telah disucikan itu mengandung kekuatan magis.

Tujuan ketiga, Numplak Wajik. Acara ini bertujuan untuk mengusir setan yang menganggu jalannya upacara, dan lagu-lagu itu baru berhenti sampai dengan gunungan putri dibusanani (diberi pakaian). Juga sebagai pertanda bahwa secara resmi pembuatan gunungan putri dimulai.

Tujuan keempat, Kirap/gladi resik prajurit. Gladi resik bertujuan untuk memantapkan persiapan serta untuk mengevaluasi kesiapan prajurit-prajurit Keraton dalam menyongsong pelaksanaan grebeg.

Tujuan kelima, Pelaksanaan upacara grebeg/Sekaten. Penyelenggaraan upacara ini tiga kali dalam setahun, ialah grebeg Mulud, grebeg Pasa/bakda sawal dan grebeg Besar, tetapi yang paling besar adalah grebeg Mulud, tahun Dal karena selang pewindu atau 8 tahun sekali.

Inti upacara Grebeg Mulud/Sekaten adalah mempersembahkan kurban atau selamatan raja, kerajaan dan rakyat, yaitu telah menandai kehidupan kepercayaan asli bangsa Indonesia. Dari asal mulanya yang mempunyai keyakinan bahwa Allah sebagai Tuhan yang Wajib di sembah, karena Allah jualah yang telah menciptakan dan sebagai tempat kita kembali, naluri dan fitrah yang suci ini, menjadikan manusia percaya dan yakin terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagai bukti bahwa manusia itu telah dimuliakan oleh Allah, dan telah memberikan tanggungjawab yang besar untuk mengemban amanah-Nya yaitu, menerima al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk dalam kehidupannya sampai akhir jaman.

Manfaat dari Grebeg  Mulud/Sekaten

Grebeg Sekaten yang diadakan sekarang ini masih merupakan tradisi yang lama, tetapi karakternya sangat berbeda, grebeg pada masa lampau pokok keramaiannya ada di Kraton, sedangkan penonton hanyalah pegawai-pegawai tinggi Kraton, dan para tamu undangan saja. Sedangkan grebeg sekarang tidak hanya diperuntukan oleh kedua kelompok tersebut, akan tetapi rakyatpun menikmatinya. Kedatangan masyarakat dari penjuru yang berjumlah ratusan ribu tersebut telah mendapatkan manfaatnya untuk kepentingan masyarakat luas, dan memberikan kesederhanaan kepada bermacaam-macam exposisi yang bisa memberikan kesadaran bagi jiwanya dalam pembangunan; seperti pertanian, kehewanan, kerajinan rumah tangga, kesehatan, teknik, sosial dan lain-lain.

Dimasa lampau Sri Sultan, pada malam hari penghabisan mulud mengunjungi masjid Besar dengan upacara Kraton, sedangkan sekarang hanya sebagai seorang ulama yang datang di masjid turut merayakan hari mulud nabi dan membagikan zakat. Hajat dalem dalam tradisi lama mengeluarkan pada esok harinya dan akan dibagi-bagikan di masjid Besar, sedangkan sekarang hal tersebut Sri Sultan duduk di Balairung (Stinggil) sebagaia kebiasaan masa lalu. Dan perayaan mulud masa lalu merupakan perayaan yang resmi, oleh karena itu semua keperluannya di persiapkan oleh para pegawai abdi dalem atau pegawai pemerintah, bupati kota dan camat Kraton, sedangkan sekarang cukup panitia saja yang dipimpin oleh seorang anggota Haminte Kota.

Adapaun manfaat yang paling sakral dalam grebeg Sekaten adalah “berkhitmat kepada Tuhan”, persamaan niat di dalam sembahyang dan didalam menabuh gamelan itu terletak pada kalbu, yaitu orang melihat ke dalam untuk mencari ketenangan batin, dan niat itu harus dengan kuat, tidak boleh kita hanyut dalam suara-suara lahir dari gendingnya saja, keindahan itu hanya suara untuk membuka kalbu, dan untuk membangkitkan rindunya akan sang tunggal yaitu Tuhan Yang maha Esa.

Dari uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan manfaat baik secara khusus maupun secara umum sebagai berikut: Pertama, menyesali kesalahan dan memohon ampun (taubat)/(Metanomia). Kedua, mengingat kembali atau menceritakan asal mula dunia yang baik dengan disertai doa dan kurban (Katharsis). Ketiga, kegembiraan karena ummat manusia terhindar dari segala malapetakadan telah dipulihkan kembali hubungannya dengan tata alam sakral (paripatia). Keempat, menarik simpati rakyat, pada malam menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu malam tanggal 12 Rabiul awal, Sultan mengajak masyarakat untuk mengikuti upacara keagamana di masjid Besar. Kelima, sebagai sarana dalam menyiarkan agama islam di kalangan rakyat, mendorong sultan untuk mengeluarkan undang-undang kerajaan yang menetapkan penyelenggaraan ‘sekaten’ selama satu minggu setiap tahun sebelum hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Hukum Sekaten dalam Prespektif  Hukum Islam
Sebelum menemukan hukum dari grebeg Sekaten ini terlebih dahulu,  kita lihat dasar daripada sekaten ini, upacara grebeg sebagai salah satu bentuk tradisi Kraton Kasultanan Yogyakarta untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Sultan Hamengkubuwana I. Oleh sebab itu sejarah grebeg di Yogyakarta merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Kraton Yogyakarta. Berdirinya Kasultanan Yogyakarta merupakan hasil perjuangan yang gigih Kanjeng Pangeran Harya Mangkubumi selama 8 tahun (21 Apri 1747-13 Februari 1755).

Dilihat dari tujuan awal grebeg Sekaten ini, sangat mulia yakni melakukan pendekatan terhadap masyarakat yang menganut agama Hindu Budha, pada jaman itu, sehingga untuk menarik rakyat dalam memeluk islam, maka dilakukan berbagai kegiatan yang cukup menarik perhatian, terutama  hiburan, grebeg pada dasarnya dikaitkan dengan tahun baru atau hari jadi kerajaan. Namun diawal abad 19 dan 20, diganti dengan hari kurban kerjaan yaitu memberikan hasil bumi dengan mengeluarkan zakat/shadaqah oleh kerajaan terhadap rakyat miskin, sehingga grebeg Sekaten dibagi menjadi tiga macam upacara grebeg, yaitu; Pertama: upacara grebeg mulud (pasa) adalah upacara yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kedua: upacara Idhul Fitri (Bakda/sawal) adalah upacara yang dilakukan setelah menyelesaikan puasa ramadhan. Ketiga: upacara Idhul Adha (Idhul Qurban) adalah upacara yang dilakukan untuk merayakan qurban, kegiatan tersebut dirintis oleh Sultan Agung Prabu Hanyangkrakusuma tetap dilestarikan oleh para penggantinya yaitu Sultan Hamengku Buwana I, dengan penyelenggaraan grebeg secara publik terlihatlah Kesultanan Yogyakarta yang baru berdiri itu sebagai kerajaan Jawa Islam.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dalam grebeg mulud/sekaten dapat dipastikan bahwa kegiatan tersebut diperbolehkan oleh hukum islam, tetapi upacara tersebut tidak menyimpang dari ajaran islam, atau ketiga upacara tersebut diatas tidak dicampur dengan kemusyrikan atau tidak menjadikan Sultan sebagai Tuhan, melalaikan kita diajarkan untuk sholat sebagai kewajiban hambah-Nya, dan gunungan yang dibuat dalam kegiatan tersebut tidak dianggap sebagai pembawa berkah, atau keselamatan bagi rakyat.

Implementasi dari Grebeg Mulud/SekatenDengan mengadakan Grebeg Mulud/Sekaten ini adalah jalan satu-satunya bagi para wali yang berasal di Jawa, sebagai cara yang bisa dipakai untuk mengadakan keramaian besar di dalam pekarangan masjid yaitu membunyikan gamelan terus menerus, untuk menarik supaya rakyat yang mengunjungi keramaian itu, diharapkan masuk dalam masjid. Dengan cara yang hati-hati tersebut orang yang masuk kedalam masjid, oleh para ulama dikhitan dan di suruh membaca “syahadat” yang artinya mengakui bahwa seluruh alam tiada lagi yang berhak di muliakan dan dihormati, selain Tuhan dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Tuhan yang harus diikuti.

Para wali dalam menghadapi rakyat yang masih memeuluk agama Shiwa Budha, sangat hati-hati untuk memasukan idiologi Islam kedalam pikiran mereka, bukan saja sulit, tetapi sangat berbahaya, jika tidak dilakukan kebijaksanaan yang luar biasa, hal tersebut pun dilakukan oleh Rasulullah ketika beliau diawal dalam mensyiarkan islam kepada penduduk Mekkah. Ini membuktikan bahwa agama islam itu terdapat cara-cara untuk mengajak manusia sebagai berikut: Pertama: Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Kedua: Islam agama yang lemah lembut. Ketiga: Islam agama yang masuk akal. Keempat: Islam agama yang sangat memahami kondisi masyarakat di suatu daerah, yakni mengajaknya dengan cara pendekatan yang halus. Kelima: Islam adalah agama yang telah disempurnakan oleh Allah Tuhan semesta Alam.

Penyelenggaraan upacara pasowanan Mulud, yang diselenggarakan di Masjid Agung, tetap dipertahankan oleh Sri Sultan Hameng Kubuwono IX, karena Pasowanan Mulud merupakan upacara keagamanaan yang wajib dipenuhi oleh para raja di Jawa, hal ini merupakan suatu pernyataan secara tradisional bahwa Sultan adalah sebagai pengikut setia ajaran Nabi Muhammad SAW.

Grebeg Sekaten sebagai bagian dari budaya nasional, juga dapat membangkitkan kebanggaan nasional karena tradisi itu diwariskan dari sejarah keagungan dan kebesaran Kerajaan Mataram, yang didirikan oleh Panembahan Senopati. Disaat modern ini upacara grebeg masih memiliki daya tarik yang luar biasa, setiap berlangsung upacara ini, ribuan orang datang dari bebagai daerah di Indonesia datan ke Yogakarta untuk menyaksikan, ada beberapa alasan mengapa orang masih tertarik untuk menyaksikan upacara grebek ini: Pertama, mereka datang menyaksikan untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan magis. Kedua, mereka ingin menyaksikan prosesi yang sangat megah, yang dilakukan oleh Punggawa Kerajaan, Bangsawan, dan ratusan abdi dalem.


Penulis:
Mustafa, S.E., M.M.
Pimpinan Yayasan Tauhidul Ummah / Kandidat Doktor Hukum Islam Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.


NB:
Tulisan ini pernah diterbitkan pada Majalah Tauhid Edisi Perdana/April 2015.


1 komentar:


  1. terima kasih atas artikel anda yang menarik dan bermanfaat ini. semoga memberikan manfaat bagi pembacanya. saya memiliki artikel sejenis yang bisa anda kunjungi di sini http://indonesia.gunadarma.ac.id

    BalasHapus