LBMI Gelar Dialog Kebangsaan Bertajuk “Masa Depan Demokrasi Indonesia”

Yogyakarta, FIMNY.org – Lembaga Bina Muda Indonesia (LBMI) pada Hari Rabu, 24 September 2014 menggelar Dialog Kebangsaan yang berlangsung di ruang Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Salah satu tolak ukur dari demokrasi adalah terselenggaranya pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat. Dan, Indonesia telah membuktikan itu semua sejak 2004 silam. Terakhir, Pemilihan Presiden 2014, pesta demokrasi berjalan dengan jujur dan adil. Tapi, di sisi lain, masih banyak elemen yang menganggap bahwa demokrasi di Indonesia masih timpang, penuh kepalsuan”, ungkap Panitia Penyelenggara Dialog Kebangsaan Lembaga Bina Muda Indonesia (LBMI), melalui siaran persnya yang diterima FIMNY.org pada Tanggal 24 September 2014.

Lebih lanjut dalam siaran pers itu ditulis, “hal ini terbukti dengan banyaknya kasus-kasus kecurangan yang ditemukan pasca pilres 2014. Kenyataan ini tentu memberikan sinyal kepada kita bahwa demokrasi masih menjadi tanda tanya besar: sudahkah berjalan ataukah masih sebatas pengakuan?”.

Untuk memfasilitasi hal tersebut, Lembaga Bina Muda Indonesia (LBMI), menggelar Dialog Kebangsaan dengan mengangkat Tema: “Masa Depan Demokrasi Indonesia”, serta menghadirkan para pemateri yang memang ahli dibidangnya, diantaranya: Pemateri Pertama Bapak Prof. Dr. Sudjito (kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta / Guru Besar Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta), Pemateri Kedua Bapak Untoro Hariadi, S.E. (Pakar/Pengamat Politik), Pemateri Ketiga Pakar Hukum yakni Sekretaris Jenderal Lembaga Bantuan Hukum dan Studi Kebijakan Publik (LBH SIKAP), Detkri Badhiron, SH., M.H.

Lebih lanjut, dalam siaran persnya Lembaga Bina Muda Indonesia (LBMI) juga turut mengundang Lembaga/Organisasi Mahasiswa serta Media, diantaranya Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA), Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), Unit Pengabdian Study Hukum (UPSH) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta, Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta, IAA, KAMASSTA, HIMASAKTI, IKAMARU, FKMSB, PANJY, MPB, TIV, Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY), KMMY, K2Y, Dewan Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dewan Mahasiswa Fakultas (DEMA-F) Se-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), HMI, GMNI, IMM, KAMMI, Kedaulatan Rakyat (KR), TRIBUN, HARJO, DETIK JOGJA, IKPM-D.

Menurut Direktur Lembaga Bina Muda Indonesia (LBMI) Mustafa, S.H., bahwasannya salahsatu point penting dalam hasil Dialog Kebangsaan tersebut yakni, “selama 16 tahun reformasi, Indonesia merupakan negara demokrasi  terbesar nomor 3 di dunia. Secara de jure itu jelas sangat membanggakan karena dunia melihat masa depan Indonesia sangat cerah, tetapi secara de facto hal demikian masih tanda tanya besar mengingat demokrasi yang kita anut masih sekedar demokrasi proseduril yang masih sangat jauh dari harapan rakyat Indonesia”, ungkap Direktur Lembaga Bina Muda Indonesia (LBMI), Mustafa, S.H. dalam siaran persnya yang diterima FIMNY.org beberapa hari lalu.

Peserta yang hadir dalam acara tersebut kurang lebih 100 orang, terdiri dari para mahasiswa dan umum. Hadir pula dalam acara tersebut Direktur Lembaga Bina Muda Indonesia (LBMI), Mustafa, S.H.


Suasana saat Berlangsungnya Acara (Foto: Faizi)

Moeda Institute dan BEM-J MU Gelar Seminar Nasional OJK

Yogyakarta, FIMNY.org – Moeda Institut bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Muamalat (BEM-J MU) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Hari Sabtu, 20 September 2014 menggelar Seminar Nasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berlangsung di ruang Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Seminar Nasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kemarin berlangsung di ruang Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pukul 13.00-selesai”, ungkap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Muamalat (BEM-J MU) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Aziz Asy’ari, melalui siaran persnya yang diterima FIMNY.org beberapa hari yang lalu.

Untuk memfasilitasi hal tersebut, Moeda Institut bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Muamalat (BEM-J MU) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, menggelar Seminar Nasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan mengangkat Tema: “Urgensi Implementasi Good Corporate Governance (GCG) Pada Industri Jasa Keuangan; Upaya Mewujudkan Industri Jasa Keuangan yang Sehat dan Tangguh di Indonesia”, serta menghadirkan para pemateri yang memang ahli dibidangnya, diantaranya: Pemateri Pertama dari pihak Bank Indonesia (BI), Pemateri Kedua Bapak Purnama Dhedi Setiawan (Pengamat Ekonomi Nasional), Pemateri Ketiga Lusia Nia Kurnianti, S.H., M.H. (Notaris/PPAT Yogyakarta, juga Dosen Perancangan Kontrak pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Lebih lanjut Aziz Asy’ari menyampaikan komentar dan taggapan baiknya dengan adanya Seminar Nasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini. “Kalau dari segi Acara kita dari Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Muamalat (BEM-J MU) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sangat mengapresiasi dan berterima kasih telah diajak kerjasama dalam pelaksanaan seminar ini karna selain untuk menambah wawasan keilmuan  Istilah Good Corporate Governance (GCG) masih awam ditelinga Mahasiswa, Sehingga diharapkan setelah seminar mahasiswa faham akan pentingnya sistem GCG ini di dunia industri Jasa Keungan”, cetus Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Muamalat (BEM-J MU) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Aziz Asy’ari.

Peserta yang hadir dalam acara tersebut kurang lebih 100 orang, terdiri dari para mahasiswa dan umum. Hadir pula dalam acara tersebut Ketua Moeda Institute, Khafif Sirajudin (Saprol) serta Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Muamalat (BEM-J MU) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Aziz Asy’ari.

 Para Pemateri saat berlangsung Acara
Para Panitia dan Pemateri usai berlangsung Acara

UIN Sunan Kalijaga, Tinggal Hitungan Hari Akan Kukuhkan Prof. Noorhaidi Sebagai Guru Besar

Yogyakarta, FIMNY.org – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam waktu dekat akan melaksanakan Rapat Senat Terbuka (Pengukuhan) Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D. sebagai Guru Besar (GB) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pengukuhannya akan dilaksanakan pada Hari Selasa, 30 September 2014 di Multi Purpose Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sesuai dengan undangan yang share di akun Facebook pribadi Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D. dengan nama Facebook “Noorhaidi Hasan”, diifokan bahwasannya rangkaian Susunan Acara yang akan dilaksanakan pada saat Pengukuhan tersebut diantaranya: Acara Pertama Pembukaan, Acara Kedua Pembacaan Surat Keputusa, Acara Ketiga Pengukuhan, Acara Keempat Pidato Pengukuhan, Acara Kelima Sambutan Rektor, Acara Keenam Do’a, Acara Ketujuh Penutup, dan Acara Terakhir Ramah Tamah.

Untuk menyambut hari bahagia Pengukuhan sebagai Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta,  Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D. juga mengharapkan doa restu semua teman, sahabat dan koleganya, mengharap dimudahkan berjalannya acara tersebut dengan lancar tanpa hambatan suatu apapun.

“Mengharapkan doa restu semua teman, sahabat dan kolega atas upacara pengukuhan GB (Guru Besar, red) saya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa 30 September 2014”, ungkap Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D. dalam akun Facebooknya pada 26 September 2014 sore hari.

Atas informasi bahagia itu, lebih dari 100 komentar serta ucapan dari teman, sahabat dan koleganya untuk Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D., beberapa komentar kolega dan sahabat, dibawah ini FIMNY.org pilih 10 komentar secara acak, diantaranya seperti kutipan dibawah ini.

Yang Pertama Irfan Cipta Suharta mengatakan, “Barakallah, semoga semakin bermanfaat”, ucap Akun Facebook “Irfan Cipta Suharta”. Yang Kedua Wija Wijayanto mengatakan, “Selamat Mas Noorhaidi Hasan dan mbak Euis Nurlaelawati! *keberhasilan suami pasti juga keberhasilan istri, tentunya”, tulis Akun Facebook “Wija Wijayanto”. Komentar Ketiga, “Selamat Prof, semoga ilmu bermanfaat”, tulis Akun Facebook “Zainal Arifin”.

Komentar Keempat, “Selamet yach Prof. Noorhaidi Hasan. Kebetulan banget kemarin itu baca-baca disertasi anda”, tulis Akun Facebook “Joss Wibisono”. Komentar Kelima, “Mabruk, Ust. Selaku santri (mahasiswa) jenengan di S1 dulu dan S3 saat ini, saya tak bisa menyembunyikan rasa bangga saya atas prestasi yang telah Ustadz raih ini. Semoga barokah. Amin.”, cetus Akun Facebook “Muhammad Adib”. Komentar Keenam, “Selamat Noorhaidi, semoga menjadi guru yang tanpa pamrih dan bersedia dikiritik muridnya”, tulis Akun Facebook “Fediya Andina”.

Komentar Ketujuh, “Selamat kepada Prof. Noorhadi Hasan. Semoga bulan November dalam konferensi Jurnal Al Jamiah bisa ketemu yah”, tulis Akun Facebook “Wahyudi Akmaliah”. Komentar Kedelapan, mengucapkan selamat dn sekaligus bertanya kepada Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D., “Selamat Prof. Noorhaidi. Semoga acaranya lancar. Maaf, saya ingin bertanya sedikit: apakah IAIN Sunan Kalijaga dulunya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta? Saya mencari info tentang seorang kontributor dalam pendirian Universitas Islam Yogyakarta, yaitu Bagindo Dahlan Abdullah. Beliau telah berjasa menyumbangkan uang dana tenaga dalam pendirian univ. tersebut. Kalau Prof. Noorhaidi tahu tentang itu, mohon share infonya dengan saya. Terima kasih banyak Prof. Noorhaidi”, tulis Akun Facebook “Suryadi Sunuri”. Komentar Kesembilan, “Mantap pak Noorhaidi. Semoga makin jaya. Dutunggu terus kobtribusinya bagi perkembangan Ilmu pengetahuan endhonesa”, cetus Akun Facebook “Mahsun Fuad”. Komentar Kesepuluh, “Selamat pak Noorhaidi Hasan semoga bisa memberikan manfaat pada semua umat manusia. Saya bangga pernah di bimbing sampean”, tulis Akun Facebook “Danuji Ahmad”.

Dari komentar-komentar serta ucapan dari berbagai sahabat dan kolega, kemudian Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D. menanggapinya. “Terimakasih atas restu, dukungan dan doa teman-teman semua. Saya sebenarnya ingin mengundang semua kawan yang berminat mendengar pidato saya. This is a great honour for me. Namun sudah ada panitia yang mengatur segala sesuatunya. Barangkali dapat menghubungi nomor yang tertera dalam undangan”, ungkap Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D. dalam salahsatu tanggapannya.

A Litle Letter

I don't know what must I say to you
I just can give you a letter
Why,because we are so far

And don't you forget friend.....
When you were in problem
Be a strong wall in the hard times
And be a smiling sun in the good times
We will never know the real answer, before you try
But remember,Tranquility can be found when we are with Allah

It’s always hurt to see you cry
To see tears falling like rain from the sky
And there’s no answer for why
I never question myself, I never try

It’s always hurt to know there’s nothing I can do
And fact that I don’t even know what to do
It’s so sad but so true
Feels like the color blue

Someday we’ll see we were wrong
And then we realize the day has done
Time won’t turn back, it’s no use to regret
It’s not easy to say good bye, but someway we have to try

Sometimes it’s hurt to remember
About the days we had together
And a piece of heart inside me
Carved with your smile, you can see…

It was the day when I used to care
Think about you, anytime, anywhere
The day when I used to drive you home
When the night was so cold and you were alone

That’s just history, saved properly in my memory
Now we are so far and so different, and yet so silent….
No voices when you say, just few words on my display
I'm fime for that's and thank any way


Yogyakarta, 24 September 2014
Karya: Nurul Kiftiah

Untukmu Ibu

IBU
Saat ku meninggalkanmu, aku melihat senyummu
Senyum yang begitu indah di wajahmu
Senyum menutupi rasa kesedihan hatimu
Melepas diriku pergi dan jauh darimu

Saat engkau melihatku melangkah turun dari rumah
Dan menjauh darimu, engkau memegang tanganku
Seakan engkau tak merelakan kepergianku

IBU
Saat ku memelukmu seakan engkau tak rela
Melepas pelukanmu pada diriku
Hangat pelukan terakhirmu selalu terbayang
Akan selalu ku kenang didalam hati

IBU
Saat engkau melambaikan tanganmu padaku
Ku hanya bisa menangis melihatmu
Ku melihat air matamu menetes dipipi
Namun engkau tetap tersenyum manis untukku

IBU
Aku rindu hangat pelukmu kasih sayangmu
Aku rindu masa masa indah bersamamu
Aku rindu canda tawa guraumu
Aku rindu ocehan, omelanmu padaku

IBU
Ibu daku rindu
Daku rindu padamu Ibu
Aku rindu dirimu yang jauh diseberang


Yogyakarta, 19 September 2014
Karya: Intan Kurniati

Tak Ada yang Mustahil

Merancang harap dari puing kesia-siaan
Seturut Kitab Suci,
Tak ada yang mustahil

Sungguh tak bisa dicerna dengan logika,
seonggok kenyataan,
Teori bersilangan prakteknya

Berceceran sketsa bahkan potret nyata,
Kau takkan percaya
Mati langkah dipadanan kepantasan,
Digaris kewajaran

Pasang surut suara hati,
Bertimbang lahirkan bimbang
Ingin kuhidangkan
Berikut titik koma dan segenap tanda baca

Lonceng nurani masih bergetar
Pantaskah melakukannya
Apa kata dunia,
Kerdil itulah stempel diri!

Rancanganku
Memang bukan rancangan-MU
Rancangan-MU
Memang tak ada yang mustahil.....


Yogyakarta, 19 September 2014
Karya: Nurul Kiftiah

Biografi Singkat H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., CN., M.H.

FIMNY.org – H. Ahmad Yubaidi S.H., S.Pd., CN., M.H. lahir pada 1 April 1964 di Malang, Jawa Timur. Beliau merupakan Alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Menikah pada 20 Agustus 1992 dengan H. Siti Arum Hidayati, S.H., istrinya lahir pada 17 Juli 1967 di Kediri, Jawa Timur. Dari hasil perkawinannya melahirkan 4 orang anak dengan nama, yang pertama anaknya yang bernama Ricco Survival Yubaidi, beberapa saat yang lalu dalam Kontes Dhimas De Ajeng Yogyakarta saudara Ricco Survival Yubaidi terpilih menjadi Wakil Pertama Dhimas Jogja Tahun 2014, dan saat ini gelar itu pun (Wakil Pertama Dhimas Jogja Tahun 2014, red) dia sandang. Anak yang kedua bernama Dellarious Benefit Yubaidi, anak yang ketiga bernama Altrariq Welfare Yubaidi, dan anak bungsunya yang bernama Sultan Peaceloving Yubaidi. Kini keharmonisan keluarga mereka masih bertahan hingga saat ini.

Sampai saat ini H. Ahmad Yubaidi S.H., S.Pd., CN., M.H. rutin mengajar di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta, salahsatu tempat ia mengajar yakni di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain mengajar, profesi beliau adalah Notaris/PPAT. Beliau membuka Kantor Notaris/PPAT Ahmad Yubaidi, S.Pd., S.H., CN., M.H. yang beralamat di Jl Melati Wetan Nomor 34, Desa Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan Kode Pos  55225.

Selain rutinitas-rutinitas yang telah disebutkan diatas, H. Ahmad Yubaidi S.H., S.Pd., CN., M.H. juga merupakan Pimpinan salahsatu Pondok Pesantren di Kota Yogyakarta, yakni Pimpinan PONDOK PESANTREN ULUL ALBAB yang beralamat di Jalan Balirejo UH II/531A RT 016 RW 005 Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Beliau dikenal sebagai seorang yang ramah dan bersahaja, beliau juga merupakan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang Nahdatul Ulama (NU) Kota Yogyakarta.

KEPMA-Bima Yogyakarta Gelar Dialog Dengan Sesepuh

 Yogyakarta, FIMNY.org – Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Ygyakarta menyelenggarakan “Dialog dengan Sesepuh Bima” dengan mengangkat tema “Bima Dalam Integrasi Global Ditinjau Dari Genetika” pada Hari Minggu, Tanggal 21 September 2014 mulai pukul 09.00-13.00.

Acara “Diskusi Rutin” tersebut berlangsung sangat lancar dihadiri oleh warga Bima yang berada di Yogyakarta, dengan jumlah peserta yang hadir kuranglebih 60 orang.

Hadir pula dalam acara tersebut, Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta, Saudara Arif Rahman, Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, saudara Dedi Purwanto, Ketua Umum Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia Yogyakarta (IKPMDI-Yogyakarta).

Selain itu, dihadiri pula oleh beberapa senior Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), diantaranya Jamaludin, S.E.I., M.Ec.Dev., Sahrudin, S.E.,M.Ec.Dev., M. Jamil, S.H. Pada saat acara “Diskui Rutin” tersebut, berlangsung dengan meriah dimana terjadi interaksi yang aktif dari semua peserta diskusi, yang mana para peserta berdialog dengan gigih dengan Pemateri terkait Bima Dalam Integrasi Global Ditinjau Dari Genetika.

Hadir dalam “Dialog dengan Sesepuh Bima” tersebut, sebagai pemateri Bapak Prof. Dr. dr. Abdul Salam, M.Kes. serta dimoderatori oleh Ibu dr. Siti Aisyah, M.Kes.

Acara  “Dialog dengan Sesepuh Bima” tersebut dipersembahkan oleh Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Ygyakarta dan berlangsung di Ruag Aula Asrama Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Ygyakarta yang beralamat di Jalan Gondosuli, Baciro, Kota Yogyakarta.

Suasana saat berlangsungnya Dialog

Akhir Zaman

Ketika sungai eufrat menyurutkan airnya
Ketika gunung emas tampak dari padanya
Berbondong orang memperebutkannya
Hingga terjadi aniaya di antara mereka
Seratus orang hanya tinggal satu yang tersisa
Apa sebenarnya yang mereka cari di dunia?

Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya
Bagaikan sepotong roti yang digoyangkan-Nya
Gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya
Manusia bagai debu yang berterbangan entah kemana
Anak-anak kehilangan orang tua dan saudaranya
Tiap diri berlari mencari perlindungan yang ada
Masih adakah ampunan yang tersisa ?

Allah genggam langit dengan satu jari
Allah genggam bumi dengan satu jari
Allah genggam gunung n pepohonan dengan satu jari
Allah genggam air dan tanah dengan satu jari
Allah genggam semua makhluk dengan satu jari
Dia melipat bumi dengan tangan kiri
Dimanakah raja-raja di bumi?

Mereka di tengah padang berwarna putih agak kemerahan
Di atas kepala mereka matahari pun Allah dekatkan
Tidak ada bangunan tempat tinggal bagi seorang pun
Penantian yang panjang dalam terik yang menyakitkan
Hanya dahaga dan derita yang mereka rasakan
Hukuman dan balasan dari apa yang mereka kerjakan
Masih adakah datangnya pertolongan ?

Tak seorangpun sanggup lepas dari genggaman
Tak seorangpun yang luput dari kesaksian
Tak seorangpun yang bisa luput dari siksaan
karena kelalaian akan segala kewajiban
Tak peduli dengan kesempatan dan peringatan
Tak ada lagi baginya negosiasi dan ampunan
Hanya Neraka sebagai tempat kediaman


Yogyakarta, 19 September 2014
Karya: Nurul Kiftiah

Ayo Peduli Karmani, Si Penderita Tumor Kista Yang Terabaikan

Bima, FIMNY.org – Karmani adalah anak bungsu dari Nurdin (Deo) dan Ramlah dari 6 bersaudara. Tinggal bersama di RT 005, RW 003, Desa Tambe, Kecamatan Bolo Kab Bima. Bapaknya dan ibunya sudah berumur diatas 50 tahun. Bapak Karmani bekerja sebagai Buruh Tani musiman, sedangkan Ibunya adalah IRT yang sesekali sebagai pengumpul botol dan gelas plastic bekas (Pemulung) untuk mempertahankan Hidup. Demikian juga kakak-kakaknya Karmani setiap hari kadang ikut membantu bapaknya dan kadang ikut memulung bersama Ibunya, dalam menghidupi keluarga mereka.

Bagi orang-orang yang merasa terpanggil hati dan jiwanya untuk kemanusiaan, Relawan Kemanusiaan BABUJU juga membukakan Dompet Peduli, yang dari uluran tangan para masyarakat pastinya akan dapat disampaikan dengan baik kepada yang membutuhkan.

Bagi anda yang peduli, salurkan bantuan anda melalui “DOMPET PEDULI BABUJU UNTUK KARMANI”, dapat melalui NOMOR REKENING BNI: 0216087863 a/n Julhaidin (Konfirmasi Donasi: 087866893435). Sebagai Pendamping Dalam penanganan Karmani di Desa Tambe Kecamatan Bolo Kab Bima, Komunitas BABUJU Percayakan kepada ‘Komunitas Seni Bontomaru’, Binaan Yadien Babuju (HP: 082341306411).

Bagi para Donatur/calon Donatur yang ingin mengetahui lebih lanjut sekilas tentang Karmani, silakan lihat Tulisan FIMNY.org sebelumnya yang berjudul “Komunitas BABUJU: Karmani, Penderita Tumor Kista Yang Diabaikan”.

Komunitas BABUJU: Karmani, Penderita Tumor Kista Yang Diabaikan

Bima, FIMNY.org – Salahsatu Relawan Kemanusiaan Komunitas BABUJU, Julhaidin, S.E. (yang biasa dikenal publik dengan nama Rangga Babuju), dalam status Facebook miliknya “Rangga Babuju” pada Tanggal 23 September 2014 menuliskan Postingan Status dengan judul “Karmani, Penderita Tumor Kista Yang Diabaikan (Komunitas BABUJU Kembali Peduli)”.

Dalam status tersebut, Rangga Babuju menginformasikan kepada publik tentang adanya salahsatu warga Bima Nusa Tenggara Barat yang saat ini sedang menderita Tumor.

“Kini, Relawan Kemanusiaan Komunitas BABUJU kembali bergerak untuk membantu dan meringankan beban sesama. Seorang gadis Muda bernama Karmani (20 tahun) harus berbaring lemah hampir 4 tahun terakhir dan mengikhlaskan keceriaan masa-masa remaja dan meninggalkan bangku Sekolah pada saat menjelang Ujian Akhir akibat derita penyakit yang tidak mampu ia tahan. Karmani menderita TUMOR KISTA pada dinding rahimnya”, ungkap Julhaidin, S.E. (Rangga Babuju) dalam status facebook-nya pada Tanggal 23 September 2014 malam hari.


Lebih lanjut Rangga Babuju menjelaskan dengan detail tentang Karmani yang kini menderita Tumor. “Karmani adalah anak bungsu dari Nurdin (Deo) dan Ramlah dari 6 bersaudara. Tinggal bersama di RT 005, RW 003, Desa Tambe, Kecamatan Bolo Kab Bima. Bapaknya dan ibunya sudah berumur diatas 50 tahun. Bapak Karmani bekerja sebagai Buruh Tani musiman, sedangkan Ibunya adalah IRT yang sesekali sebagai pengumpul botol dan gelas plastic bekas (Pemulung) untuk mempertahankan Hidup. Demikian juga kakak-kakaknya Karmani setiap hari kadang ikut membantu bapaknya dan kadang ikut memulung bersama Ibunya, dalam menghidupi keluarga mereka”, lanjut Rangga Babuju menulis dalam status yang sama.

“Tumor Kista yang diderita Karmani dialaminya sejak tahun 2010, saat dirinya kelas 1 SMP. Karena keterbatasan ekonomi, penyakit ini hanya mampu ia tahan dan tutupi segala derita yang ditimbulkannya. Hingga memasuki tahun 2012, orangtuanya sudah melarang Karmani untuk sekolah lagi di MAN 3 Bima, karena keluarga merasa malu sebab perut Karmani makin hari makin besar. Awalnya Karmani dikira sedang hamil diluar nikah. Namun, tanda-tanda sebagai perempuan hamil tidak Nampak. Dukun desa pun dipanggil untuk memastikan, benar saja, pembesaran perut Karmani bukan karena Hamil tapi ada suatu penyakit yang ia derita. Keluarganya men-vonis bahwa Karmani diguna-gunai”, cetus Rangga Babuju dalam Status tersebut.

Lebih jauh dalam Status tersebut Rangga Babuju mengatakan “Meski dengan perut yang membuncit, Karmani tetap sekolah. Ia ingin menjadi perempuan tegar yang cerdas, tidak ingin meninggalkan sekolah hanya karena aib ‘ini itu’ yang ditujukan kepadanya, apalagi tinggal beberapa bulan lagi ia akan melaksanakan Ujian Akhir dibangku MAN 3 Bima. Namun apa hendak dikata, bulan Mei 2012, Tumor Kista yang ia alami tak mampu ia tahan rasa sakit dan perihnya. Beberapa kali harus pingsan karena tak kuasa menahan rasa sakit yang begitu menyiksanya. Karmani pun tidak bisa mengikuti UN MAN 3 Bima”.

Dalam staus Facebook tersebut, lebih lanjut Rangga Babuju menyayangkan terhadap sikap pemerintah setempat yang acuh tak acuh dengan adanya warganya yang sedang menderita Tumor walau jelas-jelas pemerintah setempat tersebut mengetahui kondisi yang demikian.

“Pemerintah Desa mengetahui ada warganya yang mengidap Penyakit Tumor Kista hingga perutnya membesar, namun tidak berbuat apa-apa. Pemerintah Kabupaten Bima sendiri belum tahu bahwa ada salah seorang warganya yang tengah menghadapi sakit yang luar biasa dipelosok desa sana selama bertahun-tahun. Tahun 2013 yang lalu, saat ramai Pilkada Gubernur NTB, Calon Incumbent, KH Zainul Majdi, sempat memberikan bantuan. Oleh orang tuanya, Bantuan tersebut digunakan untuk pemasangan listrik dan pembelian mesin air merk Sanyo. Karena menganggap tidak cukup untuk mengobati penyakit yang diderita oleh Karmani, untuk menunggu uluran tangan warga untuk memenuhi biaya dari bantuan tersebut juga, keburu habis”, ungkap Rangga Babuju.

Lebih lanjut dalam status Rangga Babuju mengisahkan, “melalui bantuan dan uluran beberapa tetangganya yang prihatin, Karmani akhirnya sempat dibawa ke RSUP Mataram untuk mendapatkan perawatan medis pada tahun 2013 yang lalu dengan beban biaya sendiri dan beberapa hasil kumpulan dari beberapa tetangga yang peduli. Di RSUP Mataram, sempat disedot cairan yang ada didalam perut Karmani, sebanyak satu botol 150 ml. Dari hasil laboratorium tersebut, Dokter RSUP Mataram menyarankan agar Karmani dirujuk ke RS Sanglah Bali untuk mendapatkan perawatan dan pelayanan maksimal. Namun, lagi-lagi karena terkendala ekonomi keluarga, Karmani pun dibawa pulang ke rumahnya di Tambe hingga saat ini”, tulis Rangga Babuju.

“Karmani Butuh uluran tangan kita semua, Karmani ingin sekolah, Karmani tidak ingin menambah beban orang tua dan tetangga sekitarnya akibat penyakit yang ia Derita. Relawan Kemanusiaan Komunitas BABUJU mendapati Karmani dirumahnya pada awal Agustus 2014 yang lalu dengan kondisi yang memprihatinkan. Karmani hanya bisa berbaring dan sesekali duduk. Tulang punggungnya mulai lebam akibat beberapa tahun ini hanya bisa berbaring”, cetus Julhaidin, S.E. (Rangga Babuju).

Bagi orang-orang yang merasa terpanggil hati dan jiwanya untuk kemanusiaan, Relawan Kemanusiaan BABUJU juga membukakan Dompet Peduli, yang dari uluran tangan para masyarakat pastinya akan dapat disampaikan dengan baik kepada yang membutuhkan.

“Relawan Kemanusiaan BABUJU kembali membuka DOMPET PEDULI BABUJU UNTUK KARMANI Dapat melalui NOMOR REKENING BNI: 0216087863 a/n Julhaidin (Konfirmasi Donasi: 087866893435). Sebagai Pendamping Dalam penanganan Karmani di Desa Tambe Kecamatan Bolo Kab Bima, Komunitas BABUJU Percayakan kepada ‘Komunitas Seni Bontomaru’, Binaan Yadien Babuju (HP: 082341306411)”, tulis Rangga Babuju.

Bagi yang masyarakat yang merasa terpanggil hatinya ingin membantu meringankan beban Karmani, walau tidak mampu menyumbangkan pupiahnya, alangkah baiknya meluangkan waktunya untuk menyumbangkan waktunya sejenak untuk menyebarkan informasi ini.

“Membagikan foto dan berita tentang saudari kita, karmani, berarti turut serta meringankan beban keluarga karmani. agar supaya akan semakin banyak orang peduli yang akan membantu meringankan beban yang diderita oleh Karmani. Terima kasih”, ungkap Rangga Babuju dalam menutup tulisan informasi tersebut.


Rindu Ayah

Ayah
Kenapa engkau pergi di saat umurku masih kecil
Apakah engkau tidak mengerti betapa terpuruknya aku saat ini
Apakah engkau tidak mengerti aku ingin bahagia bersamamu

Apakah engkau tidak mengerti akan perasaanku saat ini
Apakah engkau tidak mengerti akan kerinduanku saat ini
Apakah engkau tidak mengerti
Betapa sakitnya ketika aku tau engkau pergi meninggalkan aku

Apakah engkau tidak mengerti
Aku tak ingin kita berpisah
Aku tak ingin jauh darimu
Aku tak ingin menjalani hidup ini
Tanpa hadirnya dirimu di sampingku

Ayah,,,
Sungguh bagiku hidup ini terasa berat untuk di jalani
Sungguh bagiku
Hati ini sulit untuk menerima semua kenyataan ini

Ayah
Harusnya engkau mengerti dengan semua ini
Harusnya engkau mengerti
Betapa kesepiannya ibu tanpa hadirmu

Harusnya engkau mengerti
Betapa berat beban ibu
Untuk mengasuhku dari kecil sampai sekarang
Harusnya engkau juga mengerti
Betapa tegarnya ibu saat kau putuskan harapannya

Ayah
Hati selalu iri melihat orang lain mempunyai kelauarga yang utuh
Hati selalu malu ketika ditanya orang tentang keberadaanmu saat ini
Saya selalu merasa sakit ketika rindu ini selalu menghantui
Apakah engkau tak sadar tentang kehidupan yang kami jalani


Yogyakarta, 09 September 2014
Karya: Juraidah

Mengenal Organisasi Kedaerahan FSM-KMY

 Yogyakarta, FIMNY.org – Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dengan selogannya sebagai Kota Pelajar, tidak bisa dinafikkan banyak tokoh-tokoh nasional yang telah lahir dari hasil didikan di kota pendidikan ini. Di kota Gudeg Yogyakarta terdapat beribu-ribu organisasi, ada organisasi kepemudaan, organisasi intra kampus, organisasi ekstra kampus, organisasi kedaerahan, dan berbagai macam bentuk organisasi lainnya. Organisasi-organisasi kedaerahan menjamur di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, karena Yogyakarta dikenal dengan miniatur Indonesia (gambaran kecil dari Indonesia), karena di Yogyakarta banyak bersebaran mahasiswa/masyarakat dari berbagai macam daerah. Salahsatu organisasi kedaerahan di Yogyakarta yakni organisasi Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY).

Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY) pada periode sebelumnya mempunyai nama Forum Silaturrahim Keluarga Mahasiswa Madura Jogjakarta (FS-KMMJ), yang mana kala itu diketuai atau dipimpin oleh Abdul Khafi Syatra. Sesuai informasi dari status facebook resmi “FSM Madura Yogyakarta” yang ditulis pada Tanggal 28 Agustus 2014, bahwasannya akan diadakan Kongres Ke-XIII pada hari Sabtu, tanggal 30 Agustus 2014, jam 08.00 (pagi) sampai selesai, yang bertempat di Aula Kampus Universitas Proklamasi 45 Babarsari, dan dilanjutkan lagi satu minggu setelahnya, berakhir Pada Tanggal 7 September 2014.

Pada hasil Kongres Ke-XIII Tanggal 7 September 2014 itulah nama organisasi Forum Silaturrahim Keluarga Mahasiswa Madura Jogjakarta (FS-KMMJ) diganti dengan Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY), dan terpilihlah saudara Syamsuddin Efendi Djuhri, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai ketua baru yang akan memimpin organisasi Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY) satu periode kedepan.

“Pada periode sebelumnya dipimpin oleh Abdul Khafi Syatra, dan pada hasil kongres Ke-XIII Tanggal 7 September 2014 sahabat-sahabat mempercayakan saya (Syamsuddin Efendi Djuhri, red) untuk memimpin Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY) satu periode kedepan”, ungkap Ketua Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY), Syamsuddin Efendi Djuhri, melalui siaran persnya yang diterima FIMNY.org pada Tanggal 19 September 2014.

Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY), sebelumnya dengan nama Forum Silaturrahim Keluarga Mahasiswa Madura Jogjakarta (FS-KMMJ), merupakan sebuah organisasi yang berusaha menampung aspirasi anggotanya, juga sebagai wadah aktualisasi diri dalam rangka mengembangkan moralitas dan intelektualitas. Dengan program yang dirumuskan dalam rapat kerja (raker) merupakan usaha untuk memberikan fasilitas kepada semua anggota berupa kegiatan-kegiatan sosial yang berorientasi pada pengembangan skill dalam berbagai bidang, baik internal (pengabdian terhadap daerah) maupun eksternal (transformasi sosial, interaksi sosial dengan masyarakat luar daerah Jogjakarta). Misalnya dialektika kebudayaan sebagai bagian dari elemen bangsa sesuai dengan visi dan misi organisasi, sesuai dengan lansiran “http://fskmmj.wordpress.com”.

Lebih lanjut, sesuai lansiran “http://fskmmj.wordpress.com”, Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY), sebelumnya dengan nama Forum Silaturrahim Keluarga Mahasiswa Madura Jogjakarta (FS-KMMJ), merupakan sebagai organisasi pusat yang memiliki fungsi strategis dalam upaya transformasi pengetahuan ke daerah (Madura) yang terbagi atas empat kabupaten. Setiap kabupaten memiliki koordinator daerah (korda) yaitu KMBY (Keluarga Mahasiswa Bangkalan Yogyakarta), KMSY (Keluarga Mahasiswa Sampang Yogyakarta), KMPY (Keluarga Mahasiswa Pamekasan Yogyakarta), dan KMSY (Keluarga Mahasiswa Sumenep Yogyakarta). Secara fungsi keempat korda ini memiliki fungsi taktis dalam rumusan yang telah digodok secara bersama-sama di FS-KMY.

Selain itu, organisasi Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FS-KMY), dipayungi oleh organisasi Induk yakni organisasi Keluarga Madura Yogyakarta (KMY). Organisasi Keluarga Madura Yogyakarta (KMY)  itu sendiri memayungi tiga organisasi dibawahnya, diantaranya, yang Pertama organisasi Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY), yang Kedua Forum Silaturrahmi Cendikiawan Keluarga Madura Yogyakarta (FSC-KMY), dan yang Ketiga organisasi Forum Silaturrahmi Niagawan Keluarga Madura Yogyakarta (FSN-KMY).

“Organisasi induk Keluarga Madura Yogyakarta (KMY) yang diketuai oleh KH. Ahmad Fadli Fauzi, M.Hum., membawahi Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY) yang diketuai oleh saya sendiri (Syamsuddin Efendi Djuhri, red), Forum Silaturrahmi Cendikiawan Keluarga Madura Yogyakarta (FSC-KMY) dengan ketua Dr. KH. Malik Madani, M.A., dan Forum Silaturrahmi Niagawan Keluarga Madura Yogyakarta (FSN-KMY) dengan ketua H. Hasbullah (Abah Udin)”, cetus Syamsuddin Efendi Djuhri.

Salahsatu Kegiatan FSM-KMY

Nurhaidah, FIMNY Akan Adakan LDK Usai Lebaran Idul Adha

Yogyakarta, FIMNY.org – Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) dalam waktu dekat akan menyelenggaran Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Tahun 2014 pada tanggal 10-12 Oktober 2014, akan berlangsung di Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
   
“Insya Allah dalam waktu dekat, satu minggu setelah Lebaran Idul Adha, tepatnya pada tanggal 10-12 Oktober 2014 Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Tahun 2014, rencananya akan dilaksanakan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta”, ungkap Nurhaidah selaku Ketua Panitia Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Tahun 2014 usai rapat Persiapan LDK pada Hari Rabu Tanggal 17 September 2014 malam hari di Sekretariat Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) yang beralamat di Samirono CT VI/087, RT 002 RW 001, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lebih lanjut Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta ini, berharap “semoga Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Tahun 2014 kali ini akan melahirkan generasi-generasi penerus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) yang mempunyai pemikiran dan wawasan yang luas, kreatif dan inovatif. Sehingga menjadi bekal dikemudian hari, baik nanti saat berproses menjalankan roda organisasi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) maupun kelak bila berpapasan langsung dengan masyaraka luas”, cetus Nurhaidah.

Pada Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Tahun 2014 kali ini mengangat tema “Terbinanya Kader yang Kreatif di Era Pasca Modern”, dengan materi-materi yang akan bisa membuka wawasan para anggota yang akan dikader.

“Insya Allah nanti saat Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Tahun 2014 akan diisi dengan materi-materi seperti: Materi Pertama tentang ‘Keorganisasian’, akan disampaikan oleh Kakanda Ajwar Anas (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Materi Kedua tentang ‘Manajemen Kepemimpinan’, akan disampaikan oleh Kakanda Jamaludin, S.E.I., M.Ec.Dev. (Alumnus Pascasarjana Magister Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). Materi Ketiga tentang ‘Sejarah Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)’, akan disampaikan oleh Kakanda Dedi Purwanto.

Selain itu, Materi Keempat tentang ‘Keislaman’, akan disampaikan oleh Ayahanda Ustat Mustafa, S.E., M.M. (Pimpinan Yayasan Tauhidul Umah Pusat Yogyakarta). Materi Kelima tentang ‘Kemahasiswaan’, akan disampaikan oleh Kakanda Fandy. Materi Keenam ‘Manajemen Keorganisasian’, akan disampaikan oleh Kakanda Ilham. Materi Ketujuh tentang ‘Analisis Sosial (Ansos)’, akan disampaikan oleh Kakanda Sahrudin, S.E., M.Ec.Dev. (Alumnus Pascasarjana Magister Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). Serta pada ending akhirnya akan diisi dengan ‘Renungan Malam’, akan disampaikan oleh Aya Bili (Fahmi)”, cetus Ketua Panitia Penyelenggara Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Tahun 2014, Saudari Nurhaidah.

Tangisan Mata Bunda

Dalam senyummu kau senbunyikan letih
Derita siang dan malam menimpamu
Tak sedetik pun menghentikan langkahmu
Untuk bisa memberi harapan baru bagiku.

Setumpuk cacian selalu menghampirimu
Secara hinaan tak peduli bagimu
Selalu engkau teruskan langkah untuk masa depanku
Mencari harapan baru bagi anakmu

Bukan setumpuk emas yang kau harapkan dalam kesuksesanku
Bukan gulungan uang yang engkau minta dalam keberhasilanku
Bukan juga sebatang piala besar dalam kemenanganku
Tapi keinginan hatimu membahagiakanku

Dan yang selalu engkau berkata padaku
Aku menyayangimu sekarang dan sewaktu tak lagi bersamamu
Aku menyayangimu anakku dengan ketulusan hati

Ibu
Aku tumbuh dewasa tanpa ayah
Engkaulah yang mengajariku segalanya,
Membesarkan dengan segala upaya
Berharap anakmu akan memjadi orang yang berguna

Kini aku telah dewasa,
Berusaha mengejar dan meraih cita-citaku
Berharap akan menjadi orang yang berguna,
Demi mewujudkan harapan dan impian keluarga

Terimakasih ibu,
Engkaulah segalanya bagiku,
Tanpamu kini aku bukanlah apa-apa,
Kasihmu padaku tak akan terbalas sepanjang masa.


Yogyakarta, 09 September 2014
Karya: Juraidah

Rayon Ekuilibrium Gelar PKD Perdana

Yogyakarta, FIMNY.org – Rayon Ekuilibrium Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Perdana dan Bakti Sosial pada tanggal 18-20 September 2014. Tempat berlangsungnya acara Pelatihan Kader Dasar (PKD) Perdana dan Bakti Sosial berlokasi di Padukuhan Koripan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
  
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu elemen mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik. PMII berdiri tanggal 17 April 1960 dengan latar belakang situasi politik tahun 1960-an yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan sosial politik di Indonesia, seperti yang dilansir "http://pmii.or.id". Sedangkan Rayon Ekuilibrium merupakan Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang terletak di lingkup Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Rayon Ekuilibrium sendiri merupakan rayon termuda di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Bakti Sosial Rayon Ekuilibrium Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, kali ini mengangkat sebuah tema “Optimalisasi Nilai-Nilai Gerakan untuk Menumbuhkan Cendekiawan Islam yang Kreatif-Intelektualis”.

Salahsatu narasumber yang mewarnai berjalannya Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Bakti Sosial Rayon Ekuilibrium Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah Yusrianto Elga. “Terimakasih kepada mas Yusrianto Elga yang sudah menjadinarasumber pada Pelatihan kader Dasar (PKD) Pertama Rayon Ekuilibrium”, ungkap Senior Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga saat ini menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA), Romel Masykuri, melalui status Blackberry Messenger-nya pada Hari Sabtu, 19 September 2014.

Mulai tanggal 18 September 2014 sampai saat ini, prosesi berjalannya  Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Bakti Sosial Rayon Ekuilibrium Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, berjalan dengan baik sesuai dengan harapan yang diinginkan para pania. “Suksesi Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Bakti Sosial sampai saat ini berjalan lancar”, cetus Senior Rayon Ashram Bangsa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Romel Masykuri, yang dihubungi FIMNY.org melalui Blackberry Messenger pada Hari Sabtu, 19 September 2014.

Pada Pelatihan Kader Dasar (PKD) Rayon Ekuilibrium dihadiri juga oleh Senior Rayon Ashram Bangsa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Luluk Fadilah dan mantan Ketua. Rayon Ashram Bangsa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Firkly Pardosi. “Pelatihan Kader Dasar (PKD) Rayon Ekuilibrium berlangsung di Padukuhan Koripan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta”, ungkap Firkly Pardosi, yang dihubungi FIMNY.org melalui Blackberry Messenger pada Hari Sabtu, 19 September 2014..

Sebagai pengetahuan, Ekulibrium merupakan sebuah kata yang terdapat dalam istilah perekonomian yang berarti keseimbangan. Didalam sebuah organisasi, untuk mengorganisir setiap jiwa kader-dadernya, juga sangat dibutuhkan sebuah keseimbangan. Dengan nama ekulibrium yang memiliki kedalaman makna dan falsafahnya, maka diharapkan rayon Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam mampu menyeimbangkan setiap buah pikiran dan lagu gerak kader-kadernya, seperti yang dilansir “http://rayonekuilibrium.wordpress.com/”.

Aku Suka Kamu, Tapi Aku Milik Dia

Saat itu aku telah ciptakan
Canda, tawa, luka dan kenangan
Bersama satu jiwa di dalam sentuhan
Damai terasa milik bersama

Dirimu datang disaat perbedaan mulai terasa melengkap
Membuat keadaan semakin berbeda dari senyum menjadi ratap
Aku sedih
Kebahagiaan yang terasa sudah sangat mendekat
Kini menjadi sebuah pertanyaan yang kini tiada kutemukan jawabannya

Aku benci, tapi aku suka
Dirimu yang datang hadirkan sejuta makna
Tapi aku sedih, tapi aku luka
Memikirkan semua yang menjadi serangkai kata
“aku suka kamu, tapi aku milik dia”


Yogyakarta, 16 September 2014
Karya: Juraidah

SEMA UIN Sunan Kalijaga Gelar Bedah Buku “Maha Cinta”

Yogyakarta, FIMNY.org – Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA) menyelenggarakan Peluncuran Buku dan Bedah Buku “Maha Cinta” Karya Aguk Irawan MN. Bedah buku berlangsung pada Hari Selasa, 16 September 2014, Pukul 07.30-selesai, berlangsung di gedung Convention Hall lantai 1 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bedah buku tersebut terselenggara atas kerjasama Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA) dengan Penerbit Glosaria Media. “Penerbit Glosaria Media merupakan sekaligus sebagai penerbit buku “Maha Cinta” Karya Aguk Irawan MN, yang saat ini lagi kita bedah”, ungkap Ketua Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA), Romel Masykuri, pada pada Hari Selasa, 16 September 2014, disela-sela berlangsungnya acara.

Pada kesempatan bedah buku tersebut, yang dihadirkan sebagai pembedah yakni Ahmad Tohari (Sastrawan, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk), Kuswaidi Syafi'e (Penyair sufi, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi), serta dimoderatori oleh Khairul Umam.

“Yang menjadi narasumber dalam acara ini diantaranya, Ahmad Tohari (Sastrawan, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk), Kuswaidi Syafi'e (Penyair sufi, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi), Aguk Irawan MN (Penulis Buku “Maha Cinta”) serta dimoderatori oleh Khairul Umam”, cetus  Romel Masykuri.

Untuk para peserta yang hadir dalam Peluncuran dan Bedah Buku “MAHA CINTA” Karya Aguk Irawan MN tersebut, Panitia menyediakan beberapa Fasilitas, diantaranya “Sertifikat, Snack, dan Dorprize”.
Suasana meriah dan khidmat saat berlangsungnya acara Peluncuran dan Bedah Buku “MAHA CINTA” tersebut, yang mana terjadi interaksi yang intens antara para pemateri dan para peserta yang hadir.

Hari Tanpa Sinar

Tiada kata demi kata yang bisa ku ucap
Selain kata kesuraman hatiku
Hati tak bersinar dan tak bercahaya

Seakan aku hidup tanpa sinar dan cahaya
Cahaya yang dulunya indah dan bersinar
Kini tak ada lagi ku rasakan dihati
Kesuraman dan kesepian menjadi sahabatku

Kesuraman dan kesepain selalu menghiasi
Hari-hariku, dunia seakan gelap terasa
Dimanakah cahaya itu? Aku selalu bertanya
Seakan cahaya itu telah hilang dalam hidupku

Sunyi dan kesepian itulah sahabatku
Sinar dan cahaya kini telah sirna
Bagai terbawa keheningan malam
Begitu suram dan gelap


Yogyakarta, 17 September 2014
Karya: Intan Kurniati

M. Jamil, Selamat Berbahagia Untuk Sahabat Alimudin

Pamekasan~Madura, FIMNY.org – Pernikahan merupakan prosesi pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial, yang mana itu semua ada dikarenakan ada suatu kesamaan rasa antara kedua pasangan tersebut sehngga menghasilkan ikatan janji suci untuk menjalin suatu kehidupan baru yang bahagia serta harmonis.

Suasana hari yang cerah, dalam suatu ketika, yang bertempat disalah satu Desa yang terletak di Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, bertepatan pada Hari Selasa, tanggal 9 September 2014 berlangsunglah suatu resepsi Pernikahan Sahabat Alimudin dengan Saudari Halimatus Sa’diyah.

“Saya mengucapkan Selamat menempuh hidup baru untuk sahabat Alimudin dan Saudari Halimatus Sa’diyah, dengan pernikahan mereka yang telah dilaksanakan hari ini  (9 September 2014), semoga mereka berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warohmah”, ungkap M. Jamil, S.H. melalui siaran persnya yang diterima FIMNY.org pada hari Selasa, 9 September 2014 malam hari.

Alimudin merupakan Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 2011-2013. Dikala itu saat periode yang sama (Tahun 2011-2013, red), saudara M. Jamil merupakan Sekretaris Jenderal Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 2011-2013.

“Selamat berbahagia sahabat, kala itu hari-hari kita lewati bersama dalam suatu rasa kebersamaan dan persaudaraan yakni dalam satu wadah organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 2011-2013, dan hari ini saya merasa senang dan bangga serta terharu melihat sahabatku Alimudin melangsungkan resepsi pernikahan. Semoga dalam waktu dengan saya juga menerima kabar baik tentang kehadiran anak dari hasil pernikahan mereka, agar lebih memberi warna dalam kehidupan baru sahabat (Alimudin dan Halimatus Sa’diyah, red)”, cetus Jamil.

Dalam resepsi tersebut, hadir pula para sahabat-sahabat Alimudin yang kulih di Yogyakarta dan sahabat-sahabatnya yang lain. Selain itu dihadiri pula oleh sahabat organisasi Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) dari berbagai Wilayah, salahsatunya Ketua Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) Koordinator Wilayah Daerarah Istimewa Yogyakarta, Moch. Bachry, sahabat dari Forum Silaturrahmi Mahasiswa Keluarga Madura Yogyakarta (FSM-KMY), Syamsudin dan sahabat-sahabat yang lainnya.

DPC PERMAHI DIY, Selenggarakan Penyuluhan KDRT di Ngaglik, Sleman, DIY


Yogyakarta, FIMNY.org – Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), pada Hari Selasa, 26 Agustus 2014 mengadakan Sosialisasi Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Sosialisasi Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga), dilaksanakan di Padukuhan Sembung, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

PERMAHI merupakan organisasi kader profesi yang dimana tujuan utamanya adalah mengasah khasanah pengetahuan para kadernya dibidang hukum dan pengabdian pada masyarakat. Dengan diadakannya Sosialisasi Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, ini merupakan salahsatu bentuk pengabdian Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) pada masyarakat.

 Pada kesempatan itu, Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) menggandeng Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta (KANWIL KEMENKUMHAM DIY) sebagai pemateri.

Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Sedangkan Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan jaminan yang diberikan oleh negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Jadi, untuk mencegah agar hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam lingkup rumah tangga, maka perlu dilkukan tindakan-tindakan riil, salahsatu tindakan riilnya yakni Penyuluhan Hukum, agar masyarakat tahu cara mencegah dan mengatasinya. Oleh karena itu, Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) tergerak hatinya untuk menyelenggarakan Sosialisasi Hukum tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dengan mengangkat Tema “Membangun Keluarga Harmonis Yang Bebas Dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga”.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), Dedi Purwanto, melalui siaran persnya yang diterima FIMNY.org pada Hari Selasa, 26 Agustus 2014, mengatakan ada beberapa point-point penting yang telah disampaikan pada saat Sosialisasi Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Padukuhan Sembung, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, point-point tersebut diantaranya:

Point Pertama; Kekerasaan dalam rumah tangga tidak hanya terjadi pada seorang perempuan, anak-anak, tetapi juga terjadi pada seorang laki-laki. Jadi pada dasarkan kekerasan dalam rumah tangga itu akan bisa terjadi pada siapapun dan kapanpun.

Point Kedua; Kekerasan Dalam Rumah Tangga merupakan delik aduan, dalam arti sesuatu perbuatan itu akan diproses secara hukum apabila orang atau lembaga hukum  yang merasa dirugikan dengan hal tersebut yang melaporkannya.

Point Ketiga; Kalau merasa dalam keluarga ada kekerasan yang dillakukan suami atau siapapun dan diri anda merasa menjadi korbannya, jangan takut untuk melaporkannya pada pihak yang berwajib.

Point Keempat; Keluraga yang harmonis bisa menjadi perisai untuk tidak terjadinya tindakan kekerasan dalam rumah tangga.

Lebih lanjut, Dedi mengatakat “dengan adanya sosialisasi tentang Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, diharapkan kepada keluraga dan seluruh lapisan masyarakat agar mengetahui berbagai macam bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana langkah hukum yang akan diambil apabila ada yang mengalami sendiri atau melihat perbuatan tersebut. Dan hukuman-hukuman apa yang akan diberikan kepada mereka yang melakukan kekerasan terhadap rumah tangga. Menurut saya Sosialisasi ini penting karena pada dasarnya semua nilai-nilai dan norma-norma kehidupan itu berawal dari keluarga. Dan dapat dipastikan kalau keluarganya Broken Home pasti akan berdampak pada pola dan perilaku seseorang pada lingkungan sosialnya. Begitupun sebaliknya”, ungkap Dedi Purwanto.

Mengenal Organisasi UPSH FH Universitas Janabadra Yogyakarta

Yogyakarta, FIMNY.org – Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dengan selogannya sebagai Kota Pelajar, tidak bisa dinafikkan banyak tokoh-tokoh nasional yang telah lahir dari hasil didikan di kota pendidikan ini. Di kota Gudeg Yogyakarta terdapat 10 Universitas yang memiliki Fakultas Hukum, salahsatu diantaranya adalah Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta (FH UJB). Berbagai macam organisasi lahir di Universitas Janabadra Yogyakarta, baik organisasi Eksternal maupun Organisasi Internal, salahsatu Organisasi yang terlingkup di Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta (FH UJB) diantaranya adalah organisasi Unit Pengabdian Study Hukum (UPSH) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta (FH UJB).

Sungguh beruntung mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta (FH UJB), karena dalam lingkup fakultasnya telah disediakan dan telah difasilitasi berbagai macam organisasi untuk pengembangan keilmuannya di bidang hukum, ada organsasi Eksternal dan ada juga Organisasi Internal Fakultas Hukum, salahsatu organisasi Internalnya yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Selain Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dalam lingkup Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta (FH UJB) juga dikenal salahsatu organisasi yang tidak kalah pentingnya dalam membangun nalar dan pengembangan hukum para mahasiswa Hukum Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta (FH UJB), organisasi tersebut yakni Organisasi Unit Pengabdian Study Hukum (UPSH) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta (FH UJB).

“Kegiatan rutin yang dilakukan yakni melakukan kajian tentang hukum dan membudayakan mahasuswa Fakultas Hukum untuk melaksanakan kegiatan yang berbenturan dengan kajian hukum  untuk menunjang jurusan yang digeluti mahasiswa Fakultas Hukum. Selain itu, rutinitas kegiatan yang dilakukan yakni melakukan kajian hukum secara general, melakukan kunjungan-kunjungan kelembaga hukum terkait serta yang paling penting yakni selalu melakukan pengabdian dalam kehidupan bermasyarkat. Seperi melakukan sosialisasi-sosialisasi hukum, melakukan advokasi, dan berbagai macam kegiatan yang bersentuhan dengan hukum lainnya”, ungkap Ketua Umum Unit Pengabdian Study Hukum (UPSH) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta, Tuson Dwi Haryanto, melalui siaran persnya yang diterima FIMNY.org pada hari Selasa 16 September 2014.

“Dalam mengarungi gerak langkah dan berjalannya roda organisasi, tidak serta merta berjalan sendirian, ada juga hal-hal ataupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam hal menggandeng lembaga lain. Adapun lembaga-lembaga yang sering Unit Pengabdian Study Hukum (UPSH) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta ajak kerjasama yakni organisasi Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sikap, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta (FH UJB) serta lembaga-lembaga lainnya yang sinergis dengan hukum”, cetus Tuson Dwi Haryanto.

Dalam memperlancar roda organisasinya, Unit Pengabdian Study Hukum (UPSH) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta dipimpin atau diketuai oleh Saudara Tuson Dwi Haryanto. Saat ini Tuson Dwi Haryanto aktif juga di Organisasi Kader Profesi, yakni organisasi Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hanya Khayalan Semata

Bisikan gelap kehidupan
Menyelimuti hatiku
Saat ku tahu,
Hidup ini amatlah kejam

Serentak mimpi membangunkanku
Dari terpejamnya mata
Membayangkan indahnya masa depan
Dalam lamunan



Tapi,
Seolah menelan Buah Simalakama
Tubuhku lemas, lumpuh
Ketika ku tersadar dari lamunan yang indah

Khayalan yang dulu menyemangatiku
Kini telah lenyap disapu Angin Kemarau
Keceriaan yang dulu menghiasi anganku
Kini menjadi kering diterpa kemarau panjang

Dulu, ku biarkan musim semi berlalu tanpa ku sesali
Tapi kini, hanya sesal yang menyesak dalam dada

Tersadar kini..
Musim Semi tak akan ada lagi
Hanya angin kemarau yang akan menghiasi kering nya Hati.


Yogyakarta, 09 September 2014
Karya: Nurul Kiftiah

DPC PERMAHI DIY, Gelar Sosialisasi Anti Korupsi pada Pelajar SMK


Yogyakarta, FIMNY.org – Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), pada Hari Sabtu, 16 Agustus 2014 mengadakan Sosialisasi Anti Korupsi Pada Pelajar SMK Bina Harapan, Getan, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

PERMAHI merupakan organisasi kader profesi yang dimana tujuan utamanya adalah mengasah khasanah pengetahuan para kadernya dibidang hukum dan pengabdian pada masyarakat. Dengan diadakannya Sosialisasi Sosialisasi Anti Korupsi, ini merupakan salahsatu bentuk pengabdian Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) pada masyarakat, dalam hal ini Sosialisasi pada Pelajar SMA/SMK.

Pada kesempatan itu, Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) menggandeng Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta (KANWIL KEMENKUMHAM DIY) sebagai pemateri.

Tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam  rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan  Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Akibat tindak pidana korupsi yang terjadi selama ini selain merugikan keuangan negara atau perekonomlan negara, juga menghambat pertumbuhan dan kelangsungan pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi. Oleh karena itu, Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) mengambil bagian juga untuk turut andil dalam upaya pencegahannya, sehingga lahirlah keinginan untuk mengadakan sosialisasi Anti Korupsi dengan mengangkat Tema “Menumbuhkembangkan Jiwa Anti Korupsi Pelajar Sejak Dini”.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), Dedi Purwanto mengatakan, bahwasannya Point-point penting yang telah disampaikan pada sosialisasi anti korupsi di SMK Bina Harapan, Getan, Ngaklik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah sebagai berikut:

Point Pertama; Dalam sosialisaasi itu disampaikan bahwa Jiwa-jiwa anti korupsi harus tertanam dimulai dari keluarga, karena pada keluargalah nilai-nilai, norma, prilaku, kebiasaan, dan hukum pertama kali diajarkan dan direalisasikan. Kalau dalam keluarga seseorang diajarkan bagaimana berprilaku yang baik dan tutur kata yang baik maka akan dapat dipastikan nilai-nilai dan kebiasaan yang baik itu akan direalisasikan dikehidupan sosial.

Point Kedua; Jiwa-jiwa anti korupsi harus ditanamkan dalam jiwa anak-anak muda, karena pada dasarnya merekalah sebagai penerus dan estafet negara ini, negara ini akan baik jika para pemudanya baik, begitupun sebaliknya. Jiwa-jiwa anti korupsi bisa dilakukan dengan sosialisasi ke sekolah-sekolah, bisa ditanamkan juga dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang positif, bisa juga disampaikan kesekolah yang bersangkutan agar segera membuat peraturan sekolah yang memuat hal-hal tentang korupsi dan tindak pidananya.

Point Ketiga; Disampaikan juga bahwa yang korupsi itu sesuatu yang dikatakan kejahatan luar biasa, karena korupsi akan mengakibatkan dampak yang sistematik dan berkempangan serta luas. Korupsi dikategorikan sebagai pelanggan yang lebih berbahaya dari pada pelanggaran HAM.

Point Keempat; Korupsi adalah sesutau yang memalukan untuk seseorng dan untuk bangsa dan negara ini.

Lebih lanjut Dedi Purwanto mengatakan bahwasannya “Sosialisasi ini penting karena tingkatan korupsi semakin meningkat dan merajalela  diberbagai tingakatan pemerintah dinegeri ini. Kurangnya pemahaman akan korupsi ini memungkinkan akan terjadi dan meningkatnya keinginan untuk korupsi. Dan dapat juga disebabkan karena kurangnya pemahaman dan realisasi akan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari. Seluruh lapisan Masyarakat menyadari bahwa kurupsi adalah sesuatu yang memalukan bagi diri mereka sendiri dan bagi bangsa dan negara ini. Karena bicara tentang korupsi adalah bicara tentang kejahatan yang  terstruktur dan sistimatis serta berkisenambungan. Karena alasan sederhana itu juga kejatahan korupsi ini dikatakan sebagai kejjahatan yang luar biasa (Extra Ordinari Crime). Dan kejahatan tersebut akan sangat merugikan seseorang secara sosiologis, ekonomi, hukum, politik, dan secara kacamata HAM”, cetus mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga ini.

DPC PERMAHI DIY dan UPSH, Simulasi Sidang Semu Sambut Mahasiswa Baru FH UJB

Yogyakarta, FIMNY.org – Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) bekerjasama dengan Unit Pengabdian Study Hukum (UPSH) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta,  pada Hari Jumat, 12 September 2014 mengadakan Simulasi Sidang Semu di Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta. Simulasi tersebut ditampilkan dalam rangka menyambut Mahasiswa Baru Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta.
 
PERMAHI merupakan organisasi kader profesi yang dimana para kadernya adalah mahasiswa hukum yang tersebar diseluruh Indonesia, dan di tingkat Yogyakarta itu sendiri anggotanya terdiri dari 10 kampus Fakultas Hukum yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk menunjukkan eksistensinya, Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), mengadakan Simulasi Sidang Semu di Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta dalam rangka menyambut Mahasiswa Baru Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta.

“Selain untuk menunjukkan Simulasi Sidang Semu untuk memberikan pengetahuan dasar kepada mahasiswa baru FH UJB (Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta, red), juga sebagai ajang untuk mensosialisasikan organisasi DPC PERMAHI DIY (Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, red) agar lebih awah diketahui oleh rekan-rekan mahasiswa baru FH UJB”. Ungkap Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), Dedi Purwanto kepada FIMNY.org pada Hari Jumat, 12 September 2014, usai Simulasi Sidang Semu berlangsung.

 Simulasi Sidang Semu ini tiap tahun pada saat Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK) juga dilakukan Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) untuk menyambut mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta.

Tahun yang lalu juga dilakukan hal yang sama seperti ini (Simulasi Sidang Semu, red), cetus Dedi Purwanto.

Selain tim Simulasi Sidang Semu Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), hadir pula dalam Simulasi tersebut, Eks Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2012-2014, Sugiarto, S.H., Ketua Umum Unit Pengabdian Study Hukum (UPSH) Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta yang sekaligus pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Tuson Dwi Haryanto.

Selain itu hadir pula Ketua Komisariat Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dwi Kurniaji dan Ketua Kumisariat Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Angga Wijaya.

Engkau Bukan Ayah Yang Baik

Ayah...
Engkau bukanlah Ayah yang baik untukku
Jujur daku berkata
Saya membencimu Ayah..

Ayah
Saya tidak pernah berharap memiliki Ayah sepertimu..
Engkau tak pernah memberiku kebahagian dan kasih sayangmu..
Tapi apa pun itu..
Engkau tetap Ayahku..
Ayah yang seharusnya saya sayang..
Yang tak pantas aku benci..

Ayah..
Beribu kali aku membenci mu..
Beribu kali juga aku menyayangimu...

Yogyakarta, 09 September 2014
Karya: Juraidah

Penguasa Palsu

Lihatlah dunia kelabu ini
Pandanglah lukisan kisah hidup ini
Dengarlah jeritan hati kami
Yang merintih menahan diri

Sentuhlah kesusahan yang lama teralami
Membelenggu kepiluan tanpa terkasihani

Kami...
Rakyat kecil masih menanti
Sadarnya dirimu atas perbudakan teori
Omong kosong tanpa ada bukti
Berteriak sana sini
Lalu esok kau tinggal pergi
Dan lusa kau tak lagi perduli

Kapan kau tak tuli
Bisa dengar rintihan hati kami
Kapan kau tak buta hati
Bisa lihat duka seisi Negeri

Yaa Allah Yaa Illahi . . .
Tolong sadarkanlah segera sang penguasa kami...
Jangan biarkan terus berkorupsi
Jangan ijinkan terus berkolusi

Wahai rakyat sejati
Jangan hanya diam menahan diri
Menahan raga dan sukma yang tersakiti

Wahai sang penguasa tanah air, yang sejati
Jika kau benar punya hati
Berhentilah bersikap tak pasti

Semoga pikirannya belum mati
Tertindih keegoisan diri sendiri

Semoga suara jiwa kami tak terabaikan lagi
Semoga sang penguasa Negeri wujudkan mimpi pasti
Beri kebahagiaan seluruh rakyat disini
Bukanlah kepalsuan lagi
Karna kami butuh bukti
Bukan sekedar janji

Yogyakarta, 09 September 2014
Karya: Nurul Kiftiah

Catatan HatiQ

FIMNY.org – Mungkin mudah untuk kalian melihat hidupku dari kaca mata kalian, semua yang ku inginkan selalu terpenuhi apapun itu. Ya mungkin itulah yang selalu aku perlihatkan kepada orang-orang diluar sana, indahnya hidupku, bahagianya menjadi diriku. Tak ada yang mengerti aku selama ini, semuanya hanya melihat bahagiaku, melihat aku kuat tanpa tahu betapa rapuhnya aku.

Bertahun-tahun ku menahan ini. Membiarkan rasa benci ini tumbuh besar kepada kedua orang tuaku yang ku anggap telah menghancurkan hidupku, membiarkanku dalam kesepian yang teramat sakit ku rasakan, disaat teman-teman seusiaku merasakan indahnya jalan-jalan dengan kedua orang tuanya, aku hanya bisa menatapnya dari jauh dan berharap suatu saat itu akan terjadi padaku.

Dari kecil ku telah merasa jauh dari seorang ayah, ku merasa hidup dengan seorang ibu yang begitu menyayangiku, di dunia ini melakukan apapun yang aku suka tanpa pernah takut mengecewakan siapapun, tidak pernah perduli akan malunya orang tua jika yang ku lakukan mendapat cemoohan orang. Yaa, kupikir ayah tak pernah memikirkan aku, tak pernah sekalipun ayah menanyakan berapa nilaiku hari ini, apa yang terjadi pada hidupku hari ini, adakah hal bahagia yang aku dapatkan, ayah hanya perduli dengan anak dan istri barunya.

Ayah dengan istri barunya, Ibu dengan pekerjaannya, mungkin memang mudah disaat mereka berpisah karena saat itu tak sedikitpun aku mengerti akan indahnya kasih sayang, saat itu yang ku pikirkan hanyalah menangis untuk mendapatkan susu, meminta duit pada Ibu, hanya itu yang ku tahu. Namun saat ini usiaku menginjak 18 tahun bagaimana mungkin aku tak mengerti indahnya kasih sayang yang tak pernah aku rasakan sejak usia ku 2 bulan, disaat Ayah dengan teganya menikah lagi dengan perempuan yang masih muda tanpa memperdulikan bagaimana caraku menjadi dewasa. (bersambung--)


Yogyakarta, 09 September 2014
Karya: Juraidah

Relasi Islam, Pancasila, dan UUD NKRI 1945

Yogyakarta, FIMNY.org – Tulisan ini merupakan makalah yang telah disampaikan oleh Prof. Dr. Sudjito, SH., M.Si. (Guru Besar Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada), makalah tersebut disampaikan dalam dialog hukum yang dilaksanakan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Salahuddin, UGM, Yogyakarta, pada 13 Juli 2014 bertempat di Wisma Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA), dengan tema yang Panitia usung “Membaca Nafas Islam dalam Konstitusi Indonesia”. Tulisan ini FIMNY.org dapatkan dari Panitia Penyelenggara usai acara berlangsung. Untuk selanjutnya kami sajikan dibawah ini.

Islam adalah agama. Berasal dari Sang Khalik, diwahyukan, dituntunkan, dan diteladankan pemahaman dan pengamalannya kepada manusia sebagai hamba-hambaNya melalui Rasul, yakni malaikat dan Nabi, agar hamba-hambaNya dapat mengemban tugas-tugas penciptaanNya, baik sebagai abdillah maupun kalifatullah dengan benar, mudah dan ringan, sehingga senantiasa berada di jalan lurus, penuh kemuliaan.

Islam sebagai sistem keimanan, memiliki jangkauan universal, yakni rahmatan lil ’alamin. Sumber ajarannya dimuat dalam Al-Qur’an, dan operasionalisasi ajarannya bersifat kontekstual, dicontohkan dalam Hadist. Itulah sebabnya, Islam mampu menjaga stabilitas kehidupan, dan sekaligus mampu bergerak secara dinamis, memenuhi berbagai kebutuhan dan perkembangan zaman, tanpa terhalang oleh tempat, ruang dan waktu.

Pancasila adalah sistem nilai yang dijadikan tolok ukur manusia Indonesia dalam berpikir, bersikap dan berperilaku, baik ketika berada dalam kesendirian sebagai pribadi (individu), maupun dalam bermasyarakat sebagai makhluk sosial, baik sebagai pribadi selaku warga Negara, lebih-lebih selaku penyelenggara Negara. Dihadapkan pada realitas kehidupan yang majemuk, plural, berbhinneka, baik agama, suku, ras, etnik, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya, Pancasila berposisi dan berfungsi sebagai “jembatan” yang mempertemukan segala macam perbedaan itu, tanpa mengganggu kedaulatan teologis masing-masing. Perbedaan dipandang sebagai rahmat, dan selanjutnya diikuti dengan dialog untuk saling mengisi, memberi dan melengkapi sehingga kehidupan bersama berjalan lapang, harmonis, indah dan semakin maju.

Pancasila, dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara, berposisi dan berfungsi sebagai : (1) way of life, (2) philosophische grondslag, (3) ideologi bangsa, dan (4) paradigma ilmu. Pada keseluruhannya, Pancasila wajib dipahami, dihayati dan diamalkan oleh warga Negara dan penyelenggara Negara secara simultan, baik secara obyektif maupun subyektif.

Pada dimensi ideologis, sejak bangsa ini sepakat dengan Pancasila sebagai Philosophische Grondslag, mestinya (das Sollen) jati diri Negara Indonesia adalah Negara Pancasila (Bung Karno, 1959). Sebagai konsistensi dari komitmen itu, maka sistem hukum nasional Indonesia mestinya dibangun lebih dulu berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Lebih lanjut sistem penyelenggaraan negara harus didasarkan kepada sistem hukum nasional berdasarkan Pancasila itu. Dengan mandasarkan diri pada teori organ, Pancasila itu jiwa dari sistem hukum nasional Indonesia. Raganya adalah UUD dan berbagai undang-undang organik turunannya. Kemantapan penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam bernegara, akan menjamin stabilitas kehidupan bernegara; sementara itu kelenturan, keluwesan, adaptasi UUD, akan mampu mewujudkan dinamika tinggi dalam menghadapi berbagai kebutuhan dan perkembangan zaman.

Pada dimensi filsafati, alinea III Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi ”Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”, merupakan alasan ghaib (Notonagoro, 1971), teologis-religius, suprarasional dan transendental sehingga Pembukaan UUD 1945 yang dijiwai Pancasila bersifat tetap (tidak dapat diubah), karena kemerdekaan merupakan karunia Tuhan, dan oleh karenanya, manusia atau badan/lembaga mana pun tidak kuasa menolak atau mengubahnya. Secara obyektif terdapat hubungan erat, tak terpisahkan antara: Allah Yang Maha Kuasa dengan manusia Indonesia, Pancasila, Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pembukaan UUD 1945, dan Batang Tubuh (Pasal-pasal) UUD dan Penjelasannya.

Pembukaan UUD 1945 sebagai penuangan jiwa Proklamasi dan jiwa Pancasila, di dalamnya terkandung 4 (empat) pokok pikiran, yaitu (Darmodihardjo, 1981):
Pokok Pertama; Negara persatuan, ialah negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia, mengatasi segala faham golongan dan perorangan, mengatasi segala agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ini merupakan perwujudan dari sila 3 Pancasila, ”Persatuan Indonesia;

Pokok Kedua; Negara bertujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dalam bingkai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dalam hal ini negara berkewajiban memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini merupakan perwujudan dari sila 5 Pancasila, ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”;

Pokok Ketiga; Negara berkedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan. Negara, wajib menjalankan demokrasi di segala bidang kehidupan (politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan sebagainya) berdasarkan sila 4 Pancasila, yang berbunyi: ”Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”;

Pokok Keempat; Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusia yang adil dan beradab. Indonesia bukan negara atheis, dan juga bukan negara teokrasi. Negara menjunjung tinggi dan menghormati serta melindungi semua agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ini merupakan perwujudan dari sila 1 Pancasila, yang berbunyi: ”Ketuhanan Yang Maha Esa” dan sila ke 2 yang berbunyi: ”Kemanusiaan yang adil dan beradab”;

Dari nilai-nilai ideologis Pancasila, founding fathers telah merumuskan maksud mendirikan negara, cita-cita bernegara (termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945), dan lebih lanjut merumuskan pula: asas-asas kehidupan bernegara, bentuk negara, susunan pemerintahan, kewarganegaraan, hubungan negara dengan warga negara dan tanah airnya serta negara lain, dan sebagainya (termaktub di dalam Batang Tubuh UUD 1945). Dengan demikian, substansi maupun kelembagaan yang ada di dalam Batang Tubuh UUD 1945, hakikatnya merupakan hukum dasar tertulis, sebagai sarana untuk mencapai cita-cita bernegara. Oleh karenanya wajib diinsyafi, bahwa UUD bukan sekedar kumpulan pasal-pasal sebagai kristalisasi dan kompromi kepentingan, melainkan pemandu menuju kehidupan bahagia yang didambakan bersama yakni tercapainya cita-cita bernegara. Hal-hal yang belum mampu dirumuskan ke dalam hukum dasar tertulis, diatur di dalam hukum dasar tak tertulis (konvensi). Seterusnya, dari hukum dasar tertulis dijabarkan ke dalam undang-undang organik turunannya, agar dari hukum dasar itu terwujud hukum positif yang bersifat operasional. Bagi warga negara maupun para penyelenggara negara, UUD beserta undang-undang organik turunannya, secara fungsional bermanfaat sebagai pemberi arah, penerang, dan alat kontrol dari setiap kebijakan, agar dijamin tidak ada kebijakan yang merugikan warga negara, mendegradasikan kedaulatan, atau menyimpang dari arah, tujuan dan cita-cita bernegara.

Berhubungan urgensi dan strategisnya UUD, maka aktivitas penyempurnaan UUD 1945 ke arah terwujudnya UUD yang berdasar Pancasila, mestinya merupakan aktivitas moral-religius, intelektual, dilakukan oleh orang-orang terpilih, cerdas, berbudi luhur, mempunyai wawasan kebangsaan. Penyempurnaan UUD 1945 tidak dapat dibenarkan bila hanya dilakukan sebatas aktivitas politik, melainkan wajib dilakukan sebagai aktivitas akademik yang merengkuh berbagai kepentingan, dan menggarapnya dari berbagai sudut pandang secara holistik, sehingga dijamin ada kesinambungan antara esensi dan eksistensi UUD di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, demi kebahagiaan kehidupan dunia-akhirat.

Sungguh sayang, ketika politisi Islam, sebagai pengemban amanah untuk penyempurnaan UUD 1945, sibuk dengan kepentingan politiknya, dan justru lalai, lengah, tidak istiqomah dengan ajaran Islam. Silau terhadap gemerlapnya kekuasaan, rakus terhadap harta-benda materiil, dan praktik politik transaksional, liberalistik-sekuler, diduga menjadi penyebab utama munculnya persoalan-persoalan bangsa, sehingga “nafas” Islam dalam UUDNRI 1945, sesak, terengah-engah. Wallhu’alam.

Tubuh Yang Telah Menua

Teduhnya sore ini hampir menampakkan
Kemuning senjanya mengaburkan lamunan
Yang sesekali menciptakan kebisuan
Ada sosok tubuh yang menua dibenakku

Mengintaiku seolah ingin menghancurkan
Puing-puing lamunan itu sebuah bayangan
Klise tersenyum dengan kerut dipipinya..
  
Ya Allah...
Senyum itu adalah senyum yang biasa kulihat
Setiap saat, senyum yang selalu bisa kumiliki
Dan senyumnya mampu membuat hati ini bergetar

Ayah...
Aku tau engkau datang untuk menjengukku
Memastikan keadaanku
Meskipun hadirmu
Hanyalah sebentuk klise dalam bayangku...
Tapi aku tetap merasa kau nyata

Yogyakarta, 09 September 2014
Karya: Nurul Kiftiah

Penerimaan Hukum Islam serta Pancasila dan UUD 1945 di Indonesia

Yogyakarta, FIMNY.org – Tulisan ini merupakan penggalan makalah yang telah disampaikan oleh Dr. Abdullah Hehamahua, S.H.,M.M. (Mantan Penasehat Spiritual Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia), dengan judul makalah “Membaca Nafas Islam dalam Konstitusi Negara di Indonesia”, makalah tersebut disampaikan dalam dialog hukum yang dilaksanakan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Salahuddin, UGM, Yogyakarta, pada 13 Juli 2014 bertempat di Wisma Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA). Tulisan ini FIMNY.org dapatkan dari Panitia Penyelenggara usai acara berlangsung. Untuk selanjutnya kami sajikan dibawah ini.

Dalam point tulisannya ini, Dr. Abdullah Hehamahua, S.H.,M.M. (Mantan Penasehat Spiritual Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia), menjelaskan bahwasannya “Penerimaan Hukum Islam serta Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945” dalam menyentuh hati dan jiwa orang-orang pribumi (Indonesia), Abdullah Hehamahua mengupasnya dalam dua pendekatan, yakni Pendekatan Historis dan Pendekatan Faktual.

Pendekatan Historis
Ketika penjajah barat datang ke Indonesia, bukan hanya kekayaan yang dikeruk untuk dibawa ke negeri mereka, tetapi rakyat juga ditindas, dibodohi, bahkan dimurtadkan dari agama Islam. Tidak heran, peperangan dan perlawanan rakyat terhadap penjajah, dipimpin ulama dan tokoh Islam di seluruh Indonesia seperti Teuku Umar, Teuku Chick Ditiro, Panglima Polem, Fatahillah, Diponegoro, Antasari, Hasanuddin, Babullah, dan Pattimura. Semua tokoh dan ulama Islam tersebut berperang melawan penjajah karena tidak ingin dijajah dan diperintah pemerintah nonmuslim. Oleh karena itu, peperangan melawan penjajah disebut jihad, sesuai dengan fatwa ulama Aceh pada waktu itu. Tidak heran, pada perang kemerdekaan, di setiap pertempuran, pekikan yang dilaungkan para pejuang adalah Allahu Akbar dan merdeka.

Konsekwensi logis dari kemayoritasan, kemurnian aqidah, kesempurnaan syariah, dan keterlibatan aktif dalam pengusiran penjajah dari bumi Indonesia, wajar kalau rapat-rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan, tokoh-tokoh Islam mengajukan Islam sebagai dasar negara. Namun, demi pencapaian kemerdekaan dari penjajah kafir, umat Islam mengalah dengan menerima konsep pelaksanaan syariat Islam khususnya umat Islam sebagaimana tertuang dalam Piagam Jakarta, yaitu: “Negara berdasarkan Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluknya.” Hal ini disepakati umat Islam setelah ada janji dari Bung Karno, “umat Islam dapat memperjuangkan kembali Islam sebagai Dasar Negara dalam Badan Konstituante.”

Sehari setelah kemerdekaan (18 Agustus 1945), Bung Hatta mengundang tokoh-tokoh Islam, memberitahu permintaan umat Kristen di Indonesia Timur, “mereka akan keluar dari Indonesia kalau 7 perkataan dalam Piagam Jakarta, tidak dicoret.” Inilah penghianatan pertama terhadap umat Islam dalam negara Indonesia merdeka. Bung Hatta mengusulkan perkataan Ketuhanan Yang Maha Esa, menggantikan 7 perkataan tersebut, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.” Ketika ditanyakan oleh perwakilan umat Islam (pada waktu itu), Bung Hatta menjelaskan, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah ketauhidan sebagaimana intisari ajaran Islam dalam surah al-Ikhlas. Berdasarkan keyakinan ini, umat Islam bersedia mencoret 7 perkataan tersebut, dan inilah pengorbanan terbesar umat Islam bagi bangsa Indonesia. Sebagai tanda terima kasih atas pengorbanan tersebut, Pemerintah membentuk satu kementerian khusus yang bertugas mengurus umat Islam, yaitu Kementerian Agama. Kenyataan hari ini, kementerian tersebut menjadi Kementerian Agama-Agama, dan inilah penghiatan kali kedua terhadap umat Islam di Indonesia.

Sesuai dengan janji Bung Karno, dalam sidang-sidang Konstituante, sekali lagi umat Islam mengusulkan Islam sebagai dasar negara. Ketika ditanyakan pak J Kasimo (Ketua fraksi Partai Kriten Indonesia), pak Mohd. Natsir (Ketua fraksi Masyumi) menjelaskan apa yang dimekasud dengan Islam sebagai dasar negara dari segala aspek dan perspektif (politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan semesta). J Kasimo kemudian menyatakan, mendukung Islam sebagai dasar negara.

Sebagai jalan tengah, sidang Konstituante merumuskan Piagam Bandung yang esensinya sama dengan Piagam Jakarta. Ruslan Abdul Ghani langsung terbang ke Tokyo menjumpai Bung Karno (yang ada di kota tersebut pada waktu itu), meminta Bung Karno menerbitkan dekrit karena menurutnya, berbahaya kalau Piagam Bandung ditetapkan sebagagai dasar negara. Lahirlah Dekrit 5 Juli 1959 yang berisi dua diktum: (a) Bubarkan Konstituante (inilah penghianatan ketiga terhadap umat Islam). (b) Kembali ke UUD 1945 dengan dijiwai Piagam Jakarta.

Ketika ditanyakan, apa yang dimaksud “Kembali ke UUD 1945 dengan dijiwai Piagam Jakarta,” Ketua sidang MPR pada waktu itu (Syaifuddin Zuhri) menjelaskan, dengan dekrit tersebut, umat Islam dapat melahirkan peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan ajaran Islam. Nyatanya, banyak peraturan perundang-udangan yang bertentangan dengan ajaran Islam, baik di bidang politik, ekonomi & perbankan, maupun sosial budaya. Inilah penghiatan yang kesekian kali terhadap umat Islam di Indonesia.
     
Pendekatan Faktual
Apakah usul saya di atas dikategorikan sebagai narsis atau eksklusif.? Tidak !. Sebab, saudara-saudara di Bali, NTT, Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Utara lebih narsis. Ini karena di daerah-daerah tersebut, umat Islam tidak bisa menjadi gubernur, bupati atau walikota karena mayoritas penduduknya nonmuslim. Lalu mengapa di provinsi, kabupaten, kotamadya yang mayoritas umat Islam, dianggap narsis kalau kepala daerahnya harus muslim.? Mengapa pula umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, melarang nonmuslim menjadi Presiden/Wakil Presiden dianggap narsis. Padahal, sila pertama Pancasila – Ketuhanan Yang Maha Esa – mewajibkan pengelolaan bangsa dan negara ini harus berdasarkan hukum-hukum dari “langit.” Itulah hakikat pasal 29 UUD 1945 yang menyebutkan, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, Indonesia adalah negara agama, bukan negara sekuler di mana sistem pemerintahan dan kemasyarakatan harus berdasarkan ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut. Itulah sebabnya, ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa menurut al-Qur’an dan Sunnah Rasul, pemimpin umat Islam itu – nasional maupun lokal – harus beragama Islam.

Kenyataan faktual di lapangan, hasil perhitungan quick count Pemilu 2014, PDIP dan Golkar merupakan juara dan runner up-nya sehingga mereka dianggap layak memenangkan Pilpres 2014. Faktanya, kedua partai ini tergolong paling korup di Indonesia sehingga tidak layak untuk memimpin negeri ini. Sesuai dengan kasus-kasus korupsi yang ada di Indonesia (2004 – 2013), khususnya yang ditangani KPK, Golkar menduduki ranking pertama (40 kasus), PDIP di posisi kedua (27 kasus), dan Demokrat di peringkat ketiga (17 kasus). Tetapi, menurut ICW, PDIP menduduki ranking pertama sejak 2002 – 2013. Sementara itu, calon capres yang diajaukan partai-partai nasionalis, tidak memenuhi kriteria Islam, bahkan tidak pula memenuhi kriteria Pancasila, khususnya sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Fakta kedua, semua parpol yang ada di Indonesia terlibat korupsi. Oleh karena itu, sesuai kaedah fiqh, kita memilih yang terbaik dari yang terjelek. Ditakdirkan, partai-partai yang kurang korupsinya adalah partai Islam atau yang berbasis Islam. Dengan demikian, partai-partai ini layak dan berhak memimpin dan mengelola negara ini, mulai dari tingkat nasional sampai di desa.

Persoalannya, kedua capres/cawapres yang ada, tidak merupakan calon pimpinan yang ideal, baik menurut Pancasila maupun al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh karena itu, terlepas dari siapa pun yang memimpin Indonesia lima tahun dari sekarang, umat Islam, mulai dari ormas, LSM, lembaga pendidikan sampai parpol Islam, mulai merapatkan barisan. Dengan demikian, Pemilu 2019, mereka maju dengan capres dan cawapres sendiri yang lebih islami.

Untuk itu, setiap ormas, lembaga atau orpol Islam, mulai mengemaskinikan proses rekrutmen anggota dan pengurusnya serta mengoreksi silabus dan kurikulum perkaderan anggotanya. Selanjutnya, visi, misi, strategi, sasaran, target, dan program kerjanya dikemaskinikan sehingga lahir insan-insan ulil albab. Hanya dengan cara itu, Masyarakat Madani, masyarakat yang cerdas, sejahtera, aman, damai, dan tenteram dalam ampunan Allah SWT.