Negeri Para Raja

Apa yang membuat kita ragu.?
Padi yang tumbuh di belakang rumah,
Otot-otot yang mengeras mencangkul tanah,
Memasuki taring samudra dan bumi,
Para orang tua yang berdoa di dalam gua,
Anak-anak kecil asyik bermain layang-layang,
Dikebun itu berseri pohon-pohon kehidupan.

Apa yang membuat kita ragu.?
Bunga-bunga mawar mewangi didepan pintu,
Ikan berpesta di dalam kerajaannya,
Gagak terbang membawa ketakutan,
Merpati singgah dalam kecintaan yang sempurna,
Dedaunan beralun dan berirama,
Jagung di atap istana yang terbentang,
Ubi kesederhanaan yang dimasak didapur.

Apa yang membuat kita ragu.?
Seorang ayah mengajari anaknya,
Tetangga meyapamu dengan senyuman,
Air sungai yang mengalir adanya,
Para gembala memandikan kerbaunya,
Siut seruling memecahkan cakrawala,
Kakek megoceh karena ladangnya kemalingan.

Apa yang membuat kita ragu.?
Para jejaka memainkan keseniannya,
Si ayu malu dan memerah mukanya,
Petuah pak lurah yang bijaksana,
Para orang tua mengajari kemanusiaan,
Seorang guru membelai muridnya,
Didepan sekolah mereka menanam ilmu,
Didepan kehidupan mereka berbagi makna.

Apa yang membuat kita ragu.?
Para bidadari mencuci pakaiannya,
Bermain air dan membelai rambutnya yang basah,
Pelangi turun menghiasi desa,
Para kiyai duduk dan bersilat membaca tasbih,
Para santrinya ikut dalam lautan ma'rifat.

Apa yang membuat kita ragu.?
Ibu berdongeng tentang kesatria,
Anak mendengar sambil bertanya,
Rumput dipinggiran sawah yang dimakan sapi,
Emas tumbuh didalam perut ibu,
Permata dan mutiara dimana-mana.

Apa yang memubuat kita ragu.?
Nelayan membaca peta sang bintang,
Arah angin membawaku ke hulu,
Ikan teri dijemur diatap rumah,
Kejujuran dipupuk didalam rumah,
Kapak dipundak yang terbentang,
Mengarungi hutan dan berburu dengan srigala,
Pohon-pohon tinggi meyatu dengan harapan.

Apa yang membuat kita ragu.?
Alam adalah guru kehidupan,
Mengajari bemimpi dan berjuang,
Kayu yang mati untuk memasak nasi,
Semut-semut bahu membahu untuk hidup,
Kumbang mencari mangsanya,
Bunga mekar dan kehidupan terus berjalan.

Apa yang membuat kita ragu.?
Siang dan malam menjadi teman,
Menjaga dan dijaga adalah satu,
Menjadikan hidup adalah kecintaan,
Kecintaan akan kehidupan dan kematian.

Apa yang membuat kita ragu.?
Seorang tuan mengajari dengan tindakan,
Kata-kata menjadi lemah dan tak berguna,
Didepan gerbang terlihat senyum karena bahagia,
Prajurit gagah karena tanggung jawab,
Ibu gagah karena keikhlasan,
Pecinta gagah karena ketulusan.
........Negeri para raja....


Yogyakarta, 14 Agustus 2014
Karya: Dedi Purwanto

Cinta Yang Tak Kunjung Sampai

FIMNY.org – Saya dilahirkan dari seorang ibu yang sangat menyayangi dan mencintaiku dengan sepenuh hati dan perasa’annya, saya hidup di penuhi kasih dan sayang dari semua orang disekitarku, semua keluargaku sangat menyayangiku, hari demi hari saya lalui hingga kini beranjak usia remaja, dari kecil saya selalu dimanjakan bahkan ayah selalu memenuhi apapun yang diinginkan, hingga saya terbiasa dengan kemewahan dan kasih sayang yang diberikan kedua orangtuaku. Saya bangga mempunyai kedua orangtua yang begitu menyangi dan mencintaiku. Saya selalu patuh dengan perintah dan perkata’an mereka saya tidak berani melawan perintah mereka karena saya begitu sangat menyayangi mereka.

Disaat saya menginjak usia 18 tahun, saya mulai mengenal apa itu cinta, selama ini saya hanya mendengar cerita teman-temanku saja, tapi sekarang saya benar-benar merasakan apa itu cinta. Saya jatuh cinta pada seseorang yang baru saya kenal, walaupun dia baru saya kenal, tapi dia mampu membuat saya jatuh di dalam hatinnya. Dia bisa membuatku seakan tidak bisa tidur karena terbayang wajahnya. Sejak bertemu dengannya membuat hari-hariku semakin ceria dan membuat wajahku berseri-seri dangan sendirinya. Lama-kelamaan saya dan dia pun saling mencintai dan saling menjaga satu sama lain, dia sangat mengerti dengan diriku. Dia sangat sabar menghadapi kelakuanku yang kata teman-teman saya itu orangnya egois dan kekanak-kanakan. Jujur saya sangat mencintai dan menyayangi dirinya, dia cukup setia dan memberi saya perhatian dan kasih sayang layaknya seorang ibu dia bisa membuatku tersenyum dan tertawa, ketika saya lagi sedih dia juga memberiku motivasi dalam menghadapi masalah dunia dan masalah dengan teman-temanku. Dia juga tidak kalah dalam mendukung apapun yang saya lakukan. Saya juga dekat dan berteman baik dengan orang-orang terdekatnya, termasuk keluarganya, saya bahagia bisa mengenal orang-orang terdekatnya dan bercanda tawa serta bersenda gurau bersama mereka, mereka pun begitu baik dengan diriku, dan akupun bermimpi untuk bisa menjadikan dia sebagai imam dalam hidupku yang mampu membimbingku dan mengajariku, saya sering berhayal bisa bersanding dengannya kelak suatu saa di pelaminan. Teman-teman saya dan teman-teman dia pun sangat mendukung hubunganku dengan dirinya. Walaupun ada salah satu sahabatku yang berusaha memisahkan saya dengan dirinya, dia mengira kalau orang yang saya pilih itu tidak baik untukku, tetapi aku berusah meyakinkan sahabatku bahwa orang yang saya pilih adalah orang yang baik dan pantas buatku. Disaat saya bahagia dengan cinta yang saya jalani saya pun merasakan kesakitan karena cinta, dulunya saya berfikir cinta itu selalu indah tetapi ternyata saya salah memaknai cinta yang sesungguhnya, saya baru sadar bahwa cinta tidak selamanya indah dan bahagia, ternyata cinta penuh dengan ujian, halangan dan rintangan yang sangat besar lebih dari yang aku bayangkan.

Tetapi apabila kita bisa mempertahankan cinta kepada seseorang, tentu kita bisa melewati rintangan itu, karena itu yang sedang saya rasakan dan saya pun kembali menjalin cinta dengan dirinya yang dulu pernah kandas dan hancur. Cinta bisa kembali dengan kita memberi kesempatan kepada orang untuk memperbaiki kesalahan yang lalu, dan saya telah memberi kesempatan itu pada dirinya karna saya sangat mencintainya. Saya mulai lagi menjalin cinta dengan dirinya dengan saling mempercayai satu sama lain, karena cinta bisa tumbuh dan abadi dengan saling percaya, mengerti, menjaga, dan lainnya, karena itu semua adalah kunci dalam percintaan.

Disaat saya bisa memahami cinta dan jatuh kedalamnya, saya sudah benar-benar mencintai dirinya dan bermimpi untuk hidup bersamanya disitulah aku bingung karna aku di hadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit dan begitu berat saya lakukan. Saya tidak mungkin bisa menghindari kedua pilihan itu, karena saya harus memilih antara dua pilihan yang sama-sama sangat saya ingin miliki dan saya ingin sekali bisa terhindar dari pilihan itu. Saya sangat terbabani dengan dua pilihan itu, membuatku terkadang menangis dan takut, saya takut kehilangan keduanya karna saya sangat menyangi keduanya, saya sangat mencintai dia tetapi saya juga mencintai orangtuaku. Bagaimana pun mereka yang telah membesarkanku dan memberiku kasih sayang selama ini. Saya berfikir selama ini orangtuaku menyetujui hubunganku ternyata saya salah. Justru sebalikanya mereka sangat melarang hubunganku dengan dirinya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah dengan semua ini, ingin rasanya saya hilang dari dunia ini karna saya harus melepas orang yang sangat saya cintai. Saya coba meyakinkan kedua orngtuaku untuk bisa menerima dirinya, namun semua itu sia-sia saja saya lakukan semua usahaku tidak membuahkan hasil.

Namun pada akhirnya saya harus bisa memilih satu pilihan yang bagiku ini yang terbaik dari semua masalah, dari pada saya kehingan orngtua dan keluargaku lebih baik saya  mepaskan seseorng yang belum tentu bisa menjadi imam yang baik untukku dan menjadi Ayah yang baik anak-anakku kelak. Walaupun ini berat tetapi inilah yang harus saya lakukan demi kebaikan bersama, mimpi indah dulu telah sirna dan sudah terbakar bara api yang begitu besar hingga tidak ada lagi harapan untuk bisa bersama lagi, saya tahu engkau begitu keceawa pada diriku dan keputusan yang telah saya ambil, namun apalah daya, saya hanya seorang anak yang ingin patuh kepada orangtuaku, keinginanku menjalin masa depan dengan mu hanyalah sekedar mimpi belaka dan tidak mungkin terjadi. Satu kata yang bisa terucap untukmu yaitu kata “ma’af” saja. Saya kira orangtua akan mengikuti keinginanku, namun ternyata tidak sama sekali. Saya hanya bisa menguucap seribu ma’af untukmu yang pernah ada dalam hati dan kehidupanku, dan saya pun berterimakasih kepada dirimu karena engkau mengajariku sebuah cinta yang begitu besar maknanya, karena itu saya memaknai cintaku dan cintamu dengan “Cinta Tak Kunjung Sampai”.


Yogyakarta, 16 Agustus 2014
Karya: Intan Kurniati

Dibalik Rona Kehidupan

FIMNY.org  – Ketika mentari menyingsing di ufuk barat, sepasang merpati terbang rendah mengitari perkampungan, kidung ayam memecahkan kesunyian. dicatatan ini, saya tulis kisah hidupku di masa kecil dulu, kisah hidup yang penuh dengan kepahitan kegetiran. Jauh dari kedua orangtua waktu itu saya masih Sekolah Dasar  (SD) kelas 3 dan adikku masih kelas 1 SD.
 
Di  rumah mungil beranyaman bambu, saya tinggal dengan adik laki-lakiku. Saya harus mengurus adikku sekaligus harus menjadi seorang ibu untuk adikku dikala senja datang, seketika kerinduanpun datang dikala melihat adikku duduk termenung di tangga rumah sambil menatap langit dikejauhan  seakan dalam hatinya memanggil-manggil nama ibu tetapi tidak berani dia ucapkan, hanya bisa meneteskan air matanya, saya dapat merasakan kerinduan yang dirasakan oleh adikku, melihat air mata adikku yang berlinang di pipi mulusnya. Air mataku ikut jatuh, tak mampu membendung air mataku karena menyaksikan adikku yang menangis, lalu saya berjalan menuju dapur karena saya tak ingin menangis di hadapan adikku, saya lanjutkan memasak. Saya mengaduk sayur daun kelor dengan air mata yang terus berderai. makanan telah kusajikan, saya menghapus air mataku dan memanggil adikku. Saya menyuruh dia makan seala kadarnya, saya memandang wajah adikku, dia menyantap nasi begitu lahap walaupun hanya saya persiapkan sayur daun kelor dan ikan teri. Saya menahan air mataku dan menggantikan dengan seutai senyuman kecut dibibirku. Tiba-tiba terlontar kalimat pertama dari mulutnya, dia bertanya kepadaku: “kakak, bune ai dula mama? ndendepu laona? yang terjemahan dalam bahasa indonesianya: “kakak, kapan mama pulang? masih lama mama perginya?

Mendengar pertanyaan itu kutersentak diam, saya mencoba menjawab: “hari minggu mama akan datang membawa uang untuk kamu dan membelikan baju baru untukmu”. Saya terpaksa berbohong agar dia tidak bersedih lagi, lalu dia hanya berkata: “oh iya..!!” Kemudian dia lanjutkan makannya seakan hatinya merasa senang dengan jawabanku. Selesai makan, adikku menuju tempat tidur dan ku masih membersihkan dapur. kemudian saya menuju ketempat tidur dan berbaring disamping adikku. Saya memaksakan mata untuk terpejam agar terhanyut dalam mimpi indah, namun sulit untuk saya pejamkan mata ini. Setelah beberapa menit, tiba-tiba saya mendengar suara tangis kecil disampingku, saya bangun untuk mematikan lampu lalu saya memeluk erat adikku dengan penuh rasa sayang, tangisannya semakin menjadi sambil memanggil-manggil nama ibu. Saat mendengar tangisannya yang semakin keras, saya juga ikut menangis sambil memeluk erat tubuh adikku. Malam menjadi bisu, menyaksikan tangis seduh kami berdua, dalam hati saya memanggil-manggil nama ibu, “mama, pulanglah!” hingga saya dan adikku tertidur lelap.

Jarum jam menujukkan angka 3 subuh, saya kembali terbangun untuk masak dan membereskan rumah, adikku masih tertidur lelap, saya tutupi tubuhnya dengan selimut kemudian bergegas menuju dapur, ingin masak, tapi minyak tanah habis, saya beranikan diri turun dari rumah untuk mencari ranting-ranting kayu, sepanjang gang saya berjalan mencari ranting kayu tanpa ada rasa merinding sedikitpun. Setelah saya kumpulkan ranting kayu, saya bawa pulang dan mulai masak, hanya suara ngaji ditiap-tiap Masjid yang menemaniku masak malam itu hingga suara adzan subuh berkumandang.

Selesai saya menyiapkan sarapan pagi untuk adikku, saya menimba air di sumur untuk paginya saya dan adikku mandi. Kemudian saya membangunkan adikku makan an menyuruhnya sarapan. saya memandikannya dan memakaikan pakain seragamnya. Saya harus mendahulukan adekku, baru kemudian mengurus diriku, kemudian saya dan adikku berangkat kesekolah sama-sama. Ketika sampai di sekolah, saya relakan untuk tidak jajan, walau kami sama-sama membawa uang jajan tapi saya simpan untuk adikku, karena jika uang jajannya habis, saya tidak tega melihat dia seperti anak jalanan yang hanya melihat temannya makan. Jika bel pulang berbunyi, dia selalu menungguku dan pulang sama-sama. Ketika sampai rumah, lagi-lagi saya harus suguhkan dia dengan menu makanan yang seperti biasa, tapi tidak lupa siangnya saya memberikannya uang jajan, karena saya ingin dia bisa jajan juga seperti teman-temannya yang tinggal bersama orangtua mereka walaupun saya hanya memberinya 100 perak saja. Jika uang simpananku mau habis, dia tidak jajan karena paling ada ibuku pulang hanya 1 kali dalam 2 bulan. Saya lalui hari-hari yang seperti itu selama 4 tahun lebih. Jika saya uraikan semua, tidak akan cukup dengan waktu yang singkat, singkat crita, saya akhiri kisah hidupku yang seperti itu pada waktu saya duduk di bangku kelas 6. Saya tutup semua lembaran-lembaran hidupku bersama adikku dan mulai membuka lembaran-lembaran hidup yang baru. Kini, . saya telah beranjak dewasa, mencari jati diri yang sesungguhnya, mencari cinta yang sejati dan meraih impian untuk masa depan yang cerah.


Kabupaten Bima, 28 Februari 2012
Karya: Yuni Wahyuningsih

Rio Ramabaskara: Dukung Lahirnya Taman Nasional Gunung Tambora

FIMNY.org – Rio Ramabaskara yang merupakan Angkatan Muda Tambora (AMA BORA) dalam via Broadcast BlackBerry yang diterima FIMNY.org pada Hari Sabtu, 16 Agustus 2014 menyampaikan petisi dukungannya atas Lahirnya Taman Nasional Gunung Tambora.

“Letusan Tambora tidak hanya menyisakan cerita tentang kengerian erupsi, tetapi juga meninggalkan jejak kekayaan alam, budaya, ilmu pengetahuan, arkeologi, hingga suaka margasatwa.” tulis Rio Ramabaskara.

Lebih lanjut lewat Broadcast BlackBerry tersebut, Rio Ramabaskara mengatakan “Gunung Tambora dengan konstruktur tanahnya yang didominasi oleh perbukitan dan padang savana ini telah memenuhi sejumlah kriteria yaitu :  Pertama, Luas wilayah cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis alamiah; Kedua, Terdapat sumber daya alam khas dan unik berupa tumbuhan, satwa, ekosistem, serta gejala alam yang utuh dan alami; Ketiga, Kondisi alam asli dan alami yang dapat dikembangkan sebagai pariwisata alam; Keempat,  Merupakan kawasan yang dapat dibagi dalam beberapa zona seperti zona inti, pemanfaatan, rimba, dan zona lain dengan pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan, kebergantungan masyarakat sekitar kawasan, dan untuk mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati serta ekosistem.”

“Dengan berstatuskan sebagai Taman Nasional kelak, maka Peluang pemanfaatan Tambora juga jadi lebih besar. Karena Tambora memiliki pemandangan indah dan sejarah letusan yang menarik.” Tulis Rio Ramabaskara.

Lebih lanjut Rio Ramabaskara mengungkapkan “Tambora semakin Sensual dengan air panas, sungai air tawar, danau kecil, dan kubah barunya, yang berbalut dengan cagar alam seluas 23.840,81 hektar (ha), suaka margasatwa 21.674,68 ha, dan taman buru 26.130,25 ha.”

“Semoga pemberian status sebagai taman nasional kepada Tambora menjadi sebuah kado terindah saat Peringatan 200 tahun letusannya yang jatuh pada Tanggal 10 April 2015 Mendatang.” Ungkap Rio Ramabaskara.

Petisi mendukung adanya Taman Nasional Gunung Tambora tersebut di-Amien-kan pula oleh Salah satu Putera Daerah Dompu yaitu Abdul Haris, S.H., belia merupakan salahsatu Pengusaha Muda yang kini berkiprah di Jakarta. 

“Bahwa semoga dengan adanya status Taman Nasional bagi Gunung TAMBORA mampu mengembalikan kepercayaan diri Masyarakat Dompu dan Bima, bahwa Kita harus berbuat DARI TAMBORA UNTUK INDONESIA”, ungkap Abdul Haris, S.H.

Rindu

Dalam keheninngan malam aku terus dibayangi wajahmu
Bayang-bayangmu terus hadir dipikiranku
Dikesunyian malam terkadang saya menangis
Dibawah bulan aku menyendiri

Rindu...
Wahai angin malam sampaikan salam rinduku
Kepada dirinya yang jauh dijangkauan mata
Dalam kesepian kau selalu datang dan pergi
Dipikiranku, hari-hariku penuh dengan bayangan
manisnya senyummu yang begitu indah

Rindu...
Kenangan indah  selalu terbayang diruang rinduku
Kata demi kata terucap reungan namamu
Teringat nasehat yang kau berikan, teringat teguranmu
Teringat akan semua canda tawa yang selalu terlintas

Rindu...
Wahai engkau yang kurindukan, rasakanlah rindu ini
Rindu yang sudah lama terpendam diruang hatiku
Bayanganmu selalu terbayang kemanapun
Salam rindu kepadamu ibuku tersayang


Yogyakarta, 15 Agustus 2014
Karya: Intan Kurniati

Kasih Tak Sampai

FIMNY.org – Di tengah malam syahdu dan megah bayangmu selalu terngiang dalam ingatan, saya selalu membayangkanmu. Bayanganmu selalu terlintas dikelopak mataku, kucoba dan terus mencoba melupakanmu namun bayanganmu terus menghampiriku, mengapa saya mencintai orang yang tidak mencintaiku, saya sadar, saya bukan yang sempurna untuknya, kenapa engkau hadir jikalau hanya memberiku cinta sesa’at, kenapa engkau memberiku harapan palsu, engkau mampu membuatku lupa dengan semua lukaku dan engkau juga yang membuatku sangat terluka dengan cinta palsumu itu, sunyiku menghias hari-hariku, yang telah kini sia-sia karena sudah mimpi indah dikala itu, namun kini tiada lagi seindah harapan itu, semuanya telah terbakar bara api dan telah hangus menjadi abu.

Kucoba bertanya pada malam yang indah, angin berlalupun tak dapat memberikan jawabannya, hanya satu yang terucap mengapa saya terus membayangi kamu. Bagiku  engkaulah segalanya, engkau pemilik hatiku, engkau yang abadi didalam hatiku, tapi di depan matamu saya seakan sirna mendebu mimpi belaka. Percuma saya mengharapkannya kalau dia hanya memberi harapan dan saya pun percaya sesuatu akan hadir pada waktunya, tapi mengapa aku selalu menangis untukmu, mengapa saya berharap padamu jelas-jelas kau tidak pernah mau perduli dengan diriku dan perasa’anku.

Lebih dari sekedar kata-kata, saya jatuh cinta padamu, bukan terpesona lebih dari sekedar kata-kata, saya memilihmu karena engkau bisa membuatku tertawa, saya sangat mencintaimu, tetapi kenapa engkau tidak pernah mau tau dengan persa’anku, saya tidak bisa merelakan engkau bersama orang lain, hatiku hancur dan terluka, engkau membuatku mencintaimu tapi kau juga yang menyuruhku untuk membunuh rasa cintaku padamu. Menangis hatiku, serta hancur harapanku, biarlah rindu dikejauhan, mungkin ini sudah takdirku mendapat kasih yang tak sampai. Entah sampai kapan saya menanti cinta darimu, saya coba melupakanmu, tapi hati, pikiran dan perasa’an ini tidak mengijinkan untuk melupakanmu.

Jejakmu terasa makin jauh ku ikuti. Engkau tetap penuh seribu misteri dengan harapan tak pasti, engkau mampu membuatku terasa tak berarti tampa kehadiranmu, engkau tak pernah hadir diluang-luang sepiku, hatiku dipenuhi rasa bimbang, karena terus membayangkanmu, kapan engkau akan memaknaiku menjadi sesuatu yang berarti dihidupmu? Sampai kapan saya harus berharap...? hanya waktu dan takdir yang akan bisa menjawab itu semua.

Engkau mampu mematahkan sayap-sayapku di sa’at ku ingin terbang jauh dari perasa’an cinta, apalagi kata yang harus saya sembunyikan kalau kenyata’annya saya begitu amat mencintaimu, saya sudah terjatuh dalam cintamu. Andai ada selembar kertas putih yang belum ternoda aku ingin sekali menulis harapanku padamu, harapan untuk bisa memilikimu, tapi itu semua tidak mungkin terjadi karna engkau sudah menjadi milik orang lain, jujur saya tidak akan pernah membencimu, tidak mudah bagiku untuk melupakanmu, tapi itu yang harus saya lakukan yaitu melupakanmu walau hatiku yang akan menanggung rasa sakit.

Terimakasih engkau telah mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya, arti kasih sayang dan sebuah pengorbanan cinta, mencintaimu adalah hal yang indah buatku. salam rinduku padamu. Semoga waktu dan cinta yang akan mempertemukan kita lagi.


Yogyakarta, 15 Agustus 2014
Karya: Intan Kurniati

Berikan Aku Kasih & Sayangmu

FIMNY.org – Siapakah diriku? Dimanakah asalku? Aku selalu diliputi pertanya’an hati. Terlintas hatiku selalu bertanya hal yang seperti itu. Saya berjalan mengikuti reungan malam mengikuti arah yang tak pasti. Saya selalu bertanya kemana arah yang harus saya ikuti untuk mencari jejak diriku. Bahkan saya tidak tahu dimana tempat saya dilahirkan. Saya ingin seperti orang-orang mendapatkan kasih sayang, perhatian, keperdulian, teguran dari seseorang, tapi itu semua hanyalah hayalan belaka dan mimpi indah di waktu saya tertidur nyenyak  yang tak pasti mimpi itu kapan akan terjadi.
 
Kesepian selalu  menghiasi hari-hariku dan menjadi sahabat sejatiku, kedinginan menjadi kebiasa’an yang tidak bisa ku hindari. Saya ingin sekali mendapatkan kasih dan sayang dari seseorang yang mempunyai ikatan denganku, yaitu ayah dan ibuku, saya selalu membayangkan wajahmu ayah dan ibu, saya selalu bertanya bagaimanakah wajah kalian. Keheningan malam saya selalu membayangkan pelukan hangat dari kalian wahai ayah dan ibuku. Membayangkan nikmatnya kebersama’an dengan kedua orang tua. Terkadang saya ingin seperti anak-anak lain yaitu merasakan bagaimna di antar oleh orangtua dibangku sekolah tapi itu semua hanyalah mimpiku saja yang tidak mungkin akan terjadi.

Ayah dan ibu ingin sekali merasakan kasih dan sayangmu, belaianmu, nasehatmu dan merasakan canda tawa bersama. Saya selalu bertanya wahai ayah dan ibu kenapa kalian tidak pernah mau memperdulikanku, kalian membuangku seperti sampah yang tidak memiliki arti buat kalian. Kenapa kalian begitu tega terhadapku? apakah salah ku? Tuhan bukakanlah pintu hati kedua orangtuaku untuk mencariku dan mengurusku serta memberiku kasih dan sayang. Ayah dan ibu kenapa kalian melahirkanku jika hanya saya dicampahkan dan di buang. Saya tidak pernah minta untuk dilahirkan oleh kalian bila kenyataan ini yang harus aku tanggung.

Ayah dan ibuku, dikegelapan malam saya selalu berdo’a dan berharap agar masa indah bersama kalian akan ada dan saya berharap kalian selalu mencemaskanku. Saya percaya suatu sa’at nanti kalian akan bisa merenungi dan mencariku. saya percaya itu, dan aku tidak akan pernah menyalahkan siapapun atas nasibku, mungkin ini sudah suratan takdirku untuk tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtua. Biarlah saya hidup begini merenungi nasibku dan keadaanku yang seperti ini.

Biarlah anakmu ini merasakan kasih sayangmu dari kejauhan dan saya ingin sekali mendengar engkau memanggilku dengan panggilan sayang dan panggilan anak, saya ingin sekali mendapat satu kali kehangatan pelukan ayah dan ibu. Salam rinduku wahai engkau Ayah dan Ibu yang tidak pernah aku mengetahui wajahnya. Saya hanya bisa membayangi wajah kalian dalam mimpi.

Catatan: Tulisan ini merupakan cerita fiktif belaka,  jadi kalau ada kata yang tertera dalam tulisan ini yang menyinggung perasaan, maka kami mohon maaf. Trimakasih.


Yogyakarta, 15 Agustus 2014
Karya: Intan Kurniati

Harapan Kasih Sayang Dari Seorang Ayah

FIMNY.org Seorang Ayah merupakan tumpuan harapan dari semua anak, karena dari seorang ayah seorang anak mendapatkan kasih sayang, karena dari seorang Ayah seorang anak mencurahkan rasa cinta yang tulus, dari seorang ayah pula seorang anak merasa bangga dan senang akan kehadirannya di dunia ini. Saya ingin sekali seperti teman-teman aku yang setiap harinya mereka selalu memanggil “ayah, ayah, ayah”, saya ingin sekali seperti itu, dan juga saya ingin sekali seperti teman-temanku merasakan kasih sayang darimu Ayah, merasakan dan menikmati pelukan darimu, mendengarkan nasehatmu, perhatianmu dan memberiku semangat dan harapan disaat terjatuh dan putus harapan, dan juga saya ingin sekali ayah menanyakan tentang kabar dan keadaanku di saat aku pergi jauh seperti ini. Ya Allah kapankah aku akan merasakan semua itu? Ataukah aku memang dilahirkan untuk tidak merasakan kasih sayang seorang ayah? dan ataukah ayah membenci diriku sehingga ayah tidak pernah memberiku kasih sayang. Apa salahku ayah? katakan! Kalau memang ayah membenci ibuku jangan limpahkan pula padaku karna aku sangat membutuhkan sosokmu ayah dan mengharapkan kasih sayang tulus darimu, seperti halnya teman-temanku mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ayahnya.

Ayah, aku sangat iri sama teman-temanku, terkadang air mata ini akan menetes dengan sendirinya dipipi, jikalau melihat teman-temanku yang di manjain oleh seorang Ayah, di beli’in sesuatu oleh ayahnya, walau apa yang dibelikan harganya tidak seberapa, tapi dari pancaran mimik wajah mereka mengeluarkan aura bahagia yang amat besar karena telah mendapat sesuatu yang dibelikan ayahnya, apa-apa yang di minta oleh anaknya maka ayahnya akan mengabulkan permintaan anaknya, kemana pun anaknya akan pergi maka ayahnya selalu mengkhawatirkan anaknya dan tidak akan terlambat untuk menelpon anaknya menanyakan tentang kabar dan keadaan anaknya dan juga saya sangat iri ayah, melihat teman-temanku jikalau mereka akan pergi jauh mereka selalu mencium tangan ayahnya dan ayahnya mencium kening anaknya, “Ayah” saya ingin sekali seperti teman-temanku yang lain.

Ya Allah, sampai kapan saya akan hidup seperti ini terus? hidup yang tidak pernah didampingi oleh seorang ayah, hidup yang tidak pernah dimanjain oleh seorang ayah, hidup yang tidak pernah merasakan teguran dari seorang ayah, dan hidup yang tidak pernah diatur oleh seorang ayah. Selama ini saya hanya hidup dengan seorang “Ibu” yang cukup banyak memberikan aku kasih sayang, semangat dan harapan kepadaku, saya sangat bangga pada ibuku karna dia mampu mengurus aku sampai beranjak dewasa seperti ini, walau saya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, tetapi ibuku selalu memberikan saya kasih sayang yang begitu besar dan mengabulkan semua permintaanku, dalam hati kecilku selalu bertanya-tanya kenapa “ibuku” terlalu menyayangi ku, memanjakanku dan mengabulkan semua permintaanku? Mungkin ibuku sangat mengerti dengan keadaanku yang seperti ini, makanya ibuku memberiku kasih sayang yang begitu besar, memanjakanku yang berlebihan dan mengabulkan semua keinginanku, itu menjadi nilai tersendiri yang saya rasakan. Thank’s You Very Muach “Bunda”, karena engkau mampu memberikan aku kasih sayang yang begitu besar, dan engkau mampu menjadikan dirimu jadi dua sosok sekaligus dalam hidupku, yakni engkau menjadi seorang Ibuku dan sekaligus menjadi seorang ayah bagiku. Engkau mampu mengurusku, menasehatiku, memberiku perhatian yang cukup besar dan engkau mampu memberikan saya kebahagian yang cukup besar yang melebihi kebahagiaan yang dikasikan oleh seorang ayah, “bunda” aku sangat mencintai dan menyayangimu. Disetiap langkahku selalu mendo’akanmu “Bunda”, doaku selalu menyertaimu bunda. I Love You Forever “Bunda”.

Ayah, saya tidak akan pernah membencimu biar bagaimana pun engkau tetap ayahku, karena tanpamu sosok dan wujudku tidak akan ada di dunia ini, tidak pernah menghirup udara segar di dunia ini, tidak pernah melihat keindahan dunia ini, tidak pernah merasakan kebahagiaan yang saya rasakan saat sekarang dan saya tidak akan pernah kenal dengan orang yang saya sayangi, walaupun ayah tidak pernah memberiku kasih sayang, tetapi saya tetap menyayangimu “Ayah”, dan saya berharap kepadamu ayah suatu saat nanti ayah akan memberiku kasih sayang melebihi kasih sayang dari ibuku karena saya sangat membutuhkan kasih sayang darimu ayah.

“Ayah” apa ayah tau ekspresiku di sini saat saya melihat teman-temanku ditelpon oleh ayahnya dan mengangkat telpon ayahnya dan menanyakan tentang keadaan dan kabar anaknya? ”Ayah” hatiku begitu sakit, begitu hancur ayah mendengarkan pertanyaan dari ayah teman-temanku dan air mataku pun berlinang dipipiku saat saya mendengar pertanyaan itu.

Ayah...!!! Hanya satu yang ku inginkan dari ayah untuk saat sekarang, saya hanya ingin ayah menelponku disaat saya berjauhan seperti ini, mendengarkan suara yang sangat lembut darimu ayah, saya ingin sekali ayah melontarkan pertanyaan seperti ini “anak bagaimana kabar mu nak, udah makan atau belum nak, kamu sehat-sehat saja disana nak, dan belajar yang rajin yah nak”. saya ingin sekali ayah melontarkan pertanyaan seperti itu. saya harap padamu ayah suatu saat nanti ayah akan melontarkan pertanyaan seperti itu, dan saya akan selalu berdo’a padamu ya Allah semoga suatu saat nati ayahku akan sadar supaya ayahku memberiku kasih sayang dan memenuhi keinginanku.

Kalimat terakhir yang ingin aku ungkapkan untuk kalian yang spesial dalam hatiku “I Love You Ayah dan Bunda”

 
Yogyakarta, 15 Agustus 2014
Karya: Juraidah

Satu Hati

Dibawah naungan cahaya sang purnama
Aku duduk menyendiri
Merindukan satu hati yang jauh disana

Kesendirian yang terasa sepi
Berbaur dengan belaian angin malam yang setia menemani
Dalam setiap suasana hati yang terasa begitu hampa
Karna memikirkan satu hati yang jauh disana

Wahai engkau satu hati yang ku kagumi
Hidup ku terasa berbeda,
Hari demi hari ku lewati sendiri tanpa mu,
Dan semua ini terasa amat menyiksa
Ketika jarak kita terpisah oleh tuntutan hidup

Wahai engkau satu hati yang tersayang,
Walau kita berada di bawah langit yang sama,
Namun kini engkau dan aku tak bisa lagi bertatap muka,
Tidak bisa lagi saling menggenggam tangan,
Walau sekedar berbagi kekuatan

Wahai engkau satu hati yang Ku cintai,
Dari kejauhan ini aku menitipkan kerinduan hati ku
Melalui angin malam

Wahai engkau satu hati
Yang akan selalu menetap dihati
Tiada jenuh hatiku menatap rembulan
Yang dengan ikhlas berbagi cahaya terangnya,

Karena dalam imaji ku
Wajah mu selalu tergambar jelas di seluruh bagiaan Sang Purnama
Wahai engkau satu hati
Yang kini berada di tanah yang berbeda,

Ingin rasa hatiku memelukmu
Di setiap dinginnya angin malam,
Dibawah pancaran sinar rembulan ini,
Dan takkan ku lepaskan
Hingga rembulan itu berganti dengan Mentari Pagi

*Salam Rindu ku untuk Ibu tersayang yang jauh disana*


Yogyakarta, 11 Agustus 2014
Karya: Nurul Kiftiah

M. Jamil : Ucapan Terimakasih

Yogyakarta, FIMNY.org – Puji syukur kehadirat Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan studi di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan pada akhirnya saya mendapatkan gelar Sarjana Hukum (S.H.) dan pada akhrnya juga pada hari Minggu 10 Agustus 2014 saya di wisuda. Tidak lupa, Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada sang revolusioner sejati, sang putra padang pasir, kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, yang telah diutus untuk membawa rahmat dan kasih sayang bagi semesta alam dan selalu dinantikan syafaatnya di yaumil qiyamah nanti. Amin.

Saya menyadari bahwa saya telah sampai pada titik ini tidak mungkin terwujud sebagaimana yang diharapkan, tanpa bimbingan dan bantuan serta tersedianya fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh beberapa pihak. Oleh karena itu, saya pribadi ingin mempergunakan kesempatan ini untuk menyampaikan rasa terima kasih dan hormat kepada orang-orang dibawah ini.

Pertama, Bapak Prof. Dr. H. Musa Asy’arie, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kedua, Bapak Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D. Selaku Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ketiga, Bapak Udiyo Basuki, S.H., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Keempat, Bapak Ach. Tahir, S.H.I., S.H., LL.M., M.A. selaku Sekretaris Jurusan Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Akademik serta Penguji I saat Munaqosyah.

Kelima, Bapak Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum. selaku Dosen Pembimbing I yang telah tulus ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan pengarahan, dukungan, masukan serta kritik-kritik yang membangun selama proses Penyusunan skripsi kala itu.

Keenam, Ibu Lindra Darnela, S.Ag., M.Hum. selaku Dosen Pembimbing II sekaligus sebagai ketua sidang saat Munaqosyah, yang juga telah tulus ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan pengarahan, dukungan, masukan serta kritik-kritik yang membangun selama proses Penyusunan skripsi kala itu.

Ketujuh, Ibu Nurainun Mangunsong, S.H., M.Hum., Bapak Udiyo Basuki, S.H., M.Hum., Ibu Siti Fatimah, S,H., M.Hum.,  Bapak Ach. Tahir, S.H.I., LL.M., M.A., Bapak Faisal Luqman Hakim, S.H., M.Hum., Bapak Andri Swasono, S.H., Bapak Muslimin, S.H., Bapak Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., Bapak Pramono Mulyo, S.H., Bapak Iswantoro, S.H., M.H., Bapak Moelyadi, S.H., Bapak Jauhar Faradis, S.H.I., M.A., Ibu Ratnasari Fajariya Abidin, S.H., M.H., Bapak H. Wawan Gunawan, S.Ag, M.Ag., Bapak Prof. Drs. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D, Ibu Lusia Nia Kurnianti S.H., M.Hum., Bapak Rudi Subiyakto, S.H., Bapak Ibnu Muhdir, Bapak Khairul Anam, Bapak Drs. Mochamad Sodik, S.Sos, M.Si., Ibu Lindra Darnela, S.Ag., M.Hum., Bapak Dr. H. A. Malik Madany, M.A., Bapak Saifuddin, S.H.I., M.Si., Bapak Drs. Riyanta, M.Hum., Ibu Sri Wahyuni, S.Ag., M.Ag., M.Hum., Bapak Drs. Supriatna, M.Si., Bapak Drs. Abd. Halim, M.Hum., Bapak Ahmad Yubaidi, Bapak Sulastriono, Bapak Talis Noor Cahyadi, S.H.I., Bapak Agus Supriyanto, Bapak Liliek E. Poerwanto, S.H., Bapak Drs. Ahmad Pattiroy, M.Ag., Ibu Dr.Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., Bapak Ariyanto, Ibu Dian Nuriyah Solissa, S.H.I., M.Si., Bapak M. Misbahul Mujib, S.Ag., M.Hum., Bapak Basri, S.H., Bapak Dr. Makhrus Munajat, M.Hum., Bapak Barmawi Mukri, Selaku para dosen/ pengajar di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kedelapan, Seluruh Bapak dan Ibu Staf Pengajar/ Dosen yang telah dengan tulus ikhlas membekali dan membimbing saya untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat sehingga saya dapat menyelasikan studi di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kesembilan, Spesial buat Ayahanda (Usman Hadrah/Almarhum) dan Ibunda (Jubaidah) yang selalu saya cintai dan banggakan, yang tiada henti untuk selalu mendoakan, mencurahkan cinta dan kasih sayangnya, memberikan semangat dan pengorbanan yang tulus ikhlas agar saya dapat menyelasaikan Studi di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum Univeritas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kesepuluh, Spesial juga buat para saudaraku terkasih, kak Murni, kak Maemunah, kak Zainudin, S.Fil., M.Si., kak Jamaludin, S.E.I., M.Ec.Dev. dan dek Julkifli yang selalu saya cintai dan banggakan serta selalu memberikan semangat, mendoakan, sebagai sumber motivasi dan menyayangi saya.

Kesebelas, Keluarga besarku dari Diha (keluarga dari Ayah), diantaranya Kakekku tersayang (Hadrah/almarhum), Nenek tercinta (Asiah), Mama Fauji (bibi), Papa Fauji, dek Fauji, dek Fahrul, dek Sahrilah, Ina Laela (bibi), Ama Laela, kak Laela, Syamsul, dek Nurhaida, dek Saadiah, dek Ama Mangge, Mama Hafijai (bibi), Papa Hafijai, dek Hafijai, Ina La Si (bibi), Ama La Si, dek Samsil, dek Kusmiati, dek Bone, Ina Sudi (bibi), Ama Sudi, kak Samsudin, kak Juhra, kak Mulyati, dek Juleha, dek Mardiah, Ama La Ma, Ina La Ma (bibi), beserta anak-anaknya, semuanya yang selalu saya banggakan.

Keduabelas, Keluarga besarku dari Ncera (keluarga dari Ibu), diantaranya Kakekku tersayang (H. A. Kadir), Nenek tercinta, Ama la Saharudin, Ina la Saharudin (bibi), kak Saharudin, dek Ratnah, dek Siwe Mudu, dek Mone, Papa Ayu (paman), Mama Ayu, dek Rahayu, dek Mufida, dek Novita, dek Rangga Manan, Papa La Imam, Mama La Imam (bibi), dek Imam, Papa La Rian, Mama La Rian (bibi), dek Rian, dek Nabila, Papa Akmal (paman), Mama Akmal, dek Akmal, Ama Nurjanah (paman), Ina Nurjanah, dek Nurjanah, dek Gempa, semuanya yang juga selalu saya banggakan.

Ketigabelas, Keluarga besar Organisasi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), diantaranya Ayahanda Mustafa, S.E., M.M., kak Zainudin, S.Fil.,M.Si., kak Neni Iryani, S.Si., Muchtar Abdullah, S.E., kak Jamaludin,S.E.I., M.Ec.Dev., Buchari Muslim, Dedi Purwanto, Nurhaidah, Amrullah, Syamsul, kak Sulaiman Alfarizi, kak Ismail Aljihadi, kak Syamsudin, S.Pd., Saharudin, S.E., kak Saidin, Nasrudin, Agus Salim, Abidin, Mulyadin, Sulaiman (Robin), Mulyati, Julkifli, Julkifli Kore, Khairul Anhar, Darwis, Muhajirin, Eka Apriani Rahmah, Ismail (Lido), Hadijah, Aminah, Uswatun Hasanah Iriani, dan Aryani Eka Putri, semuanya yang telah menjadi teman diskusi dan berbagi inspirasi.

Keempatbelas, Terimakasih kepada Bapak AKBP R. Slamet Santoso, SH, SIK (Kapolresta Yogyakarta), Pak Ilyas (Wakil Kepala Sat Reskrim Polresta Yogyakarta), Ibu AKP Ana Rochayati NF, S.H. (Kepala Unit PPA Reskrim Polresta Yogyakarta), Brigadir Dian Sugandari (Anggota Unit PPA Sat Reskrim Polresta Yogyakarta), yang telah membimbing saya selama melakukan penelitian di Polresta Yogyakarta.

Kelimabelas, Terimakasih kepada Bapak H. Muhammad Ikbal, S.H. selaku Ketua Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Sekar Melati yang menjadi salahsatu narasumber untuk keperluan Penyusunan skripsi kala itu.

Keenambelas, Sahabat-sahabat terbaik Organisasi Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) : Kakanda Ezar Ibrahim, S.H., Kakanda Agus Hanafi, S.H.,  Kakanda Aprillia, S.H., Kakanda Gusti Randa, S.H., M.H., Kakanda Marhendra Handoko, S.H.I, M.H., Bang Oman Abdurrohman, S.H., M.Kn., Bapak Heniy Astianto, S.H., Bapak Anyoko W Kusuma, S.H., Kakanda Andi Fahrul Amsal, S.H., Kakanda Eko Nurisman, S.H.,M.H Kakanda Irwansyah, S.H., L.L.M.,  Kakanda Roni, S.H.I., Kakanda Neki Kunjtoro, S.H., Yunda Nita, S.H., M.Kn, Kakanda Supangat, S.H., Kakanda Budi Darmadi, S.H., Bang Hasrul Buamona, S.H., Bang Deni Setiyawan, S.H., Sugiarto, S.H.,  Joko Upoyo Wijaksono, Dedi Purwanto, Hairullah, Betik Wulandari, Rochati Mahfiroh, S.H., Raihan Maulani,S.H., Alfan Alfian, Sukma Palugan, Wardaniman Larosa., S.H., mas Miftah Mujahid, S.H.,Eliya, Angga Wijaya, Asep, Rayga, Adji, Mega, Shinta, Kemal, Aan, Windu, mas Yuli, dan lain-lain yang telah  memberikan warna tersendiri bagi saya selama berproses di organisasi PERMAHI.

Ketujubelas, Terimakasih buat sahabat terbaikku saudara Nur Hidayat yang selalu bersama dan saling menyemangati selama kuliah di Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kedelapanbelas, semua pihak yang telah membantu saya sampai pencapaian yang didapatkan saat ini, baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Meskipun pencapaian sampai detik ini merupakan hasil kerja maksimal dari saya, namun saya menyadari akan ketidaksempurnaan dari pencapaian ini. Maka saya dengan kerendahan hati sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak, agar pencapaian-pencapaian kedepannya, lebih bermakna lagi.

Yogyakarta, 10 Agustus 2014
Tertanda,
M. Jamil, S.H.

Keluhku

Angin merobek kulitku,
Melalui pori-pori pesan itu membawa mimpi panjang,
Mimpi itu menjelma menjadi ketakutan,
Ketakutan yang menertawakan perlawanan,
Dan meniadakan kebenaran.

Sepasang nyamuk di udara,
Bernada dan menyapa dengan malu,
Merekapun mengerti,
Udara kini berbau kotor dan menyengat,
Amarah dan kerakusan menjadi tujuan,
Meniadakan manusai yang manusai.

Wahai sang guru,
Ma’afkan anak didikmu,
Aku tidak bisa lagi membaca,
Membaca buku-buku asik tentang kehidupan,
Yang kau ajarkan dengan cinta dan harapan.

Buku yang kau ajarkan kini menjadi tumpukan dibelakang rumah,
Kutu dan tikus berpesta dan bernyanyi,
Debu menutupi maknanya,
Dan akupun lupa menjadi manusia.

Wahai sang ibu,
Nasi kau masak didapur dulu,
Kini menjadi bahasa yang sukar dalam langkahku,
Menjadi alasan untuk meludah,
Bahkan menjadi hakim kematian.

Kesederhanaan yang kau pupuk,
Hilang dan berganti kemegahan,
Kewajaran bertutur yang kau ajarkan,
Kumaknai sebagai penindasan,
Dan makna ku hilang bu.

Wahai sang ayah,
Keberanian yang kau ajarkan,
Kini menjelma menjadi ganas dan buas,
Memangsa apa saja,
Tampa meniduri kebijaksanaan.

Dulu kau mengajariku akan makna malu,
Malu terhadap sesama manusia,
Terhadap alam dan juga kematian,
Namun kini,
Aku menjadi malu kalau tidak memangsa manusai.

Wahai masa silam,
Mengajariku tentang kebenaran dan cinta,
Berjalan dalam nada yang panjang,
Menjadi guru dan kesimpulan hidup,
Bertutur adalah air dan api.

Akan tetapi,
Aku lupa maknanya,
Bahkan suara waktunya aku tak ingat,
Kadang iya dan kadang tidak,
Menjadi beban hidup yang nyata.

Aku lupa akan masa dimana aku menjadi manusai,
Aku lupa akan wujudku seperti apa,
Aku lupa akan alasan duniaku,
Aku lupa akan kehinaan yang hina..
Entahlah


Yogyakarta, Senin, 04 Agustus 2014
Oleh: Dedi Purwanto

Ketua DPC PERMAHI DIY Dikenal Juga Sebagai Penyair!

FIMNY.org – Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), saudara Dedi Purwanto, selain bernostalgia dengan diskusi-diskusi dan kecintaan dengan hukum, Dedi Purwanto juga dikenal dengan syair-syair Puisinya.

Seperti halnya yang pernah dia (Dedi Purwanto, red) tuliskan dalam akun facebooknya (Awan Setiawan) pada Tanggal 11 Agustus 2014 menuliskan sebuah syair puisi yang berbunyi seperti dibawah ini.

Apa yang membuat kita ragu.?
Padi yang tumbuh di belakang rumah,
Otot-otot yang mengeras mencangkul tanah,
Memasuki taring samudra dan bumi,
Para orang tua yang berdoa di dalam gua,
Anak-anak kecil asyik bermain layang-layang,
Dikebun itu berseri pohon-pohon kehidupan.

Apa yang membuat kita ragu.?
Bunga-bunga mawar mewangi didepan pintu,
Ikan berpesta di dalam kerajaannya,
Gagak terbang membawa ketakutan,
Merpati singgah dalam kecintaan yang sempurna,
Dedaunan beralun dan berirama,
Jagung di atap istana yang terbentang,
Ubi kesederhanaan yang dimasak didapur.

Apa yang membuat kita ragu.?
Seorang ayah mengajari anaknya,
Tetangga meyapamu dengan senyuman,
Air sungai yang mengalir adanya,
Para gembala memandikan kerbau nya,
Siut seruling memecahkan cakrawala,
Kakek megoceh karena ladangnya kemalingan.

Apa yang membuat kita ragu.?
Para jejaka memainkan keseniannya,
Si ayu malu dan memerah mukanya,
Petuah pak lurah yang bijaksana,
Para orang tua mengajari kemanusiaan,
Seorang guru membelai muridnya,
Didepan sekolah mereka menanam ilmu,
Didepan kehidupan mereka berbagi makna.

Apa yang membuat kita ragu.?
Para bidadari mencuci pakaiannya,
Bermain air dan membelai rambutnya yang basah,
Pelangi turun menghiasi desa,
Para kiyai duduk dan bersilat membaca tasbih,
Para santrinya ikut dalam lautan ma'rifat.

Apa yang membuat kita ragu.?
Ibu berdongeng tentang kesatria,
Anak mendengar sambil bertanya,
Rumput dipinggiran sawah yang dimakan sapi,
Emas tumbuh didalam perut ibu,
Permata dan mutiara dimana-mana.

Apa yang memubuat kita ragu.?
Nelayan membaca peta sang bintang,
Arah angin membawaku ke hulu,
Ikan teri dijemur diatap rumah,
Kejujuran dipupuk didalam rumah,
Kapak dipundak yang terbentang,
Mengarungi hutan dan berburu dengan Srigala,
Pohon-pohon tinggi meyatu dengan harapan.

Apa yang membuat kita ragu.?
Alam adalah guru kehidupan,
Mengajari bemimpi dan berjuang,
Kayu yang mati untuk memasak nasi,
Semut-semut bahu membahu untuk hidup,
Kumbang mencari mangsanya,
Bunga mekar dan kehidupan terus berjalan.

Apa yang membuat kita ragu.?
Siang dan malam menjadi teman,
Menjaga dan dijaga adalah satu,
Menjadikan hidup adalah kecintaan,
Kecintaan akan kehidupan dan kematian.

Apa yang membuat kita ragu.?
Seorang tuan mengajari dengan tindakan,
Kata-kata menjadi lemah dan tak berguna,
Didepan gerbang terlihat senyum karena bahagia,
Prajurit gagah dengan tanggung jawab,
Ibu gagah dengan air mata,
Pecinta gagah dengan ketulusan.
........Negeri para raja....


Bagaimana? Semoga pembaca terhibur dengan sajian puisi yang ditulis oleh Ketua Umum DPC PERMAHI DIY tersebut.

Bila ingin menikmati syair-syair lain yang ditulis oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY), saudara Dedi Purwanto, bisa dilihat di “http://istanaterbuang.blogspot.com”.

Ketua DPC PERMAHI DIY Tiga Masa Hadiri Wisuda Kadernya

Yogyakarta, FIMNY.org – Suasana riang dan gembira terpancar dalam wajah para wisudawan-wisudawati Universitas Islam Negeri Sunan Kalijga Yogyakarta pada Tanggal 10 Agustus 2014.

Dalam suasana bahagia itu, dirasakan juga oleh para kader Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) yang diwisuda hari itu.

Seperti yang diberitakan FIMNY.org sebelumnya, kader Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) yang diwisuda adalah M. Jamil, S.H., Zainur Ridlo, S.H., Alfan Alfian, S.H., Sumarno, S.H., Muhammad Nurul Kaukaba, S.H., Syaifullahil Maslul, S.H., Ahmad Mustafad Vauzi, S.H., Sukron Makmun, S.H., A. Miftahul Aminf, S.H.I.

Saat wisuda kader DPC PERMAHI DIY tersebut, dihadiri oleh para Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) tiga masa. Diantaranya, pertama Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2011-2012, Supangat, S.H., kedua Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2012-2014 saudara Sugiaro, S.H., dan ketiga Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2014-2015 saudara Dedi Purwanto.

Eks Ketua II Bagian Eksternal Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2012-2014 saudara M. Jamil, S.H. dan juga sebagai kader DPC PERMAHI DIY yang saat itu juga diwisuda mengungkapkan rasa bangganya atas kehadiran para Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) tiga masa terakhir.

“Saya pribadi merasa bangga dan terharu serta mengucapkan terimakasih atas kehadiran para ketua Umum DPC PERMAHI DIY tiga periode telah menghadiri wisuda kami”, ungkap M. Jamil, S.H.

M. Jamil, S.H. (kanan) dan Sugiarto, S.H. (kiri)

DPC PERMAHI DIY: Selamat Atas Wisudanya Kader PERMAHI

Yogyakarta, FIMNY.org – Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) saudara Dedi Purwanto bersama Ketua I Bagian Internal Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) saudara Musa Akbar, menghadiri Wisuda para kader-kader Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) pada Tanggal 10 Agustus 2014 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijga Yogyakarta.
 
Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) saudara Dedi Purwanto mengucapkan selamat atas diwisudanya 9 kader PERMAHI di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijga Yogyakarta.

“Saya pribadi dan atasnama Keluarga Besar Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) mengucapkan selamat atas diwisudanya para kader-kader terbaik Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY)”, ungkap Dedi Purwanto pada 10 Agustus 2014 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijga Yogyakarta.

Lebih lanjut Ketua Umum DPC PERMAHI DIY saudara Dedi Purwanto mengungkapkan nama-nama kader DPC PERMAHI DIY yang diwisuda.

“Hari ini para kader DPC PERMAHI DIY yang diwisuda diantanya, pertama Kakanda M. Jamil, S.H., beliau merupakan Eks Ketua II Bagian Eksternal Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2012-2014. Kedua Kakanda Zainur Ridlo, S.H., beliau merupakan Eks Wakil Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2012-2014. Ketiga saudara Alfan Alfian, S.H., keempat saudara Sumarno, S.H., kelima saudara Muhammad Nurul Kaukaba, S.H., keenam saudara Syaifullahil Maslul, S.H., ketujuh saudara Ahmad Mustafad Vauzi, S.H., kedelapan saudara Sukron Makmun, S.H., dan kesembilan saudara A. Miftahul Aminf, S.H.I.”, ungkap Dedi Purwanto.

Bersamaan dengan itu, hadir pula Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2011-2012, Supangat, S.H. bersama Eks Ketua II Bagian Eksternal Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2011-2012 Budi Darmadi, S.H.

Selain itu, hadir pula Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Isimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Periode 2012-2014 saudara Sugiaro, S.H. beserta para kader-kader DPC PERMAHI DIY lainnya.