Home » » Mahasiswa Selaku Roh Perubahan

Mahasiswa Selaku Roh Perubahan

FIMNY.org – Berbicara pergerakan mahasiswa Sangat Menarik untuk di perbincangkan  jika kita berbicara mahasiswa, karena mahasiswa adalah selaku Roh Perubahan yang amat tepat dalam memberikan Gelar “Roh Perubahan ” Disebut roh perubahann karena mahasiswa adalah sosok yang tepat (Ideal) dipandang dari sudut perkembangan apapun dan mempunyai cerita yang tepat dari masa ke masa, baik di Negara-Negara Eropa maupun di Negara bagian timur lainya dan begitu juga halnya dengan mahasiswa di Indonesia. Indonesia sendiri mahasiswa mempunyai peranan yang penting dalam melakukan pergerakan untuk mengubah sejarah kebangsaan dan pergolakan demokrasi. Karena berbicara perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari bagaimana peranan mahasiswa dalam melakukan berpolitikan sampai saat ini yaitu evololusi perubahan pembangunan dari berbagai macan lini kehidupan sehingga kita mengenal angkatan pergerekan mahasiswa dari masa kemasa dengan segala momentum pergolakan sejarah tanah air Indonesia.

 Aksi Pergerakan mahasiswa identik dengan momen-momen menyikapi atau menolak kebijakan pemerintah penguasa serta isu-isu local dan internasioanl sehingga mahasiswa melakukan mobilisasi masa dengan melakukan aksi turun jalan, menulis dimedia, diskusi, audensi dan bahkan repsesif di lakukan untuk menyampaikan aspirasi demi tercapainya tujuan yang di ingingkan. Dengan adanya pergerakan semacam itu sebagai tanda bahwa pemuda di tempatkan sebagai roh pembangun untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan dan bisa bersaing dengan Negara-negara moder lainya.

Pergolakan pergerakan mahasiswa mulai tahun 1966 menandai pergerakan secara nasioanl karena sebelumnya hanya bersifat kedaerahan, sehingga siapa yang tidak kenal Akbar Tanjung sebagai ketua DPR RI. pegerakan mahasiswa dari jaman ke jaman dan sampai pada era demokrasi mempunya misi masing-masing dan prespektif tersendiri dalam mencapai kemerdekan dan pembangunan tanah air. Pergolakan pergerakan mahasiswa mutahir sangat berwara sehingga perbedaan cara pandang dalam mencapai perubahan menjadi hal yang pokok di internal pelajar dan mahasiswa selaku intelektual muda.

Sebagian Perkembangan organisasi internal dan eksternal kampus atau organisasi cultural yang dibangun oleh mahasiswa sebagai kaum muda intelektual bukan sebagai bagian untuk mendukung perkembangan pembangunan bangsa tapi terkadang lahir  ego sentri kelembagaan sehingga melahirkan perpecehan (disintergrasi). lahirnya perpecahan akan lemahnya konsep perjuangan, visi, dan orientasi masa depan, maupun pola apapun setiap gerakan. Hal ini akan melemahkan oreantasi oreantasi di masa yang akan datang dan perbedaan yang membuat perpecahan di hindari.

Ada banyak hal kita lihat pola perilaku mahasiswa seperti;

Pertama, pola pemikiran Pragmatis yang dibangun oleh mahasiswa hari ini sejalan dengan perkembangan modernisasi hanya mengenal dunia kampus, main di kos, dan kuliah yang penting ipe tinggi serta kuliah cepat. Sehingga membangun pola pemikiran kreatif dan pola lain yang turut mendukung sebagai tanggung jawab perkembangan masyarakat di jauhkan.  Hal ini sejalan dengan kebijakan  kampus yang hanya memberlakukan 75 % masuk kuliah. Sehingga jangan heran ada mahasiswa yang ketika ada tugas atau tugas akhir melakukan kopi dan membeli  karena begitu muda seperti ada google yang cepat dan instal. Inilah yang membuat kelemahan dan membodohi kaum muda untuk berkarya. Krisis kemampuan berpikir  ini sangat melemahnya intelektual muda dalam memandang dan turut mendukung kemajua suatu bangsa serta meringankan beban Negara dalam mensejahterakan masyarakat.

Kedua, pola pemikiran hedonis mahasiswa seperti jalan-jalan di mol, main di tempat hiburan malam, minum alcohol dan masih banyak perilaku buruk mahasiswa sebagai kaum muda tampa melakukan filterisasi perkembangan modernisasi mutahir, sehingga liberalisme moder yang jauh dari nilai dan moral pancasila menjadi falsafat Negara di cederai oleh kebiasaan buruk yang tidak membawa mamfaat apapun itu.

Ketiga, pola pemikiran progresif ini disamping akademis menjadi tujuan utama untuk mencapai cita-citanya, adahal lain yang turut mendukung seperti organisasi, membaca buku, menulis dan bahkan kegaiatan social di masyarakat seperti BAKSO,  serta memberikan, mengarahkan dalam melakukan pencerahan sebagai pendukung memajukan bangsa dan Negara adalah yang sangat utama. Intelektual akan melahirkan pola kreatifitas dan visi gerakan baru dalam menyampaikan aspirasi dan mahasiswa seperti inilah yang slalu diharapkan oleh masyarakat, agama, bangsa dan Negara.

 Perbedaan ideologi dan tingkah laku pada Pelajar dan Mahasiswa sangat menonjol sehingga menjadi tantangan tersendiri pada era globalisasi. Sebagai pemuda  civitas dan pelaku pendidikan merupakan sumber daya potensial yang secara bertanggung jawab di tuntut menyiapkan sumber daya yang baik dan mengembangkan diri selaku kader penerus dan pelaku pembangunan dimasa yang akan datang. Berkenaan dengan itu, sebagai Intelektual muda harus siap menghadapai tantangan dan perkembangan jaman serta kemajuan teknologi yang semakin pesat. Dengan mengembangkan potensi diri yang dirasa ini belum maksimal dikembangkan sehingga kemudian dapat dimanfaatkan dan di gunakan dalam kehidupan. perkembangan jaman mutakhir mahasiswa di tuntut harus menpunyai konsep dan pandangan masa depan serta memegang kuat moral dan kebenaran dalam melihat perubahan pembangunan Indonesia yang akan datang.

Dalam melakukan perubahan yang dibangun oleh mahasiswa sebagai kaum intelektual yang mempunyai kecerdasan berkreatifitas berpikir, membangun kesadaran Persatuan (Integrasi) itu hal yang utama sehingga komunikasi bisa terarah dan jelas dalam mencapai tujuan yang di inginkan. Lihat saja organisasi internal dan eksternal mahasiswa berjalan sendiri-sendiri dalam   melakukan polarisasi pergerakan. Persatuan disini kita jangan maknai dengan persatuan menjadi satu lembaga, tapi persatuan dalam melakukan pola gerakan sehingga badai apapun tidak akan mampu mencedarainya sehingga tujuan yang yang dicita-citakan akan tercapai dengan baik.

Melakukan penalaran Pergerakan mahasiswa serta tingkahlaku mahasiswa sangat menonjol dalam  kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya kita menginginkan suatu kehidupan yang ideal yaitu suatu kehidupan yang aman, damai dan suatu kehidupan yang selalu berpegang teguh pada nilai-nilai dan norma dan berpegang teguh pada pancasila sebagi falsafat Negara kita

Kata perubahan selalunya menempel dengan erat sekali sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah masyarakat bisa tercapai dengan membanggakan.

Melihat berbagai macam problema yang ada yang sering terjadi dalam masyarakat kita dan tantangan masuknya cengkraman neoliberalisme dan kapitalisme global sebagai bentuk penjajahan pola baru di negri ibu pertiwi, pertaruhan kepentingan mencedarai Negara ini, dan hal yang disayangkan di negri ini sudah terlalu banyak yang KKN dan tega menjual martabatnya negeri sendiri demi kekuasaan dan kepentingan sesaat. Serta perilaku hedonis di masyarakat yang tidak mampu di control, karena bagaimana mungkin perilaku buruk di masyarakan mampu di control sebab di tingkat pemerintah sendiri lebih-lebih dan mereka hanya memikirkan kepentingan sendiri tampa memikirkan masyarakat, sehingga jangan heran ada fasisme modern tumbuh di negeri ini.

Hal itu artinya seakan-akan perilaku masyarakat itu tidak lagi terkontrol, itu semua dikarenakan kurangnya pemahaman dan control pemerintah serta kesadaran masyarakat dalam berakhlak, sehingga muncul suatu penyakit yaitu “Penyakit Moral”. Disinilah kesempatan para mahasiswa untuk memberikan pencerahan dan peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberikan perubahan-perubahan positif di dalam masyarakat. Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa. Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah masyarakat, mulai orde lama, orde baru, reformasi dan demokrasi lagi-lagi mahasiswa menjadi garda terdepan dan berdiri di tengah-tengah masyarakat dalam melakukan perubahan.

Peran mahasiswa sebegaia kaum muda terhadap masyarakat bukan hanya sekedar menyandang status mahasiswa saja, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai peranan dalam melaksanakan perubahan untuk masyarakat, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu individu, sebagai generasi pengganti yang menggantikan pribadi yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharuan yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu individu. Peran ini senantiasa harus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa pada umumnya. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa pada umumnya dan mahasiswa internal dan eksternal kampus sebagai “ruh perubahan” itu tetap akan terus bersemayam dalam setiap pribadi  mahasiswa tersebut.

Gerakan perjuangan organisasi Pemuda tidak boleh berhenti sampai kapanpun, karena sampai kapanpun masyarakat sangat membutuhkan dan sangat bergantung pada perjuangan mahasiswa. Gerakan perjuangan mahasiswa saat ini tidak hanya sekedar wacana saja, akan tetapi harus adanya tindakan riil dan hasil yang positif. Wahai para “agent of change and agent of control”, cobalah untuk bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanianmu untuk bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan yang ada dalam dirimu untuk bisa memberi kebaikan dan berperan besar serta bertanggung jawab untuk memberikan kemajuan  masyarakat, bangsa dan Negara.

Dalam menanamkan ruh perubahan positis di masyarakat maka mahasiswa harus melahirkan pola gerakan baru tampa harus menghilangkan pola gerakan lama dalam melakukan gerakan baru dengan turun langsung kepada masyarakat, hal inilah solusi terbaik di tengah terpuruknya demokrasi ini, melakukan pembinaan dan memelihara serta pendidikan yang berkelanjutan menjadi alternatif untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar