Home » , » Revitalisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Di Mata Pemuda

Revitalisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Di Mata Pemuda


Yogyakarta, FIMNY.org – Masih terasa aroma hari lahir sumpah pemuda ditengah-tengah kita. Tepat pada tanggal 28 Oktober 2013 ini kita memperingati hari sumpah pemuda. Dimana dengan adanya momen itu kita diajak oleh sejarah siapa kita sebenarnya dan untuk apa kita terlahir didunia ini. Mengutip perkata presiden pertama kita Soekarno “Jas Merah” ( jangan lupakan sejarah ). Terkadang kita berfikir bahwa sejarah hanyalah rombengan yang tak terpakai lagi namun disisi lain dia adalah hakikat bukti itu. Terkadang kita menganggap sejarah adalah sesuatu yang telah berlalu tapi disisi lain dia adalah hakikat alasan kenapa kita sampai disini.


Bagian Pertama: Sejarah Sumpah Pemuda

Jauh sebelum masa kemerdekaan dikumandangkan pemuda telah berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan, akan tetapi perjuangan itu masih bersifat etnis dalam arti pemuda hanya mempertahankan wilayahnya sendiri dikarenakan pada saat itu masih belum tersebar tentang isu akan suatu NKRI dan kemerdekaan. Terutama pemuda yang paling berperan penting pada saat itu adalah kaum santri. Mereka selalu melakukan aksi dalam bentuk Dakwah, Provokasi, Tausiah, Pengajian dan Perang. Ketika perlawanan itu terjadi, Belanda menaruh rasa takut dengan pergolakan ini terutama pemberontakan yang dilakukan oleh kaum santri. Dari itu Belanda melawan mereka dengan mengirim orang pribumi untuk belajar ke Belanda dengan maksud merubah pola pikir mereka dan supaya ketika mereka kembali nanti bisa menjadi kaki tangan orang-orang Belanda. Dari adanya sekolah ini banyak warga pribumi yang sudah menjenjang pendidikan sampai ke perguruan tinggi di luar negeri. Seiring dengan berkembangnya pola pikir mereka, banyak dari mereka yang sadar akan keadaan Negara mereka sendiri. Dari inilah salah satu faktor munculnya organisasi-organisai pemuda di Indonesia. Jauh sebelum kongres pemuda se-Indonesia ini ada telah banyak bermunculan organisasi-organisasi etnis, organisasi yang berbau islam, maupun organisasi pergerakan.

Gejala ini ditandai oleh lahirnya beberapa organisasi pemuda, yang bersifat nasional dan langsung memasuki gelanggang politik, yaitu:
Pertama: Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI)
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia didirikan di Jakarta tahun 1926 oleh 4 orang mahasiswa STOVIA dan Rechschoogeschool. Tujuan PPPI adalah menggalang persatuan dari seluruh organisasi pemuda untuk berjuang bersama-sama melawan penjajah Belanda. Untuk mencapai itu, sifat kedaerahan harus dihilangkan sebab hal itu hanya akan melemahkan persatuan.
Kedua: Pemuda Indonesia
Pemuda Indonesia didirikan di Bandung tanggal 20 Februari 1927 oleh pemuda terpelajar yang pernah belajar di luar negeri dan bekas anggota Perhimpunan Indonesia. Tokoh-tokoh PI antara lain: Sugiono, Yusupadi, Suwaji, Moh. Tamsil, Soebagio Reksodiputro, Asaad, Rusmali, Sunario, Sartono, Iskak, Budiarto, dan Wiryono. Tujuannya: untuk memperkuat dan memperluas ide kesatuan nasional Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu dilakukan usaha-usaha: mendirikan organisasi kepanduan, mengadakan kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya, memajukan olah raga, menerbitkan majalah, menyelenggarakan rapat-rapat, dan sebagainya.

Pemuda Indonesia dan PPPKI adalah 2 organisasi pemuda yang sangat aktif untuk mencapai cita-cita persatuan di kalangan pemuda. Mereka pulalah yang memelopori diselenggarakannya Kongres Pemuda I dan II sehingga melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda I diselenggarakan tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta dan dihadiri oleh wakil-wakil dari Jong Java, JIB, JSB, Jong Ambon, Sekar Rukun, Studerende Minahassers, Jong Batak, dan Pemuda Theosofie. Dalam kongres ini dapat ditekankan pentingnya persatuan dan kesatuan para pemuda, dalam suatu wadah tunggal untuk mencapai Indonesia merdeka. Tokoh-tokoh pemuda yang berpidato dalam kongres ini yaitu: Sumarto, M. Tabrani (ketua panitia), Muh. Yamin, Bahder Johan, dan Pinontoan. Kongres Pemuda I itu telah menerima dan mengakui cita-cita persatuan Indonesia tetapi gagal membentuk badan sentral. Sebab masih terdapat perbedaan pendapat dan kesalahpahaman di antara sesama anggota.

Seiring dengan munculkan isu tentang kemerdekaan dan NKRI maka perlu kemudian para pemuda bersatu untuk melawan penjajah. Untuk menaungi semangat pemuda itu maka tertuanglah dalam Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II.
a. Kongres Pemuda I (30 April - 2 Mei 1926)
Kongres Pemuda yang pertama ini dilaksanakan di Batavia (Jakarta). Kongres Pemuda I dilaksanakan dari tanggal 30 April - 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Muhammad Tabrani. Kongres pemuda I ini bertujuan agar pemuda terlibat dalam masalah sosial, kemerdekaan dan masalah yang lainnya. Pada kongres pemuda I ini belum membuahkan hasil yang memuaskan dikarenakan factor internal dan ekternal seperti : faktor internalnya, adanya rasis antara yang satu dengan yang lain, dan factor eksternalnya kuatnya kecaman belanda terhadap Indonesia. Sehingga menyulitkan untuk bersatu. (id.wikipedia.org)
b. Kongres Pemuda II
Pada 17 Desember terbentuklah permufakatan perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Program PPPKI adalah berusaha untuk mencapai dan menyamakan arah bagi aksi-aksi kebangsaan, memperkuat dan memperbaiki organisasi serta menghindarkan perselisihan antara anggota. (perpustakaancyber.blogspot.com)

Dengan terbentuknya PPKI maka terjadilah interaksi ke arah persatuan, antara organisasi orang dewasa dengan pemuda. Pada tanggal 3 Mei dan 12 Agustus 1928 diadakan rapat pembentukan Panitia Kongres Pemuda II oleh berbagai organisasi pemuda, yang hasilnya adalah:
* Ketua : Soegondo Joyopispito (dari PPPI)
* Wakil Ketua : Joko Marsait (dari Jong Java)
* Sekretaris : Muhammad Yamin (dari JIB)
* Bendahara : Amir Syarifudin (dari Jong Batak)
* Anggota : Johan Muhammad (JIB), Kocosoengkono (PI), Senduk (Jong Celebes), Leimena (Jong Ambon), dan Rohyani (Kaum Betawi)

Adapun maksud dan tujuan Kongres Pemuda II adalah: hendak melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda Indonesia; membicarakan masalah-masalah tentang pergerakan pemuda Indonesia; serta memperkuat perasaan kebangsaan Indonesia dan memperteguh persatuan Indonesia.

Kongres Pemuda II akhirnya berhasil diselenggagarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Kongres ini selain dihadiri oleh para utusan organisasi pemuda, juga dihadiri oleh organisasi orang dewasa, perorangan, anggota Volkstraad, pers dan sebagainya. Jumlah yang hadir kira-kira 750 orang. Kongres ini dikawal ketat oleh polisi-pilisi Belanda.

Keputusan yang terpenting yang diambil dalam kongres itu adalah pengakuan dan janji setia seluruh organisasi pemuda untuk: “Berbangsa satu, Bertanah Air Satu dan Berbahasa Persatuan Satu, yakni Indonesia”. Keputusan ini dicetuskan pada 28 Oktober 1928, kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Sebelum dibacakan itu diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” ciptaan Wage Rudolf Supratman walaupun tanpa bunyi teksnya. (id.wikipedia.org)

Bagian Kedua : Pemuda Dalam Pandangan Islam
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya & kemana dia keluarkan & tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi). Hadits ini jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakah salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dan itu sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda & para pemuda. Karenanya berikut sedikit keterangan mengenai pemuda dalam pandangan islam.

Oleh karena itulah para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum- memiliki andil & peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, & Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, & menyampaikannya kepada ummat sebagai  warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany & selain mereka yang gigih dlm menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, & masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini & akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.

Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu utk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka kabar gembira dari Nabi mereka -Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.” (al-atsariyyah.com)

Sebagai salah satu acuan pada zaman tabi’ut tabi’in. Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu contoh sosok pemuda yang berhasil dalam memimpin di masanya. Sosok Umar bin Abdul Aziz menghadirkan pribadi yang sungguh luarbiasa. Hal itu dapat terlihat dari kesucian jiwanya dan keagungan jejak hidupnya. Walaupun Umar bin Abdul Aziz tidak hidup pada masa diturunkannya wahyu namun ia mencoba mamindahkan masa wahyu itu kepada masanya, yaitu masa-masa yang penuh dengan kegelapan, penindasan dan diwarnai oleh fanatisme yang membabi buta. Pada masa itu, Umar bin Abdul Aziz mampu merubah tradisi Daulat Bani Umayyah yang rendah yang telah berlalu selama 60 tahun, menjadi masa pemerintahan yang indah, baik, adil, dan sejahtera yang mirip dengan masa Rasulullah Saw.

Dalam hal tersebut yang ia habiskan hanya memakan waktu dua tahun lima bulan dan beberapa hari saja. Keistimewaan dirinya inilah membuat Umar bin Abdul Aziz dan sejarah perjuangannya lebih mirip legenda daripada fakta. Umar bin Abdul Aziz menerima kekuasaan sebagai khalifah dikala ia masih muda. Saat itu usianya belum mencapai 35 tahun. Suasana yang ditemui Umar bin Abdul Aziz diawal kekhalifahannya telah memaksanya untuk menumpahkan perhatian yang lebih besar terhadap hak-hak manusia.

Bagian Ketiga : Revitalisasi Sumpah Pemuda 
Revitalisasi pada dasarnya bagaimana menghidupkan kembali atau menvital kembali segala sesuatu yang dianggap biasa dan kemudian supaya dianggap laur biasa. pemuda sebagai tongkat estfet perjuangan, sebagai agen perubahan (agent of change), agen pengontrol (agent of control), agen semangat, agen pengebrak dan calon pemimpin-pemimpin bangsa. Seperti perkataan presiden pertama kita soekarno “Berikan Saya Sembilan Pemuda Maka Saya Akan Merubah Dunia”. Ini berekses pada pemuda adalah puncat dari pada sendi-sendi Negara itu terutama Negara Indonesia. Dan untuk menaungi itu maka konstitusi juga mengatur tentang perang dan fungsi pemuda itu dalam UU No. 40 Tahun 2009 tentang “Kepemudaan” dan Peraturan Menteri Pemuda Dan Olah Raga  No. 0059 Tahun 2003 tentang “Pengembangan Kepemimpinan Pemuda”.

Bagian Keempat : Kesimpulan
Soekorno “perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri” dari adanya perkataan ini nasehatnya sebenarnya pada persatuan dan kesatu. Mari kita jaga itu semua.

“Terkadang Kita Berfikir Bahwa Sejarah Hanyalah Rombengan Yang Tak Terpakai Lagi Namun Disisi Lain Dia Adalah Hakikat Bukti Itu. Terkadang Kita Menganggap Sejarah Adalah Sesuatu Yang Telah Berlalu Tapi Disisi Lain Dia Adalah Hakikat alasan Kenapa Kita Sampai Disini”.


Bagian Kelima : Referensi 
Suwito, T, 2009, Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional,
 Jakarta, p. 368.
Undang-Undang No.40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan
Peraturan Menteri Pemuda Dan Olah Raga No.0059 Tahun 2003 tentang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda.
www.al-atsariyyah.com
http://id.wikipedia.org/
http://perpustakaancyber.blogspot.com


Ditulis Oleh : Dedi Purwanto, disampaikan dalam Diskusi Rutin Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) pada Hari Selasa tanggal 29 Oktober 2013, diskusi dilaksanakan dalam rangka memperingati “Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober”

0 komentar:

Posting Komentar