Home » » Kearifan Lokal Budaya Daerah dan Jati Diri Bangsa

Kearifan Lokal Budaya Daerah dan Jati Diri Bangsa

Yogyakarta, FIMNY.org  – Saat ini kita ingin mencoba memaparkan terkait pembahasan mengenai "Kearifan Lokal Budaya Daerah Dan Jati Diri Bangsa", yukk kita simak bersama-sama.

Kearifan Lokal:
1. Perangkat pengetahuan dan praktik-praktik (pengalaman) milik suatu komunitas di suatu tempat yang digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan atau kesulitan secara baik dan benar.

Ada dua jenis kearifan lokal: (1) Kearifan lokal warisan (berasal dari generasi-generasi sebelumnya); (2) Kearifan lokal berupa pengalaman berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat. (Heddy Shri Ahimsa-Putra: 2008).

2. Produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai local, nilai yang dikandungnya dianggap sangat universal (Gobyah, 2003).

3. Sumber pengetahuan yang diselenggarakan secara dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budaya sekitarnya. (Corline Nyamai-Kisia, 2010)

Wujud Kearifan Lokal:
1. Nilai-nilai yang diyakini mengandung kebenaran
- Etika, norma, moral dan hukum

2. Sistem ilmu-pengetahuan
- etos kerja yang melahirkan berbagai kreativitas: karya seni, teknologi, produk-produk material

3. Praktik-praktik berupa pola-pola interaksi dan pola tindakan yang menghasilkan: sistem sosial, sistem ekonomi, sistem politik dan sistem budaya.

Fungsi Kearifan Lokal
1. Sebagai panduan atau orientasi nilai kehidupan kolektif
2. Media/wahana penyatuan manusia secara vertikal dan horizontal (Tuhan-alam-lingkungan), misalnya tampak dalam aktivitas upacara adat
3. Perekat sosial (solidarity maker)
4. Referensi dan inspirasi untuk menjawab tantangan kehidupan, baik dalam kehidupan agraris maupun non-agraris;
5. Pendorong etos kreatif
6. Pembentuk karakter manusia (identitas, jatidiri).

Jati Diri Bangsa
Jatidiri adalah karakter yang mewujud dalam sistem berpikir, berekspresi, berperilaku dan berproduksi secara material yang dimiliki suatu bangsa. Di dalam karakter terkandung nilai-nilai: (a) integritas (kejujuran, ketulusan), (b) komitmen/tanggungjawab (keterikan/kesetiaan pada nilai kesanggupan) dan kapabilitas (kemampuan teknik dan non-teknis).
Dalam konteks bangsa, jatidiri mewujud pada sikap dan perilaku yang bermartabat atau memiliki kesadaran etis dan etos yang tinggi. Yakni kesadaran yang terbasis pada moralitas, norma dan hukum untuk menghasilkan karya-karya yang bermakna bagi kehidupan bangsa.

Memperkuat Jatidiri Bangsa
1. Kearifan lokal adalah sumber nilai, pengetahuan dan pengalaman yang harus diinternalisasi dan diintegrasikan dalam sistem bermasyarakat, berbudaya dan berbangsa untuk melahirkan kepribadian bangsa yang unggul.
2. Kearifan lokal berfungsi membangun karakter keindonesiaan yang berbasis kebhinekaan. Setiap kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang dari setiap budaya etnis layak dan patut untuk diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
3. Menjadi warga negara Indonesia merupakan orientasi utama yang berbasis pada otentisitas kearifan budaya etnis. Di sini bingkai kebhinekaan mampu merangkum dan memberi hak hidup bagi setiap budaya etnis. Keindonesiaan yang majemuk tidak melenyapkan identitas/jatidiri budaya etnis. Dengan demikian setiap budaya etnis memiliki kontribusi/sumbangan nilai yang penting untuk membentuk sosok keindonesiaan.
4. Sosok Indonesia yang ideal adalah sosok yang dibangun dari berbagai entitas suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Jadilah warga Indonesia yang tetap menjunjung tinggi budaya etnisnya dan mengapresiasi budaya etnis yang lain. Ini merupakan konsekuensi logis dari pilihan kita atas negara kebangsaan dan kesatuan yang berbasis pada kebhinekaan.
5. Kearifan budaya lokal adalah titik pijak bagi kesadaran untuk membangsa atau menjadi bangsa Indonesia. Kesadaran ini menjadi benteng kebudayaan dalam menghadapi dua arus besar yang berpotensi menggerus budaya lokal. Yakni (1) arus global yang tampak pada radikalisme pasar bebas. dan (2) arus radikalisme keyakinan (bisa agama dan non agama) yang mengancam kebhinekaan.

Arus Global
Menurut Arjun Appadurai (1997) arus global dibedakan menjadi lima dimensi, yaitu: (1) manusia-manusia global (ethnoscapes) seperti wisatawan asing, pekerja asing, (2) dimensi teknologi (technoscapes) seperti komputer dengan perangkat keras dan lunak, (3) dimensi keuangan (financescapes) seperti penanaman modal asing, pasar uang global, (4) dimensi media atau citra (mediascapes) seperti berita, cerita yang diangkat media cetak dan elektronik, dan dimensi gagasan/ideologi (ideascapes) yang berbentuk citra dan terarah pada bangunan ideologi politik dan sejenisnya (Umar Kayam, Kelir Tanpa Batas : 2001).

Kearifan Lokal dan Kewajiban Negara
Secara idiil dan konstitusional negara wajib melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan berbagai kekayaan budaya lokal/kearifan lokal. Kewajiban itu harus diwujudkan dalam regulasi yang melindungi hak hidup budaya lokal/kearifan lokal. Pelaksanaan regulasi tersebut harus didukung oleh politik anggaran yang memadai bagi kehidupan dan perkembangan budaya lokal/kearifan lokal. Turunannya adalah berbagai program yang mengintegrasikan budaya lokal/kearifan lokal ke dalam sistem pendidikan nasional dan sistem sosial, program kapasitasi (pembelajaran-pelatihan) para pelaku budaya lokal.


Makalah ini disampaikan Oleh : Indra Tranggono (Pengamat Budaya) pada saat Dialog Budaya Etnis, di Museum Benteng Vrederburg Hari Rabu Tanggal 16 Oktober 2013 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogykarta bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar