FIMNY Gelar Diskusi Peringati Hari Sumpah Pemuda


Yogyakarta, FIMNY.org – Secara personal sudah menjadi kewajiban pemuda (mahasiswa) dalam meningkatkan intelktualnya. Salahsatu cara untuk memperkaya khazanah pengetahuan adalah dengan bertukar pikiran dengan cara Diskusi. Tidak terasa kemarin (28 Oktober 2013) Hari Sumpah Pemuda sudah menginjak 85 Tahun, dari 28 Oktober 1928 sampai 28 Oktober 2013, saat ini semangat dan tekat pemuda/mahasiswa masih melekat erat dalam tingkahlakunya, walau terkadang ada juga sebagian dari pemuda/mahasiswa masih ada yang merasa acuh tak acuh dengan kondisi kekinian, tapi paling tidak kita sebagai mahasiswa harus dan berkewajiban untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita terkait pergolakan-pergolakan yang terjadi beberapa puluh tahun silam (Oktober 1928).

Semangat atau nilai-nilai yang terkandung dalam kisah perjuangan para funding father kita kala itu apakah masih bisa disinergiskan dengan kondisi kekinian? Oleh karena itu, untuk mengupas tuntas persoalan-persoalan diatas, bertepatan dengan moment Peringatan “Hari Sumpah Pemuda” Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) menyelenggrakan Diskusi Rutin FIMNY dengan Tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Di Mata Pemuda” pada Hari Selasa tanggal 29 Oktober 2013 Pukul 19.00-23.59 WIB dengan pemateri/pengantar diskusi saudara Dedi Purwanto (Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta [FIMNY]) dan didampingi oleh moderator saudara Ismail Aljihadi.

Acara Diskusi Rutin FIMNY berlangsung sangat lancar dihadiri oleh kurang lebih 30 orang peserta, diantaranya dari anggota FIMNY itu sendiri dan ada juga dari teman-teman dari Organisasi Etnis Lainnya, seperti dari perwakilan dari organisasi Forum Mahasiswa Lambu (FORMAL) Yogyakarta, KEPMA Bima, dan orang-orang Bima lainnya yang melanjutkan studi di kota Gudeg Yogyakarta. Acaranya pun berlangsung dengan meriah dimana terjadi interaksi yang aktif antara pemateri dan para peserta, yang mana mereka saling memaparkan ide dan gagasan pengetahuan mereka dari sejarah awal lahirnya Sumpah Pemuda, proses berjalannya dan sampai kondisi kekinian yang dialami oleh pemuda/mahasiswa. Adapun acara ini dipersembahkan oleh Bidang Sumber Daya Manusia Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) dalam rangka peringatan “Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober” dan diselenggarakan di Ruang Aula Asrama Mahasiswa Bima-Yogyakarta yang beralamat di Gondosuli, Baciro, Kota Yogyakarta.

Suasana saat Diskusi

Karena Sejarah Adalah Hakikat Alasan Kenapa Kita Sampai Disini


Yogyakarta, FIMNY.org – fanding tuther kita bersama yaitu Presiden Republik Indonesia yang Pertama Soekarno pernah perucap atau berpesan pada masyarakat indonesia kala itu, beliau berucap “Jas Merah” (jangan pernah lupakan sejarah). Emang benar apa yang dilontarkan oleh funding father kita tersebut, karena bangsa yang melupakan sejarah adalah bangsa yang tidak akan pernah bisa berjaya.

Kemarin, tepatnya pada tanggal 29 Oktober 2013 dalam diskusi Rutin FIMNY dalam rangka memperingati “Hari Sumpah Pemuda” saudara Dedi Purwanto (Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta) disela-sela pemaparan materi dia mengungkapkan “Terkadang Kita Berfikir Bahwa Sejarah Hanyalah Rombengan Yang Tak Terpakai Lagi Namun Disisi Lain Dia Adalah Hakikat Bukti Itu. Terkadang Kita Menganggap Sejarah Adalah Sesuatu Yang Telah Berlalu Tapi Disisi Lain Dia Adalah Hakikat alasan Kenapa Kita Sampai Disini”.

Dari sejarah kita bisa melihat sejauh mana suatu permasalahan yang dialami oleh bangsa ini, dan sebisa mungkin kita saat ini sebagai pemuda/mahasiswa yang menyandang gelar Agen Perubahan (Agent of Change) dan agen pengontrol (agent of control) sudah sepatut dan selayaknya mengetahui dan mempelajari sejarah, dengan kita mempelajari sejarah kita akan bisa mengetahui persoalan-persolan dimasa lampau, dan kita ambil sebagai pelajaran, agar kedepannya bangsa Indonesia tidak mudah lagi di jajah oleh orang-orang asing yang ingin mengusik keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Revitalisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Di Mata Pemuda


Yogyakarta, FIMNY.org – Masih terasa aroma hari lahir sumpah pemuda ditengah-tengah kita. Tepat pada tanggal 28 Oktober 2013 ini kita memperingati hari sumpah pemuda. Dimana dengan adanya momen itu kita diajak oleh sejarah siapa kita sebenarnya dan untuk apa kita terlahir didunia ini. Mengutip perkata presiden pertama kita Soekarno “Jas Merah” ( jangan lupakan sejarah ). Terkadang kita berfikir bahwa sejarah hanyalah rombengan yang tak terpakai lagi namun disisi lain dia adalah hakikat bukti itu. Terkadang kita menganggap sejarah adalah sesuatu yang telah berlalu tapi disisi lain dia adalah hakikat alasan kenapa kita sampai disini.


Bagian Pertama: Sejarah Sumpah Pemuda

Jauh sebelum masa kemerdekaan dikumandangkan pemuda telah berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan, akan tetapi perjuangan itu masih bersifat etnis dalam arti pemuda hanya mempertahankan wilayahnya sendiri dikarenakan pada saat itu masih belum tersebar tentang isu akan suatu NKRI dan kemerdekaan. Terutama pemuda yang paling berperan penting pada saat itu adalah kaum santri. Mereka selalu melakukan aksi dalam bentuk Dakwah, Provokasi, Tausiah, Pengajian dan Perang. Ketika perlawanan itu terjadi, Belanda menaruh rasa takut dengan pergolakan ini terutama pemberontakan yang dilakukan oleh kaum santri. Dari itu Belanda melawan mereka dengan mengirim orang pribumi untuk belajar ke Belanda dengan maksud merubah pola pikir mereka dan supaya ketika mereka kembali nanti bisa menjadi kaki tangan orang-orang Belanda. Dari adanya sekolah ini banyak warga pribumi yang sudah menjenjang pendidikan sampai ke perguruan tinggi di luar negeri. Seiring dengan berkembangnya pola pikir mereka, banyak dari mereka yang sadar akan keadaan Negara mereka sendiri. Dari inilah salah satu faktor munculnya organisasi-organisai pemuda di Indonesia. Jauh sebelum kongres pemuda se-Indonesia ini ada telah banyak bermunculan organisasi-organisasi etnis, organisasi yang berbau islam, maupun organisasi pergerakan.

Gejala ini ditandai oleh lahirnya beberapa organisasi pemuda, yang bersifat nasional dan langsung memasuki gelanggang politik, yaitu:
Pertama: Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI)
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia didirikan di Jakarta tahun 1926 oleh 4 orang mahasiswa STOVIA dan Rechschoogeschool. Tujuan PPPI adalah menggalang persatuan dari seluruh organisasi pemuda untuk berjuang bersama-sama melawan penjajah Belanda. Untuk mencapai itu, sifat kedaerahan harus dihilangkan sebab hal itu hanya akan melemahkan persatuan.
Kedua: Pemuda Indonesia
Pemuda Indonesia didirikan di Bandung tanggal 20 Februari 1927 oleh pemuda terpelajar yang pernah belajar di luar negeri dan bekas anggota Perhimpunan Indonesia. Tokoh-tokoh PI antara lain: Sugiono, Yusupadi, Suwaji, Moh. Tamsil, Soebagio Reksodiputro, Asaad, Rusmali, Sunario, Sartono, Iskak, Budiarto, dan Wiryono. Tujuannya: untuk memperkuat dan memperluas ide kesatuan nasional Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu dilakukan usaha-usaha: mendirikan organisasi kepanduan, mengadakan kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya, memajukan olah raga, menerbitkan majalah, menyelenggarakan rapat-rapat, dan sebagainya.

Pemuda Indonesia dan PPPKI adalah 2 organisasi pemuda yang sangat aktif untuk mencapai cita-cita persatuan di kalangan pemuda. Mereka pulalah yang memelopori diselenggarakannya Kongres Pemuda I dan II sehingga melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda I diselenggarakan tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta dan dihadiri oleh wakil-wakil dari Jong Java, JIB, JSB, Jong Ambon, Sekar Rukun, Studerende Minahassers, Jong Batak, dan Pemuda Theosofie. Dalam kongres ini dapat ditekankan pentingnya persatuan dan kesatuan para pemuda, dalam suatu wadah tunggal untuk mencapai Indonesia merdeka. Tokoh-tokoh pemuda yang berpidato dalam kongres ini yaitu: Sumarto, M. Tabrani (ketua panitia), Muh. Yamin, Bahder Johan, dan Pinontoan. Kongres Pemuda I itu telah menerima dan mengakui cita-cita persatuan Indonesia tetapi gagal membentuk badan sentral. Sebab masih terdapat perbedaan pendapat dan kesalahpahaman di antara sesama anggota.

Seiring dengan munculkan isu tentang kemerdekaan dan NKRI maka perlu kemudian para pemuda bersatu untuk melawan penjajah. Untuk menaungi semangat pemuda itu maka tertuanglah dalam Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II.
a. Kongres Pemuda I (30 April - 2 Mei 1926)
Kongres Pemuda yang pertama ini dilaksanakan di Batavia (Jakarta). Kongres Pemuda I dilaksanakan dari tanggal 30 April - 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Muhammad Tabrani. Kongres pemuda I ini bertujuan agar pemuda terlibat dalam masalah sosial, kemerdekaan dan masalah yang lainnya. Pada kongres pemuda I ini belum membuahkan hasil yang memuaskan dikarenakan factor internal dan ekternal seperti : faktor internalnya, adanya rasis antara yang satu dengan yang lain, dan factor eksternalnya kuatnya kecaman belanda terhadap Indonesia. Sehingga menyulitkan untuk bersatu. (id.wikipedia.org)
b. Kongres Pemuda II
Pada 17 Desember terbentuklah permufakatan perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Program PPPKI adalah berusaha untuk mencapai dan menyamakan arah bagi aksi-aksi kebangsaan, memperkuat dan memperbaiki organisasi serta menghindarkan perselisihan antara anggota. (perpustakaancyber.blogspot.com)

Dengan terbentuknya PPKI maka terjadilah interaksi ke arah persatuan, antara organisasi orang dewasa dengan pemuda. Pada tanggal 3 Mei dan 12 Agustus 1928 diadakan rapat pembentukan Panitia Kongres Pemuda II oleh berbagai organisasi pemuda, yang hasilnya adalah:
* Ketua : Soegondo Joyopispito (dari PPPI)
* Wakil Ketua : Joko Marsait (dari Jong Java)
* Sekretaris : Muhammad Yamin (dari JIB)
* Bendahara : Amir Syarifudin (dari Jong Batak)
* Anggota : Johan Muhammad (JIB), Kocosoengkono (PI), Senduk (Jong Celebes), Leimena (Jong Ambon), dan Rohyani (Kaum Betawi)

Adapun maksud dan tujuan Kongres Pemuda II adalah: hendak melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda Indonesia; membicarakan masalah-masalah tentang pergerakan pemuda Indonesia; serta memperkuat perasaan kebangsaan Indonesia dan memperteguh persatuan Indonesia.

Kongres Pemuda II akhirnya berhasil diselenggagarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Kongres ini selain dihadiri oleh para utusan organisasi pemuda, juga dihadiri oleh organisasi orang dewasa, perorangan, anggota Volkstraad, pers dan sebagainya. Jumlah yang hadir kira-kira 750 orang. Kongres ini dikawal ketat oleh polisi-pilisi Belanda.

Keputusan yang terpenting yang diambil dalam kongres itu adalah pengakuan dan janji setia seluruh organisasi pemuda untuk: “Berbangsa satu, Bertanah Air Satu dan Berbahasa Persatuan Satu, yakni Indonesia”. Keputusan ini dicetuskan pada 28 Oktober 1928, kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Sebelum dibacakan itu diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” ciptaan Wage Rudolf Supratman walaupun tanpa bunyi teksnya. (id.wikipedia.org)

Bagian Kedua : Pemuda Dalam Pandangan Islam
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya & kemana dia keluarkan & tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi). Hadits ini jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakah salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dan itu sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda & para pemuda. Karenanya berikut sedikit keterangan mengenai pemuda dalam pandangan islam.

Oleh karena itulah para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum- memiliki andil & peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, & Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, & menyampaikannya kepada ummat sebagai  warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany & selain mereka yang gigih dlm menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, & masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini & akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.

Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu utk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka kabar gembira dari Nabi mereka -Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.” (al-atsariyyah.com)

Sebagai salah satu acuan pada zaman tabi’ut tabi’in. Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu contoh sosok pemuda yang berhasil dalam memimpin di masanya. Sosok Umar bin Abdul Aziz menghadirkan pribadi yang sungguh luarbiasa. Hal itu dapat terlihat dari kesucian jiwanya dan keagungan jejak hidupnya. Walaupun Umar bin Abdul Aziz tidak hidup pada masa diturunkannya wahyu namun ia mencoba mamindahkan masa wahyu itu kepada masanya, yaitu masa-masa yang penuh dengan kegelapan, penindasan dan diwarnai oleh fanatisme yang membabi buta. Pada masa itu, Umar bin Abdul Aziz mampu merubah tradisi Daulat Bani Umayyah yang rendah yang telah berlalu selama 60 tahun, menjadi masa pemerintahan yang indah, baik, adil, dan sejahtera yang mirip dengan masa Rasulullah Saw.

Dalam hal tersebut yang ia habiskan hanya memakan waktu dua tahun lima bulan dan beberapa hari saja. Keistimewaan dirinya inilah membuat Umar bin Abdul Aziz dan sejarah perjuangannya lebih mirip legenda daripada fakta. Umar bin Abdul Aziz menerima kekuasaan sebagai khalifah dikala ia masih muda. Saat itu usianya belum mencapai 35 tahun. Suasana yang ditemui Umar bin Abdul Aziz diawal kekhalifahannya telah memaksanya untuk menumpahkan perhatian yang lebih besar terhadap hak-hak manusia.

Bagian Ketiga : Revitalisasi Sumpah Pemuda 
Revitalisasi pada dasarnya bagaimana menghidupkan kembali atau menvital kembali segala sesuatu yang dianggap biasa dan kemudian supaya dianggap laur biasa. pemuda sebagai tongkat estfet perjuangan, sebagai agen perubahan (agent of change), agen pengontrol (agent of control), agen semangat, agen pengebrak dan calon pemimpin-pemimpin bangsa. Seperti perkataan presiden pertama kita soekarno “Berikan Saya Sembilan Pemuda Maka Saya Akan Merubah Dunia”. Ini berekses pada pemuda adalah puncat dari pada sendi-sendi Negara itu terutama Negara Indonesia. Dan untuk menaungi itu maka konstitusi juga mengatur tentang perang dan fungsi pemuda itu dalam UU No. 40 Tahun 2009 tentang “Kepemudaan” dan Peraturan Menteri Pemuda Dan Olah Raga  No. 0059 Tahun 2003 tentang “Pengembangan Kepemimpinan Pemuda”.

Bagian Keempat : Kesimpulan
Soekorno “perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri” dari adanya perkataan ini nasehatnya sebenarnya pada persatuan dan kesatu. Mari kita jaga itu semua.

“Terkadang Kita Berfikir Bahwa Sejarah Hanyalah Rombengan Yang Tak Terpakai Lagi Namun Disisi Lain Dia Adalah Hakikat Bukti Itu. Terkadang Kita Menganggap Sejarah Adalah Sesuatu Yang Telah Berlalu Tapi Disisi Lain Dia Adalah Hakikat alasan Kenapa Kita Sampai Disini”.


Bagian Kelima : Referensi 
Suwito, T, 2009, Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional,
 Jakarta, p. 368.
Undang-Undang No.40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan
Peraturan Menteri Pemuda Dan Olah Raga No.0059 Tahun 2003 tentang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda.
www.al-atsariyyah.com
http://id.wikipedia.org/
http://perpustakaancyber.blogspot.com


Ditulis Oleh : Dedi Purwanto, disampaikan dalam Diskusi Rutin Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) pada Hari Selasa tanggal 29 Oktober 2013, diskusi dilaksanakan dalam rangka memperingati “Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober”

Kearifan Lokal Budaya Daerah dan Jati Diri Bangsa

Yogyakarta, FIMNY.org  – Saat ini kita ingin mencoba memaparkan terkait pembahasan mengenai "Kearifan Lokal Budaya Daerah Dan Jati Diri Bangsa", yukk kita simak bersama-sama.

Kearifan Lokal:
1. Perangkat pengetahuan dan praktik-praktik (pengalaman) milik suatu komunitas di suatu tempat yang digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan atau kesulitan secara baik dan benar.

Ada dua jenis kearifan lokal: (1) Kearifan lokal warisan (berasal dari generasi-generasi sebelumnya); (2) Kearifan lokal berupa pengalaman berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat. (Heddy Shri Ahimsa-Putra: 2008).

2. Produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai local, nilai yang dikandungnya dianggap sangat universal (Gobyah, 2003).

3. Sumber pengetahuan yang diselenggarakan secara dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budaya sekitarnya. (Corline Nyamai-Kisia, 2010)

Wujud Kearifan Lokal:
1. Nilai-nilai yang diyakini mengandung kebenaran
- Etika, norma, moral dan hukum

2. Sistem ilmu-pengetahuan
- etos kerja yang melahirkan berbagai kreativitas: karya seni, teknologi, produk-produk material

3. Praktik-praktik berupa pola-pola interaksi dan pola tindakan yang menghasilkan: sistem sosial, sistem ekonomi, sistem politik dan sistem budaya.

Fungsi Kearifan Lokal
1. Sebagai panduan atau orientasi nilai kehidupan kolektif
2. Media/wahana penyatuan manusia secara vertikal dan horizontal (Tuhan-alam-lingkungan), misalnya tampak dalam aktivitas upacara adat
3. Perekat sosial (solidarity maker)
4. Referensi dan inspirasi untuk menjawab tantangan kehidupan, baik dalam kehidupan agraris maupun non-agraris;
5. Pendorong etos kreatif
6. Pembentuk karakter manusia (identitas, jatidiri).

Jati Diri Bangsa
Jatidiri adalah karakter yang mewujud dalam sistem berpikir, berekspresi, berperilaku dan berproduksi secara material yang dimiliki suatu bangsa. Di dalam karakter terkandung nilai-nilai: (a) integritas (kejujuran, ketulusan), (b) komitmen/tanggungjawab (keterikan/kesetiaan pada nilai kesanggupan) dan kapabilitas (kemampuan teknik dan non-teknis).
Dalam konteks bangsa, jatidiri mewujud pada sikap dan perilaku yang bermartabat atau memiliki kesadaran etis dan etos yang tinggi. Yakni kesadaran yang terbasis pada moralitas, norma dan hukum untuk menghasilkan karya-karya yang bermakna bagi kehidupan bangsa.

Memperkuat Jatidiri Bangsa
1. Kearifan lokal adalah sumber nilai, pengetahuan dan pengalaman yang harus diinternalisasi dan diintegrasikan dalam sistem bermasyarakat, berbudaya dan berbangsa untuk melahirkan kepribadian bangsa yang unggul.
2. Kearifan lokal berfungsi membangun karakter keindonesiaan yang berbasis kebhinekaan. Setiap kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang dari setiap budaya etnis layak dan patut untuk diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
3. Menjadi warga negara Indonesia merupakan orientasi utama yang berbasis pada otentisitas kearifan budaya etnis. Di sini bingkai kebhinekaan mampu merangkum dan memberi hak hidup bagi setiap budaya etnis. Keindonesiaan yang majemuk tidak melenyapkan identitas/jatidiri budaya etnis. Dengan demikian setiap budaya etnis memiliki kontribusi/sumbangan nilai yang penting untuk membentuk sosok keindonesiaan.
4. Sosok Indonesia yang ideal adalah sosok yang dibangun dari berbagai entitas suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Jadilah warga Indonesia yang tetap menjunjung tinggi budaya etnisnya dan mengapresiasi budaya etnis yang lain. Ini merupakan konsekuensi logis dari pilihan kita atas negara kebangsaan dan kesatuan yang berbasis pada kebhinekaan.
5. Kearifan budaya lokal adalah titik pijak bagi kesadaran untuk membangsa atau menjadi bangsa Indonesia. Kesadaran ini menjadi benteng kebudayaan dalam menghadapi dua arus besar yang berpotensi menggerus budaya lokal. Yakni (1) arus global yang tampak pada radikalisme pasar bebas. dan (2) arus radikalisme keyakinan (bisa agama dan non agama) yang mengancam kebhinekaan.

Arus Global
Menurut Arjun Appadurai (1997) arus global dibedakan menjadi lima dimensi, yaitu: (1) manusia-manusia global (ethnoscapes) seperti wisatawan asing, pekerja asing, (2) dimensi teknologi (technoscapes) seperti komputer dengan perangkat keras dan lunak, (3) dimensi keuangan (financescapes) seperti penanaman modal asing, pasar uang global, (4) dimensi media atau citra (mediascapes) seperti berita, cerita yang diangkat media cetak dan elektronik, dan dimensi gagasan/ideologi (ideascapes) yang berbentuk citra dan terarah pada bangunan ideologi politik dan sejenisnya (Umar Kayam, Kelir Tanpa Batas : 2001).

Kearifan Lokal dan Kewajiban Negara
Secara idiil dan konstitusional negara wajib melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan berbagai kekayaan budaya lokal/kearifan lokal. Kewajiban itu harus diwujudkan dalam regulasi yang melindungi hak hidup budaya lokal/kearifan lokal. Pelaksanaan regulasi tersebut harus didukung oleh politik anggaran yang memadai bagi kehidupan dan perkembangan budaya lokal/kearifan lokal. Turunannya adalah berbagai program yang mengintegrasikan budaya lokal/kearifan lokal ke dalam sistem pendidikan nasional dan sistem sosial, program kapasitasi (pembelajaran-pelatihan) para pelaku budaya lokal.


Makalah ini disampaikan Oleh : Indra Tranggono (Pengamat Budaya) pada saat Dialog Budaya Etnis, di Museum Benteng Vrederburg Hari Rabu Tanggal 16 Oktober 2013 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogykarta bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta

Mengenal Organisasi Etnis “IPMLY” Yogyakarta


Yogyakarta, FIMNY.org – Yogyakarta merupakan daerah istimewa dan merupakan kota pelajar, kebanyakan orang juga menyebut Yogyakarta sebagai Miniatur Negara, karena di Yogyakarta orang dari Sabang sampai Merauke ada di kota gudeg ini, di Yogyakarta juga banyak organisasi-organisasi Etnis, diantaranya adalah organisasi etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)”.

Organisasi Etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)” merupakan organisasi yang terdiri dari  sekumpulan anak muda yang mengaku sebagai generasi muda harapan yang mendambakan perubahan besar pada diri, keluarga dan masyarakat terutama pada bangsa dan negara. Dengan keberadaanya tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi besar kepada masyarakat sebagai agen perubahan (agent of change), agen social (agent of society) dan agen kontrol (agent of control) dalam bentuk pengabdian diri pada nilai-nilai yang berlandaskan pada kemaslahatan dan kemanfaatan bagi semua pihak, maka dengan landasan itu pula kami menjadikannya sebagai commitment bersama  untuk bergerak kearah yang lebih baik menuju perbaikan masa depan yang dicita-citakan.

Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY) berdiri pada awal berdirinya dirintis oleh 4 orang mahasiswa Kecamatan Lambu Kabupaten Bima diantaranya saudara Hendra Purnawan, Rustam, Rif’ah dan Eti Kurniawan, saat itu bertepatan pada hari Minggu tanggal 26 Desember 2010 jam 09.00 WIB, organisasi ini resmi didirikan atau dibentuk bertujuan untuk menyatukan pelajar dan mahasiswa Lambu yang berada di kota gudeg Yogyakarta khususnya sebagai wadah silaturrahmi dengan memperjuangkan hak-hak masyarakat yang kurang mendapatkan ketidakadilan, penindasan dan sebagainya. Selain itu  pula tujuan mendirikan organisasi ini juga sesuai dengan visi misinya yaitu menciptakan kader yang proaktif dan kritis.

Adapun Visi dan Misi Organisasi Etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)” adalah dengan Visi “Menciptakan Kader yang Proaktif, Kritis dan Humanis Terhadap Lingkungan Bagi Peradaban dan Misinya: “(1) Mengembangkan Budaya Kritis Terhadap Keputusan Pemerintah; (2) Membangkitkan Pemahaman Terhadap Nilai-Nilai Budaya Bima (Mbojo); (3) Melahirkan Pelajar dan Mahasiswa yang Mempunyai Jiwa Kepemimpinan Yang Tinggi; (4) Melakukan Koordinasi Dengan Stake Holder Pemerintahan Pusat dan Daerah”

Dalam hal ini proaktif yang dimaksud oleh Organisasi Etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)” adalah setiap kegiatan-kegiatan yang ada baik itu yang ada di masyarakat ataupun yang ada di lembaga pemerintahan. Kemudian kritis, dalam artian kritis terhadap keputusan-keputusan yang di keluarkan oleh pemerintahan daerah maupun pusat dan kejadian-kejadian yang ada di tengah masyarakat. Dengan berdasarkan pada nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila dan UUD 1945 dalam berbangsa dan bernegara, maka organisasi ini juga tidak terlepas dari prinsip dengan mengamalkan ajaran agama berdasarkan Qur’an dan Sunnah, sehingga organisasi ini menjunjung tinggi pada nilai-nilai kearifan local dan kebangsaan dengan terus belajar dan bekerja keras demi tercapainya tujuan bersama. Sebagai organisasi yang sangat muda dengan potensi yang sumber daya yang masih muda pula sangat menyadari untuk terus berbenah diri dan belajar mengikuti perubahan zaman dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu untuk membantu dalam proses pembangunan sekaligus program-program yang telah disepakati bersama baik dalam lingkungan internal organisasi sendiri maupun eksternal organisasi sampai pada akhirnya mendapatkan nilai yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam memperlancar roda organisasinya, saat ini Organisasi Etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)” dipimpin oleh sahabat Khairul Rizal, semoga dalam kepengurusannya organisasi etnis ini semakin jaya kan mengepakkan sayapnya demi tanah kelahiran, bangsa dan negara tercinta. Amin.

IKPMDI-Yogyakarta Gelar Sarasehan Mahasiswa Daerah


Yogyakarta, FIMNY.org – Indonesia dewasa ini sedikit demi sedikit semakin terkikis dan di korek oleh Negara tetangga, disamping itu juga jiwa nasionalis pemuda/mahasiswa sangat minim dalam mempertahankan keutuhan NKRI, yang mana kini sebagian mereka hanya mempertahankan ego dan kepentingan pribadi atau golongannya sendiri, oleh karena itu mulai dari sekarang dan mulai saat ini diharapkan semua kalangan merefleksikan diri kita masing-masing agar tidak terlalu bereforia dalam kesenangan sesaat dan bersifat pribadi atau golongan, agar situasi dan kondisi seperti ini tidak dimanfaatkan oleh golongan asing.

Dari suatu kegelisahan dan suatu persoalan tersebut Mahasiswa Daerah yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta menyelenggarakan Sarasehan Mahasiswa Daerah dengan mengangkat tema “Peran Mahasiswa Sebagai Generasi Muda Untuk Menegakkan Keutuhan NKRI” dengan mendatangkan tiga pemateri yang memang ahli dibidangnya dan mengupas tuntas terkait tema yang diangkat tersebut.

Rangkaian kegiatan Sarasehan Mahasiswa Daerah yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta tersebut berlangsung dengan ramai yang mana diikuti oleh kurang lebih 100 orang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke yang menembuh kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta,ldjdslkd serta interaksi antara para peserta Sarasehan Mahasiswa Daerah dengan para pemateri juga berlangsung baik yang mana saling tanggap dengan persoalan-persoalan yang dipertanyakan.

Kegiatan Sarasehan Mahasiswa Daerah yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta tersebut diselenggarakan pada hari Selasa Tanggal 30 September 2013 pukul 08.00-selesai. Acara berlangsung dengan sangat meriah dan penuh khidmat yang diselenggarakan di Ruang Seminar Lantai 2 Kampus APMD Yogyakarta.

Suasana Saat Berlangsungnya Acara

Dinas Kebudayaan DIY dan IKPMDI-Yogyakarta Gelar Dialog Kebudaan Etnis

Yogyakarta, FIMNY.org – Seperti yang dikenal masyarakat luas bahwasannya Daerah Istimewa Yogyakarta salahsatunya yaitu dikenal dari ranah kebudayaan. Disadari atau tidak Yogyakarta identik dengan miniatur negara, karena di kota gudeg ini orang-orang diberbagai daerah ada di sisini, mulai dari Sabang sampai Merauke, pada umumnya mereka yang berkunjung di Yogyakarta yaitu orang-orang yang ingin melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, selain itu juga tidak dipungkiri bahwasanya orang-orang dari sabang sampai merauke banyak juga yang datang hanya sekedar berwisata dan merasakaan kenyamanan Yogyakarta.

Dengan banyaknya para mahasiswa-mahasiswa dari berbagai macam daerah, bisa juga berpotensi sebagai suatu permasalahan, karena bisa saja mereka yang dari berbagai latar belakang etnis tersebut menimbulkan kecekcokan hanya karena sedikit permasalahan. Berangkat dari suatu kegelisahan tersebutlah, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan organisasi etnis Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta menyelenggarakan Dialog Kebudayaan Etnis Program Pengelolaan Keragaman Budaya Tahun Anggaran 2013 pada Hari Rabu, Tanggal 16 Oktober 2013 pukul 08.00-13.00 WIB dengan mendatangkan Pembicara yang memang ahli di bidangnya yaitu pada Panel sesi Pertama mendatangkan dua pembicara diantaranya Bapak Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum., berkesempatan menyampaikan perihal “Peran Nilai-Nilai Budaya Daerah Dalam Memperkuat Identitas dan Kebudayaan Nasional”, Pembicara kedua Bapak Drs. Indra Tranggono, berkesempatan menyampaikan materi terkait “Kearifan Lokal Dalam Budaya Daerah Sebagai Faktor Penting Dalam Upaya Memperkuat Jati Diri Bangsa” serta disesi kedua mendatangkan pemateri Bapak KH. Abdul Muhaimin (Ketua FPBU/DK DIY) dengan materi terkait “Peran Nilai-Nilai dan Moral Keagamaan Dalam Menjaga Keutuhan Masyarakat Yogyakarta yang Multikultural”.

Acara Penyuluhan Hukum tersebut berlangsung sangat lancar dihadiri oleh 70 orang peserta dari perwakilan Ikatan Pelajar Mahasiswa darin Sabang sampai Merauke yang berada di Yogyakrta. Dihadiri pula oleh berbagai perwakilan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Acaranya pun berlangsung dengan meriah dimana terjadi interaksi yang aktif antara narasumber dan para peserta yang menanyakan terkait persoalan-persoalan kebudayaan yang telah mereka amati.

Acara Dialog Kebudayaan Etnis ini dipersembahkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan organisasi etnis Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta, diselenggarakan di Ruang Seminar Museum Benteng Vrederburg Yogyakarta.

Mewujudkan Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa

Yogyakarta, FIMNY.org – Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya point-point pancasila terdiri dari 5, adapun kelima poin tersebut adalah: (1) Ketuhanan yang maha esa; (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab; (3) Persatuan Indonesia; (4) Kerakyatan yang dipinpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada tanggal 1 Oktober 2013 beberapa minggu yang lalu masih teringat dibenak kita, bahwa hari tersebut merupakan hari kesaktian pancasila, dengan harapan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya selalu kita aktualisasikan dalam bentuk ucapan dan tindakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan melihat kondisi yang sekarang ini semakin menjadi tantangan ke depan, karena nilai pancasila semakin terkooptasi oleh modernisasi yang tidak berkarakter.

“Rumah kita adalah Indonesia, itu harus dimunculkan dalam bentuk falsafah hidup. Jangan sampai seperti global citizen, kerja dimana dan tinggal dimana mengikuti tempat itu, harus ada identitas sebagai bangsa Indonesia.”

Untuk itu, implementasi Pancasila sebagai falsafah hidup coba diwujudkan antara lain melalui menyanyikan lagu “Indonesia Raya” setiap akan dimulainya rapat. "Minimal ada satu atau dua kalimat yang menyentuh hati, dan diimplementasikan dalam kehidupan.

Makna yang ingin dikedepankan pada setiap kali peringatan ini adalah bagaimana memperkokoh Pancasila sebagai sumber nilai jati diri bangsa dan sebagai pondasi sekaligus acuan dalam mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur dan sejahtera bersama tiga pilar dan konsensus nasional lainnya yaitu UUD 1945,  Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Dalam Ikrar disebutkan, bahwa sejak di proklamasikan  Kemerdekaan Negara  Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pada kenyataannya telah banyak terjadi rongrongan baik dari dalam negeri maupun luar negeri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rongrongan tersebut dimungkinkan oleh karena kelengahan, kekurangwaspadaan Bangsa Indonesia terhadap kegiatan yang berupaya untuk menumbangkan Pancasila sebagai Ideologi Pancasila. Dengan semangat kebersamaan yang dilandasi oleh nilai luhur Ideologi Pancasila, Bangsa Indonesia tetap dapat memperkokoh tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan dahulu dicetus¬kan pancasila oleh para pendiri bangsa kita (founding father) yaitu  karena mereka memiliki cita-cita bahwa nilai-nilai fundamental yang digali dari warisan sejati bangsa bisa membuat Indonesia melesat, andaikata funda¬men dasar itu dijadikan landasan pijak (common platform, atau kalimatun sawa). Namun kenyataan sekarang, ditengah gejolak sosial dan aspek-as¬pek dinamis mobilitas yang terjadi dalam masyara¬kat nilai-nilai pancasila kurang di anut lagi oleh kita, bahkanmemicu untuk dilakukan penafsiran-penaf¬siran yang kontekstual terhadap perkembangan jaman. Secara historis nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum dirumuskan dan di sahkan, secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Dalam hal ini berarti bang¬sa Indonesia merupakan kausa materialis Pancasila.

Yang menjadi tantangan sekarang ini adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan konteks perkembangan jaman. Hal ini sangatlah penting agar nilai-nilai Pancasila dapat ditumbuhkembangkan untuk menjawab tantangan jaman. (Jamaludin/FIMNY)

Ikrar Pelantikan Pengurus FIMNY Periode 2013 – 2015

Saat Ikrar Pelantikan Berlangsung
Yogyakarta, FIMNY.org – Berorganisasi identik dengan jiwa dan raga mahasiswa, karena sadar atau tidak sadar, dengan berorganisasi maka diri dan pribagi kita bisa terlatih dan terdidik mengatasi situasi dan kondisi segentir apa pun. Bila mana tiba saatnya pengurus organisasi yang akan menitikan jiwa dan raganya dalam satu periode kepengurusan, pasti pada saat pelantikan akan terlontar atau di ikrarkan sumpah sebagai bukti bahwasannya dalam satu periode kedepannya bersiap siaga dalam menjalankan roda organisasi dengan semaksimal mungkin dan dengan penuh harapan bisa direalisasikan apa-apa yang akan menjadi amanah untuk dijalankan dalam satu periode kedepannya.

Pada hari Sabtu tanggal 12 Oktober 2013 kepengurusan Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) untuk masa khidmat 2013-2015 telah resmi di lantik dan diambil sumpah jabatannya, adapun bunyi lafaz sumpahnya adalah sebagai berikut:

Bismillahirahmanirrahim

Asyhadu an laa ilaaha illa Allah,
Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.
Rodlitu billahi robbaa wabil Islaami diinaa,
Wa bi Muhammadi nabiyya warosuulaa.

Kami sebagai pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Peiode 2013-2015 dengan ikhlas karena Allah SWT kami bersumpah :
1.    Kami akan beriman kepada Allah SWT sebagai Tuhan kami dan muhammad SAW sebagai nabi kami.
2.    Kami akan Menjalankan amanah Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).
3.    Kami akan melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) sesuai amanah organisasi.
4.    Kami akan abdikan jiwa dan raga kami untuk Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), serta untuk bangsa dan negara ini.

Semoga kiranya Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menolong dan meridlai perjuangan kita. Amin.

Itulah bunyi sumpah yang terucap dalam bibir-bibir lembut pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), mudah-mudahan amanah organisasi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) bisa menyatu dalam darah dan nadi kepengurusan baru. Pengambilan sumpah ini dilakukan di Ruang Aula Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Regional Yogyakarta.

FIMNY Gelar Dialog Interaktif tentang Rekonstruksi Pancasila


 Yogyakarta, FIMNY.org – Dewasa ini nilai-nilai Pancasila hampir punah dimata masyarakat, itu terbukti adanya penyelewengan yang kerap kita bisa liat dan dirasakan baik yang tertera di media massa maupun yang sering kita jumpai di depan mata. Akankah Pancasila akan sirna ditelan bumi? Itulah yang harus kita jawab bersama sebagai agar nilai-nilai pancasila itu terus atau bisa tertanam membatu dalam jiwa dan pikiran anak bangsa.

Pemuda/mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) dan agen pengontrol (agent of control), sudah selayaknya kita merefleksikan diri kita dan mencoba menggali apasaja yang menyebabkan itu semua terjadi, agar nilai-nilai Pancasila terus tertanam membatu dalam diri dan pribadi setiap anak bangsa dan mentransformasikan dalam hidup dan kehidupannya.

Berangkat dari suatu persoalan tersebut, Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) menyelenggrakan Dialog Interaktif yang bertepatan dengan hari Pelantikan Pengurus Periode 2013-2015 dengan mengangkat tema “Rekonstruksi Nilai-Nilai Pancasila di Tengah-Tengah Generasi Muda” pada Hari Sabtu, Tanggal 12 Oktober 2013 mulai pukul 09.00-13.00 WIB dengan mendatangkan Pembicara yang memang ahli di bidangnya yaitu Bang Rio Ramabaskara, SH dan Ayahanda Muhtar, S.Pd serta didampingi oleh seorang moderator Kakanda Jamaludin, SEI., M.Ec.Dev.

Acara Dialog Interaktif tersebut berlangsung sangat lancar dihadiri oleh lebih dari 50 orang yang terdiri dari mahasiswa dan umum. Dihadiri pula oleh saudara Munajar (Ketua Umum Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia-Yogyakarta), Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima-Yogyakarta, Ketua Ilatan Pelajar Mahasiswa Lambo Yogyakarta (IMPLY) saudara Khairul Rizal, Ketua Umum Forum Mahasiswa Langgudu (FORMAL) Yogyakarta, dan ketua forum-forum lainnya yang berada di bawah naungan kepma. Acaranya pun berlangsung dengan meriah dimana terjadi interaksi yang aktif antara narasumber dan para peserta yang menanyakan terkait persoalan-persoalan yang di amati.

Acara Dialog Interaktif tersebut dipersembahkan oleh Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) dalam rangka Pelantikan Kepengurusan baru Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015, diselenggarakan di Ruang Aula Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri (Pusdiklat Kemendagri) Regional Yogyakarta di Jalan Melati Kulon Nomor 1 Baciro Kota Yogyakarta.

foto bareng usai dialog interaktif

FIMNY Gelar Pelantikan di Pusdiklat Kemendagri Regional Yogyakarta


Yogyakarta, FIMNY.org – Kepengurusan Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2011-2013 sudah usai, dalam perjalanan satu periode yang lalu banyak rasa pahit manis yang mewarnai berjalannya roda oranisasi, yang dihadapi ada suatu permasalahan dan ada juga suatu karya atau kegiatan nyata  yang memberikan pemahaman atau pondasi yang kuat agar berjalannya roda organisasi satu periode ke depan.

Ketua demisioner Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2011-2013 saudara Buhari Muslim menitipkan harapan besar untuk rekan-rekan yang memegang kendali kepengurusan Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015, "saya mengharapkan kepada pengurusan baru yang akan memegang estafet kepemimpinan satu periode kedepan, agar bisa mempertahankan eksistensi FIMNY dalam mengasah kemampuan para kader-kadernya serta orang-orang disekitarnya, mempertahankan jaringan yang ada dan memperluarluaskan jaringan diberbagai lembaga, baik lembaga-lembaga yang setara dengan FIMNY maupun lembaga-lembaga negara, karena pada dasarnya sebuah lembaga tidak bisa berdiri sendiri tanpa membangun jaringan-jaringan disemua lini, membangun jaringan merupakan kunci kesuksesan dalam sebuah lembaga, karena dengan banyaknya jaringan maka akan mempermudah berjalannya roda organisasi, tapi dalam konteks pembangunan jaringan jangan sampe melebihi batas-batas dari konteks yang bertentangan dengan konstitusi kita (AD/ART)", ungkapnya dalam sambutan terakhir dalam masa jabatannya.

 Untuk memperlancar roda organisasi satu periode kedepan, Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)  menyelenggarakan Pelantikan pada Hari Minggu, Tanggal 12 Oktober 2013 mulai pukul 09.00 WIB-selesai, pelantikan ini dilakukan oleh kakanda Jamaludin,SEI.,M.Ec.Dev. Acara Pelantikan Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015 berlangsung sangat lancar dihadiri oleh kurang lebih 50 orang yang trrdiri dari warga FIMNY itu sendiri dan para tamu undangan, Pelantikan Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015 merupakan tonggak kepemimpinan FIMNY yang ke-4 dan yang dilantik yaitu ketua Umum saudara Dedi Purwanto dan para struktural dibawahnya. Pelantikan Kepengurusan kali ini Alhamdulillah berlangsung atau diselenggarakan di Ruang Aula Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Regional Yogyakarta di Jalan Melati Kulon Nomor 1 Baciro Kota Yogyakarta.

suasana saat Pelantikan berlangsung

IKPMDI-Yogyakarta Andil dalam Perayaan HUT Kota Yogyakarta Ke-257


Yogyakarta, FIMNY.org - Yogyakarta merupakan salahsatu Daerah Istimewa di Indonesia, daerah yang dijuluki kota pelajar, daerah yang syarat akan budaya, daerah yang nyaman dan tentram, banyak para tokoh nasional yang terlahir dalam didikan kota gudeg ini.

Awal bulan beberapa hari yang lalu kota Yogyakarta ramai dalam perayaan menyambut Hari Ulang Tahun yang ke 257, anak-anak dari umuran Sekolah Dasar bahkan yang sudah tua merayakan hari jadi kota gudeg tersebut. Dalam hal ini yang ikut ambil bagian memeriahkan hari lahir kota Yogyakarta, tidak hanya dari kalangan masyarakat Yogyakarta, melainkan mahasiswa juga ambil bagian dalam perayaan ini.

Salah satu organisasi mahasiswa daerah yang ikut merayakan hari ulang tahun kota Yogyakarta adalah organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta.

Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta saudara Munajat mengatakan "walau kami yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta tidak hanya berasal dari Yogyakarta, tapi kami mempunyai rasa memiliki Yogyakarta ini, karena kita tahu bersama bahwasannya Yogyakarta merupakan miniatur Negara, karena orang dari sabang sampai Merauke saat ini ada di Yogyakarta" (07-10-2013).

Itulah rasa yang timbul dari hati dan diri mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta, organisasi ini mengumpulkan semua anggotanya untuk mengikuti Pawai Budaya yang berlangsung pada tanggal 07 Oktober 2013 yang berfinis akhir di alun-alun utara Yogyakarta dan mendengarkan arahan umum dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X di aula Kraton Yogyakarta. Akhir kalimat, Selamat Ulang Tahun Kota Yogyakarta yang ke-257, semoga selalu tetap eksis melahirkan karya dan budaya untuk bangsa dan negara ini. amin.


Mengenal Sejarah Organisasi “BEM-PS IH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta”

Yogyakarta, FIMNY.org – Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dengan selogannya sebagai Kota Pendidikan, karena banyak tokoh-tokoh nasional yang telah lahir dari hasil didikan di kota gudek ini. Di kota Gudeg Yogyakarta terdapat tiga Universitas Negeri, salahsatu diantaranya adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA). Berbagai macam organisasi lahir di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, baik Baik organisasi Eksternal maupun Organisasi Internal, salahsatu Organisasi Internal diantaranya adalah organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang pada awal berdirinya tahun 2009 lalu bernama Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (HIMA-IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Organisasi “Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang pada awal berdirinya tahun 2009 lalu bernama Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (HIMA-IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta”, merupakan Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan yang berkedudukan di  Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan didirikan pada tanggal 22 Agustus 2009. Ini berdasarkan Surat Keputusan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah dengan Persetujuan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan Nomor: 01/SKB/KBMF.SY/UIN/VIII/2009.

Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan lembaga eksekutif mahasiswa di tingkatan Jurusan atau Program Studi, yang berfungsi sebagai pelaksana harian pemerintahan mahasiswa di tingkat Jurusan atau Program Studi. Sebagai wadah untuk melaksanakan dan mengembangkan kegiatan kemahasiswaan khususnya di Prodi Ilmu Hukum. Sekian agenda pengembangan kepribadian dan peningkatan wawasan dan intelekual serta pengembangan bakat dan minat mahasiswa tersebut tidak akan bisa terwujud tanpa adanya sebuah kepengurusan di tingkatan Jurusan/Prodi. Dalam hal ini kemudian diejawantahkan dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) yang berperan sebagaimana hal tersebut di atas.

Pada awal berdirinya Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta [Kala itu masih bernama Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HIMA-IH)] pada Tahun 2009, yang pertama kali yang memimpin atau pun yang menjabat pengurus INTI (Pengurus Harian), bukanlah Mahasiswa dari Ilmu Hukum itu sendiri, itu semata karena pada saat itu para mahasiswa Ilmu Hukum masih sangat dini serta masih belum punya cukup keberanian memimpin Organisasi Setingkat BEM, karena pada saat itu mahasiswa Ilmu Hukum belum pernah menginjakkan kaki di Organisasi Mahasiswa (ORMAWA), pun kalau pernah berorganisasi, pada saat masih SMA (OSIS), melirik dari cuplikan diatas OSIS sangatlah jauh berbeda tingkatannya dengan  ORMAWA di kampus. Pada saat itu timbullah inisiatif dari BEM-F mengangkat ketua HIMA-IH dari Program Studi lain, Ketua Pertamanya yaitu Saudara ADI KUSNO, serta Mahasiswa Ilmu Hukum hanya berproses sebagai anggota dari berbagai Departemen-Departemen. Seiring berjalannya waktu tibalah saatnya kepengurusan baru, dan saat kepengurusan baru tersebut mahasiswa Ilmu Hukum bukanlah sebagai mahasiswa awam akan organisasi, serta pada saat itu juga para mahasiswa Ilmu Hukum mengatakan diri bahwa sanggup memimpin wadah HIMA-IH ini, sekarang sudah terbukti HIMA-IH bisa dipimpin oleh Mahasiswa Ilmu Hukum itu sendiri, itu terbukti dengan adanya Keputusan Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Nomor: DS-65 Tahun 2011, Tanggal 30 Juni 2011 Tentang Susunan Pengurus Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 2011-2012 dan saat itu yang diketuai oleh saudara Alimudin. 

Dalam memperlancar roda organisasinya, Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2013-2014 dipimpin atau diketuai oleh sahabat Alfan Alfian. Saat periode sebelumnya yaitu Periode 2011-2012 dipimpin oleh Alimudin, Wakil Ketua Irwandi Sido, Sekretaris M. Jamil, Wakil Sekretaris Rochati Mahfiroh dan Bendahara Ingga Dewi. Pada periode 2009-2010 dipimpin oleh Sahabat Adi Kusno (saat itu masih bernama Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta). Adapun sekretariatannya jalan Laksda Adisucipto di lantai 2 gedung Student Center Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.



Sebuah Hasil Wawancara LPM ARENA Pada BEM-PS IH UIN SUKA Periode 2011-2012

Yogyakarta, FIMNY.org – Ass.. Mas “…..” , saya dari ARENA pengen tanya beberapa hal. Sebelumnya saya minta maaf udah ganggu kesibukan anda. Tapi semua demi kebaikan UIN yang kita cintai ini.
Berikut pertanyaan saya:
1.    Komposisi BEM-IH antara Mahasiswa non gerakan dgn mahasiswa gerakan seperti apa? kalau yg gerakan, dari organ mana aja?
2.    Sejauh mana upaya yg dilakukan BEM-IH untuk mengajak mahasiswa non gerakan untuk masuk BEM?
3.    Apa tuntutan mahasiswa belakangan ini? kabarnya berkaitan dengan akreditasi ya?
4.    Apa tanggapan BEM terkait tuntutan tersebut?
5.    Banyak mahasiswa yang alergi sama BEM, apa tanggapan anda terhadap hal trsebut?
6.    Sejauh mana, peran dan kedudukan mahasiswa non gerakan bagi BEM?
7.    Apa harapan BEM terhadap mahasiswa non-gerakan?

Sekian dulu mas, ntar kalo ada yg perlu dikonfirmasi lagi, saya hubungi lagi.
Wass

JAWABAN:
Trimakasih sebelumnya saya ucapkan kepada ARENA yang sudi peduli terhadap kemajuan-kemajuan untuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, karena dengan bantuan informasi-informasi yang diliput oleh para Jurnalis di lingkup kampus khususnya ARENA, informasi-informasi tersebut sangatlah di butuhkan semua kalangan, khususnya kita di lingkup UIN Sunan Kalijaga, paling tidak dengan adanya informasi-informasi yang di liput tersebut bisa sekiranya tuk jadi bahan refleksi bersama untuk semua kalangan di lingkup UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu sendiri, semisalnya bagi mahasiswa agar bisa mengetahui apa yang harus dilakukan terkait isu-isu yang muncul di permukaan, dan untuk para dosen dan lebih khusus untuk Rektor UIN Sunan Kalijaga, dengan adanya informasi yang di liput para jurnalis kampus bisa juga sebagai acuan awal atau gambaran awal terkait kebijakan-kebijakan yang akan Rektor keluarkan, sehingga kebijakan-kebijakan tersebut tidak merugikan para mahasiswa. Tetap semangat dan selamat berjuang, siapapun diri kita/dirimu, apapun yang terjadi jangan memandang sesuatu dalam satu sisi, biar nilai yang terkandung dalam apa yang di liput bernilai positif dan membangun.

Yuuk kita fokus dalam jawaban diatas…

Poin Pertama: Sebenarnya cih kalau ditanya terkait komposisi yang dimaksut, dalam ruang lingkur Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) Intra Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, khususnya di Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak memandang dari organisasi mana dia berasal, untuk ketua BEM-PS IH, sesuai AD/ART Ormawa bahwasanya yang intinya “pemilihan ketua BEM-Jurusan secara langsung” oleh mahasiwa harus melewati dulu 2 kali pemilwa, karna pada saat itu Ilmu Hukum belum melewati 2 kali pemilwa maka penetapannya akan diberikan kewenangan khusus kepada Senat Mahasiswa Fakultas, pada awal ditetapkan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (SEMA-F) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebelum ditetapkannya untuk Ilmu Hukum khususnya waktu itu melewati proses yang panjang, yang mana pada saat itu SEMA-F mengintruksikan kepada mahasiwa Ilmu Hukum untuk memilih 3 orang yang sekiranya dijadikan wakil mahasiswa untuk menjadi Ketua BEM-PS IH (waktu itu masih HIMA-IH, red), dan dari ketiga orang tersebut SEMA-F akan menetapkan 1 orang, dan terpilihlah pada saat itu saudara Alimudin untuk jadi ketua BEM-PS IH (waktu itu masih HIMA-IH, red), penetapan adalah hak prerogative SEMA-F, dan tentunya disejui sama PD 3 (Pembantu Dekan Bagian Kemahasiswaan) dan dikeluarkanlah Surat Keputusan (SK) pengangkatan Ketua BEM-PS IH beserta jajaranya (waktu itu masih HIMA-IH, red) oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum…(jawaban yang saya uraikan diatas itu terlepas dari pencalonan seseorang untuk jadi sebagai ketua melalui jalur pemilwa, beda lagi kalo pencalonan ketua melalu jalur pemilwa pasti harus pencalonan melalu Partai-Partai yang diusung oleh Organisasi Ekstra),,, dan untuk anggotanya itu sendiri, pada awal perekrutan anggota biasanya diseleksi dengan ketat terkait keseriusan para mahasiswa Ilmu Hukum untuk berproses dan berjuang bersama di BEM-PS IH, dalam berorganisasi dibutuhkan komitmen untuk berjuang bersama untuk menjalankan program-program kerja yang telah dirancang bersama, kalau bisa berkomitmen siapapun bisa masuk dalam keanggotaan, karna sebuah komitmen itu adalah awal tiang penggerak organisasi, dalam menjalankan program kerja tidak ada pertanyaan-pertanyaan terkait organisasi apa dan pergerakan apa…dan saya berkesimpulan masih steril tak ada istilah bendera di sini….yach walau dalam perjalanannya seleksi alam yang berjalan, karna dengan kesibukan-kesibukannya masing-masing ada juga yang tidak sepenuhnya mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah di rancang dan dilaksanakan.

Poin Kedua: Seperti penggalan dari apa yang saya jelaskan juga di point pertama bahwasannya pada awal perekrutan anggota biasanya diseleksi dengan ketat terkait keseriusan para mahasiswa ilmu hukum untuk berproses dan berjuang bersama di BEM-PS IH itu sendiri, dalam berorganisasi dibutuhkan komitmen untuk berjuang bersama untuk menjalankan program-program kerja yang telah dirancang bersama, mau dia dari gerakan atau non gerakan, yang penting berkomitmen dan berkualitas menjalankan roda-roda organisasi, sebelum dilakukan penyeleksian dilakukan sosialisasi tiap-tiap kelas dan juga sosialisasi perekrutan melalui media Pamflet maupun media online.

Poin Ketiga: Yach..sebenarnya pertanyaan itu sudah terjawab sendiri olehmu terkait masalah akreditasi.,, baru-baru ini juga ada kegelisahan teman-teman ilmu hukum juga kegelisahan kami selaku pengurus BEM-PS IH yaitu terkait lambat adanya KAJUR baru dikarenakan KAJUR lama telah usai masa jabatannya. Yang pertama untuk mengenai Akreditasi, kita tahu bersama, pasti bahwasannya disetiap jurusan yang baru dibuka dalam suatu Universitas atau Pergurun tinggi, yang terlintas dipikiran para mahasiswanya pasti mengenai akreditasi, kegelisahan itu wajar dalam suatu jurusan yang baru dibuka, yang perlu teman-teman Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ketahui bahwasannya dalam waktu dekat ini akan diadakan lagi visitasi, dan semoga dalam visitasi kali ini akan menghasilkan seperti apa yang kita inginkan, yaitu mendapatkan Akreditasi yang memuaskan, kalaupun tidak mendapatkan Akreditasi A, mudah-mudahan kita mendapatkan Akreditasi B, oleh karnanya kita harus sama-sama berdoa untuk mendapatkan hasil yang memuaskan tersebut, yang perlu teman-teman ketahui bahwasannya untuk mendapatkan visitasi itu tidak cukup kalau kita hanya sama-sama berdoa, oleh karenanya juga kita harus melakukan sesuatu untuk mendukung cita-cita kita bersama tersebut. Adapun langkah-langkah yang perlu kita lakukan khususnya mahasiswa yaitu menciptakan suatu karya yang bernilai ilmiah serta mencetak prestasi-prestasi lainnya, dalam hal ini sebagai contoh kita dalam karya ilmiah yaitu, untuk yang angkatan 2009 mau tidak mau harus adanya lulusan pertama, dan Alhamdulillah poin itu telah kita dapatkan karna untuk saat ini yang sudah menyelesaikan skripsi dan telah munakosa ada 5 orang diantaranya Bagus Anwar Hidayatulla, Fitri Atur Arum, Zainal Muhtar, Jejen Hendar dan Ahdika Haris Hamdallah (5 orang tersebut jawaban pada wisuda pertama Ilmu Hukum saat itu, tetapi kalau sekarang lulusannya sudah lebih dari 50 orang), mudah-mudahan saya pribadi dan juga teman-teman yang lain menyusul mereka. Amin. Selain itu juga karya ilmiah lainnya seperti hasil penelitian, menulis di media massa, menerbitkan buku-buku, dan lain-lainnya. Untuk mendukung itu semua juga kalaupun ada penghargaan-penghargaan lain seperti piala, piagam, atau penghargaan lainnya itu juga bisa mendukung semua. Saya mewakili atas nama Lembaga Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menghimbau kepada seluruh civitas akademika Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bahwasannya jikalau ada yang mempunyai karya-karya seperti yang tergambar di atas harap menyampaikan kepada pengurus BEM-PS IH atau menyampaikan langsung kepada Kepala Jurusan Prodi Ilmu Hukum. Untuk yang selanjutnya yaitu terkait masalah Ketua Jurusan yang baru, mengenai ketua jurusan baru saat ini sudah jelas yaitu Bapak Udiyo Basuki, SH.,M.Hum dan Sekertaris Jurusannnya yaitu Bapak Ach. Tahir, SHI.,LL.M.,MA., semoga dalam kepemimpinan beliau-beliau bisa membawa Prodi Ilmu Hukum yang jauh lebih progresif lagi. Amin.

Poin Keempat: Untuk tanggapan mengenai hal tersebut BEM-PS IH selaku wakil dari Mahasiswa Ilmu Hukum pasti menanggapinnya baik, dan hampir setiap mahasiswa Ilmu Hukum yang kita jumpai memberikan motivasi mereka agar terus berkarya supaya apa yang kita inginkan bersama dapat terwujud, untuk tanggapannya juga udah saya uraikan panjang lebar diatas (lihat jawaban nomor 3).

Poin Kelima: Atas dasar apa teman-teman ARENA mengatakan bahwasannya para mahasiswa “ALERGI” sama BEM dan masuk BEM? Apakah sudah ada penelitian yang kuat terkait apa yang teman-teman ARENA lontarkan? Saya rasa, semua mahasiswa yang berjiwa organisatoris pasti menginginkan berorganisasi, apalagi masuk atau berproses dalam kepengurusan BEM, karna dalam berorganisasi kita akan menemukan jati diri kita, mendidik diri kita agar bisa bersikap dan bertidak demi kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi.. kita akan buang jauh-jauh ego-ego pribadi yang tertanam dalam diri untuk melangkah bersama dan kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama yaitu tujuan mahasiswa Ilmu Hukum maupun tujuan UIN Sunan Kalijaga serta Tujuan bangsa dan Negara.

Poin Keenam: Saya kurang paham dengan pertanyaan ini,,, yang perlu saya tekankan disini yaitu khususnya dalam BEM-PS IH itu sendiri tidak ada istilahnya pembagian antara mahasiswa gerakan dan mahasiswa non gerakan (yach pada dasarnya semua mahasiswa di BEM semuanya bisa bergerak dan menggerakkan, tetapi masih dalam lingkup porsi wewenangnya masing-masing, ia gak?), saya akan mencoba menjawabnya dengan dua sisi karna pertanyaan yang dilontarkan masih samar-samar, yaitu mahasiswa yang tergabung dalam BEM dan Mahasiswa yang tidak tergabung dalam BEM. SISI PERTAMA, yaitu mahasiswa yang tergabung dalam BEM, pada umumnya teman-teman yang berproses di BEM pasti mereka berkomitmen untuk menjalankan program-program kerja yang telah dirancang bersama, selalu semangat walau halangan dan rintangan yang menghadang, karna itu semua konsekuensi berorganisasi, pahit manisnya nikmati bersama (ini terlepas dari teman-teman yang jarang aktif dalam BEM-PS IH itu, kesibukan masing masing pasti bisa ditolerir karna itu semua hak individu masing-masing), tetap yang terpenting dari semua yang masuk di BEM-PS IH pasti ada action-action tersendiri untuk mereka mengekspresikan kecintaan mereka pada BEM-PS IH, dan itu sudah menjadi nilai lebih dari perjuangan mereka. SISI KEDUA, yaitu mahasiswa yang tidak tergabung dalam BEM-PS IH, sejauh yang saya amati bahwasannya teman-teman yang tidak masuk dalam BEM-PS IH juga banyak kontribusi yang telah mereka berikan khususnya untuk Program Studi Ilmu Hukum, itu terbukti, banyaknya karya-karya mahasiswa Ilmu Hukum yang di publis di media, seperti menulis di Koran-koran maupun majalah, dan ada juga yang mencetak prestasinya dalam dunia musik dan olahraga. Dan itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya dan bagi mahasiswa Ilmu Hukum pada umumnya.

Poin Ketujuh: Harapan BEM-PS IH pada semua civitas akademika Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (dalam hal ini bukan tertuju pada mahasiswa non-gerakan, tapi mahasiswa pada umumnya). Harapan BEM-PS IH pada semua civitas akademika Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu mahasiswa Ilmu Hukum diharapkan untuk tetap semangat dalam mencetak prestasi-prestasi akademik atau pun non akademik, terus berkarya, tetap semangat mengukir  dan menjelajahi arus pemikiran lebih matang dan lebih bernilai agar kesulitan atau permasalahan apapun yang ditemukan dalam lapangan/terbelih setelah selesai kuliah, bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan penuh tanggungjawab.


DEMIKIAN JAWABAN SINGKAT DARI SAYA, KURANG LEBIHNYA SAYA MOHON MAAF, KALAU ADA KEKURANGAN ITU SUDAH MENJADI SIFAT KETIDAK SEMPURNAAN SAYA DAN KALAUPUN ADA NILAI POSITIF YANG BISA DI AMBIL, ITU SUDAH MENJADI TITISAN YANG  DIBERI OLEH SANG PEMBERI TITISAN, DAN MUDAH-MUDAHAN BERMANFAAT…..SELAMAT MENJELAJAHI ARUS PEMIKIRAN DAN TETAP SEMANGAT




Sumber:
Diambil dari data Kepengurusan BEM-PS IH UIN SUKA Periode 2011-2012

Mengenal Organisasi “PSKH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta”

Yogyakarta, FIMNY.org – Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dengan selogannya sebagai Kota Pendidikan, karena banyak tokoh-tokoh nasional yang telah lahir dari hasil didikan di kota gudek ini. Di kota Gudeg Yogyakarta terdapat tiga Universitas Negeri, salahsatu diantaranya adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA). Berbagai macam organisasi lahir di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, baik Baik organisasi Eksternal maupun Organisasi Internal, salahsatu diantaranya adalah organisasi Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Organisasi “Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta” merupakan Organisasi Badan Otonomi Mahasiswa Fakultas (BOMF) yang berkedudukan di  Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan didirikan pada tanggal 23 Oktober 1991 di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sekarang bernama Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Organisasi Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berstatus Badan Otonom Mahasiswa Fakultas  (BOMF) Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sesuai dengan bunyi pasal 6 dan pasal 7 Anggaran Dasarnya, Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berasaskan Pancasila dan berbersifat Otonom, Edukatif, Kemahasiswaan dan Sosial Kemasyarakatan. Degan adanya organisasi ini semua mahasiswa yang berada di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bisa mengenal satu sama lain, bisa bercanda tawa dan mengasah khasanah keilmuan, khususnya dibidang hukum dalam satu bingkai yang utuh yaitu dalam bingkai organisasi Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam gerak langkahnya mempunyai tujuan: “(1) Melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni; Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat; (2) Mewujudkan Tri Karya Perguruan Tinggi: Profesionalisme, Institusional, dan Transpolitisasi; (3) Mengembangkan peran mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum; (4) Menciptakan Masyarakat yang sadar hukum serta memiliki komitmen kepada kemanusiaan dan keadilan”. Selain tujuan yang tertera diatas, Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga mempunyai fungsi diantaranya: “(1) Sebagai wahana Pemberdayaan Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga; (2) Wahana Memperluas Wawasan Hukum; (3) Wahana Mengembangkan keilmuan; (4) Wahana Konsultasi seputar permasalahan hukum; (5) Wahana Pengabdian masyarakat di bidang hukum”.

Sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya, Keanggotaan Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah terdiri atas anggota biasa dan anggota istimewa, yang mana Anggota biasa merupakan mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga yang dinyatakan lulus sebagai anggota PSKH dan Anggota istimewa merupakan anggota PSKH yang telah menyelesaikan studinya di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam memperlancar roda organisasinya, Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2012-2013 dipimpin atau diketuai oleh sahabat Helmi. Adapun alamat sekretariatannya yaitu jalan Laksda Adisucipto di lantai 2 gedung Student Center Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Mengenal Organisasi “KPS Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta”

Yogyakarta, FIMNY.org – Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dengan selogannya sebagai Kota Pendidikan, karena banyak tokoh-tokoh nasional yang telah lahir dari hasil didikan di kota gudek ini. Di kota Gudeg Yogyakarta terdapat tiga Universitas Negeri, diantaranya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA). Berbagai macam organisasi lahir di kota ini, baik itu Organisasi Mahasiswa (Ormawa), Organisasi Masyararakat (Ormas) maupun Organisasi yang berbasis kedaerahan (organisasi etnis), di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sendiri terdapat berbagaimacam organisasi, baik Baik organisasi Eksternal maupun Organisasi Internal, sebagian organisasi Internal juga  ada yang membentuk organisasi yang spesifik tertentu, yang salahsatu organisasi spesifik tersebut adalah organisasi Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, organisasi ini dibawah naungan organisasi Internal yaitu Himpunan Mahasiswa Hukum (HIMA-IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mana namanya sekarang sudah dikonfensi menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Organisasi “Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta” merupakan Organisasi yang berbentuk komunitas mahasiswa pada Prodi Ilmu Hukum yang berkedudukan di  Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan didirikan dan didirikan dideklarasikan pada tanggal 14 April 2012 di Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Organisasi Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Bersifat kekeluargaan dan semi otonom, serta bernaung dibawah Himpunan Mahasiswa Hukum (HIMA-IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mana namanya sekarang sudah dikonfensi menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sesuai dengan bunyi pasal 4 dan pasal 5 Anggaran Dasarnya, Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berasaskan Pancasila dan berdasarkan UUD 1945. Degan adanya organisasi ini semua mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bisa mengenal satu sama lain, bisa bercanda tawa dan mengasah khasanah keilmuan, khususnya dibidang Peradilan dalam satu bingkai yang utuh yaitu dalam bingkai organisasi Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam gerak langkahnya mempunyai visi “mengakomodir mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum dengan semangat untuk belajar dan bekerjasama serta semangat kekeluargaan”, juga mempunyai misi yang jelas diantaranya: “(1) Mewadahi mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum sesuai dengan aturan  yang berlaku; (2) Memberikan kesempatan mahasiswa untuk berkreasi dan mengasah kemampuan akademik; (3) Menambah wawasan dan pengetahuan pada mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum agar lebih mengerti tentang tata cara peradilan yang baik dan benar; (4) Menanamkan sikap tanggung jawab dan sadar hukum serta jiwa mulia terhadap Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum.”. selain visi dan misi yang tertera diatas, Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga mempunyai tujuan diantaranya: “(1) Menjadikan komunuitas bagi mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum agar lebih sadar hukum; (2) Menghasilkan lulusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum yang mampu bersaing di dunia kerja; (3) Menciptakan generasi penerus bangsa yang sesuai dengan kompetensi peradilan dan berdasar atas akhlak yang mulia; (4) Memperkenalkan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.”


Pada awal berdirinya, sesuai dengan bunyi Pasal 12 Anggraran Dasarnya, bahwasannya keanggotaan KPS IH UIN-SUKA adalah mahasiswa aktif  dan pasif Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang mengikuti workshop sidang semu, lambat laun keanggotaan KPS IH juga bisa dilakukan melalui prosedur sesuai kebijakan Ketua KPS-IH UIN SUKA, semisalnya merekrut keanggotaan dengan penyeleksian atau dengan bentuk lainnya selama tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

Dalam memperlancar roda organisasinya, Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2012-2013 dipimpin atau diketuai oleh sahabat Agung Jamaludin. Ini merupakan proses kepemimpinan yang pertama.  Pada awal berdirinya waktu itu, ada kegelisahan dari pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sehingga pengurus BEM-PS IH tersebut berkeinginan membuat salahsatu organisasi yang memang lebih khusus kengasah keilmuan kader profesi hukum sehingga terbentuklah organisasi Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dalam harapannya bisa mewadahi dan mendidik para anggotanya. Adapun saat itu yang menjadi pengurus harian Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat terbentuknya organisasi Komunitas Peradilan Semu Ilmu Hukum (KPS-IH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah diketuai oleh Alimuddin, Wakil Ketua Irwandi Sido, Sekretaris M. Jamil, Wakil Sekretaris Rochati Mahfiroh dan Bendahara Ingga Dewi.

Suasana Pelantikan KPS-IH tanggal 12 Mei 2012

Secercah Cahaya Kejujuran dari Anak Bangsa

FIMNY.org – Sebuah cerpen dari gambaran realita yang pernah terjadi, silakan disimak, semoga ada hikmah yang bisa dipetik dalam penggalan kisah ini. Suatu hari yang begitu cerah tepatnya pada hari ahad, bertepatan dengan hari peringatan kelahiran polisi wanita (POLWAN) yaitu pada tanggal 01 September 2013. Seorang kakakda salah satu senior yang satu kampung dengan ku mempunyai ide untuk membuat sebuah stiker yang berisikan ucapan selamat untuk seluruh polisi wanita yang ada di seluruh pelosok tanah air “Selamat Hari Polisi Wanita ke-65 (01-09-2013)”. Itulah isi dari stiker yang di buat oleh mahasiswa yang menurut ku sangat loyal dalam memperingati hari-hari yang bersejarah dalam Negeri ini. Seusai beliau menyelesaikan pembuatan stiker itu dia mengajakku untuk pergi ke markas polisi wanita untuk menyampaikan ucapan selamat secara langsung kepada pihak yang bersangkutan (perwakilan polwan), dan kebetulan pada hari itu saya juga berkeinginan untuk membawa kiriman saya ke kantor pos yang bertujuan ke Bima.

Mun! (nama yang disamarkan) Itulah saapan senior-senior padaku,

“Kamu mau ikut nggak pergi ke markas polwan? Mau menyampaikan selamat ulang tahun buat polisi wanita atas peringatan hari kelahirannya, sekalian kita bagi-bagikan stiker ini secara cuma-cuma kepada siapapun yang berminat, yaaa.. minimal bentuk penghargaan kita pada mereka (POLWAN) dan bentuk pengabdian kita pada Negeri ini”. Itulah ungkapan salahsatu mahasiwa UIN Sunan Kalijaga yang berjiwa Nasionalis ini.

“Okey ayo, jawabku dengan wajah dan hati yang gembira.

“Kebetulan saya juga sekalian mau mengirim kiriman saya ke kantor pos”. lanjut ku.
Lalu kamipun beranjak menggunakan motor.

“Kamu ajalah yang depan (yang mengendarai motor) aku boncengan ajalah”. Ungkapnya.
“Baiklah kalo gitu”, tapi!! Kita ke kantor pos dulu lah Bang mau kirim Paketan dulu”. Jawabku.

Lalu motor itu saya kendarai sedang seniorku saya bonceng. Waktu demi waktu tidak terasa kami lewati dan sampailah kami di depan kantor pos pusat yang ada di Yogyakarta. Tepatnya sebelah utara dari benteng pertahanan Nasional  Indonesia yang ada di Yogyakarta.

Saya berhenti pas pinggiran jalan itu.

“Kamu disini dulu ya! Saya coba tanya dulu polisi disana, dimana markas polwan itu berada”. Ungkapnya.

Diapun berjalan sambil melihat kearah kiri kantor pos itu yang ternyata kantor posnya sudah tutup, belum sampai di pos polisi dia pun kembali lagi entah mengapa dia kembali begitu cepat, tanya ku dalam hati? Dan dia berkata pada ku. ”Motornya di parkir sini aja dulu”! Tanpa pertimbangan sayapun berusaha untuk memarkirkan motor yang ku bawa. Saya injak gigi motornya satu kali lalu saya tarik gas keras-keras hingga saya hilang kendali dan sempat menabrak bagian belakang mobil yang ada di depan saya, hampir-hampir saya hilang kendali untuk yang ke sekian kalinya karena di depan mobil berwarna putih itu ada beberapa motor yang sedang diparkir. Lalu saya tenangkan diri sejenak dan motornya saya parkir baik-baik, kemudian ku lihat bagian mobil yang tadinya sempat tersenggol oleh motor yang ku kendarai, dengan sedikit rasa kaget saya berkata.

 ”Wah, mobilnya rusak Bang.!!!

Saya sempat bingung entah harus berbuat apa dengan kejadian itu sambil ku periksa kerusakan mobil yang ku tabrak tampa sengaja itu. Dengan kerusakannya yang lumayan itu, saya sempat memikirkan kira-kira berapa biaya yang akan ku keluarkan jika si pemilik mobil putih itu meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Dengan rasa takut yang bercampur kebingungan. Saya berkata pada senior ku.

“Bang kira-kira kerusakan ini akan mengeluarkan biaya berapa ya”? “Mungkinkah ini akan menghabiskan jutaan rupiah”? Lanjutku. Beliau hanya terdiam dengan mukanya yang agak kemerahan, mungkinkah dia juga merasakan apa yang sedang aku rasakankan? Yaitu perasaan takut yang bercampur  bingung, itulah pertanyaan  ku dalam hati waktu itu? Sesekali aku bertanya pada tukang parkir yang sedang bertugas sore itu.

“Pak kira-kira berapa ya, kerusakan ini kalau di ganti?

“Wah nda tau aku mas, jenengan tunggu aja orang yang punya, nanti bisa jenengan musyawarahkan pada nya”. Jawabnya.

“Lah aku kan cuma tukang parkir too mas”. Lanjut si tukang parkir dengan logat jawanya yang cukup kental.

Saya dan senior ku sejenak sambil bertatapan mencari-cari tempat duduk untuk menunggu datangnya si pemilik mobil putih yang sudah kelihatan kumal karena debu jalanan yang di lewatinya. Waktu terus berputar, namun perputaran waktu pada saat itu tidak lagi seperti biasanya, ku rasakan waktu begitu lama putarannya karena menuggu si pemilik mobil itu kembali entah dia sedang berada dimana?.

Waktu terus berputar menemaniku dengan hati dan pikiran yang penuh dengan ketakutan bercampur kebingungan disebabkan kejadian yang tengah ku alami. Tidak terasa kami duduk menunggu kedatangan si pemilik mobil putih itu dari mulai kejadian sekitar pukul 17.05 WIB, dan kami menunggunya sampai azan Isya. Walau bagaimana pun saya merasa bersalah jika meninggalkan masalah itu begitu saja, walaupun sesekali  sempat muncul dalam pikiran ku untuk lari dari masalah itu dan membiarkan mobil itu dalam keadaan rusak tanpa di ketahui oleh sang pemliknya, apa yang menyebapkan mobilnya sampai rusak seperti itu padahal sebelumnya  dalam keadaan utuh. Tapi ide itu cepat-cepat ku hilangkan dalam pikiran ku, jangan sampai pikiran iblis itu mampu mengusai hati dan tindakan. Sebab, saya harus mampu bersikap dan bertindak jujur. Apapun yang menjadi resikonya. Walau bagaimanapun sifat tanggung jawab harus aku tumbuh-kembangkan dalam diri ini sejak dini.

Sebab, aku tidak ingin menjadi generasi pengecut yang senantiasa lari dari masalah walau sekecil apapun, aku tidak ingin jika kelak aku menjadi pemimpin tetapi justru aku lalaikan tanggung jawab itu, dan menelantarkan rakyat ku tanpa memperdulikan nasib dan kehidupan mereka padahal akulah pemimpinya. Aku tidak ingin jika kelak aku di amanahi untuk menjadi pemimpin tapi tidak bertanggungjawab atas kepemimpinan itu, pemimpin yang hanya mampu menyuarakan janji-janji palsu, menjanjikan kesejahteraan, jaminan pendidakan untuk anak bangsa dan mencerdaskannya, anti korupsi.

Bermuka manis didepan rakyatnya ketika membutuhkan suatu jabatan atau kekedudukan dalam dunia pemerintahan. Tetapi justru yang muncul adalah kebalikannya dari semua itu, jika tujuan dan keinginan sudah tercapai maka lupa akan janji-janji yang pernah di sampaikan (dijanjikan) kepada rakyatnya, baik secara langsung maupun lewat media-media massa. Itulah yang membuatku tidak ingin lari dari masalah yang sekecil apapun dalam hidup ini, dan terus memupuk kepribadian ini dengan nilai-nilai kejujuran, bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama manusia. Sebagaimana yang telah di perintahkan oleh Agama Islam dan yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila.

Waktu terus berputar tidak terasa bagiku hingga sampai masuk waktu azan isya barulah sang pemilik mobil putih itu datang dari perjalanannya yang entah kemana?. Ketika sang pemiliknya hendak memasuki mobil, beliau langsung ku hampiri dan berkata.

“Pak, sebelumnya saya mohon maaf karena mobil bapak sudah rusak”. Ucapku. Kemudian ku lanjutkan pembicaraan dengan menceritakan kronologi kejadiannya. “Ooh ya”, kata bapak sang pemilik mobil putih itu, tanpa  menampakkan tanda-tanda kekesalan di raut wajahnya, dengan wajahnya yang  khas Indonesia (warna kulit sawo matang/hitam manis). Lalu beliau ku ajak duduk di depan sebuah mini market, karena kebetulan ada beberapa kursi yang tersedia di tempat itu entah siapa yang menyiapkannya. 

“Sekali lagi kami mohon maaf pak, atas kejadian ini dan kami mengaku salah. Namun, sejujurnya ini bukanlah suatu kesengajaan. Tapi, kami anggap suatu musibah yang sedang menimpa kami dan bapak”. Ungkap ku.

“Mungkin, ini bisa kita bicarakan baik-baik pak gimana solusinya”?. Ungkap senior ku dengan nada khasnya yang lemah lembut itu, sambil menceritakan tujuan kami, yaitu mencari markas polwan (Polisi Wanita) dan sekaligus mengirim buku.

“Sebelumnya saya juga berterima kasih kepada kalian, karena sudah mau jujur dan sabar menunggu kami pulang, tapi sejujurnya ini adalah mobil rental dan kami harus pulang malam ini juga”.

“Jadi, kami harap kita bisa mencari dan menemukan solusi diantara kita tanpa ada yang merasa di rugikan sedikitpun”. Lanjutnya dengan kata-kata yang cukup bijak bagiku, karena kata-katanya membuat kami merasa tidak tertekan. Suasanapun aku rasakan berbeda sekali, karena setelah bapak itu selesai berbicara kami semua terdiam (tidak berbicara), namun tetap beraktifitas dengan kegiatan masing-masing (sibuk dengan hp masing-masing). Setelah hampir satu menit kemudian  kami semua terdiam, saya pun kembali memulai pembicaraan. “Gimana ini pak solusinya?,  maksud saya apa yang harus kami lakukan pak? Apa kami harus menggati kerusakan itu secara keseluruhan dalam artian kami harus membuatnya seperti sediakala”?. Ungkap ku sambil tersenyum, sebab saya melihat tidak ada sedikit pun yang muncul dari raut muka si bapak sang pemilik mobil putih itu tanda-tanda untuk menyusahkan kami, melainkan beliau seakan-akan merasakan apa yang sedang kami rasakan. Pikirku.

“Saya mengerti mas, tapi seperti yang saya katakan tadi ini adalah mobil rental, artinya disini kita sama-sama jadi korban”.  Jawabnya.

“Sebentar dulu,  saya coba ngomong dengan orang yang memiki rentalnya kira-kira berapa biaya yang akan kalian keluarkan untuk memperbaiki kerusakan mobilnya”. Lanjutnya. Selang beberapa saat kemudian barulan beliau mengatakan bahwasanya kerusakan itu akan menghabiskan biaya sekitar Rp. 2.000.000;-  untuk memperbaiki kerusakan mobil itu. Saya kaget mendengar nilai uang yang telah di sebutkan oleh beliau (bapak) tadi, bagiku itu merupakan nilai yang cukup sulit untuk ku dapat pada saat itu apalagi harus melunasinya malam itu juga, sebab saya telah berniat untuk tidak melibatkan orang lain dalam musibah yang tengah ku hadapi termasuk orang tua ku, kecuali aku dan senior yang berangkat dengan ku, karena saya tidak ingin orang lain merasa di repotkan karena tindakan ku yang ceroboh itu, Pikirku.

Saya dan senior ku sejenak saling bertatapan, namun saya melihat dia sangat merasa kesusahan dan bingung harus mendapatkan uang yang sedemikian banyaknya itu (menurut kami sebagai perantau) dari mana, untuk membayar kerugian itu. Saya berkata kepada senoir ku.

“Bang, jangan kasih tau siapa-siapa ya, cukup kita berdua yang tau, saya tidak ingin orang lain merasa susah dan terlibat dalam masalah yang kita alami sekarang ini”. Ungkap ku dengan nada yang sediktit gugup dengan tubuhku yang mulai agak dingin, karena saya baru pertama kalinya mendapatkan musibah yang sebesar itu (bagiku) selama saya berada di tanah perantauan yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bersambung….

Suatu Refleksi di Hari Batik Nasional

Batik merupakan salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009 lalu.

Tidak bisa dipungkiri bahwasannya Batik merupakan salah satu Produk Nasional yang telah diakui oleh dunia, sudah selayaknya kita sebagai anak bangsa merasa bangga dengan hal itu, rasa bangga itu harus tertanam dalam nadi kita, agar bisa menjalar dengan indah seperti darah yang mengaliri ruang-ruang dan inci-inci dalam tubuh kita agar bisa menyatu dengan indah. bilamana rasa bangga itu telah menyatu dalam diri kita, maka kita sebagai warga negara yang baik, bila mengkonsumsi sesuatu hal, kita pasti mengutamakan produk-produk asli Indonesia, hal lain juga yang bisa kita lakukan adalah membantu mengiklankan kepada khalayak bahwasannya produk indonesia itu bukanlah produk ecek-ecekan, produk-produk indonesia adalah produk yang berkualitas tinggi, tidak jauh berbeda dengan produk-produk negara lain, yang membedakannya hanyalah mereknya, kebetulan aja merek produk mereka telah dulu dikenal atau produk-produk mereka gencar karena diiklankan secara meluar sehingga produk mereka dikenal dunia, bila mana kita mencoba mengiklankan produk-produk nasional dengan baik dan benar, maka produk-produn Indonesia juga akan dikenal dunia,,

Salahsatu kenapa produk nasional Indonesia saat ini kurang di kenal khalayak adalah karena kurangnya dukungan atau dorongan dari pemerintah, kalaupun hal dorongan atau dukungan itu telah ada namun perihal tersebut belumlah maksimal adanya. Oleh karena itu dalam momentum Hari Batik Nasional ini kita sama-sama mengingatkan pada diri kita dan kepada perintah agar lebih mendukung lagi perihal produk-produk batik dan membantu mencarikan solusi dari persoalan-persoalan yang muncul tersebut.

Akhir kalimat, kami Keluarga besar Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta mengucapkan “Selamat Hari Batik Nasional” 2 Oktober 2013, semoga batik nasional tetap mampu menjaga eksistensinya baik di tingkat nasional maupun kancah internasional..

Rekomendasi FIMNY Periode 2013-2014

REKOMENDASI
FORUM INTELEKTUAL MUDA NCERA YOGYAKARTA
PERIODE 2013-2014

Kami dari Komisi III membahas Rekomendasi untuk kepengurusan selanjutnya yaitu Periode 2013-2014, adapun rekomendasinya adalah sebagai berikut :
1.    Menciptakan HIMNE FIMNY
2.    Minimal dua minggu sekali anggota FIMNY diwajibkan untuk membuat karya tuli, bias berbentuk pantun, cerpen, berita, opini, resensi atau yang lainnya.
3.    Membuat jaket FIMNY untuk setiap anggota tetap FIMNY Periode 2013-2014
4.    Mengadakan diskusi rutin FIMNY 1 kali sebulan secara konsisten
5.    Mengadakan pelatihan jurnalis minimal minimal sekali dalam 1 periode (melakukan hubungan dengan berbagai media)
6.    Mengadakan kunjungan ke lembaga-lembaga Negara pada saat moment-moment tertentu (misalnya pada saat hari jadi brimob, yaitu mengunjungi Brimob minimal mengucapkan selamat atas hari jadinya, dll), itu semua sebagai bentuk rasa nasionalis FIMNY
7.    Mengadakan Pengajian rutin
8.    Olahraga rutin
9.    Membuat buku panduan FIMNY
10.    Membuat Bendera FIMNY
11.    Pengadaan Sekretariat (Base cam ) FIMNY

Rekomendasi diatas merupakan harapan atau gambaran umum yang akan dilakukan satu periode kedepan, adapun lebih lengkapnya nanti akan dibahas dalam Rapat Program Kerja Kepengurusan Periode 2013-2014.

Ditetapkan di    : Aula Asrama Bima Yogyakarta
Pada tanggal    :  02 Oktober 2013    
Pukul        : 01.17 WIB (dini hari)

Pimpinan Sidang 
MUBES FIMNY
Pimpinan Sidang I                                  Pimpinan Sidang II                 Pimpinan Sidang III





  ( Dedi Purwanto )                                 ( Sulaiman Alfarizi )                        (M. Jamil )


CATATAN:
Disebabkan ada sesuatu dan lain hal (keterbatasan waktu), sehingga pembahasan dan pengesahan Anggaran Rumah Tangga, Garis-Garis Besar Program Kerja, dan Rekomendasi FIMNY tidak bisa dibahas pada saat MUBES Ke-IV FIMNY (28-29 September 2013), sehingga pembahasan lanjutannya dibentuk TIM Khusus yang terdiri dari 9 orang, diantaranya:
1.    Sulaiman Alfarizi
2.    M. Jamil
3.    Dedi Purwanto
4.    Ismail Aljihadi
5.    Buhari Muslim
6.    Agus Salim
7.    Abidin
8.    Hamdun

Adapun pembahasan Lanjutan (Anggaran Rumah Tangga, Garis-Garis Besar Program Kerja, dan Rekomendasi FIMNY) oleh TIM Khusus tersebut dilaksanakan Pada Tanggal 01-02 Oktober 2013 Di Aula Asrama Bima Yogyakarta.