Tahap-Tahap Seleksi CPNS Pusat dan Daerah Tahun 2013

FIMNY.org - Halo sahabat FIMNY, akhirnya pertanyaan paling banyak tentang Pegumuman Pendaftaran CPNS 2013 terjawab sudah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) telah menyusun jadwal seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) jalur umum Pengumuman dan pendaftaran penerimaan CPNS jalur umum pada 2013 akan dilaksanakan pada 1-20 September mendatang.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Azwar Abubakar telah menerima master soal Tes Komnetensi Dasar (TKD) dan Tes Komoetensi Bidanq (TKB) untuk Ujian CPNS 2013. yang disusun oleh Konsorsium 10 Perguruan Tinggi Negen (PTN).

Dia meminta seluruh tim kerja Panselnas 2013 segera menyiapkan perangkat pelaksanaan dan pedoman. Sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Serta melaporkan progres setiap tahapannya dengan memperhatikan jadwal yang sudah direncanakan.

"Saya berharap penerimaan CPNS dapat menjadi fondasi pembentukan PNS profesional dan birokrasi Indonesia yang modern menuju birokrasi kelas dunia", kata dia seperti dilansir dari Setkab, Selasa (20/8/2013).

Adapun pelaksanaan ujian TKD dan TKB akan dilaksanakan pada 29 September, untuk pelamar umum yang menggunakan sistem komputer atau Computer Assested Test (CAT).

Sementara untuk yang menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK) bagi pelamar umum dan Tenaga Honorer Kategori II dilaksanakan 3 November 2013 dan untuk CPNS yang berasal dari jalur sekolah kedinasan akan dilaksanakan pada antara September-Oktober.

Pada minggu pertama sampai minggu keempat November akan dilaksanakan pengolahan hasil TKD dan TKB. Selanjutnya pada minggu keempat November dan minggu ketiga Desember akan dilakukan pengumuman hasil seleksi CPNS.

Berikut jadwal dan tahapan pelaksanaan tes CPNS 2013:

• Penetapan persetujuan rincian formasi instansi: 20-30 Agustus 2013
• Pengumuman dan pendaftaran penerimaan CPNS: 1-20 September 2013
• Pelaksanaan ujian TKD dan TKB: 29 September-November 2013
• Pengolahaan hasil TKD dan TKB: 3-4 November dan 27 November-13 Desember 2013
• Pemberkasan dan Penetapan NIP: Minggu II Desember 2013

Bagi calon pelamar CPNS 2013 diharapkan melakukan persiapan yang matang untuk menghadapi ujian CPNS 2013 nanti Karena seperti tahun 2012 yang lalu yang terbukti sukses. Penerimaan CPNIS 2013 akan dilakukan dengan murni dan trasparan dimana sepenuhnya ditangani pemerintah pusat bekerjasama dengan konsorsium perguruan tinggi (CASN Media).



Meriahnya Halal Bihalal dan Malam Tirakatan RT 02 RW 01 Samirono

FIMNY.org – Sudah menjadi rutinitas tiap tahunnya bagi seluruh warga Indonesia yaitu memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI), begitu juga yang dilakukan oleh warga RT 02 RW 01 Kelurahan Samirono Yogyakarta. Canda tawa yang terpancar dari raut wajah para warga masyarakat yang hadir pada tadi malam (16/08), dengan wajah yang terharu biru karna menyaksikan kebersamaan para warga.

Saat ini kita tidak lagi sibug memperjuangkan kemerdekaan, karena kemerdekaan itu saat ini kita telah meraihnya, itu semua berkat perjuangan keras yang telah dilakukan funding father (bapak pendiri bangsa) kita, mereka telah menyumbangkan jiwa dan raganya untuk merebut NKRI tercinta ini dari tangan penjajah, oleh karena itu, kita sebagai anak cucunya wajib mempertahankan itu semua, perjuangan dahulu dan perjuangan sekarang berbeda, para pendiri bangsa terdahulu memperjuangkan negara dari tangan penjajah, untuk kita anak cucunya sebagai penerus bangsa kita berjuang bersama dengan cara yang berbeda, semisal dalam hal rumah tangga, sebagai kepala rumah tangga kita wajib memperjuangkan untuk kelangsungan hidup anak dan istri kita, mendidik mereka menjadi istri yang taat dan menjadi anak yang cerdas dan berakhlak mulia agar bisa berguna bagi nusa dan bangsa ketika mereka kelak telah dewasa. (begitulah pesan mulia yang disampaikan Ketua RW 01 pada saat beliau memberikan sambutanya).

Rangkaian acara tersebut terdiri dari pembukaan, sambutan, menyanyikan lagu Indonesia raya, menyanyikan lagu 17 Agustus, sambutan, ramah tamah, makan bersama, dll, keceriaan itu tidak ternilai harganya dengan apapun, merdeka…merdeka…sudah 68 tahun sudah kita merdeka, semoga Negara kesatuan Republik Indonesia semakin jaya dan semakin bisa mengibarkan sayapnya di mata dunia, agar Negara kita menjadi Negara yang kuat dan disegani. Amin.

Kegiatan Halal Bihalal dan Malam Tirakatan RT 02 RW 01 Samirono tersebut diselenggarakan pada hari Jum’at Tanggal 16 Agustus 2013 pukul 18.00-selesai. Acara berlangsung dengan sangat meriah dan penuh khidmat yang diselenggarakan di Pertigaan Gang RT 02 RW 01 Padukuhan Samirono, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.


suasana saat berlangsungnya acara
suasana saat berlangsungnya acara

Kiprah Mohammad Natsir Untuk NKRI

FIMNY.org – Mohammad Natsir adalah seorang tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI, yang sekarang menjadi pembicaraan hangat karena melemahnya rasa kesatuan bangsa sebagai akibat reformasi yang kebablasan. Berkali-kali dia menyelamatkan Republik dari ancaman perpecahan.

Ia lah yang pada tahun 1949 berhasil membujuk Syafruddin Prawiranegara, yang bersama Sudirman merasa tersinggung dengan perundingan Rum-Royen, untuk kembali ke Jogya dan menyerahkan pemerintahan kembali kepada Sukarno Hatta. Dia jugalah kemudian yang berhasil melunakkan tokoh Aceh, Daud Beureuh yang menolak bergabung dengan Sumatera Utara pada tahun 1950, terutama karena keyakinan Daud Beureuh akan kesalehan Natsir, sikap pribadi yang tetap dipegang teguh sampai akhir hayatnya.

Natsir juga seorang tokoh pendidik, pembela rakyat kecil dan negarawan terkemuka di Indonesia pada abad kedua puluh. Kemudian ketika kegiatan politiknya dihambat oleh penguasa, dia berjuang melalui dakwah dengan membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dimana dia berkiprah sampai akhir hayatnya membangun masyarakat di kota-kota dan pedalaman terpencil.

Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Solok pada tanggal 17 Juli 1908. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai pemerintah dan pernah menjadi Asisten Demang di Bonjol. Natsir adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Dia kemudian diangkat menjadi penghulu atau kepala suku Piliang dengan gelar Datuk Sinaro Panjang di Pasar Maninjau.

Natsir pada mulanya sekolah di Sekolah Dasar pemerintah di Maninjau, kemudian HIS pemerintah di Solok, HIS Adabiyah di Padang, HIS Solok dan kembali HIS pemerintah di Padang. Natsir kemudian meneruskan studinya di Mulo Padang, seterusnya AMS A 2 (SMA jurusan Sastra Barat) di Bandung. Walaupun akan mendapatkan beasiswa seperti di Mulo dan AMS untuk belajar di Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam, dia tidak melanjutkan studinya dan lebih tertarik pada perjuangan Islam.

Pendidikan agama mulanya diperoleh dari orang tuanya, kemudian ia masuk Madrasah Diniyah di Solok pada sore hari dan belajar mengaji Al Quran pada malam hari di surau. Pengetahuan agamanya bertambah dalam di Bandung ketika dia berguru kepada ustaz Abbas Hasan, tokoh Persatuan Islam di Bandung. Kepribadian A Hasan dan tokoh-tokoh lainnya yang hidup sederhana, rapi dalam bekerja, alim dan tajam argumentasinya dan berani mengemukakan pendapat tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian Natsir kemudian.

Natsir mendalami Islam, bukan hanya mengenai teologi (tauhid), ilmu fiqih (syariah), tafsir dan hadis semata, tetapi juga filsafat, sejarah, kebudayaan dan politik Islam. Di samping itu ia juga belajar dari H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, HOS Cokroaminoto dan A.M. Sangaji, tokoh-tokoh Islam terkemuka pada waktu itu, beberapa di antaranya adalah tokoh pembaharu Islam yang mengikuti pemikiran Mohammad Abduh di Mesir. Pengalaman ini semua memperkokoh keyakinan Natsir untuk berjuang dalam menegakkan agama Islam.

Pengalaman organisasinya mulai ketika dia masuk Jong Islamieten Bond (JIB) di Padang. Di Bandung dia menjadi wakil ketua JIB pada 1929-1932, menjadi ketua Partai Islam Indonesia cabang Bandung, dan pada tahun empat puluhan menjadi anggota Majlis Islam Ala Indonesia (MIAI), cikal bakal partai Islam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) yang kemudian dipimpinnya.

Ia menjalin hubungan dengan tokoh politik seperti Wiwoho yang terkenal dengan mosinya “Indonesia Berparlemen kepada pemerintah Belanda, dengan Sukarno, dan tokoh politik Islam lainnya yang kemudian menjadi tokoh Masyumi, seperti Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono dan Mohammad Roem.

Berbeda dengan tokoh pergerakan lainnya, sejak semula Natsir juga bergerak di bidang dakwah untuk membina kader. Pada mulanya ia aktif dalam pendidikan agama di Bandung, kemudian mendirikan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) yang mengasuh sekolah dari TK, HIS, Mulo dan Kweekschool yang dipimpinnya 1932-1942.

Di samping itu ia rajin menulis artikel di majalah terkemuka, seperti Panji Islam, Al Manar, Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat. Dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo. Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun 1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya yang mengeritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.

Kegiatan politik Natsir menonjol sesudah dibukanya kesempatan mendirikan partai politik pada bulan November 1945. Bersama tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Sukiman dan Roem, dia mendirikan partai Islam Masyumi, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Badan Pekerja KNIP.

Dalam kabinet Syahrir I dan II (1946-1947) dan dalam kabinet Hatta 1948 Natsir ditujuk sebagai Menteri Penerangan. Sebagai menteri, tanpa rasa rendah diri dia menerima tamunya di kantor menteri dengan pakaian amat sederhana, ditambal, sebagaimana ditulis kemudian oleh Prof. George Kahin, seorang ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika yang waktu itu mengunjunginya di Yogya.

Ketika terbentuknya negara RIS sebagai hasil perjanjian KMB pada akhir Desember 1949, Natsir memelopori kembali ke negara kesatuan RI dengan mengajukan Mosi Integral kepada parlemen RIS pada tanggal 3 April 1950. Bersama dengan Hatta yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri RIS, ide ini tercapai dengan dibentuknya negara kesatuan RI pada 17 Agustus 1950. Mungkin atas jasanya itu, Natsir ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh Sukarno, atau juga karena pengaruhnya yang besar, sebagaimana kemudian terlihat dari hasil Pemilu 1955.

Tidaklah mudah menjadi Perdana Menteri dalam keadaan sulit ketika itu. Hampir di semua daerah terdapat perasaan bergalau akibat perang yang menimbulkan rasa ketidak-puasan di mana-mana. Beberapa tokoh yang selama ini berjuang untuk Republik berontak, seperti Kartosuwiryo dan kemudian Kahar Muzakkar. Pengikut RMS dan Andi Azis yang berontak kepada Hatta masih belum tertangani. MMC (Merapi Merbabu Complex) yang beraliran komunis berontak di Jawa Tengah. Daud Beureuh menolak menggabungkan Aceh ke dalam propinsi Sumatera Utara.

Walaupun kemudian Natsir pada bulan Januari 1951 berhasil membujuk Daud Beureuh yang sengaja berkunjung ke Aceh sesudah Assaat dan Syafruddin gagal meyakinkannya, namun Daud Beureuh meninggalkan pemerintahan dan pulang kekampungnya di Pidie. Dengan berat hati Natsir terpaksa membekukan DPR Sumatera Tengah dan mengangkat gubernur Ruslan Mulyoharjo sebagai gubernur. Dalam waktunya yang pendek (September 1950-April 51) Natsir membawa RI dari suasana revolusi ke suasana tertib sipil dan meletakkan dasar politik demokrasi dengan menghadapi bermacam kendala, termasuk perbedaan pendapat dengan Sukarno dan partainya PNI.

Sesudah meletakkan jabatannya di pemerintahan, Natsir aktif dalam perjuangan membangun bangsa melalui partai dan menjadi anggota parlemen. Pada pemilihan umum 1955 Partai Islam Masyumi yang dipimpinnya mendapat suara kedua terbanyak sesudah PNI walaupun memperoleh kursi yang sama dengan PNI. Pada sidang-sidang konstituante antara 1956-1957 dengan gigih dia mempertahankan pendiriannya untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sebelum sidang konstituante ini berhasil menetapkan Anggaran Dasar Negara, Sukarno memaklumkan kembali ke UUD 1945 dan membubarkan parlemen serta konstituante hasil pemilu (melalui Dekrit 5 juli 1959 –FF). Natsir menjadi penantang ide dan politik Sukarno yang gigih dan teguh.

Penantangannya kepada Sukarno terutama karena Sukarno kemudian berubah menjadi pemimpin yang otoriter dan menggenggam kekuasaan di tangannya sendiri dengan bekerjasama dengan Partai Komunis Indonesia dan partai lain yang mau menuruti kemauan Sukarno. Bukan saja Natsir, Hatta pun malah juga terdesak. Hatta meletakkan jabatannya sebagai usaha mengembalikan presiden Sukarno ke jalur yang benar, tapi hal itu malah makin membuat Sukarno leluasa. Natsir makin terjepit karena pengaruh PKI yang anti Islam.

Pergolakan politik akibat perebutan hegemoni Islam dan non Islam yang mencuat secara demokratis di parlemen diikuti pula oleh kekisruhan ekonomi dan politik secara tidak terkontrol di luar parlemen. Hal ini berujung dengan munculnya kegiatan kedaerahan yang berpuncak pada pemberontakan daerah dan PRRI pada tahun 1958. Natsir yang dimusuhi Sukarno bersama Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap melarikan diri dari Jakarta dan ikut terlibat dalam gerakan itu. Karena itu partai Masyumi dan PSI Syahrir dipaksa membubarkan diri oleh Sukarno.

Ketika PRRI berakhir dengan pemberian amnesti, Natsir bersama tokoh lainnya kembali, namun kemudian ia dikarantina di Batu, Jawa Timur (1960-62), kemudian di Rumah Tahanan Militer Jakarta sampai dibebaskan oleh pemerintahan Suharto tahun 1966. Ia dibebaskan tanpa pengadilan dan satu tuduhanpun kepadanya.

Walaupun tidak lagi dipakai secara formal, Natsir tetap mempunyai pengaruh dan menyumbang bagi kepentingan bangsa, misalnya ikut membantu pemulihan hubungan Indonesia dengan Malaysia. Melalui hubungan baiknya, Natsir menulis surat pribadi kepada Perdana Menteri Malaysia Tungku Abdul Rahman guna mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia yang kemudian segera terwujud.

Karena tidak mungkin lagi terjun ke politik, Natsir mengalihkan kegiatannya, berdakwah melalui perbuatan nyata dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Pada tahun 1967 dia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang aktif dalam gerakan amal.

Lembaga ini dengan Natsir sebagai tokoh sentral, aktif berdakwah bukan saja kepada masyarakat dan para mahasiswa di Jakarta dan kota lainnya, tapi juga di daerah terasing, membantu pendirian rumah sakit Islam dan pembangunan mesjid, dan mengirim mahasiswa tugas belajar mendalami Islam di Timur Tengah. Bahkan di antara mahasiswa ini kemudian menjadi tokoh nasional yang religius seperti Amien Rais Yusril Ihza Mahendra, dan Nurchalis Majid, di antara beberapa tokoh penggerak orde reformasi yang mengganti orde Suharto.

Kegiatan dakwahnya ini telah menyebabkan hubungannya dengan masyarakat luas tetap terpelihara, hidup terus sebagai pemimpin informal. Kegiatan ini juga membawa Natsir menjadi tokoh Islam terkenal di dunia internasional dengan menjadi Wakil Presiden Kongres Islam se dunia (Muktamar Alam Islami) yang berkedudukan di Karachi (1967)dan anggota Rabithah Alam Islami (1969) dan anggota pendiri Dewan Masjid se Dunia (1976) yang berkedudukan di Mekkah. Di samping bantuan para simpatisannya di dalam negeri, badan-badan dunia ini kemudian banyak membantu gerakan amal DDII, termasuk pembangunan Rumah Sakit Islam di beberapa tempat di Indonesia. Pada tahun 1987 Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London.

Namun kebebasannya hilang kembali karena ia ikut terlibat dalam kelompok petisi 50 yang mengeritik Suharto pada tahun 1980. Ia dicekal dalam semua kegiatan, termasuk bepergian ke luar negeri. Sejak itu Natsir aktif mengendalikan kegiatan dakwah di kantor Dewan Dakwah Salemba Jakarta yang sekalian berfungsi sebagai masjid dan pusat kegiatan diskusi, serta terus menerus menerima tamu mengenai kegiatan Islam.

Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara. Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam.

Pada tanggal 7 Februari 1993 Natsir meninggal dunia di Jakarta dan dikuburkan di TPU Karet, Tanah Abang. Ucapan belasungkawa datang tidak saja dari simpatisannya di dalam negeri yang sebagian ikut mengantar jenazahnya ke pembaringan terakhir, tapi juga dari luar negeri, termasuk mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda yang mengirim surat duka kepada keluarga almarhum dan bangsa Indonesia.

Walaupun telah tiada, buah karya dan pemikirannya dapat dibaca dari puluhan tulisannya yang sudah beredar, mulai dari bidang politik, agama dan sosial, di samping lembaga-lembaga amal yang didirikannya. Perkawinannya dengan Nur Nahar, aktifis JIB pada tahun 1934 di Bandung telah memberinya enam orang anak.

Sejarah Hubungan Dompu dan Daerah Sekitarnya

FIMNY.org – Di samping berhadapan dengan kekuatan kolonial Belanda yang semakin intensif melakukan penetrasi politik dan eksploitasi ekonominya ke wilayah Dompu, kesultanan Dompu juga menjalin hubungan dengan daerah sekitarnya. Hubungan yang dibuka oleh pihak kesultanan Dompu juga menjalin hubungan dengan daerah-daerah lain ini lebih cenderung bersifat pesahabatan daripada konflik.

Berdasarkan letak geografisnya dibagian selatan pulau Sumbawa, Dompu berbatasan langsung dengan wilayah Kesultanan Bima sebagai tetangga yang paling dekat. Hubungan antara Dompu dan Bima sudah lama terjalin secara erat terutama dalam sektor ekonomi. Banyak hasil bumi Dompu yang diangkut ke pelabuhan Bima di teluk Sape dan Kempo untuk untuk diekspor ke luar daerah. Hal ini disebabkan oleh kondisi alam di mana pelabuhan di daerah Dompu sulit untuk disinggahi oleh kapal-kapal samodera yang berlayar ke kawasan Indonesia Timur.

Tindakan pemerintah kolonial Belanda untuk mencegah para penguasa pribumi memasuki organisasi politik yang bercorak keagamaan terutama Islam adalah untuk menjaga perimbangan kekuatan yang sangat berguna sebagai landasan eksistensi pemerintahan kolonal. Dengan adanya dua kelompok besar yang saling terpisah dan berhadapan, pemerintah kolonial berharap agar keseimbangan politik bisa terjaga dan persatuan masyarakat akan dicegah.

Namun demikian hubungan erat antara Dompu dan Bima ini tidak hanya terbatas dalam bidang ekonomi. Kerjasama dan hubungan kekeluargaan antara kedua kesultanan ini juga erat terjalin. Hubungan keluarga yang muncul adalah perkawinan putri Sultan Dompu Mohammad Sierajuddin dengan Sultan Bima Salahuddin pada tahun 1924 yang menurunkan putra pewaris tahta di Bima. Perkawinan ini dimaksudkan untuk mempererat ikatan kekeluargaan sekaligus hubungan politik dan ekonomi antara kedua kerajaan yang sejak lama terjalin.

Dalam konsep kekuasaan feodal Timur ikatan kekeluargaan dan kelahiran merupakan kriteria yang menentukan status kekuasaan pada generasi berikutnya. Dengan demikian semua kelas penguasa feodal cenderung menjadi turun temurun. Semua kekuasaan dan kekayaan harus dipertahankan dalam ikatan keluarga melalui tradisi moral dan pewarisan. Hal ini menyangkut pemberian status pada jabatan penting yang berasal dari ikatan keluarga tertentu dan telah disiapkan sejak masa kecil calon ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan keluarga antara Dompu dan Bima ini cukup erat. Sultan Dompu sering berkunjung ke Bima dan tinggal di rumah menantunya Kelilalu abdullah di Bima. Begitu pula sebaliknya, calon pewaris tahta Bima ini sering berkunjung ke istana mertuanya di Dompu.

Hubungan erat dengan Bima ini kemudian terbukti kembali dalam gejolak dan perubahan politik teritorial yang terjadi di pulau Sumbawa. Sultan kerajaan Sanggar, tetangga Dompu di lereng gunung Tambora, pada tanggal 30 Nopember 1926 meninggal. Karena tidak adanya calon pengganti Sultan yang dinggap layak oleh pemerintah Belanda guna memerintah daerah tersebut, Belanda memandang perlu untuk membagi wilayah sanggar antara wilayah Bima, Dompu dan pemerintah Belanda.

Wilayah Sanggar begian selatan yang berbatasan langsung dengan Dompu menjadi daerah Dompu, sementara daerah sanggar bagian Utara dan Timur menjadi bagian dari Kesultanan Bima. Pemerintah kolonial mengambil bekas wilayah kesultanan Sanggar yang terletak di lereng tambora,   mengingat daerah ini  cukup subur bagi usaha perkebunan yang menghasilkan produk tanaman bagi komoditi ekspor.

Proses aneksasi wilayah dan penghapusan kekuasaan raja-raja pribumi di Nusa Tenggara ini berkaitan erat dengan perubahan besar dalam sifat kolonialisme Belanda. Keinginan untuk mencari sumber alam pertanian atau mineral dan ketakutan pada kekuatan kolonial lain yang akan menerapkan kontrol politik mendorong Belanda memperluas kekuasaannya di luar Jawa, khususnya ke kawasan Nusa Tenggara Barat ini. Namun dengan perubahan dalam tekanan ekspansi wilyah ini, Belanda juga berkepntingan untuk mempertahankan keseimbangan kekuatan di antara para penguasa pribumi setempat agar tidak terjadi gejolak atau pemusatan kekuatan yang terlalu besar di seorang raja pribumi.

Perluasan wilayah Dompu dan Bima serta hubungan erat yang terbentuk di antara kedua Kesultanan di Sumbawa ini juga menjadi perhatian dari para pejabat kolonial Belanda. Dengan proses aneksasi wilayah secara bertahap, sanggar berhasil dihapuskan dan keseimbangan kekuatan tetap bisa dipertahankan tanpa menimbulkan gejolak yang berarti. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan kolonial Belanda untuk memikirkan proses dan cara menghapuskan kekuasaan Kesultanan Dompu atas wilayahnya dan menggabungkannya dengan wilayah Bima setelah dilakukan pembagian dengan pemerintah kolonial. Alasan yang digunakan oleh pemerintah Belanda adalah bahwa antara penguasa Dompu dan Bima telah terjadi perkawinan politik. Dari perkawinan politik ini akan dilahirkan seorang pewaris tahta yang bisa diangkat sebagai penguasa atas dua wilayah itu sekaligus. Mengingat keturunan yang baru ini dilahirkan dari ayah di Bima dan ibu di Dompu, maka sudah selayaknya dia menjadi pewaris tahta kesultanan Bima. Dengan demikian wilayah Dompu bisa diletakkan di bawah kekuasaan Bima dan diperintahkan di bawah kekuasaan Bima dan diperintah olehnya setelah menerima pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda.

Sebagai imbalan atas pengakuan ini, sudah layak apabila pemerintah Belanda menerima sebagian wilayah Dompu yang akan dianeksasi tanpa melalui proses agresi. Oleh Residen Timor F. Schultz pada saat itu konsep penghapusan kesultanan Dompu telah dipikirkan sejak tahun 1926, sesudah proses aneksasi atas sanggar. Dia mengajurkan untuk mengangkat Abdulah, pewaris tahta yang dilahirkan dari ibu Dompu menjadi kepala daerah sementara. Namun dia mengusulkan agar peristiwa ini dinantikan beberapa saat sampai sultan Dompu yang saat itu memerintah tidak bertahan.

Meskipun terletak di pulau Sumbawa, namun hubungan antara Kesultanan Dompu dan Kerajaan Sumbawa tidak bisa dikatakan dekat.Salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah kondisi geografis yang mempersulit kelancaran hubungan antara Dompu dan Sumbawa. Sebagai akibatnya banyak hasil bumi dari Dompu yang cenderung dikirim ke Bima untuk dikapalkan daripada ke Sumbawa yang lebih jauh dan harus melewati medan yang sulit dilalui. Hal ini berbeda dengan hubungan antara Sultan Sumbawa dan Sultan Bima yang juga didasarkan pada perwakilan politik, karena putri Sultan Bima dikawinkan dengan Sultan Sumbawa.

Sementara itu hubungan Dompu dengan pulau-pulau di sekitarnya juga tidak nampak dekat. Sulitnya penyeberangan selat yang harus dilalui melalui pelayaran perahu dan tidak banyaknya kontak pelayaran dengan wilayah sebelah timur membuat hubungan tersebut tidak begitu lancar. Sebaliknya para pedagang dari Sumba dan Manggarai lebih banyak menyinggahi pelabuhan Bima untuk kepentingan ekonomi dan perdagangannya, sehingga kontak yang terjadi dengan warga Dompu sangat terbatas pada persinggahan kapal di Bima. Banyaknya pedagang perantara yang mengambil barang-barang produk setempat baik dari Dompu maupun dari Sumba mengurani peluang hubungan langsung antara kedua warga diwilayah kesultanan ini. Sebagai akibatnya interaksi sosial oleh warga Dompu lebih banyak dilakukan lewat hubungan darat, dan Bima merupakan satu-satunya daerah yang menarik minat bagi warga Dompu untuk mengadakan hubungan.

Sistim Sosial Masyarakat Dompu Tempo Dulu

FIMNY.org – Masyarakat Dompu dibagi dalam dua kelompok : kalangan bangsawan dan penduduk biasa. Kalangan bangsawan ini dibagi dalam kelompok Sultan, kerabat dan keluarga Sultan, para pejabat Kesultanan sampai para kepala daerah. Mereka yang masih menyandang keturunan dari penguasa sampai generasi tertentu masih bisa dikelompokan dalam golongan ini. Penduduk yang lain adalah mereka yang berada di luar golongan pertama dengan perkecualian orang-orang asing yang tinggal di sana. Semua penduduk Dompu dinyatakan sebagai kawula Sultan dan hidup di bawah pemerintahannya.

Mengingat kondisi alam yang ada, sulit untuk membagi penduduk berdasarkan sektor pekerjaan. Hal ini disebabkan keterkaitan antara satu sektor dengan sektor yang lain, seperti pertanian dan pengumpulan produk hutan, atau nelayan dan pencari mutiara yang sekaligus menjadi pemasok pedagang kecil. Tidak seperti penduduk pribumi di Jawa, yang mengalami pembagian status jelas dalam pelapisan sosialnya, penduduk Dompu tidak mengenal pelapisan sosial yang rumit. Pengaruh Islam yang sangat kuat dalam kehidupan di Dompu juga menciptakan suatu suasana di mana pandangan terhadap manusia dikatakan sama di mata Tuhan.

 Namun demikian, pada masa lalu ada juga kelompok khusus yang disebut sebagai budak dan orang numpang. Budak dalam hal ini bukan seperti budak tawanan perang yang sering dijumpai pada suku lain di Indonesia. Di Dompu budak ini muncul apabila terdapat seseorang terdakwa yang tidak mampu membayar hutang atau denda yang dibebankan oleh peradilan, maka dia akan menjadi budak. Namun status budak ini tidak memungkinkan dia menerima perlakuan kasar seperti di tempat lain, namun hanya dianggap sebagai pembantu bagi majikan mereka dan bisa bebas setelah menikah (apabila masih bujangan) atau dengan memiliki modal karena bekerja sendiri pada saat luang yang dimanfaatkan.

Beberapa kasus menunjukan bahwa suatu keluarga bisa menjadi budak atau melepaskan salah satu anggotanya sebagai budak ketika terjadi kesulitan pangan. Namun para budak ini pada masa lalu dibebaskan untuk dijadikan sebagai tenaga kerja pada beberapa sawah milik bangsawan atau milik Sultan dengan memperoleh sebagian produknya untuk membebaskan mereka dari bahaya kelaparan yang mengancamnya.

Seperti yang dikatakan di atas bahwa pengaruh Islam sangat kuat tertanam dalam kehidupan masyarakat di Dompu dari Sultan hingga warga lapisan bawah. Islam mulai menjadi komponen penting dalam kehidupan politik dan budaya Dompu sejak awal perkembangannya pada abad XVII. Islam masuk ke wilayah ini ketika dibawa oleh para ulama dan pedagang Makasar yang sering berkunjung ke pulau Sumbawa serta sebagai akibat dari pengaruh para raja-raja Gowa yang saat itu menaklukan daerah Sumbawa di bawah kekuasaannya. Islam dijadikan bukan hanya sebagai agama negara namun juga dianggap sebagai hukum tertinggi (syariat). Dengan demikian dalam pelaksanaannya, di Dompu terdapat kelompok birokrasi keagamaan yang dipimpin langsung oleh Sultan. Kelompok ini disebut Syarat yang terdiri atas kalif, imam, katib, lebe, bilal dan robo. Kalif sebagai pimpinan tertinggi dalam kelompok ini menyandang gelar Anangguru mangaji (kepala ulama) yang berhak mengawasi  semua perangkat ulama dan keagamaan yang bertugas di bawahnya.

Para perangkat keulamaan ini memiliki tugas masing-masing seperti mengelola rumah ibadah, mengumpulkan zakat dan fitrah, memimpin upacara keagamaan, ibadah Jumat, mendampingi Sultan dalam upacara hari Idul Fitri dan Qurban serta terutama mengawasi penduduk agar mentaati semua aturan dan kewajiban agamanya. Posisi mereka diberi fasilitas dengan dibebaskan dari pembayaran pajak dan melakukan kerja wajib bagi kepentingan Sultan maupun istana. Dalam peradilan yang berlangsung, para pejabat keagamaan ini juga ikut duduk serta berhak menerima sebagian dari denda dan biaya peradilan yang dibayarkan oleh terdakwa.

Sultan, yang juga tampil sebagai pimpinan agama selain sebagai kepala pemerintahan di negaranya, diberi gelar sebagai Ruma Sangaji atau kepala agama, pimpinan umat, pimpinan naik haji atau pimpinan dalam kegiatan membaca Quran. Untuk pelaksanaan ibadahnya, Sultan memerintahkan pembangunan mesjid di ibukota Dompu yang terbuat dari batu dan ditutup dengan genting. Mesjid ini sering digunakan sebagai rumah ibadah negara pada saat upacara keagamaan berlangsung, misalnya sholat Jumat, peresmian perkawinan keluarga raja, pemotongan hewan kurban dan sholat Id bersama rakyatnya. Di samping itu pada setiap kampung juga dibangun mesjid yang terletak di tengah, umumnya terbuat dari kayu dan berbentuk persegi. Begitu pentingnya makna Islam di Kesultanan Dompu ini, nampak dari dijadikannya pusat ibukota kerajaan menjadi pusat pendidikan Islam dan berkumpulnya jemaah haji yang akan berangkat ke tanah suci. Salah satu unsur baru yang diwujudkan oleh pengaruh Islam atas budaya setempat adalah penerapan kesusastraan dengan huruf Arab Melayu sebagai sarana komunikasi tertulis resmi di kesultanan Dompu.

Seperti yang telah dikatakan, penduduk banyak tinggal di tepi sungai untuk bercocok tanam, mengambil hasil hutan dan mengelola pelayaran perahu. Sehubungan dengan hal itu mereka membangun rumah-rumahnya di tepi sungai di atas tonggak kayu atau bambu yang diambil dari dalam hutan. Lantai dan dindingnya juga terbuat dari bahan kayu belah dan gentingnya ditutup dengan bilah bambu serta alang-alang. Bagian bawah rumah ini difungsikan untuk memelihara ternak seperti kuda, sapi dan kambing. Juga di setiap beberapa rumah penduduk kampung mendirikan sebuah bangunan khusus yang digunakan untuk menyimpan hasil panen padi sebagai lumbung. Padi disimpan di sana untuk difungsikan sebagai persediaan pangan. Ini bisa disimpulkan bahwa kebutuhan utama dari padi adalah untuk tanaman pangan, dan kehidupan komunal masih berjalan dalam penyimpanan bersama hasil panen di dalam lumbung tersebut. Kehidupan komunal ini bertolak dari pengertian bahwa tanah dan hutan adalah milik Sultan yang bisa digunakan sepenuhnya oleh penduduk bagi kebutuhan sendiri, setelah menyetorkan sebagian hasilnya sebagai upeti kepada Sultan. Nampaknya pembuatan rumah di atas tonggak di tepi sungai ini berasal dari pengaruh Bugis dan Makasar, mengingat para nelayan Bugis dan orang-orang Bajo selain itu juga membangun rumahnya di atas tonggak di tepi pantai.

Berbicaralah yang Baik atau Diam

FIMNY.org – Berbicara sesuatu yang baik itu sangatlah mulia, karena dengan kita berbicara yang baik ketika kita bercakap dengan lawan bicara kita, maka lawan bicara kita akan merasa tentram hati dan pikirannya, merasa nyaman berada disamping kita, merasa senang berteman dan bersahabat dengan kita.

Perihal tentang berbicara yang baik terhadap sesama juga Allah SWT juga telah memerintahkan dengan jelas dengan firmannya dalam Al-Qur’anul Qarim, yang artinya sebagai berikut:
Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Q.S. Al Israa' Ayat 53).

Didalam hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita sepatut dan sewajarnya harus berbicara yang baik ketika kita berbicara sesuatu hal, baik sesuatu hal itu perihal kehidupan di dunia, lebih-lebih ketika berbicara tentang sesuatu yang menyangkut bekal untuk akhirat kelak. Kenapa kita harus berbicara yang baik-baik, karena dengan kita berbicara yang baik, tentu saja apa yang kita bicarakan tersebut bisa membawa kebaikan untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain yang telah mendengarkan kita berbicara.

Seandainya dalam hidup dan kehidupan kita melontarkan sesuatu hal yang tidak baik, bukan tidak mungkin apa yang kita bicarakan tadi bisa jadi ia jadikan landasan berpikirnya (mind set), karena jikalau satu kalimat kita berbicara yang tidak baik, bukan tidak mungkin apa yang kita bicarakan tersebut yang mendengarkan tersebut menyebarkannya lagi keorang lain, orang lain juga bukan tidak mungkin menyebarkan lagi ke yang lainnya, begitulah seterusnya, karena disaat kita melontarkan sesuatu hal yang tidak baik, pada saat itu pula syaitan riang gembira, karena usaha dia membujuk kita berbuat hal yang buruk telah berhasil, oleh karena itu bila kita berbicara, berbicaralah yang baik-baik, jikalau tidak mendingan berdiam diri tanpa kata, daripada nantinya menyesatkan.


Hakikat Kebaikan

FIMNY.org Dalam Kamus Bahasa Indonesia menjelaskan “Hakikat” merupakan inti sari atau dasar; kenyataan yang sebenarnya (sesungguhnya), sedangkan “Kebaikan” merupakan sifat-sifat baik; perbuatan baik. Secara sederhana penulis memaparkan bahwasannya “Hakikat Kebaikan” ialah inti sari atau dasar sifat-sifat baik atau perbuatan baik seseorang yang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya (sesungguhnya).

Dalam Al-Qur’an juga Allah SWT telah menerangkan dengan jelas mengenai hakikat kebaikan, uraiannya tersebut tertuang dengan jelas pada Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 177 dan Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 189.

Didalam Al-Qur’an menjelaskan “Kebajikan” merupakan beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Isi lengkap Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 177 yang artinya sebagai berikut:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Baqarah Ayat 177).

Dalam suatu riwayat juga dikemukakan bahwa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi yang menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (yaitu QS. Al Baqarah Ayat 177).
(Diriwayatkan oleh Abdur-razzaq dari Ma'mar, yang bersumber dari Qatadah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil 'Aliyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (yaitu QS. Al Baqarah Ayat 177) sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang “al-Bir” (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas (yaitu QS. Al Baqarah Ayat 177) Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan "Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu wa rasuluh", kemudian meninggal di saat ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah.)

Perihal tentang hakikat kebaikan juga Allah SWT telah berfirman dalam Qur’an Surah Baqarah Ayat 189 yang artinya sebagai berikut:
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Al Baqarah Ayat 189).

Pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji, mereka memasuki rumah dari belakang bukan dari depan. hal ini ditanyakan pula oleh Para sahabat kepada Rasulullah s.a.w., Maka diturunkanlah ayat ini (yaitu QS. Al Baqarah Ayat 189).

Berbuat Baik Kepada Orang Merupakan Bagian Dari Iman

FIMNY.org - Dalam Kamus Bahasa Indonesia juga menjelaskan tentang Iman. Iman merupakan suatu kepercayaan (yang berkenaan dengan agama) kepada Allah, Nabi, kitab suci; ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin.

Seseorang mengekspresikan kebaikannya itu dengan berbagai macam, mereka mengekspresikannya dengan cara dan bentuk yang mereka inginkan atau mereka sukai, karena seseorang yang dalam hati dan pikirannya suka berbuat baik kepada orang lain merupakan bagian dari iman. Oleh karenanya, siapapun yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah melakukan kebaikan, walau kebaikan itu sebesar atom, namun kebaikan-kebaikannya tersebut pastilah ada ganjaran yang akan ia peroleh suatu saat nanti, baik balasan yang diperolehnya di dunia lebih-lebih balasannya itu ia akan peroleh di akhirat kelak, itu semua karena buah amaliah yang ia pernah lakukan.

Didalam Al-Quran juga Allah SWT telah berfirman yang berkaitan dengan orang yang suka berbuat baik kepada orang lain merupakan bagian dari iman, firman Allah SWT tersebut yang artinya adalah:
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hasyr Ayat 10).

Dari bunyi firman Allah SWT diatas, menggambarkan bahwasannya seorang yang beriman, manakala dalam doa dan permohonannya kepada Allah STW, mereka tidak semata-mata memohonkan keberkahan untuk dirinya sendiri, melainkan mereka memohonkan keberkahan dan ampunan untuk dirinya sendiri, untuk saudara-saudaranya, bahkan mendoakan semua umat manusia yang telah dulu beriman kepada Allah SWT untuk diberikannya ampunan dan pertolongan Allah SWT.

Jadi, untuk sahabat FIMNY dimanapun berada, mari kita mengekspresikan rasa ingin berbuat baik kita kepada sesama makhluk Allah SWT dengan cara dan gaya kita masing-masing, tetapi cara dan gaya tersebut haruslah tidak boleh bertentangan dengan keinginan hati dan jiwa kita yang terdalam.

Pemrov NTB dan NTT Segera Gelar Seleksi CPNS Tahun 2013

FIMNY.org - Halo Sahabat Fimny apa kabarnya setelah melalui puasa sebulan lamanya? Moga sehat wak'afian, dan kembali jalankan rutinitas sehari-hari dengan baik. Semoga juga tetap istiqomah menjaga kefitrahan Idul Fitri hingga Ramadhan tahun depan menghampiri. Amin.

Kali ini, FIMNY ada kabar gembira. Terutama buat Sahabat FIMNY yang punya niat dan keinginan menjadi PNS, khususnya Sahabat FIMNY dan berada di tanah kelahiran NTB dan NTT.

Pemerintah berencana membuka pengadaan calon pegawai negeri sipil baru sebanyak 169 ribu orang tahun ini. Jumlah itu sudah termasuk program penyelesaian pegawai honorer yang masih tersisa.

Wakil Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrai, Eko Prasojo, mengatakan penerimaan CPNS dengan pengangkatan pegawai honorer tahun ini mencapai 169 ribu melalui seleksi. Sebanyak 60.000 orang diantaranya di alokasikan untuk formasi penerimaan CPNS jalur umum (reguler).

Rencana tes CPNS 2013 akan dilangsungkan pada bulan September tahun ini. Saat ini Kemenpan RB dan jajarannya masih sibuk dalam tahap penyususnan formasi penerimaan CPNS 2013 untuk kebutuhan secara nasional.

Khususnya penerimaan CPNS 2013 di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa daerah berencana akan membuka lowoncian CPNS 2013.

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sudah menyiapkan usulan formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun anggaran 2013 yang disampaikan ke Kemenpan RB. Demikian juga provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah pemerintah pusat mencabut moratorium penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun ini berencana rekrut CPNS baru. Pada Januari yang lalu Provinsi NTT mengusulkan formasi penerimaan CPNS sebanyak 300 orang. Tenaga yang dibutuhkan didominasi disiplin ilmu akuntansi.

Untuk kabupaten dan kota yang ada di provinsi NTT dan NTB beberapa diantaranya juga telah menyampaikan usulan formasi penerimaan CPNS tahun 2013. Dari data yang dipublish Kemenpan RB telihat sudah sebagian besar daerah di ceklist pada kolom usulan formasi 2013.

Selengkapnya berikut ini adalah kabupaten/kota di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sudah menyampaikan usulan formasi CPNS 2013 sesuai data ceklis kewajiban pada masa moratorium instansi daerah Kemenpan RB per tanggal 1 Juni 2013. Kabupaten/kota yang sudah menyampaikan usulan formasi CPNS 2013 ada kemungkinan akan diberi jatah kuota CPNS. namun bagaimana kepastiannya tergantung bagaimana hasil verifikasi pemerintah pusat.

Berikut daftar ceklis kabupaten/kota se Prov. NTB dan NTT Tahun 2013 yang akan menerima CPNS.

Provinsi Nusa Tenggara Barat:

Provinsi Nusa Tenggara Timur:

So, siapkan dirimu Sahabat FIMNY. Semoga sukses!


Pentingnya Membangun Kolektifitas (Kebersamaan)

Hiduplah kamu bersama manusia sebagaimana pohon yang berbuah, mereka melemparinya dengan batu, tetapi ia membalasnya dengan buah. (Imam Ghozali)

Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya kolektifitas merupakan sikap yang tertanam dalam diri pribadi seseorang yang memiliki rasa kebersamaan dalam melalukan segala sesuatu, baik bernilai positif atau negatif. Maksud dalam tulisan kali ini, yaitu  mengandung pentingnya membangun suatu kebersamaan agar tercapai suatu tujuan yang baik atau suatu tujuan yang bernilai positif.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Manusia tersebut pasti memerlukan suatu kebersamaan atau bantuan dari seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dicapai, walau ada juga sebagian yang bisa dilakukan sendiri namun dalam suatu kehidupan pasti lebih banyak suatu kebutuhan untuk memenuhi tuntutan hidupnya memerlukan bantuan dari orang lain.

Dalam suatu remaja, pemuda/mahasiswa, maupun masyarakat pada umumnya, nilai kebersamaan dewasa ini sangatlah kurang. Terbukti dari tindakan segala sesuatu semata karena ingin mengunggulkan diri mereka, kelompok mereka, organisasi mereka, dan lain sebagainya. Itulah keegoisan yang telah tertanam membatu dalam pribadi seseorang atau suatu kelompok. Sejatinya sikap demikian harus dihindari bahkan kita harus dihilangkan agar dalam setiap gerak gerik langkah kita terbangun rasa kebersamaan dalam setiap segi hidup dan kehidupan bermasyarat, berbangsa dan bernegara.


Kebersamaan di Masa Remaja

Masa remaja adalah masa yang berapi-api, masa dimana sangat mudah untuk dipengaruhi pola pikir dan tingkahnya. Pada masa remaja pola pikirnya masih labil. Apapun yang ditransfer atau yang telah dia amati akan menjadi patokan dalam berpikir dan bertindak. Jika yang diamati atau diperoleh dalam pergaulan, di suatu lembaga formal pendidikan, atau yang diperolehnya dari tokoh panutan masyarakat merupakan sesuatu yang baik (nilai moral, kebersamaan, kesederhanaan, menghargai, budi pekerti, kerja keras, tanpa pamrih, rendah hati, suka menolong, dll), maka itulah yang akan menjadi landasan berpikirnya (mind set). Demikian pula sebaliknya  jika yang mereka peroleh dalam kesehariannya adalah suatu kejanggalan perilaku (berkelahi, berjudi, minum-minuman beralkohol, berzina dll), maka yang demikian akan menjadi mind set-nya pula. 

Terkadang, ada anggapan bahwa perilaku tidak senonoh merupakan perilaku yang wajar baginya karena itu merupakan cerminan dari apa yang mereka lihat dan amati dalam pergaulan. Parahnya, mind set mereka sudah tertanam bahwa tindakan demikian sebagai bentuk pengakuan diri bahwa mereka hadir dan ada. Dan itu butuh pengakuan dengan cara-cara yang tak wajar menurut etika dan norma masyarakat, namun hal yang lumrah baginya. Tak peduli, tindakan itu berdampak buruk atau tidak bagi dirinya dan orang lain.
Membangun pola pikir (mind set) remaja agar mempunya rasa atau keinginan untuk bersama-sama dalam hal kebaikan, perlu ada dorongan atau didikan dari berbagai pihak, baik didikan dalam rumah tangga, didikan lingkungan sekolah, maupun didikan dari lingkungan masyarakat pada umunya.

Dedikan di rumah tangga yang diperankan orang tua, memberikan pemahaman dasar pada anak-anaknya agar nilai religius dan pentingnya membangun kebersamaan bila berada dalam  suatu lingkungan tertanam dengan baik dalam pribadi dan tingkah laku anak-anaknya. Didikan di lingkungan sekolah yang dilakoni para guru, sepatutnya mendidik anak-anak didiknya dengan hati. Mendidik dengan hati akan melunakkan kekerasan yang dominan diperankan kaum remaja. Apabila seorang guru mendidik dengan hati, sekeras atau sebandel apapun anak didiknya dalam lingkup sekolah, maka akan luluh dengan didikan hati seorang guru yang penuh kasih sayang. Pada dasarnya remaja ingin mendapatkan transferan ilmu dari para gurunya dengan cara yang lebih santun dan penuh kesabaran, dengan harapan anak remaja mampu menyerap dengan indah apa-apa yang guru sampaikan dan selalu mereka ingat pancaran nilai-nilai tersebut sampai kapan pun dan dimanapun.

Didikan masyarakat, melibatkan semua unsur masyarakat. Remaja, seberapa bandel pun mereka, pastilah ada keinginan dalam hatinya mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat. Tinggal diarahkan melalui apa yang mereka bisa dan apa yang mereka mampu lakukan.

Seorang tokoh masyarakat yang mempunyai ilmu tentang keagamaan (guru ngaji) misalnya, dapat memainkan peran didikan bagi remaja untuk mengajarkan bagaimana membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Kontribusi guru ngaji sangan besar dalam suatu masyarakat kita, karena kemurahan hati dan kegigihan mereka mengajarkan baca Al-Qur’an kepada remaja-remaja dalam suatu masyarakat sangat besar. Buah kegigihan mereka jualah, banyak remaja yang sudah mahir mengaji.

Dalam suatu masyarakat, perlu juga membangun suatu wadah pemersatu bagi remaja yang berada dalam suatu masyarakat. Wadah tersebut dapat berupa komunitas atau organisasi remaja. Para orang tua dan tokoh masyarakat hanya perlu mengarahkan, terutama dalam agenda-agenda yang mereka lakukan yaitu agenda-agenda yang bisa membangkitkan rasa persaudaraan mereka sesama remaja. Misalnya, jika ada Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah, para remaja dapat mengerjakannya secara bersama melalui organisasi remaja yang mereka bentuk.

Bila ada suatu penyelesaian soal-soal atau pekerjaan rumah tersebut dirasa sulit untuk dikerjakan sendiri, disitulah wadah untuk mendiskusikan semua persoalan-persoalan yang dihadapi, karena seberapa besarpun suatu persoalan kalau dikerjakan secara bersama maka akan terasa mudah. Begitu juga sebaliknya, sesederhana apa pun suatu pekerjaan kalau dikerjakan sendirian akan terasa sulit adanya. Seperti halnya sapu lidi. Sapu lidi merupakan gabungan dari puluhan atau ratusan lidi. Jika satu lidi dipakai untuk menyapu batu sebesar genggaman tangan, maka patahlah ia karena satu lidi punya tingkat kerapuhan yang tinggi. Sebaliknya, jika batang lidi-lidi tersebut digabungkan jadi satu dalam satu ikatan akan menjadi sapu lidi dan juga akan bisa menyapu batu yang besarnya sebesar genggaman tangan tersebut. Oleh karena itu, makna atau hasil yang didapat dari suatu kebersamaan itu akan bernilai tinggi adanya.


Kebersamaan Pemuda/Mahasiswa

Pemuda/mahasiswa merupakan agen pengontrol (agent of control) dan agen perubahan (agent of change). Di tangan pemuda/mahasiswa bisa membuat atau menciptakan suatu perubahan dalam suatu lingkup masyarakat, bangsa, negara, bahkan dunia. Sifat dan karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent), dengan kemurnian hati dan pikiran seorang mahasiswa bisa merangkul dari aspirasi semua kalangan, lebih-lebih untuk kepentingan masyarakat menengah ke bawan. Bahkan seorang Soekarno pernah berkata “berikan saya sepuluh pemuda, maka saya akan bisa mengguncangkan dunia”.

Itulah sejatinya prestasi yang akan diraih oleh pemuda/mahasiswa bilamana mereka menyatukan ide, pikiran, gagasan, dan bersama-sama melangkah melakukan perubahan untuk masyarakat, bangsa dan negara tercinta ini, maka suatu perubahan yang nyata akan terlihat atau terpampang dengan jelas dari buah tangan atau karya pemuda/mahasiswa.

Seperti halnya masyarakat Desa Ncera yang memiliki banyak pemudanya yang melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Hampir 90% remaja yang telah lulus SMA melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, bahkan orang yang telah berkeluarga merasa terpanggil hatinya berkeinginan mengambil bagian untuk melanjutkan studi. Di lihat dari sebaran daerah tujuan studi sangat beragam,  ada yang tetap tanah kelahiran (kabupaten/kota Bima), ada juga yang merantau lebih jauh ke Lombok, Mataram, Bali, Semarang, Malang, Surabaya, Bandung, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Kalimantan, kota Gudeg Yogyakarta, dan bahkan di luar negeri.

Sudah menjadi rutinitas tiap tahunnya, bila mendekati liburan panjang kuliah, para mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari desa Ncera yang kuliah diberbagai penjuru kota di Indonesia, mereka yang tergabung dalam organisasi daerah. Di Mataram mereka berkumpul bersama menyatukan ide dan pikiran mereka dan merencanakan terkait program yang akan mereka laksanakan di kampung halaman nanti bila musim libur panjang kuliah tiba, begitu juga yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswi Ncera yang berada di Makasar, Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Masing-masing kota mempunyai program kerja yang dilaksanakan untuk kebaikan tanah kelahiran.

Tak sedap rasanya kegiatan mereka dilakukan berjalan sendiri-sendiri. Sikap demikian menunjukkan pada masyarakat bahwa mahasiswa yang notabene kalangan muda terlihat tidak kompak dan satu pikiran. Sikap dan tindakan demikian layaknya dicari jalan bersama agar pandangan masyarakat dalam melihat gerak gerik pemuda/mahasiswa menyatu dalam satu kesatuan dan bingkai kebersamaan yang utuh.

Sikap demikian bukanlah tidak bagus, hanya tidak indah dipandang karena terlihat tidak adanya kekompakan pada semua elemen pemuda/mahasiswa. Sudah saatnya semua elemen pemuda/mahasiswa tersebut duduk bersama menyatukan ide, pikiran, gagasan, dan dijalankan secara bersama-sama. Tidak ada lagi mengatasnamakan organisasi dan melaksanakan kegiatan tanpa koordinasi dan kebersamaan seluruh unsur pemuda dan mahasiswa. Mari kita bersama menyatu dengan indah layaknya lidi-lidi yang berserakan dikumpulkan jadi satu, membentuk satu kekuatan yang utuh, yaitu kekuatan untuk membangun suatu masyarakat, bangsa dan negara. Malu rasanya sikap dan sifat individual seperti itu dipertahankan, terlebih mengingat kiprah sejarah pemuda/mahasiswa tahun 1998 yang kala itu berhasil menumbangkan rezim lalim berkat kekuatan dari kebersamaan dan persaudaraan yang menyatu.


Kebersamaan dalam Masyarakat

Hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat syarat akan nilai kebersamaan. Itulah sejatinya hidup dalam bermasyarakat yang telah menjadi tradisi dari masa ke masa sejak ribuan tahun silam. Kebersamaan tersebut terpatri melalui nilai-nilai yang tertanam dalam pribadi-pribadi masyarakat. Di antaranya gotong royong, musyawarah mufakat, dan senasib sepenanggungan, ramah tamah, dll. Dalam suatu masyarakat syarat akan rasa gotong royong yang tinggi, sebagai contoh, bila mana ada suatu pembangunan untuk keperluan bersama, maka masyarakat yang berada disekitar berbondong-bondong datang dan mengekspresikan rasa kebersamaan mereka dengan bentuk yang mereka bisa.

Pembangunan masjid misalnya masyarakat terbiasa berbondong-bondong datang untuk melakukan apa yang mereka bisa, ada yang menyumbangkan ide, gagasan, tenaga, atau menyumbangkan sejumlah uang untuk pembangunan tersebut. Begitupun halnya jika ada persoalan dalam suatu kehidupan bermasyarakat, maka musyawarah mufakat haruslah dikedepankan.

Itulah sikap-sikap kolektifitas yang harus tertanam dalam hidup dan kehidupan dalam suatu masyarakat. Tatkala kita ingin menggapai tujuan yang mulia sejatinya kita harus melaksakan tujuan tersebut secara bersama-sama agar suatu persoalan sesulit apapun dapat diselesaikan secara bersama-sama. Semoga penggalan tulisan ini menjadi bahan bacaan untuk kita renungkan bersama-sama bahwasannya nilai kebersamaan (kolektifitas) sangatlah tinggi manfaat dan kegunaan yang bisa didapat dalam menggapai tujuan mulia.[Jamil].

NB: Tulisan ini telah diterbitkan di Buletin FIMNY Edisi Spesial Idul Fitri 1434 H (8-10 Agustus 2013) yang akan disebarkan di tiap-tiap masjid di Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, NTB

Sesalku Pada-Mu

Menjalani hitam dan putih hidupku, membuatku mengerti
Bahwa diriku telah jauh tenggelam dalam lumpur dosa
Dunia telah membawaku ke alam fatamorgana
Yang keindahannya hanya menyelipkan luka dan kesedihan
Semakin aku terlena dengannya, semakin aku berpaling dari engkau
Diriku hanya berjalan dengan kaki yang tertatih
Yang membuatku tak menyadari bahwa dunia hanya persinggahan sementara

Akuterlelap terbuai keindahan yang fana
Saat senuanya membebaniku
Caahaya itu menerangi gelapnya hariku
Dan kini aku menyadari bahwa cintamu adalah
Kebahagiaan yang sejati untukku
Dan saaat kasihmu menyelimutiku
Hari-hariku terasa bagaikan di syurga

Hanya kepada engkau kaki ini melangkah
Hanya kepada engkau mata ini tertuju
Hanya kepada engkau raga ini berpasrah
 hanya kepada engkau jiwa ini bersandar

Terima kasih yaa RABBY karena engkau telah membasuh lukaku dengan kasihmu
Telah menitipkan secuil cahayamu padaku
Semoga aku bisa menjaganya selamanya
Amin……..


Yogyakarta, 29 Agustus 2012
Karya : Dedi Purwanto

Jiwa Persatuan

Ketika mentari enggan tuk bersinar
Rembulan bersemayam di balik awan
Jiwa tetap berpacu merangkul sepi
Raga tetap melaju menghipnotis sang waktu
Darah tetap memerah walau keringat bercucuran

Wahai sang pelita dengarkan aku yang berikrar
Kala gelap kala terang darah mudaku tetap menggempar
Menyapa semesta dengan nada merah putih
Membunuh perbedaan merapatkan barisan
Menepis tangisan menyapu derita

Aku di sini engkau di sana tetap dalam satu
Mengibarkan semangaat yang berapi
Menorehkan jejak yang teratur
Dengan jiwa yang bergejolak kita menyatu
Merintis peradabaan mengenggam harapan

bersatulah,,,bersatulah,,,,bersatulah,,
Biarkan dunia menjadi saksi
Kita berkobar dalam satu mimpi
Bergenggaman menatap kedepan
Kita melangkah dalam kepastian
Persatuan dalam pengiringan
Maju tampa lelah
Membunuh perbedaan menyatukan hati

Bersiapalah bertempur,,,
Demi satu yang di tuju
Aku taakan lelah berteriak
Walau hati tak mampu berteriak

untuk satu mimpi
Satukan barisan
Membangun peradaban

Yogyakarta, 27 Agustus 2012
Karya : Dedi Purwanto

Apatis Cinta

Tahukah sikapmu membuatku bosan
Tahukah kelakuanmu membuatku muak
Awalnya kau sisipkan sayang pada-ku
Awalnya kau celupkan cinta pada-ku

Tapi kini…
Kini kutak mengerti akan sikapmu
Kau acuhkan diriku
Kini ku tak mengerti akan maumu
Kau tak perduli akan perasaanku
Tak perduli akan perasaan kita
Yang dulu menyatu dalam ikatan janji


Yogyakarta, 04 Juni 2012

Ungkapan Hati

Detik
Kini berganti detik
Menit
Kini berganti menit
Jam
Kini pun jam berganti angka
Hari, bulan juga telah berganti

Namun hati ku
Namun cinta ku
Namun kasih sayang ku
Tetap utuh untuk mu
Tak mungkin berganti layaknya waktu

Rasa ku
Kangen ku
Cinta ku hanya satu
Itu diri mu

Wahai cinta ku
Berlinanglah selalu di lubuk hati ku
Wahai pujaan ku
Abadilah nama mu di sanubari ku
Abadikan cintamu hanya untuk ku
Abadikan rindumu untuk hati ku
Karna engkaulah belahan hati ku
Karna engkaulah belahan jiwaku


Yogyakarta, 20 Agustus 2011