Tan Malaka sebagai Guru Bangsa

Resensi Buku, FIMNY.org – Tan Malaka, merupakan sosok sang pemikir yang luar biasa yang pernah dimiliki Bangsa ini. Bukti bahwa beliau seorang pemikir yang hebat adalah lewat karya-karyanya, Partai Murba atau MADILOG (materialisme, dialektika, dan logika) merupakan salah satu karyanya yang monumental.

Tan Malaka mengakui memiliki banyak guru, tetapi tidak pernah meniru secara keseluruhan  corak pemikiran seseorang.  Bagi Tan Malaka, bahwa sistem berpikir tidak dibangun oleh ide seseorang, melainkan oleh keadaan dan berbagai peristiwa dalam lingkungan komunitas maupun masyarakat. Oleh karena itu, kehidupan adalah guru bagi Tan Malaka, sebagaimana ungkapannnya : “Lingkungan adalah guru sejatiku”. 

Tan Malaka lebih suka memilih menjadi guru bangsa daripada menjadi penguasa, secara  filosofis. Guru bangsa merupakan teladan, orang yang menjaga dan mengarahkan laju bangsa agar tetap pada alurnya sebagaimana yang disepakati bersama. Maka, bagi Tan Malaka sangat perlu mengetahui jati diri bangsanya terutama untuk para penguasa.

Tan Malaka pernah berkata : “Soekarno pernah berkata kepada saya, bahwa saya harus siap memimpin Negara ini, jika sesuatu yang buruk  menimpa beliu”. Pernyataan itu tidak di artikan mandat untuk menjadi penguasa, melainkan dipahami sebagai mandat untuk membimbing generasi muda dalam menapaki kehidupan bernegara. Sikap diatas menunjukan bahwa beliau tepat dan wajar jika beliau dijadikan sebagai guru bangsa.

Lokus kepemimpinan Tan Malaka lebih diarahkan pada pembentukn mental dan daya pikir bangsa. Pengembangan daya pikir inilah yang menjadikan Tan Malaka sebagai sosok yang penting bagi Soekarno dan para founding fathers maupun Pancasila.

Itulah beberapa alasan sebagaimana disebutkan diatas bahwa Tan Malaka tepat dijadikan sebagai guru bangsa sebagaimana yang termuat dalam buku ini. Karena loyalitasnya kepada bangsa ini tanpa ada belenggu maupun kepentingan pribadi.

Dalam buku penulis menceritakan corak pemikiran Tan Malaka dengan pendekatan spiritual-metafisik, maka dirasa penting untuk dibaca dan dipahami oleh siapun yang cinta kepada bangsa ini (Indonesia), terlebih kepada para pemuda dan kaum terpelajar untuk menumbuhkan loyalitasnya kepada bangsa dan mengetahui jiwa bangsa yang sesungguhnya, yang kemudian melahirkan pemimpin yang loyal dan tahu akan jati dirinya dan jati diri bangsanya.


Judul Buku    : TAN MALAKA The Leadership Secret Of
Penulis          : Argawi Kandito
Penerbit        : ONCOR Semesta Ilmu
Tebal Buku   : xii+124 Hal
ISBN           : 978-602-96828-9-2
Peresensi      : Agus Salim, Anggota Bidang Sumber Daya Manusia Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), Mahasiswa Jurusan Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Membongkar Kebenaran G 30 S-PKI

Resensi Buku
FIMNY.org – Tidak dapat kita pungkiri bahwa gerakan 30 September atau yang kita kenal G 30 S-PKI. Masih segar dalam ingatan kita, semua akan keganasan PKI. Sejarah dan perjalanan Indonesia kita pernah di hantam tragedi yang memilukan sekaligus memalukan. Tragedi G 30 S-PKI yang merupakan bagian dari sejarah hari kesaktian pancasila (1 oktober 1965). (hal 5)

Siapakah sebenarnya PKI? Pada tahun 1914 ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging) oleh Henk Sneevliet, yang kemudia pada tahun 1920, ISDV resmi diubah menjadi Perserikatan Komunis Hindia (PKH), dan Semaoen sebagai ketua. Kemudia selang empat tahun yaitu 1924, PKH dirubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). (hal 18)

Aksi PKI pada masa kolonial Belanda, pada November 1926 dengan alasan atau dengan sebuah cita-cita ingin lepas dari pemerintahan yang banyak menyengsarakan rakyat.(hal 27). Kemudian PKI melakukan aksinya pasca proklamasi atau pada saat pemerintahan orde lama yang di kenal dengan peristiwa Madiun (Madiun Affairs) adalah sebuah konflik yang terjadi pada bulan September-Desember 1948. (hal 37)

Kita tahu bersama lahirnya gerakan 30 September (G 30 S, G-30 S/PKI, Gestapu). Yaitu, sebuah kejadian yang terjadi pada tanggal 30 September 1965, pada peristiwa ini enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya diculik kemudian dibunuh. Peristiwa G 30 S-PKI terjadi karena beberapa faktor, yaitu menguatnya PKI di pemerintahan, keretakan Indonesia dan Malaysia, gesekan petani dan pemilik tanah, isu sakitnya Presiden, isu Dewan Jenderal, dan isu dokumen Gilchrits.(hal 93-118)

Lalu, bagaimana kronologi dari gerakan 30 S-PKI ini, ada beberapa perintah yang diberikan kepada pasukan-pasukan dalam gerakan 30 S-PKI. Yaitu pertama, pasukan Pasopati untuk menculik para Jenderal pimpinan TNI-AD dan membawanya ke lubang buaya. Kedua, pasukan Bimasakti yang ditugasakan untuk menguasai kota Jakarta yang terbagi ke dalam enam sektor. Ketiga, pasukan Gatot Kaca berfungsi sebagai pasukan cadangan bertugas menampung tawanan hasil penculikan kemudian dibunuh dan dikuburkan. Keempat, proses penculikan di mana setelah semuanya terkondisikan dengan baik maka semua pasukan yang disiapkan segera melakukan tugasnya masing-masing. (hal 123-129)

Dari gerakan-gerakan yang telah diatur oleh pasukan-pasukan PKI tersebut, tentu ada banyak korban dari gerakan 30 September itu selain enam tokoh utama pada saat itu. Dengan adanya kontroversi mengenai G 30 S-PKI, maka sangat perlu buku ini kita baca untuk lebih memahami tentang lahir, aksi, dan sampai akibat dari gerakan ini (G 30 S-PKI), terutama untuk kalangan generasi muda. Sebab, persoalan PKI telah merobek Bangsa dan Negara ini, maka patut untuk kita refleksikan kembali agar peristiwa yang serupa dapat kita jadikan pelajaran dan supaya tidak tejadi lagi di masa yang akan datang dengan bahasa dan nama yang lain. Supaya peristiwa yang menelan jutaan nyawa yang tidak berdosa tidak terulang kembali di Negeri yang kita cintai ini.


Judul Buku   : KONTROVERSI G 30 S
Penulis         : Herman Dwi Sucipto
Penerbit       : Palapa
Tahun terbit  : 2013
Tebal           : 234 hal
Peresensi     : Agus Salim, Anggota Bidang Sumber Daya Manusia Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), Mahasiswa Jurusan Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Ibn Khaldun Bapak Sosiologi Awal

Yogyakarta, FIMNY.org – Orang atau para sejarahwan tidak dapat memastikan kapan sosiologi itu lahir. Manusia telah memikirkan dan membangun teori tentang kehidupan sosial sejak zaman awal dalam sejarah. Namun, menurut tradisi yang berkembang saat ini bahwa sosiologi lahir atau menemukan pemikir yang secara jelas dapat disebut sosiolog yaitu pada tahun 1800-an. Revolusi politik (Perancis 1789) yang berlangsung sepanjang abad 19 merupakan salah satu faktor besar perannya dalam perkembangan teori-teori sosiologi.

Kelahiran sosiologi kerap kali dikaitkan dengan seorang filsuf Perancis yaitu Auguste Comte (1798-1857) yang dengan kreatifnya telah menyusun sintesis berbagai macam aliran pemikiran, yang kemudian mengusulkan untuk mendirikan ilmu tentang masyarakat dengan dasar filsafat yang kuat, untuk mengkaji gejala-gejala sosial (lihat. Sunyoto Usman, Sosiologi Sejarah, Teori, dan Metodologi, Pustaka Pelajar, 2012).

Tetapi, E. Durkheim-lah yang meletakkan sosiologi ke atas dunia empiris dan melepaskanya dari pengaruh aliran filsafat Auguste Comte. Melaui  kedua karya besarnya yaitu suicide (1951) merupakan hasil karya empiris terhadap gejala bunuh diri sebagai suatu fenomena sosial dan The Rule Of Sociological Method (1964) tentang konsep-konsep dasar metode yang dapat dipakai untuk melakukan penelitian empiris dalam lapangan sosiologi. Kedua karya inilah yang menempatkan sosiologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. (lihat. George Ritzer, sosiologi ilmu pengetahuan berparadigma ganda, PT Raja Grafindo Persada, 2011). Artinya, Auguste Comte berjasa pada pemberian nama sosiologi yang  berasal dari kata Latin socius (kawan atau sesama) dan dari kata Yunani logos (ilmu atau cerita). Jadi, pada awalnya sosiologi berarti bercerita tentang teman atau kawan (Masyarakat).

Namun, kalaupun kita menelusuri (mempelajari) sejarah munculnya dan berkembangnya ilmu pengetahuan pada umumnya dan sosiologi pada khususnya secara cermat dan mendalam. Maka, sesungguhnya ilmuan yang pertama kali mempelajari dan melakukan penelitian empiris tentang masyarakat maupun gejala-gejala yang ada didalamnya adalah Ibn Khaldun (sebagimana yang dilakukan oleh E. Durkheim dan para sosiolog saat ini) yang hidup beberapa abad sebelum Auguste Comte maupun E. Durkheim.

Ibn Khaldun lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332. Semasa hidupnya ia membatu berbagai Sultan di Tunisia, Maroko, Spanyol, dan Aljazair sebagai duta besar, bendaharawan, dan sebagai anggota dewan penasehat Sultan. Ibn Khaldun pernah di angkat menjadi guru di Pusat Studi Islam Universitas Al-Ajhar Kairo, karena kemashurannya. Dalam mengajarkan Sosiologi dan masyarakat Ibn Khaldun menekankan pentingnya menghubungkan pemikiran sosiologi dan observasi sejarah. Ibn khaldun telah menghasilkan berbagai karya yang mirip dengan pemikiran para sosiolog zaman sekarang. Ia melakukan studi ilmiah tentang masyarakat dan riset empiris maupun meneliti sebab-sebab fenomena sosial. Ia memusatkan perhatiannya pada lembaga-lembaga sosial (politik dan ekonomi) dan hubungannya dengan lembaga-lembaga sosial itu. Bahkan ia pernah melakukan studi perbandingan tentang masyarakat primitif dan moderen. (lihat. George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Soiologi Moderen edisi VI, Jakarta Kencana, Cetakan IV, 2007). Jadi, berdasarkan uraian tadi diatas maka sesungguhnya bapak sosiologi yang pertama (awal) adalah Ibn Khaldun, karena telah melakukan studi ilmiah, riset empiris, perbandingan masyarakat modern dan primitif dan hubungan lembaga sosial dengan masyarakat. Hanya saja Ibn Khaldun tidak pernah mencetuskan istilah sosiologi. Tetapi, telah melakukan kegiatan keilmuan yang berkaitan dengan masyarakat itu lebih awal dan mendahului para sosiolog setelahnya maupun para sosiolog modern sekarang ini.





* Penulis : Agus Salim, Anggota Bidang Sumber Daya Manusia Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), Mahasiswa Jurusan Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Profile Hamdan Zoelfa (Ketua Mahkamah Konstitusi)

Pria kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat, 21 Juni 1962 ini adalah seorang hakim konstitusi  dari 9 orang hakim pada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Ia adalah salah satu dari 3 hakim konstitusi pilihan Presiden Republik Indonesia. Pada tahun 1999 terpilih menjadi anggota DPR Periode 1999-2004 dari Partai Bulan Bintang. Suami dari R.A. Nina Damayanti, S.H. (pengacara) ini mengawali pendidikan di Madrasah Tsanawiyah, Bima (1975-1977), kemudian  melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Negeri, Bima (1977-1981) dan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar (1981-1986). Ia lalu memperdalam pengetahuan ilmu hukum program Magister Hukum bisnis di Universitas Pelita Harapan Karawaci, Tangerang (1999) akan tetapi tidak tamat. Mengikuti Kursus Pasar Modal Depkeu, Jakarta, 1994. Menyelesaikan Magister Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung, 2005. Meperoleh gelar Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran Bandung! Setelah mempertahankan disertasi yang berjudul Pemakzulan Presiden Republik Indonesia. Hakim konstitusi termuda dianugerahi rahmat oleh Allah SWT dengan memiliki tiga buah hati, yaitu: (Muhammad Faris Aufar, tanggal lahir 12-09-1992,Mahasiswa, ; Ahmad Arya Hanafy, tanggal lahir 13-08-1994, Mahasiswa, dan Ahmad Adib Karamy, tanggal lahir 10-11-2001, SD Al Ikhlas).Kiprahnya sewaktu menjadi anggota DPR cukup menonjol. Selain menjadi anggota Badan Musyawarah DPR RI, Wakil Ketua Komisi II DPR RI yang membidangi hukum dan peradilan. Anggota Badan Pekerja MPR RI Paniatia Ad Hoc III/1999 dan Panitia Ad Hoc I/2000-2002 Amandemen UUD,  juga menjabat Sekretaris Fraksi Partai Bulan Bintang DPR RI, dan Wakil Sekretaris Fraksi Partai Bulan Bintang MPR RI. Selain menjadi konstitusi, anak ke lima dari KH Muhammad Hasan ini, adalah menjadi dosen di Universitas IslamAssyafi’iyaah Jakarta, Universitas Jayabaya Jakarta serta menjadi Professor tamu di China University of Political Science and Law, Beijing China.
Sebelum menjadi anggota DPR ia sempat berprofesi sebagai Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas hasanuddin, Makassar (1986-1987) dan Asisten Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Alauddin, Makassar (1986-1987), Asisten Dosen Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia Makasar, semuanya mengajar mata kuliah Hukum Intrenasional. Kemudian ia beralih menjadi asisten Pengacara pada OC. Kaligis and Associates, Jakarta (1987-1990), mendirikan sekaligus menjadi Partner pada Kantor Pengacara Law Firm SPJH and J, Jakarta (1990-1997), mendirikan dan menjadi Managing Partner pada Kantor Pengacara Hamdan, Sudjana & Januardi (HSJ), Jakarta (1997-2004). Terakhir ia mendirikan dan menjadi Managing Partner pada Kantor Pengacara Zoelva&Partners hingga sekarang.
Dunia hukum, politik, dan guru adalah medan pengabdian baginya sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Karena ketiga bidang itu merupakan sarana pengabdiannya kepada Allah SWT, dan bentuk darma baktinya kepada masyarakat bangsa dan negara. Pada Muktamar Partai Bulan Bintang tahun 2005 di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, pria yang dekat dengan para aktifis ini menyerahkan dukungannya secara penuh kepada H.MS. Kaban,SE.,M.Si untuk menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Langkah politik ini dilakukan semata-mata untuk menjaga ukhuwah Islamiyyah. Perjuangan politiknya tidak terlepas dari pengasuhan orang tuanya. Ayahnya, H. Muhammad Hasan, BA adalah seorang pensiunan Guru Agama. Sementara, ibunya, Hajjah Siti Zaenab, seorang ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya.
Pria yang hobi olahraga golf ini menguasai bahasa Inggris secara aktif dan bahasa Arab pasif. Ia mempunyai segudang pengalaman organisasi antara lain: Anggota Ikadin (1994-2003), Anggota Asosiasi Advokat Indonesia dan Anggota Dewan Penasihat AAI (2005-sekarang), Ketua Badko HMI Indonesia Timur (1985-1987), ikut mendirikan dan Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (1998-2000), Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang (1998-2000), Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Bulan Bintang (1998-2005), Ketua DPP Partai Bulan Bintang (2000-2005), Wakil Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (2005-2006), Ketua Umum DPP Partai Bintang Bulan (2005-2010), Deputy Chairman Asean Muslim Youth Secretariat (AMSEC) kedudukan di Kuala Lumpur (2001- sekarang). Sejak 2005 sampai sekarang, ia juga aktif sebagai Sekretaris Forum Konstitusi. selain itu untuk menegaskan komitmennya terhadap kemajuan dan pengembangan pelasanaan otonomi daerah, sejak tahun 2007, pria berpenampilan rapi ini juga mendirikan lembaga kajian yang bernama Pusat Pengkajian dan Pengembangan  Otonomi Daerah (The Regional Autonomy Center) dan duduk sebagai Ketua Dewan Direktur. Sekarang ini ia juga dipercayai untuk menakhodai Partai Bintang Bulan sebagai penerus perjuangan Partai Bulan Bintang yang pada Pemilu tahun 2004 tidak mencapai batasanelectoral threshold. [hamdanzoelva.wordpress.com]

Saat ini menjadi ketua Mahkamah Konstitusi, setelah sebelumnya menjadi Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi.

BEM-F Syariah dan Hukum Gelar Sekolah Hukum Nasional

Yogyakarta, FIMNY.org – Membangun pengetahuan dan pengkajian hukum sangatlah perlu dan harus bagi mahasiswa Hukum, karena dengan mengasah pengetahuan bisa menjadi bekal kelak manakala telah lulus dalam gelar sarjana hukum-nya. Untuk menfasilitasi itu semua peran serta lembaga organisasi mahasiswa juga sangat perlu dan harus, agar membangun gagasan dan pemahaman hukum menjadi lebih tajam dan elegan.

Berangkat dari keinginan tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM-F) Syariah Dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 2013-1015 menyelenggarakan Sekolah Hukum Nasional dengan mengangkat tema “Mendidik Calon Praktisi Hukum Yang Cerdas, Loyal Dan Berkompeten” dengan mendatangkan pemateri yang memang ahli dibidangnya diantaranya :

1. M. Muslimin, SH., M.A. (Hakim Pengadilan Agama Yogyakarta)
2. Drs. Nurwahyudi, SH., M.Hum. (Hakim Pengadilan Agama Semarang)
3. Najib Ali Gysmar, SH. (Ketua ADVOKAD DIY)
4. Agus Supriyanto, SHI., MSI. (ADVOKAD Syariah)
5. Agung Wibowo, SH.,M.Kn. (Notaris & PPAT)
6. Lusia Nia Kurnianti, SH.,M.H., M.Kn. (Notaris & PPAT)

Rangkaian kegiatan Sekolah Hukum Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM-F) Syariah Dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut berlangsung dengan ramai yang mana diikuti oleh kurang lebih 100 orang mahasiswa, serta interaksi antara para peserta Sekolah Hukum Nasional dengan para pemateri juga berlangsung baik yang mana saling tanggap dengan persoalan-persoalan yang dipertanyakan.

Kegiatan Sekolah Hukum Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM-F) Syariah Dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut diselenggarakan pada hari Jum’at-Minggu tanggal 8-10 November 2013. Acara berlangsung dengan sangat meriah dan penuh khidmat yang diselenggarakan di Youth Centre (Gedung Pemuda Dan Olahraga) Sleman Yogyakarta.

Prodi Ilmu Hukum Gelar Pelatihan Rencana Dakwaan dan Tuntutan

Diambil dari FB Bpk. Ahmad Tahir
Yogyakarta, FIMNY.org – Surat dakwaan merupakan suatu surat yang diberi tanggal dan ditandatangani oleh penuntut umum, yang memuat uraian tentang identitas lengkap terdakwa, perumusan tindak pidana yang didakwakan yang dipadukan dengan unsur-unsur tindak pidana sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan pidana yang bersangkutan, disertai uraian tentang waktu dan tempat tindak pidana dilakukan oleh terdakwa, surat mana menjadi dasar dan batas ruang lingkup pemeriksaan di sidang pengadilan. bentuk-bentuk surat dakwaan itu sendiri diantaranya, Dakwaan Tunggal, Dakwaan Alternatif, Dakwaan Subsidair, Dakwaan Kumulatif, Dakwaan Kombinasi. Pengetahuan tentang tuntutan dan dakwaan juga sangat penting untuk mahasiswa hukum, oleh karena itu sangat elok bilamana bisa dipelajari lebih mendalam.

Dari suatu kegelisahan tersebut Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Rencana Dakwaan dan Tuntutan dengan mendatangkan pemateri yang memang ahli dibidangnya DIANTARANYA Bapak Andika, S.H. (Kejaksaan Republik Indonesia Bantul dan Bapak Dr. Budiono (Kejaksaan Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta) serta para moderator diantaranya Bapak Udiyo Basuki, S.H., M.Hum dan Bapak Ahmad Tohir., S.H.I.,LL.M.,MA.

Rangkaian kegiatan Pelatihan Rencana Dakwaan dan Tuntutan yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut berlangsung dengan ramai yang mana diikuti oleh kurang lebih 100 orang mahasiswa yang berasal dari Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta interaksi antara para peserta Pelatihan Rencana Dakwaan dan Tuntutan dengan para pemateri juga berlangsung baik yang mana saling tanggap dengan persoalan-persoalan yang dipertanyakan.

Kegiatan Pelatihan Rencana Dakwaan dan Tuntutan yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 16 November 2013 dari jam 08.00-16.00. Acara berlangsung dengan sangat meriah dan penuh khidmat yang diselenggarakan di ruang Techno Class Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Hadiri Diskusi Publik DPC PERMAHI Yogyakarta di Aula DPRD DIY

Yogyakarta, FIMNY.org – Pemilu 2014 dalam beberapa bulan lagi akan tiba, ajang yang akan menentukan masa depan Indonesia 5 tahun kedepan, bila mana rakyat Indonesia salah memilih wakil rakyat mendatang, maka 5 tahun kedepan bangsa ini juga akan merasakan penyebab dari salah memilih tersebut. Menurut aturan yang berlaku juga mensyaratkan adanya keterwakilan 30% kaum perempuan untuk ikut serta dalam pemilihan legislatif. Untuk mencoba mengupas persoalan-persoalan yang akan muncul terbut maka pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Yogyakarta (DPC PERMAHI Yogyakarta) menyelenggarakan Diskusi Publik dengan mengangkat Tema: "Membedah Peran Perempuan dalam Dunia Politik" yang diselenggarakan pada Hari Sabtu Tanggal 23 November 2013, Pukul 08.00-Selesai, yang bertempat di Aula Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mendatangkan pemateri yang memang ahli dibidangnya, diantaanya para Praktisi, Akademisi, Politisi Perempuan.

Dengan adanya agenda ini, oleh karena itu mengundang Seluruh lembaga Organisasi Mahasiswa Fakultas Hukum Se-Yogyakarta dan seluruh rekan-rekan anggota dan pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Yogyakarta (DPC PERMAHI Yogyakarta), serta seluruh Media Massa untuk menghadiri dan meliput acara tersebut. Acara ini diselenggarakan tidak dipungut biaya dan Gratiss...

Hadiri Diskusi Publik Ala ILC yang Diselenggarakan DPC PERMAHI Yogyakarta dan PSKH UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta, FIMNY.org – Ajang pemilu 2014 dalam beberapa bulan lagi akan tiba, ajang yang akan menentukan masa depan Indonesia 5 tahun kedepan, bila mana rakyat Indonesia salah memilih wakil rakyat atau Presiden dan wakil Presiden 2014 mendatang, maka 5 tahun kedepan bangsa ini juga akan merasakan penyebab dari salah memilih tersebut. Dari kegelisahan terbut maka pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Yogyakarta (DPC PERMAHI Yogyakarta) bekerjasama dengan Pusan Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Diskusi Publik dengan mengangkat Tema: "Re-Orientasi Pemilu 2014" yang diselenggarakan pada Hari Sabtu Tanggal 16 November 2013, Pukul 08.00-Selesai, yang bertempat di Kedai Nusantara Jl. Wahid Hasyim No. 77 Nologaten Yogyakarta. Konsep Diskusi ala Indonesian Lawyers Club, dengan mendatangkan pemateri yang memang ahli dibidangnya, diantaanya para Praktisi, Akademisi, Politisi, serta Komisi Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan adanya agenda ini, oleh karena itu mengundang Seluruh lembaga Organisasi Mahasiswa Fakultas Hukum Se-Yogyakarta dan seluruh rekan-rekan anggota dan pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Yogyakarta (DPC PERMAHI Yogyakarta), serta seluruh Media Massa untuk menghadiri dan meliput acara tersebut. Acara ini diselenggarakan tidak dipungut biaya dan Gratiss...

Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Gelar Pelatihan Legal Drafting

Yogyakarta, FIMNY.orgLegal Drafting merupakan salahsatu cabang Ilmu Hukum yang harus di kuasai oleh Mahasiswa Hukum, Legal Drafting juga sangat penting untuk diketahui, karena dengan berawal dari pemahaman pembuatan Legal Drafting maka kualitas Peraturan Perundang-Undangan yang dibuat akan berkualitas dan bisa menaungi kepentingan semua kalangan yang akan ditujukan dengan adanya peraturan Perundang-undangan yang akan di buat tersebut. 

Dengan adanya kegelisahan tersebut, agar memperkaya khasanah pengetahuan para mahasiswanya, Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta akan menyelenggarakan Pelatihan Legal Drafting yang diselenggarakan pada Hari Kamis, Tanggal 14 November 2013 pukul 08.00 WIB sampai selesai. Dengan pelatihan ini diharapkan semua mahasiswa khususnya mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta bisa mengetahui dan menguasai perihal Legal Drafting.

Pelatihan ini sangat langka dan sangat tinggi manfaatnya yang akan diperoleh untuk mahasiswa Hukum, oleh karena itu, hadirilah acara Pelatihan Legal Drafting tersebut pada Hari Kamis, Tanggal 14 November 2013 pukul 08.00 WIB sampai selesai di Ruang Techno Class Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan diselenggarakan dengan tanpa biaya (gratis).

LBH SIKAM gelar Sarasehan dan Penyuluhan Hukum di Pasar Klitikan

Yogyakarta, FIMNY.org – Pasar tradisional merupkan pasar yang pertama muncul atau yang pertama ada di Indonesia, pasar tradisional suga sangat berperan penting dalam menyediakan kebutuhan-kebutuhan masyarakat indonesia, dari sebelum berdirinya Negara Republik Indonesia ini lahir pasar Tradisional sudah ada, bahkan eksistensinya sampai saat ini masih bisa kita rasakan, ini merupakan salah satu langkah kongkrit dari konsep Berdikari (berdiri dengan kaki sendiri) yang pernah di gagas oleh funding futher bangsa ini, tapi lambat laun sampai akhir ini yang menjadi pertanyaan mendasar “kenapa pedagang tradisional masih dianak tirikan” dan sering disebut penadah? Itulah yang menjadi salah satu persoalan bangsa ini.

Dari kegelisahan terbut maka pengurus Lembaga Bantuan Hukum dan Studi Kebijakan Publik (LBH SIKAP) Yogyakarta menyelenggarakan Sarasehan dan Penyuluhan Hukum dengan mengangkat Tema: "Kenapa Pedagang Pasar Tradisional Masih Sering Disebut Penadah?" yang diselenggarakan pada Hari ini (Rabu Tanggal 13 November 2013, Pukul 12.00-Selesai), yang bertempat di Atrium Pasar Klitikan Pakuncen.

Dengan adanya agenda ini, oleh karena itu mengundang Seluruh masyarakat baik pedagang pasar tradisional maupun masyarakat pada umumnya yang mempunyai visi misi yang sama, serta seluruh Media Massa untuk menghadiri dan meliput acara tersebut. Acara ini diselenggarakan tidak dipungut biaya dan Gratiss...


DPC PERMAHI Yogyakarta Komisariat UIN Sunan Kalijaga Gelar Program Kerja

Yogyakarta, FIMNY.org – Adanya penentuan atau pembahasan program kerja yang matang dan elok akan mengarahkan berjalannya kepengurusan atau agenda-agenda satu periode mendatang terlihat rapi dan elegan, untuk menyusun dan membuat Program Kerja yang akan diselenggarakan satu periode mendatang (Periode 2013-2014), maka pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Yogyakarta (DPC PERMAHI Yogyakarta) Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan dan membahas Program Kerja pada Hari Jumat tanggal 08 November 2013 Pukul 15.00 WIB-selesai, yang bertempat di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dengan telah diselenggarkan Program kerja tersebut, pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Yogyakarta (DPC PERMAHI Yogyakarta) Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta bisa mengawali langkah-langkahnya dalam menyelenggarakan program-program kerjanya. Adanya komisariat diseluruh Fakultas Hukum di Yogyakarta adalah sebagai perpanjangan tangan dari pengurus Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Yogyakarta (DPC PERMAHI Yogyakarta) dan agar lebih mempermudah mengakomodir di para kader Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Yogyakarta (DPC PERMAHI Yogyakarta) di setiap Fakultas Hukum se- Yogyakarta.

FIMNY Gelar Diskusi Peringati Hari Sumpah Pemuda


Yogyakarta, FIMNY.org – Secara personal sudah menjadi kewajiban pemuda (mahasiswa) dalam meningkatkan intelktualnya. Salahsatu cara untuk memperkaya khazanah pengetahuan adalah dengan bertukar pikiran dengan cara Diskusi. Tidak terasa kemarin (28 Oktober 2013) Hari Sumpah Pemuda sudah menginjak 85 Tahun, dari 28 Oktober 1928 sampai 28 Oktober 2013, saat ini semangat dan tekat pemuda/mahasiswa masih melekat erat dalam tingkahlakunya, walau terkadang ada juga sebagian dari pemuda/mahasiswa masih ada yang merasa acuh tak acuh dengan kondisi kekinian, tapi paling tidak kita sebagai mahasiswa harus dan berkewajiban untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita terkait pergolakan-pergolakan yang terjadi beberapa puluh tahun silam (Oktober 1928).

Semangat atau nilai-nilai yang terkandung dalam kisah perjuangan para funding father kita kala itu apakah masih bisa disinergiskan dengan kondisi kekinian? Oleh karena itu, untuk mengupas tuntas persoalan-persoalan diatas, bertepatan dengan moment Peringatan “Hari Sumpah Pemuda” Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) menyelenggrakan Diskusi Rutin FIMNY dengan Tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Di Mata Pemuda” pada Hari Selasa tanggal 29 Oktober 2013 Pukul 19.00-23.59 WIB dengan pemateri/pengantar diskusi saudara Dedi Purwanto (Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta [FIMNY]) dan didampingi oleh moderator saudara Ismail Aljihadi.

Acara Diskusi Rutin FIMNY berlangsung sangat lancar dihadiri oleh kurang lebih 30 orang peserta, diantaranya dari anggota FIMNY itu sendiri dan ada juga dari teman-teman dari Organisasi Etnis Lainnya, seperti dari perwakilan dari organisasi Forum Mahasiswa Lambu (FORMAL) Yogyakarta, KEPMA Bima, dan orang-orang Bima lainnya yang melanjutkan studi di kota Gudeg Yogyakarta. Acaranya pun berlangsung dengan meriah dimana terjadi interaksi yang aktif antara pemateri dan para peserta, yang mana mereka saling memaparkan ide dan gagasan pengetahuan mereka dari sejarah awal lahirnya Sumpah Pemuda, proses berjalannya dan sampai kondisi kekinian yang dialami oleh pemuda/mahasiswa. Adapun acara ini dipersembahkan oleh Bidang Sumber Daya Manusia Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) dalam rangka peringatan “Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober” dan diselenggarakan di Ruang Aula Asrama Mahasiswa Bima-Yogyakarta yang beralamat di Gondosuli, Baciro, Kota Yogyakarta.

Suasana saat Diskusi

Karena Sejarah Adalah Hakikat Alasan Kenapa Kita Sampai Disini


Yogyakarta, FIMNY.org – fanding tuther kita bersama yaitu Presiden Republik Indonesia yang Pertama Soekarno pernah perucap atau berpesan pada masyarakat indonesia kala itu, beliau berucap “Jas Merah” (jangan pernah lupakan sejarah). Emang benar apa yang dilontarkan oleh funding father kita tersebut, karena bangsa yang melupakan sejarah adalah bangsa yang tidak akan pernah bisa berjaya.

Kemarin, tepatnya pada tanggal 29 Oktober 2013 dalam diskusi Rutin FIMNY dalam rangka memperingati “Hari Sumpah Pemuda” saudara Dedi Purwanto (Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta) disela-sela pemaparan materi dia mengungkapkan “Terkadang Kita Berfikir Bahwa Sejarah Hanyalah Rombengan Yang Tak Terpakai Lagi Namun Disisi Lain Dia Adalah Hakikat Bukti Itu. Terkadang Kita Menganggap Sejarah Adalah Sesuatu Yang Telah Berlalu Tapi Disisi Lain Dia Adalah Hakikat alasan Kenapa Kita Sampai Disini”.

Dari sejarah kita bisa melihat sejauh mana suatu permasalahan yang dialami oleh bangsa ini, dan sebisa mungkin kita saat ini sebagai pemuda/mahasiswa yang menyandang gelar Agen Perubahan (Agent of Change) dan agen pengontrol (agent of control) sudah sepatut dan selayaknya mengetahui dan mempelajari sejarah, dengan kita mempelajari sejarah kita akan bisa mengetahui persoalan-persolan dimasa lampau, dan kita ambil sebagai pelajaran, agar kedepannya bangsa Indonesia tidak mudah lagi di jajah oleh orang-orang asing yang ingin mengusik keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Revitalisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Di Mata Pemuda


Yogyakarta, FIMNY.org – Masih terasa aroma hari lahir sumpah pemuda ditengah-tengah kita. Tepat pada tanggal 28 Oktober 2013 ini kita memperingati hari sumpah pemuda. Dimana dengan adanya momen itu kita diajak oleh sejarah siapa kita sebenarnya dan untuk apa kita terlahir didunia ini. Mengutip perkata presiden pertama kita Soekarno “Jas Merah” ( jangan lupakan sejarah ). Terkadang kita berfikir bahwa sejarah hanyalah rombengan yang tak terpakai lagi namun disisi lain dia adalah hakikat bukti itu. Terkadang kita menganggap sejarah adalah sesuatu yang telah berlalu tapi disisi lain dia adalah hakikat alasan kenapa kita sampai disini.


Bagian Pertama: Sejarah Sumpah Pemuda

Jauh sebelum masa kemerdekaan dikumandangkan pemuda telah berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan, akan tetapi perjuangan itu masih bersifat etnis dalam arti pemuda hanya mempertahankan wilayahnya sendiri dikarenakan pada saat itu masih belum tersebar tentang isu akan suatu NKRI dan kemerdekaan. Terutama pemuda yang paling berperan penting pada saat itu adalah kaum santri. Mereka selalu melakukan aksi dalam bentuk Dakwah, Provokasi, Tausiah, Pengajian dan Perang. Ketika perlawanan itu terjadi, Belanda menaruh rasa takut dengan pergolakan ini terutama pemberontakan yang dilakukan oleh kaum santri. Dari itu Belanda melawan mereka dengan mengirim orang pribumi untuk belajar ke Belanda dengan maksud merubah pola pikir mereka dan supaya ketika mereka kembali nanti bisa menjadi kaki tangan orang-orang Belanda. Dari adanya sekolah ini banyak warga pribumi yang sudah menjenjang pendidikan sampai ke perguruan tinggi di luar negeri. Seiring dengan berkembangnya pola pikir mereka, banyak dari mereka yang sadar akan keadaan Negara mereka sendiri. Dari inilah salah satu faktor munculnya organisasi-organisai pemuda di Indonesia. Jauh sebelum kongres pemuda se-Indonesia ini ada telah banyak bermunculan organisasi-organisasi etnis, organisasi yang berbau islam, maupun organisasi pergerakan.

Gejala ini ditandai oleh lahirnya beberapa organisasi pemuda, yang bersifat nasional dan langsung memasuki gelanggang politik, yaitu:
Pertama: Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI)
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia didirikan di Jakarta tahun 1926 oleh 4 orang mahasiswa STOVIA dan Rechschoogeschool. Tujuan PPPI adalah menggalang persatuan dari seluruh organisasi pemuda untuk berjuang bersama-sama melawan penjajah Belanda. Untuk mencapai itu, sifat kedaerahan harus dihilangkan sebab hal itu hanya akan melemahkan persatuan.
Kedua: Pemuda Indonesia
Pemuda Indonesia didirikan di Bandung tanggal 20 Februari 1927 oleh pemuda terpelajar yang pernah belajar di luar negeri dan bekas anggota Perhimpunan Indonesia. Tokoh-tokoh PI antara lain: Sugiono, Yusupadi, Suwaji, Moh. Tamsil, Soebagio Reksodiputro, Asaad, Rusmali, Sunario, Sartono, Iskak, Budiarto, dan Wiryono. Tujuannya: untuk memperkuat dan memperluas ide kesatuan nasional Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu dilakukan usaha-usaha: mendirikan organisasi kepanduan, mengadakan kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya, memajukan olah raga, menerbitkan majalah, menyelenggarakan rapat-rapat, dan sebagainya.

Pemuda Indonesia dan PPPKI adalah 2 organisasi pemuda yang sangat aktif untuk mencapai cita-cita persatuan di kalangan pemuda. Mereka pulalah yang memelopori diselenggarakannya Kongres Pemuda I dan II sehingga melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda I diselenggarakan tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta dan dihadiri oleh wakil-wakil dari Jong Java, JIB, JSB, Jong Ambon, Sekar Rukun, Studerende Minahassers, Jong Batak, dan Pemuda Theosofie. Dalam kongres ini dapat ditekankan pentingnya persatuan dan kesatuan para pemuda, dalam suatu wadah tunggal untuk mencapai Indonesia merdeka. Tokoh-tokoh pemuda yang berpidato dalam kongres ini yaitu: Sumarto, M. Tabrani (ketua panitia), Muh. Yamin, Bahder Johan, dan Pinontoan. Kongres Pemuda I itu telah menerima dan mengakui cita-cita persatuan Indonesia tetapi gagal membentuk badan sentral. Sebab masih terdapat perbedaan pendapat dan kesalahpahaman di antara sesama anggota.

Seiring dengan munculkan isu tentang kemerdekaan dan NKRI maka perlu kemudian para pemuda bersatu untuk melawan penjajah. Untuk menaungi semangat pemuda itu maka tertuanglah dalam Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II.
a. Kongres Pemuda I (30 April - 2 Mei 1926)
Kongres Pemuda yang pertama ini dilaksanakan di Batavia (Jakarta). Kongres Pemuda I dilaksanakan dari tanggal 30 April - 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Muhammad Tabrani. Kongres pemuda I ini bertujuan agar pemuda terlibat dalam masalah sosial, kemerdekaan dan masalah yang lainnya. Pada kongres pemuda I ini belum membuahkan hasil yang memuaskan dikarenakan factor internal dan ekternal seperti : faktor internalnya, adanya rasis antara yang satu dengan yang lain, dan factor eksternalnya kuatnya kecaman belanda terhadap Indonesia. Sehingga menyulitkan untuk bersatu. (id.wikipedia.org)
b. Kongres Pemuda II
Pada 17 Desember terbentuklah permufakatan perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Program PPPKI adalah berusaha untuk mencapai dan menyamakan arah bagi aksi-aksi kebangsaan, memperkuat dan memperbaiki organisasi serta menghindarkan perselisihan antara anggota. (perpustakaancyber.blogspot.com)

Dengan terbentuknya PPKI maka terjadilah interaksi ke arah persatuan, antara organisasi orang dewasa dengan pemuda. Pada tanggal 3 Mei dan 12 Agustus 1928 diadakan rapat pembentukan Panitia Kongres Pemuda II oleh berbagai organisasi pemuda, yang hasilnya adalah:
* Ketua : Soegondo Joyopispito (dari PPPI)
* Wakil Ketua : Joko Marsait (dari Jong Java)
* Sekretaris : Muhammad Yamin (dari JIB)
* Bendahara : Amir Syarifudin (dari Jong Batak)
* Anggota : Johan Muhammad (JIB), Kocosoengkono (PI), Senduk (Jong Celebes), Leimena (Jong Ambon), dan Rohyani (Kaum Betawi)

Adapun maksud dan tujuan Kongres Pemuda II adalah: hendak melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda Indonesia; membicarakan masalah-masalah tentang pergerakan pemuda Indonesia; serta memperkuat perasaan kebangsaan Indonesia dan memperteguh persatuan Indonesia.

Kongres Pemuda II akhirnya berhasil diselenggagarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Kongres ini selain dihadiri oleh para utusan organisasi pemuda, juga dihadiri oleh organisasi orang dewasa, perorangan, anggota Volkstraad, pers dan sebagainya. Jumlah yang hadir kira-kira 750 orang. Kongres ini dikawal ketat oleh polisi-pilisi Belanda.

Keputusan yang terpenting yang diambil dalam kongres itu adalah pengakuan dan janji setia seluruh organisasi pemuda untuk: “Berbangsa satu, Bertanah Air Satu dan Berbahasa Persatuan Satu, yakni Indonesia”. Keputusan ini dicetuskan pada 28 Oktober 1928, kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Sebelum dibacakan itu diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” ciptaan Wage Rudolf Supratman walaupun tanpa bunyi teksnya. (id.wikipedia.org)

Bagian Kedua : Pemuda Dalam Pandangan Islam
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya & kemana dia keluarkan & tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi). Hadits ini jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakah salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dan itu sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda & para pemuda. Karenanya berikut sedikit keterangan mengenai pemuda dalam pandangan islam.

Oleh karena itulah para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum- memiliki andil & peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, & Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, & menyampaikannya kepada ummat sebagai  warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany & selain mereka yang gigih dlm menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, & masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini & akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.

Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu utk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka kabar gembira dari Nabi mereka -Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.” (al-atsariyyah.com)

Sebagai salah satu acuan pada zaman tabi’ut tabi’in. Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu contoh sosok pemuda yang berhasil dalam memimpin di masanya. Sosok Umar bin Abdul Aziz menghadirkan pribadi yang sungguh luarbiasa. Hal itu dapat terlihat dari kesucian jiwanya dan keagungan jejak hidupnya. Walaupun Umar bin Abdul Aziz tidak hidup pada masa diturunkannya wahyu namun ia mencoba mamindahkan masa wahyu itu kepada masanya, yaitu masa-masa yang penuh dengan kegelapan, penindasan dan diwarnai oleh fanatisme yang membabi buta. Pada masa itu, Umar bin Abdul Aziz mampu merubah tradisi Daulat Bani Umayyah yang rendah yang telah berlalu selama 60 tahun, menjadi masa pemerintahan yang indah, baik, adil, dan sejahtera yang mirip dengan masa Rasulullah Saw.

Dalam hal tersebut yang ia habiskan hanya memakan waktu dua tahun lima bulan dan beberapa hari saja. Keistimewaan dirinya inilah membuat Umar bin Abdul Aziz dan sejarah perjuangannya lebih mirip legenda daripada fakta. Umar bin Abdul Aziz menerima kekuasaan sebagai khalifah dikala ia masih muda. Saat itu usianya belum mencapai 35 tahun. Suasana yang ditemui Umar bin Abdul Aziz diawal kekhalifahannya telah memaksanya untuk menumpahkan perhatian yang lebih besar terhadap hak-hak manusia.

Bagian Ketiga : Revitalisasi Sumpah Pemuda 
Revitalisasi pada dasarnya bagaimana menghidupkan kembali atau menvital kembali segala sesuatu yang dianggap biasa dan kemudian supaya dianggap laur biasa. pemuda sebagai tongkat estfet perjuangan, sebagai agen perubahan (agent of change), agen pengontrol (agent of control), agen semangat, agen pengebrak dan calon pemimpin-pemimpin bangsa. Seperti perkataan presiden pertama kita soekarno “Berikan Saya Sembilan Pemuda Maka Saya Akan Merubah Dunia”. Ini berekses pada pemuda adalah puncat dari pada sendi-sendi Negara itu terutama Negara Indonesia. Dan untuk menaungi itu maka konstitusi juga mengatur tentang perang dan fungsi pemuda itu dalam UU No. 40 Tahun 2009 tentang “Kepemudaan” dan Peraturan Menteri Pemuda Dan Olah Raga  No. 0059 Tahun 2003 tentang “Pengembangan Kepemimpinan Pemuda”.

Bagian Keempat : Kesimpulan
Soekorno “perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri” dari adanya perkataan ini nasehatnya sebenarnya pada persatuan dan kesatu. Mari kita jaga itu semua.

“Terkadang Kita Berfikir Bahwa Sejarah Hanyalah Rombengan Yang Tak Terpakai Lagi Namun Disisi Lain Dia Adalah Hakikat Bukti Itu. Terkadang Kita Menganggap Sejarah Adalah Sesuatu Yang Telah Berlalu Tapi Disisi Lain Dia Adalah Hakikat alasan Kenapa Kita Sampai Disini”.


Bagian Kelima : Referensi 
Suwito, T, 2009, Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional,
 Jakarta, p. 368.
Undang-Undang No.40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan
Peraturan Menteri Pemuda Dan Olah Raga No.0059 Tahun 2003 tentang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda.
www.al-atsariyyah.com
http://id.wikipedia.org/
http://perpustakaancyber.blogspot.com


Ditulis Oleh : Dedi Purwanto, disampaikan dalam Diskusi Rutin Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) pada Hari Selasa tanggal 29 Oktober 2013, diskusi dilaksanakan dalam rangka memperingati “Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober”

Kearifan Lokal Budaya Daerah dan Jati Diri Bangsa

Yogyakarta, FIMNY.org  – Saat ini kita ingin mencoba memaparkan terkait pembahasan mengenai "Kearifan Lokal Budaya Daerah Dan Jati Diri Bangsa", yukk kita simak bersama-sama.

Kearifan Lokal:
1. Perangkat pengetahuan dan praktik-praktik (pengalaman) milik suatu komunitas di suatu tempat yang digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan atau kesulitan secara baik dan benar.

Ada dua jenis kearifan lokal: (1) Kearifan lokal warisan (berasal dari generasi-generasi sebelumnya); (2) Kearifan lokal berupa pengalaman berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat. (Heddy Shri Ahimsa-Putra: 2008).

2. Produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai local, nilai yang dikandungnya dianggap sangat universal (Gobyah, 2003).

3. Sumber pengetahuan yang diselenggarakan secara dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budaya sekitarnya. (Corline Nyamai-Kisia, 2010)

Wujud Kearifan Lokal:
1. Nilai-nilai yang diyakini mengandung kebenaran
- Etika, norma, moral dan hukum

2. Sistem ilmu-pengetahuan
- etos kerja yang melahirkan berbagai kreativitas: karya seni, teknologi, produk-produk material

3. Praktik-praktik berupa pola-pola interaksi dan pola tindakan yang menghasilkan: sistem sosial, sistem ekonomi, sistem politik dan sistem budaya.

Fungsi Kearifan Lokal
1. Sebagai panduan atau orientasi nilai kehidupan kolektif
2. Media/wahana penyatuan manusia secara vertikal dan horizontal (Tuhan-alam-lingkungan), misalnya tampak dalam aktivitas upacara adat
3. Perekat sosial (solidarity maker)
4. Referensi dan inspirasi untuk menjawab tantangan kehidupan, baik dalam kehidupan agraris maupun non-agraris;
5. Pendorong etos kreatif
6. Pembentuk karakter manusia (identitas, jatidiri).

Jati Diri Bangsa
Jatidiri adalah karakter yang mewujud dalam sistem berpikir, berekspresi, berperilaku dan berproduksi secara material yang dimiliki suatu bangsa. Di dalam karakter terkandung nilai-nilai: (a) integritas (kejujuran, ketulusan), (b) komitmen/tanggungjawab (keterikan/kesetiaan pada nilai kesanggupan) dan kapabilitas (kemampuan teknik dan non-teknis).
Dalam konteks bangsa, jatidiri mewujud pada sikap dan perilaku yang bermartabat atau memiliki kesadaran etis dan etos yang tinggi. Yakni kesadaran yang terbasis pada moralitas, norma dan hukum untuk menghasilkan karya-karya yang bermakna bagi kehidupan bangsa.

Memperkuat Jatidiri Bangsa
1. Kearifan lokal adalah sumber nilai, pengetahuan dan pengalaman yang harus diinternalisasi dan diintegrasikan dalam sistem bermasyarakat, berbudaya dan berbangsa untuk melahirkan kepribadian bangsa yang unggul.
2. Kearifan lokal berfungsi membangun karakter keindonesiaan yang berbasis kebhinekaan. Setiap kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang dari setiap budaya etnis layak dan patut untuk diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
3. Menjadi warga negara Indonesia merupakan orientasi utama yang berbasis pada otentisitas kearifan budaya etnis. Di sini bingkai kebhinekaan mampu merangkum dan memberi hak hidup bagi setiap budaya etnis. Keindonesiaan yang majemuk tidak melenyapkan identitas/jatidiri budaya etnis. Dengan demikian setiap budaya etnis memiliki kontribusi/sumbangan nilai yang penting untuk membentuk sosok keindonesiaan.
4. Sosok Indonesia yang ideal adalah sosok yang dibangun dari berbagai entitas suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Jadilah warga Indonesia yang tetap menjunjung tinggi budaya etnisnya dan mengapresiasi budaya etnis yang lain. Ini merupakan konsekuensi logis dari pilihan kita atas negara kebangsaan dan kesatuan yang berbasis pada kebhinekaan.
5. Kearifan budaya lokal adalah titik pijak bagi kesadaran untuk membangsa atau menjadi bangsa Indonesia. Kesadaran ini menjadi benteng kebudayaan dalam menghadapi dua arus besar yang berpotensi menggerus budaya lokal. Yakni (1) arus global yang tampak pada radikalisme pasar bebas. dan (2) arus radikalisme keyakinan (bisa agama dan non agama) yang mengancam kebhinekaan.

Arus Global
Menurut Arjun Appadurai (1997) arus global dibedakan menjadi lima dimensi, yaitu: (1) manusia-manusia global (ethnoscapes) seperti wisatawan asing, pekerja asing, (2) dimensi teknologi (technoscapes) seperti komputer dengan perangkat keras dan lunak, (3) dimensi keuangan (financescapes) seperti penanaman modal asing, pasar uang global, (4) dimensi media atau citra (mediascapes) seperti berita, cerita yang diangkat media cetak dan elektronik, dan dimensi gagasan/ideologi (ideascapes) yang berbentuk citra dan terarah pada bangunan ideologi politik dan sejenisnya (Umar Kayam, Kelir Tanpa Batas : 2001).

Kearifan Lokal dan Kewajiban Negara
Secara idiil dan konstitusional negara wajib melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan berbagai kekayaan budaya lokal/kearifan lokal. Kewajiban itu harus diwujudkan dalam regulasi yang melindungi hak hidup budaya lokal/kearifan lokal. Pelaksanaan regulasi tersebut harus didukung oleh politik anggaran yang memadai bagi kehidupan dan perkembangan budaya lokal/kearifan lokal. Turunannya adalah berbagai program yang mengintegrasikan budaya lokal/kearifan lokal ke dalam sistem pendidikan nasional dan sistem sosial, program kapasitasi (pembelajaran-pelatihan) para pelaku budaya lokal.


Makalah ini disampaikan Oleh : Indra Tranggono (Pengamat Budaya) pada saat Dialog Budaya Etnis, di Museum Benteng Vrederburg Hari Rabu Tanggal 16 Oktober 2013 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogykarta bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta

Mengenal Organisasi Etnis “IPMLY” Yogyakarta


Yogyakarta, FIMNY.org – Yogyakarta merupakan daerah istimewa dan merupakan kota pelajar, kebanyakan orang juga menyebut Yogyakarta sebagai Miniatur Negara, karena di Yogyakarta orang dari Sabang sampai Merauke ada di kota gudeg ini, di Yogyakarta juga banyak organisasi-organisasi Etnis, diantaranya adalah organisasi etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)”.

Organisasi Etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)” merupakan organisasi yang terdiri dari  sekumpulan anak muda yang mengaku sebagai generasi muda harapan yang mendambakan perubahan besar pada diri, keluarga dan masyarakat terutama pada bangsa dan negara. Dengan keberadaanya tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi besar kepada masyarakat sebagai agen perubahan (agent of change), agen social (agent of society) dan agen kontrol (agent of control) dalam bentuk pengabdian diri pada nilai-nilai yang berlandaskan pada kemaslahatan dan kemanfaatan bagi semua pihak, maka dengan landasan itu pula kami menjadikannya sebagai commitment bersama  untuk bergerak kearah yang lebih baik menuju perbaikan masa depan yang dicita-citakan.

Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY) berdiri pada awal berdirinya dirintis oleh 4 orang mahasiswa Kecamatan Lambu Kabupaten Bima diantaranya saudara Hendra Purnawan, Rustam, Rif’ah dan Eti Kurniawan, saat itu bertepatan pada hari Minggu tanggal 26 Desember 2010 jam 09.00 WIB, organisasi ini resmi didirikan atau dibentuk bertujuan untuk menyatukan pelajar dan mahasiswa Lambu yang berada di kota gudeg Yogyakarta khususnya sebagai wadah silaturrahmi dengan memperjuangkan hak-hak masyarakat yang kurang mendapatkan ketidakadilan, penindasan dan sebagainya. Selain itu  pula tujuan mendirikan organisasi ini juga sesuai dengan visi misinya yaitu menciptakan kader yang proaktif dan kritis.

Adapun Visi dan Misi Organisasi Etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)” adalah dengan Visi “Menciptakan Kader yang Proaktif, Kritis dan Humanis Terhadap Lingkungan Bagi Peradaban dan Misinya: “(1) Mengembangkan Budaya Kritis Terhadap Keputusan Pemerintah; (2) Membangkitkan Pemahaman Terhadap Nilai-Nilai Budaya Bima (Mbojo); (3) Melahirkan Pelajar dan Mahasiswa yang Mempunyai Jiwa Kepemimpinan Yang Tinggi; (4) Melakukan Koordinasi Dengan Stake Holder Pemerintahan Pusat dan Daerah”

Dalam hal ini proaktif yang dimaksud oleh Organisasi Etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)” adalah setiap kegiatan-kegiatan yang ada baik itu yang ada di masyarakat ataupun yang ada di lembaga pemerintahan. Kemudian kritis, dalam artian kritis terhadap keputusan-keputusan yang di keluarkan oleh pemerintahan daerah maupun pusat dan kejadian-kejadian yang ada di tengah masyarakat. Dengan berdasarkan pada nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila dan UUD 1945 dalam berbangsa dan bernegara, maka organisasi ini juga tidak terlepas dari prinsip dengan mengamalkan ajaran agama berdasarkan Qur’an dan Sunnah, sehingga organisasi ini menjunjung tinggi pada nilai-nilai kearifan local dan kebangsaan dengan terus belajar dan bekerja keras demi tercapainya tujuan bersama. Sebagai organisasi yang sangat muda dengan potensi yang sumber daya yang masih muda pula sangat menyadari untuk terus berbenah diri dan belajar mengikuti perubahan zaman dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu untuk membantu dalam proses pembangunan sekaligus program-program yang telah disepakati bersama baik dalam lingkungan internal organisasi sendiri maupun eksternal organisasi sampai pada akhirnya mendapatkan nilai yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam memperlancar roda organisasinya, saat ini Organisasi Etnis “Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)” dipimpin oleh sahabat Khairul Rizal, semoga dalam kepengurusannya organisasi etnis ini semakin jaya kan mengepakkan sayapnya demi tanah kelahiran, bangsa dan negara tercinta. Amin.

IKPMDI-Yogyakarta Gelar Sarasehan Mahasiswa Daerah


Yogyakarta, FIMNY.org – Indonesia dewasa ini sedikit demi sedikit semakin terkikis dan di korek oleh Negara tetangga, disamping itu juga jiwa nasionalis pemuda/mahasiswa sangat minim dalam mempertahankan keutuhan NKRI, yang mana kini sebagian mereka hanya mempertahankan ego dan kepentingan pribadi atau golongannya sendiri, oleh karena itu mulai dari sekarang dan mulai saat ini diharapkan semua kalangan merefleksikan diri kita masing-masing agar tidak terlalu bereforia dalam kesenangan sesaat dan bersifat pribadi atau golongan, agar situasi dan kondisi seperti ini tidak dimanfaatkan oleh golongan asing.

Dari suatu kegelisahan dan suatu persoalan tersebut Mahasiswa Daerah yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta menyelenggarakan Sarasehan Mahasiswa Daerah dengan mengangkat tema “Peran Mahasiswa Sebagai Generasi Muda Untuk Menegakkan Keutuhan NKRI” dengan mendatangkan tiga pemateri yang memang ahli dibidangnya dan mengupas tuntas terkait tema yang diangkat tersebut.

Rangkaian kegiatan Sarasehan Mahasiswa Daerah yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta tersebut berlangsung dengan ramai yang mana diikuti oleh kurang lebih 100 orang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke yang menembuh kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta,ldjdslkd serta interaksi antara para peserta Sarasehan Mahasiswa Daerah dengan para pemateri juga berlangsung baik yang mana saling tanggap dengan persoalan-persoalan yang dipertanyakan.

Kegiatan Sarasehan Mahasiswa Daerah yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta tersebut diselenggarakan pada hari Selasa Tanggal 30 September 2013 pukul 08.00-selesai. Acara berlangsung dengan sangat meriah dan penuh khidmat yang diselenggarakan di Ruang Seminar Lantai 2 Kampus APMD Yogyakarta.

Suasana Saat Berlangsungnya Acara

Dinas Kebudayaan DIY dan IKPMDI-Yogyakarta Gelar Dialog Kebudaan Etnis

Yogyakarta, FIMNY.org – Seperti yang dikenal masyarakat luas bahwasannya Daerah Istimewa Yogyakarta salahsatunya yaitu dikenal dari ranah kebudayaan. Disadari atau tidak Yogyakarta identik dengan miniatur negara, karena di kota gudeg ini orang-orang diberbagai daerah ada di sisini, mulai dari Sabang sampai Merauke, pada umumnya mereka yang berkunjung di Yogyakarta yaitu orang-orang yang ingin melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, selain itu juga tidak dipungkiri bahwasanya orang-orang dari sabang sampai merauke banyak juga yang datang hanya sekedar berwisata dan merasakaan kenyamanan Yogyakarta.

Dengan banyaknya para mahasiswa-mahasiswa dari berbagai macam daerah, bisa juga berpotensi sebagai suatu permasalahan, karena bisa saja mereka yang dari berbagai latar belakang etnis tersebut menimbulkan kecekcokan hanya karena sedikit permasalahan. Berangkat dari suatu kegelisahan tersebutlah, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan organisasi etnis Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta menyelenggarakan Dialog Kebudayaan Etnis Program Pengelolaan Keragaman Budaya Tahun Anggaran 2013 pada Hari Rabu, Tanggal 16 Oktober 2013 pukul 08.00-13.00 WIB dengan mendatangkan Pembicara yang memang ahli di bidangnya yaitu pada Panel sesi Pertama mendatangkan dua pembicara diantaranya Bapak Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum., berkesempatan menyampaikan perihal “Peran Nilai-Nilai Budaya Daerah Dalam Memperkuat Identitas dan Kebudayaan Nasional”, Pembicara kedua Bapak Drs. Indra Tranggono, berkesempatan menyampaikan materi terkait “Kearifan Lokal Dalam Budaya Daerah Sebagai Faktor Penting Dalam Upaya Memperkuat Jati Diri Bangsa” serta disesi kedua mendatangkan pemateri Bapak KH. Abdul Muhaimin (Ketua FPBU/DK DIY) dengan materi terkait “Peran Nilai-Nilai dan Moral Keagamaan Dalam Menjaga Keutuhan Masyarakat Yogyakarta yang Multikultural”.

Acara Penyuluhan Hukum tersebut berlangsung sangat lancar dihadiri oleh 70 orang peserta dari perwakilan Ikatan Pelajar Mahasiswa darin Sabang sampai Merauke yang berada di Yogyakrta. Dihadiri pula oleh berbagai perwakilan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Acaranya pun berlangsung dengan meriah dimana terjadi interaksi yang aktif antara narasumber dan para peserta yang menanyakan terkait persoalan-persoalan kebudayaan yang telah mereka amati.

Acara Dialog Kebudayaan Etnis ini dipersembahkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan organisasi etnis Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta, diselenggarakan di Ruang Seminar Museum Benteng Vrederburg Yogyakarta.

Mewujudkan Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa

Yogyakarta, FIMNY.org – Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya point-point pancasila terdiri dari 5, adapun kelima poin tersebut adalah: (1) Ketuhanan yang maha esa; (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab; (3) Persatuan Indonesia; (4) Kerakyatan yang dipinpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada tanggal 1 Oktober 2013 beberapa minggu yang lalu masih teringat dibenak kita, bahwa hari tersebut merupakan hari kesaktian pancasila, dengan harapan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya selalu kita aktualisasikan dalam bentuk ucapan dan tindakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan melihat kondisi yang sekarang ini semakin menjadi tantangan ke depan, karena nilai pancasila semakin terkooptasi oleh modernisasi yang tidak berkarakter.

“Rumah kita adalah Indonesia, itu harus dimunculkan dalam bentuk falsafah hidup. Jangan sampai seperti global citizen, kerja dimana dan tinggal dimana mengikuti tempat itu, harus ada identitas sebagai bangsa Indonesia.”

Untuk itu, implementasi Pancasila sebagai falsafah hidup coba diwujudkan antara lain melalui menyanyikan lagu “Indonesia Raya” setiap akan dimulainya rapat. "Minimal ada satu atau dua kalimat yang menyentuh hati, dan diimplementasikan dalam kehidupan.

Makna yang ingin dikedepankan pada setiap kali peringatan ini adalah bagaimana memperkokoh Pancasila sebagai sumber nilai jati diri bangsa dan sebagai pondasi sekaligus acuan dalam mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur dan sejahtera bersama tiga pilar dan konsensus nasional lainnya yaitu UUD 1945,  Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Dalam Ikrar disebutkan, bahwa sejak di proklamasikan  Kemerdekaan Negara  Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pada kenyataannya telah banyak terjadi rongrongan baik dari dalam negeri maupun luar negeri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rongrongan tersebut dimungkinkan oleh karena kelengahan, kekurangwaspadaan Bangsa Indonesia terhadap kegiatan yang berupaya untuk menumbangkan Pancasila sebagai Ideologi Pancasila. Dengan semangat kebersamaan yang dilandasi oleh nilai luhur Ideologi Pancasila, Bangsa Indonesia tetap dapat memperkokoh tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan dahulu dicetus¬kan pancasila oleh para pendiri bangsa kita (founding father) yaitu  karena mereka memiliki cita-cita bahwa nilai-nilai fundamental yang digali dari warisan sejati bangsa bisa membuat Indonesia melesat, andaikata funda¬men dasar itu dijadikan landasan pijak (common platform, atau kalimatun sawa). Namun kenyataan sekarang, ditengah gejolak sosial dan aspek-as¬pek dinamis mobilitas yang terjadi dalam masyara¬kat nilai-nilai pancasila kurang di anut lagi oleh kita, bahkanmemicu untuk dilakukan penafsiran-penaf¬siran yang kontekstual terhadap perkembangan jaman. Secara historis nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum dirumuskan dan di sahkan, secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Dalam hal ini berarti bang¬sa Indonesia merupakan kausa materialis Pancasila.

Yang menjadi tantangan sekarang ini adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan konteks perkembangan jaman. Hal ini sangatlah penting agar nilai-nilai Pancasila dapat ditumbuhkembangkan untuk menjawab tantangan jaman. (Jamaludin/FIMNY)

Ikrar Pelantikan Pengurus FIMNY Periode 2013 – 2015

Saat Ikrar Pelantikan Berlangsung
Yogyakarta, FIMNY.org – Berorganisasi identik dengan jiwa dan raga mahasiswa, karena sadar atau tidak sadar, dengan berorganisasi maka diri dan pribagi kita bisa terlatih dan terdidik mengatasi situasi dan kondisi segentir apa pun. Bila mana tiba saatnya pengurus organisasi yang akan menitikan jiwa dan raganya dalam satu periode kepengurusan, pasti pada saat pelantikan akan terlontar atau di ikrarkan sumpah sebagai bukti bahwasannya dalam satu periode kedepannya bersiap siaga dalam menjalankan roda organisasi dengan semaksimal mungkin dan dengan penuh harapan bisa direalisasikan apa-apa yang akan menjadi amanah untuk dijalankan dalam satu periode kedepannya.

Pada hari Sabtu tanggal 12 Oktober 2013 kepengurusan Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) untuk masa khidmat 2013-2015 telah resmi di lantik dan diambil sumpah jabatannya, adapun bunyi lafaz sumpahnya adalah sebagai berikut:

Bismillahirahmanirrahim

Asyhadu an laa ilaaha illa Allah,
Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.
Rodlitu billahi robbaa wabil Islaami diinaa,
Wa bi Muhammadi nabiyya warosuulaa.

Kami sebagai pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Peiode 2013-2015 dengan ikhlas karena Allah SWT kami bersumpah :
1.    Kami akan beriman kepada Allah SWT sebagai Tuhan kami dan muhammad SAW sebagai nabi kami.
2.    Kami akan Menjalankan amanah Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY).
3.    Kami akan melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) sesuai amanah organisasi.
4.    Kami akan abdikan jiwa dan raga kami untuk Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), serta untuk bangsa dan negara ini.

Semoga kiranya Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menolong dan meridlai perjuangan kita. Amin.

Itulah bunyi sumpah yang terucap dalam bibir-bibir lembut pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), mudah-mudahan amanah organisasi Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) bisa menyatu dalam darah dan nadi kepengurusan baru. Pengambilan sumpah ini dilakukan di Ruang Aula Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Regional Yogyakarta.

FIMNY Gelar Dialog Interaktif tentang Rekonstruksi Pancasila


 Yogyakarta, FIMNY.org – Dewasa ini nilai-nilai Pancasila hampir punah dimata masyarakat, itu terbukti adanya penyelewengan yang kerap kita bisa liat dan dirasakan baik yang tertera di media massa maupun yang sering kita jumpai di depan mata. Akankah Pancasila akan sirna ditelan bumi? Itulah yang harus kita jawab bersama sebagai agar nilai-nilai pancasila itu terus atau bisa tertanam membatu dalam jiwa dan pikiran anak bangsa.

Pemuda/mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) dan agen pengontrol (agent of control), sudah selayaknya kita merefleksikan diri kita dan mencoba menggali apasaja yang menyebabkan itu semua terjadi, agar nilai-nilai Pancasila terus tertanam membatu dalam diri dan pribadi setiap anak bangsa dan mentransformasikan dalam hidup dan kehidupannya.

Berangkat dari suatu persoalan tersebut, Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) menyelenggrakan Dialog Interaktif yang bertepatan dengan hari Pelantikan Pengurus Periode 2013-2015 dengan mengangkat tema “Rekonstruksi Nilai-Nilai Pancasila di Tengah-Tengah Generasi Muda” pada Hari Sabtu, Tanggal 12 Oktober 2013 mulai pukul 09.00-13.00 WIB dengan mendatangkan Pembicara yang memang ahli di bidangnya yaitu Bang Rio Ramabaskara, SH dan Ayahanda Muhtar, S.Pd serta didampingi oleh seorang moderator Kakanda Jamaludin, SEI., M.Ec.Dev.

Acara Dialog Interaktif tersebut berlangsung sangat lancar dihadiri oleh lebih dari 50 orang yang terdiri dari mahasiswa dan umum. Dihadiri pula oleh saudara Munajar (Ketua Umum Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia-Yogyakarta), Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima-Yogyakarta, Ketua Ilatan Pelajar Mahasiswa Lambo Yogyakarta (IMPLY) saudara Khairul Rizal, Ketua Umum Forum Mahasiswa Langgudu (FORMAL) Yogyakarta, dan ketua forum-forum lainnya yang berada di bawah naungan kepma. Acaranya pun berlangsung dengan meriah dimana terjadi interaksi yang aktif antara narasumber dan para peserta yang menanyakan terkait persoalan-persoalan yang di amati.

Acara Dialog Interaktif tersebut dipersembahkan oleh Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) dalam rangka Pelantikan Kepengurusan baru Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015, diselenggarakan di Ruang Aula Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri (Pusdiklat Kemendagri) Regional Yogyakarta di Jalan Melati Kulon Nomor 1 Baciro Kota Yogyakarta.

foto bareng usai dialog interaktif

FIMNY Gelar Pelantikan di Pusdiklat Kemendagri Regional Yogyakarta


Yogyakarta, FIMNY.org – Kepengurusan Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2011-2013 sudah usai, dalam perjalanan satu periode yang lalu banyak rasa pahit manis yang mewarnai berjalannya roda oranisasi, yang dihadapi ada suatu permasalahan dan ada juga suatu karya atau kegiatan nyata  yang memberikan pemahaman atau pondasi yang kuat agar berjalannya roda organisasi satu periode ke depan.

Ketua demisioner Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2011-2013 saudara Buhari Muslim menitipkan harapan besar untuk rekan-rekan yang memegang kendali kepengurusan Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015, "saya mengharapkan kepada pengurusan baru yang akan memegang estafet kepemimpinan satu periode kedepan, agar bisa mempertahankan eksistensi FIMNY dalam mengasah kemampuan para kader-kadernya serta orang-orang disekitarnya, mempertahankan jaringan yang ada dan memperluarluaskan jaringan diberbagai lembaga, baik lembaga-lembaga yang setara dengan FIMNY maupun lembaga-lembaga negara, karena pada dasarnya sebuah lembaga tidak bisa berdiri sendiri tanpa membangun jaringan-jaringan disemua lini, membangun jaringan merupakan kunci kesuksesan dalam sebuah lembaga, karena dengan banyaknya jaringan maka akan mempermudah berjalannya roda organisasi, tapi dalam konteks pembangunan jaringan jangan sampe melebihi batas-batas dari konteks yang bertentangan dengan konstitusi kita (AD/ART)", ungkapnya dalam sambutan terakhir dalam masa jabatannya.

 Untuk memperlancar roda organisasi satu periode kedepan, Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)  menyelenggarakan Pelantikan pada Hari Minggu, Tanggal 12 Oktober 2013 mulai pukul 09.00 WIB-selesai, pelantikan ini dilakukan oleh kakanda Jamaludin,SEI.,M.Ec.Dev. Acara Pelantikan Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015 berlangsung sangat lancar dihadiri oleh kurang lebih 50 orang yang trrdiri dari warga FIMNY itu sendiri dan para tamu undangan, Pelantikan Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) Periode 2013-2015 merupakan tonggak kepemimpinan FIMNY yang ke-4 dan yang dilantik yaitu ketua Umum saudara Dedi Purwanto dan para struktural dibawahnya. Pelantikan Kepengurusan kali ini Alhamdulillah berlangsung atau diselenggarakan di Ruang Aula Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri Regional Yogyakarta di Jalan Melati Kulon Nomor 1 Baciro Kota Yogyakarta.

suasana saat Pelantikan berlangsung

IKPMDI-Yogyakarta Andil dalam Perayaan HUT Kota Yogyakarta Ke-257


Yogyakarta, FIMNY.org - Yogyakarta merupakan salahsatu Daerah Istimewa di Indonesia, daerah yang dijuluki kota pelajar, daerah yang syarat akan budaya, daerah yang nyaman dan tentram, banyak para tokoh nasional yang terlahir dalam didikan kota gudeg ini.

Awal bulan beberapa hari yang lalu kota Yogyakarta ramai dalam perayaan menyambut Hari Ulang Tahun yang ke 257, anak-anak dari umuran Sekolah Dasar bahkan yang sudah tua merayakan hari jadi kota gudeg tersebut. Dalam hal ini yang ikut ambil bagian memeriahkan hari lahir kota Yogyakarta, tidak hanya dari kalangan masyarakat Yogyakarta, melainkan mahasiswa juga ambil bagian dalam perayaan ini.

Salah satu organisasi mahasiswa daerah yang ikut merayakan hari ulang tahun kota Yogyakarta adalah organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta.

Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta saudara Munajat mengatakan "walau kami yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta tidak hanya berasal dari Yogyakarta, tapi kami mempunyai rasa memiliki Yogyakarta ini, karena kita tahu bersama bahwasannya Yogyakarta merupakan miniatur Negara, karena orang dari sabang sampai Merauke saat ini ada di Yogyakarta" (07-10-2013).

Itulah rasa yang timbul dari hati dan diri mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta, organisasi ini mengumpulkan semua anggotanya untuk mengikuti Pawai Budaya yang berlangsung pada tanggal 07 Oktober 2013 yang berfinis akhir di alun-alun utara Yogyakarta dan mendengarkan arahan umum dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X di aula Kraton Yogyakarta. Akhir kalimat, Selamat Ulang Tahun Kota Yogyakarta yang ke-257, semoga selalu tetap eksis melahirkan karya dan budaya untuk bangsa dan negara ini. amin.


Mengenal Sejarah Organisasi “BEM-PS IH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta”

Yogyakarta, FIMNY.org – Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dengan selogannya sebagai Kota Pendidikan, karena banyak tokoh-tokoh nasional yang telah lahir dari hasil didikan di kota gudek ini. Di kota Gudeg Yogyakarta terdapat tiga Universitas Negeri, salahsatu diantaranya adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA). Berbagai macam organisasi lahir di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, baik Baik organisasi Eksternal maupun Organisasi Internal, salahsatu Organisasi Internal diantaranya adalah organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang pada awal berdirinya tahun 2009 lalu bernama Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (HIMA-IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Organisasi “Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang pada awal berdirinya tahun 2009 lalu bernama Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (HIMA-IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta”, merupakan Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan yang berkedudukan di  Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan didirikan pada tanggal 22 Agustus 2009. Ini berdasarkan Surat Keputusan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah dengan Persetujuan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan Nomor: 01/SKB/KBMF.SY/UIN/VIII/2009.

Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan lembaga eksekutif mahasiswa di tingkatan Jurusan atau Program Studi, yang berfungsi sebagai pelaksana harian pemerintahan mahasiswa di tingkat Jurusan atau Program Studi. Sebagai wadah untuk melaksanakan dan mengembangkan kegiatan kemahasiswaan khususnya di Prodi Ilmu Hukum. Sekian agenda pengembangan kepribadian dan peningkatan wawasan dan intelekual serta pengembangan bakat dan minat mahasiswa tersebut tidak akan bisa terwujud tanpa adanya sebuah kepengurusan di tingkatan Jurusan/Prodi. Dalam hal ini kemudian diejawantahkan dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) yang berperan sebagaimana hal tersebut di atas.

Pada awal berdirinya Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta [Kala itu masih bernama Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HIMA-IH)] pada Tahun 2009, yang pertama kali yang memimpin atau pun yang menjabat pengurus INTI (Pengurus Harian), bukanlah Mahasiswa dari Ilmu Hukum itu sendiri, itu semata karena pada saat itu para mahasiswa Ilmu Hukum masih sangat dini serta masih belum punya cukup keberanian memimpin Organisasi Setingkat BEM, karena pada saat itu mahasiswa Ilmu Hukum belum pernah menginjakkan kaki di Organisasi Mahasiswa (ORMAWA), pun kalau pernah berorganisasi, pada saat masih SMA (OSIS), melirik dari cuplikan diatas OSIS sangatlah jauh berbeda tingkatannya dengan  ORMAWA di kampus. Pada saat itu timbullah inisiatif dari BEM-F mengangkat ketua HIMA-IH dari Program Studi lain, Ketua Pertamanya yaitu Saudara ADI KUSNO, serta Mahasiswa Ilmu Hukum hanya berproses sebagai anggota dari berbagai Departemen-Departemen. Seiring berjalannya waktu tibalah saatnya kepengurusan baru, dan saat kepengurusan baru tersebut mahasiswa Ilmu Hukum bukanlah sebagai mahasiswa awam akan organisasi, serta pada saat itu juga para mahasiswa Ilmu Hukum mengatakan diri bahwa sanggup memimpin wadah HIMA-IH ini, sekarang sudah terbukti HIMA-IH bisa dipimpin oleh Mahasiswa Ilmu Hukum itu sendiri, itu terbukti dengan adanya Keputusan Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Nomor: DS-65 Tahun 2011, Tanggal 30 Juni 2011 Tentang Susunan Pengurus Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 2011-2012 dan saat itu yang diketuai oleh saudara Alimudin. 

Dalam memperlancar roda organisasinya, Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2013-2014 dipimpin atau diketuai oleh sahabat Alfan Alfian. Saat periode sebelumnya yaitu Periode 2011-2012 dipimpin oleh Alimudin, Wakil Ketua Irwandi Sido, Sekretaris M. Jamil, Wakil Sekretaris Rochati Mahfiroh dan Bendahara Ingga Dewi. Pada periode 2009-2010 dipimpin oleh Sahabat Adi Kusno (saat itu masih bernama Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta). Adapun sekretariatannya jalan Laksda Adisucipto di lantai 2 gedung Student Center Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.



Sebuah Hasil Wawancara LPM ARENA Pada BEM-PS IH UIN SUKA Periode 2011-2012

Yogyakarta, FIMNY.org – Ass.. Mas “…..” , saya dari ARENA pengen tanya beberapa hal. Sebelumnya saya minta maaf udah ganggu kesibukan anda. Tapi semua demi kebaikan UIN yang kita cintai ini.
Berikut pertanyaan saya:
1.    Komposisi BEM-IH antara Mahasiswa non gerakan dgn mahasiswa gerakan seperti apa? kalau yg gerakan, dari organ mana aja?
2.    Sejauh mana upaya yg dilakukan BEM-IH untuk mengajak mahasiswa non gerakan untuk masuk BEM?
3.    Apa tuntutan mahasiswa belakangan ini? kabarnya berkaitan dengan akreditasi ya?
4.    Apa tanggapan BEM terkait tuntutan tersebut?
5.    Banyak mahasiswa yang alergi sama BEM, apa tanggapan anda terhadap hal trsebut?
6.    Sejauh mana, peran dan kedudukan mahasiswa non gerakan bagi BEM?
7.    Apa harapan BEM terhadap mahasiswa non-gerakan?

Sekian dulu mas, ntar kalo ada yg perlu dikonfirmasi lagi, saya hubungi lagi.
Wass

JAWABAN:
Trimakasih sebelumnya saya ucapkan kepada ARENA yang sudi peduli terhadap kemajuan-kemajuan untuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, karena dengan bantuan informasi-informasi yang diliput oleh para Jurnalis di lingkup kampus khususnya ARENA, informasi-informasi tersebut sangatlah di butuhkan semua kalangan, khususnya kita di lingkup UIN Sunan Kalijaga, paling tidak dengan adanya informasi-informasi yang di liput tersebut bisa sekiranya tuk jadi bahan refleksi bersama untuk semua kalangan di lingkup UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu sendiri, semisalnya bagi mahasiswa agar bisa mengetahui apa yang harus dilakukan terkait isu-isu yang muncul di permukaan, dan untuk para dosen dan lebih khusus untuk Rektor UIN Sunan Kalijaga, dengan adanya informasi yang di liput para jurnalis kampus bisa juga sebagai acuan awal atau gambaran awal terkait kebijakan-kebijakan yang akan Rektor keluarkan, sehingga kebijakan-kebijakan tersebut tidak merugikan para mahasiswa. Tetap semangat dan selamat berjuang, siapapun diri kita/dirimu, apapun yang terjadi jangan memandang sesuatu dalam satu sisi, biar nilai yang terkandung dalam apa yang di liput bernilai positif dan membangun.

Yuuk kita fokus dalam jawaban diatas…

Poin Pertama: Sebenarnya cih kalau ditanya terkait komposisi yang dimaksut, dalam ruang lingkur Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) Intra Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, khususnya di Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak memandang dari organisasi mana dia berasal, untuk ketua BEM-PS IH, sesuai AD/ART Ormawa bahwasanya yang intinya “pemilihan ketua BEM-Jurusan secara langsung” oleh mahasiwa harus melewati dulu 2 kali pemilwa, karna pada saat itu Ilmu Hukum belum melewati 2 kali pemilwa maka penetapannya akan diberikan kewenangan khusus kepada Senat Mahasiswa Fakultas, pada awal ditetapkan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (SEMA-F) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebelum ditetapkannya untuk Ilmu Hukum khususnya waktu itu melewati proses yang panjang, yang mana pada saat itu SEMA-F mengintruksikan kepada mahasiwa Ilmu Hukum untuk memilih 3 orang yang sekiranya dijadikan wakil mahasiswa untuk menjadi Ketua BEM-PS IH (waktu itu masih HIMA-IH, red), dan dari ketiga orang tersebut SEMA-F akan menetapkan 1 orang, dan terpilihlah pada saat itu saudara Alimudin untuk jadi ketua BEM-PS IH (waktu itu masih HIMA-IH, red), penetapan adalah hak prerogative SEMA-F, dan tentunya disejui sama PD 3 (Pembantu Dekan Bagian Kemahasiswaan) dan dikeluarkanlah Surat Keputusan (SK) pengangkatan Ketua BEM-PS IH beserta jajaranya (waktu itu masih HIMA-IH, red) oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum…(jawaban yang saya uraikan diatas itu terlepas dari pencalonan seseorang untuk jadi sebagai ketua melalui jalur pemilwa, beda lagi kalo pencalonan ketua melalu jalur pemilwa pasti harus pencalonan melalu Partai-Partai yang diusung oleh Organisasi Ekstra),,, dan untuk anggotanya itu sendiri, pada awal perekrutan anggota biasanya diseleksi dengan ketat terkait keseriusan para mahasiswa Ilmu Hukum untuk berproses dan berjuang bersama di BEM-PS IH, dalam berorganisasi dibutuhkan komitmen untuk berjuang bersama untuk menjalankan program-program kerja yang telah dirancang bersama, kalau bisa berkomitmen siapapun bisa masuk dalam keanggotaan, karna sebuah komitmen itu adalah awal tiang penggerak organisasi, dalam menjalankan program kerja tidak ada pertanyaan-pertanyaan terkait organisasi apa dan pergerakan apa…dan saya berkesimpulan masih steril tak ada istilah bendera di sini….yach walau dalam perjalanannya seleksi alam yang berjalan, karna dengan kesibukan-kesibukannya masing-masing ada juga yang tidak sepenuhnya mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah di rancang dan dilaksanakan.

Poin Kedua: Seperti penggalan dari apa yang saya jelaskan juga di point pertama bahwasannya pada awal perekrutan anggota biasanya diseleksi dengan ketat terkait keseriusan para mahasiswa ilmu hukum untuk berproses dan berjuang bersama di BEM-PS IH itu sendiri, dalam berorganisasi dibutuhkan komitmen untuk berjuang bersama untuk menjalankan program-program kerja yang telah dirancang bersama, mau dia dari gerakan atau non gerakan, yang penting berkomitmen dan berkualitas menjalankan roda-roda organisasi, sebelum dilakukan penyeleksian dilakukan sosialisasi tiap-tiap kelas dan juga sosialisasi perekrutan melalui media Pamflet maupun media online.

Poin Ketiga: Yach..sebenarnya pertanyaan itu sudah terjawab sendiri olehmu terkait masalah akreditasi.,, baru-baru ini juga ada kegelisahan teman-teman ilmu hukum juga kegelisahan kami selaku pengurus BEM-PS IH yaitu terkait lambat adanya KAJUR baru dikarenakan KAJUR lama telah usai masa jabatannya. Yang pertama untuk mengenai Akreditasi, kita tahu bersama, pasti bahwasannya disetiap jurusan yang baru dibuka dalam suatu Universitas atau Pergurun tinggi, yang terlintas dipikiran para mahasiswanya pasti mengenai akreditasi, kegelisahan itu wajar dalam suatu jurusan yang baru dibuka, yang perlu teman-teman Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ketahui bahwasannya dalam waktu dekat ini akan diadakan lagi visitasi, dan semoga dalam visitasi kali ini akan menghasilkan seperti apa yang kita inginkan, yaitu mendapatkan Akreditasi yang memuaskan, kalaupun tidak mendapatkan Akreditasi A, mudah-mudahan kita mendapatkan Akreditasi B, oleh karnanya kita harus sama-sama berdoa untuk mendapatkan hasil yang memuaskan tersebut, yang perlu teman-teman ketahui bahwasannya untuk mendapatkan visitasi itu tidak cukup kalau kita hanya sama-sama berdoa, oleh karenanya juga kita harus melakukan sesuatu untuk mendukung cita-cita kita bersama tersebut. Adapun langkah-langkah yang perlu kita lakukan khususnya mahasiswa yaitu menciptakan suatu karya yang bernilai ilmiah serta mencetak prestasi-prestasi lainnya, dalam hal ini sebagai contoh kita dalam karya ilmiah yaitu, untuk yang angkatan 2009 mau tidak mau harus adanya lulusan pertama, dan Alhamdulillah poin itu telah kita dapatkan karna untuk saat ini yang sudah menyelesaikan skripsi dan telah munakosa ada 5 orang diantaranya Bagus Anwar Hidayatulla, Fitri Atur Arum, Zainal Muhtar, Jejen Hendar dan Ahdika Haris Hamdallah (5 orang tersebut jawaban pada wisuda pertama Ilmu Hukum saat itu, tetapi kalau sekarang lulusannya sudah lebih dari 50 orang), mudah-mudahan saya pribadi dan juga teman-teman yang lain menyusul mereka. Amin. Selain itu juga karya ilmiah lainnya seperti hasil penelitian, menulis di media massa, menerbitkan buku-buku, dan lain-lainnya. Untuk mendukung itu semua juga kalaupun ada penghargaan-penghargaan lain seperti piala, piagam, atau penghargaan lainnya itu juga bisa mendukung semua. Saya mewakili atas nama Lembaga Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (BEM-PS IH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menghimbau kepada seluruh civitas akademika Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bahwasannya jikalau ada yang mempunyai karya-karya seperti yang tergambar di atas harap menyampaikan kepada pengurus BEM-PS IH atau menyampaikan langsung kepada Kepala Jurusan Prodi Ilmu Hukum. Untuk yang selanjutnya yaitu terkait masalah Ketua Jurusan yang baru, mengenai ketua jurusan baru saat ini sudah jelas yaitu Bapak Udiyo Basuki, SH.,M.Hum dan Sekertaris Jurusannnya yaitu Bapak Ach. Tahir, SHI.,LL.M.,MA., semoga dalam kepemimpinan beliau-beliau bisa membawa Prodi Ilmu Hukum yang jauh lebih progresif lagi. Amin.

Poin Keempat: Untuk tanggapan mengenai hal tersebut BEM-PS IH selaku wakil dari Mahasiswa Ilmu Hukum pasti menanggapinnya baik, dan hampir setiap mahasiswa Ilmu Hukum yang kita jumpai memberikan motivasi mereka agar terus berkarya supaya apa yang kita inginkan bersama dapat terwujud, untuk tanggapannya juga udah saya uraikan panjang lebar diatas (lihat jawaban nomor 3).

Poin Kelima: Atas dasar apa teman-teman ARENA mengatakan bahwasannya para mahasiswa “ALERGI” sama BEM dan masuk BEM? Apakah sudah ada penelitian yang kuat terkait apa yang teman-teman ARENA lontarkan? Saya rasa, semua mahasiswa yang berjiwa organisatoris pasti menginginkan berorganisasi, apalagi masuk atau berproses dalam kepengurusan BEM, karna dalam berorganisasi kita akan menemukan jati diri kita, mendidik diri kita agar bisa bersikap dan bertidak demi kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi.. kita akan buang jauh-jauh ego-ego pribadi yang tertanam dalam diri untuk melangkah bersama dan kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama yaitu tujuan mahasiswa Ilmu Hukum maupun tujuan UIN Sunan Kalijaga serta Tujuan bangsa dan Negara.

Poin Keenam: Saya kurang paham dengan pertanyaan ini,,, yang perlu saya tekankan disini yaitu khususnya dalam BEM-PS IH itu sendiri tidak ada istilahnya pembagian antara mahasiswa gerakan dan mahasiswa non gerakan (yach pada dasarnya semua mahasiswa di BEM semuanya bisa bergerak dan menggerakkan, tetapi masih dalam lingkup porsi wewenangnya masing-masing, ia gak?), saya akan mencoba menjawabnya dengan dua sisi karna pertanyaan yang dilontarkan masih samar-samar, yaitu mahasiswa yang tergabung dalam BEM dan Mahasiswa yang tidak tergabung dalam BEM. SISI PERTAMA, yaitu mahasiswa yang tergabung dalam BEM, pada umumnya teman-teman yang berproses di BEM pasti mereka berkomitmen untuk menjalankan program-program kerja yang telah dirancang bersama, selalu semangat walau halangan dan rintangan yang menghadang, karna itu semua konsekuensi berorganisasi, pahit manisnya nikmati bersama (ini terlepas dari teman-teman yang jarang aktif dalam BEM-PS IH itu, kesibukan masing masing pasti bisa ditolerir karna itu semua hak individu masing-masing), tetap yang terpenting dari semua yang masuk di BEM-PS IH pasti ada action-action tersendiri untuk mereka mengekspresikan kecintaan mereka pada BEM-PS IH, dan itu sudah menjadi nilai lebih dari perjuangan mereka. SISI KEDUA, yaitu mahasiswa yang tidak tergabung dalam BEM-PS IH, sejauh yang saya amati bahwasannya teman-teman yang tidak masuk dalam BEM-PS IH juga banyak kontribusi yang telah mereka berikan khususnya untuk Program Studi Ilmu Hukum, itu terbukti, banyaknya karya-karya mahasiswa Ilmu Hukum yang di publis di media, seperti menulis di Koran-koran maupun majalah, dan ada juga yang mencetak prestasinya dalam dunia musik dan olahraga. Dan itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya dan bagi mahasiswa Ilmu Hukum pada umumnya.

Poin Ketujuh: Harapan BEM-PS IH pada semua civitas akademika Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (dalam hal ini bukan tertuju pada mahasiswa non-gerakan, tapi mahasiswa pada umumnya). Harapan BEM-PS IH pada semua civitas akademika Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu mahasiswa Ilmu Hukum diharapkan untuk tetap semangat dalam mencetak prestasi-prestasi akademik atau pun non akademik, terus berkarya, tetap semangat mengukir  dan menjelajahi arus pemikiran lebih matang dan lebih bernilai agar kesulitan atau permasalahan apapun yang ditemukan dalam lapangan/terbelih setelah selesai kuliah, bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan penuh tanggungjawab.


DEMIKIAN JAWABAN SINGKAT DARI SAYA, KURANG LEBIHNYA SAYA MOHON MAAF, KALAU ADA KEKURANGAN ITU SUDAH MENJADI SIFAT KETIDAK SEMPURNAAN SAYA DAN KALAUPUN ADA NILAI POSITIF YANG BISA DI AMBIL, ITU SUDAH MENJADI TITISAN YANG  DIBERI OLEH SANG PEMBERI TITISAN, DAN MUDAH-MUDAHAN BERMANFAAT…..SELAMAT MENJELAJAHI ARUS PEMIKIRAN DAN TETAP SEMANGAT




Sumber:
Diambil dari data Kepengurusan BEM-PS IH UIN SUKA Periode 2011-2012