Integrasi "Kemenangan" Menyelamatkan Ummat

FIMNY.org - Berbahagialah dan bergembiralah kita, para hamba Allah yang beriman, di hari Idul Fitri yang mulia ini, sebagai ungkapan syukur kepada-Nya, atas keberhasilan dan kemenangan kita insya Allah dalam memperoleh anugerah besar berupa bulan Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita. Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah Ilahi Yang Maha Rahman dan Yang Maha Rahim-Nya. Ramadhan yang bersenandung dengan keindahan tadarus dan tilawatil Qur’an.

Ramadhan yang bernuansa kasih sayang dan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan, Ramadhan yang berpesan kepada setiap insan agar senantiasa dekat dengan Sang Pencipta semesta alam dan Ramadhan yang diistimewakan dengan malam Qadar yang diagungkan melebihi seribu bulan. Semoga semangat dan nuansa Ramadhan yang penuh dengan aktivitas ibadah dan pengabdian kepada Allah tersebut akan senantiasa hadir dan mewarnai hari-hari kita di bulan-bulan yang lain, dan semoga pada hari yang agung ini kita benar-benar kembali kepada fitrah (kesucian) kita, dan kita selaku individu maupun ummat mencapai derajat taqwa yang menjadi target utama disyariatkannya puasa di bulan Ramadhan. Seperti Firman Allah yang Artinya:

“Wahai orang-orang yang beiman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi bertaqwa”. (QS.Al-Bakarah:183)

Derajat taqwa merupakan capaian tertinggi dalam tangga pengabdian seorang hamba kepada Sang Khaliq, karena taqwa merupakan sifat ubudiyah yang hakiki, di dalamnya tercakup semua aspek kehidupan beragama. Manusia bertaqwa adalah yang salalu menghadirkan Allah dalam dirinya (Dzikrullah), ia merasa bahwa pengawasan Allah selalu melekat pada setiap aktivitas hidupnya (Muraqabatullah) sehingga ia senantiasa berada di atas jalan ketaatan kepada-Nya dan tidak melanggar aturan-aturan-Nya (Imtitsalul-Awamir wa ijtinabun-Nawahi). Taqwa mencakup aspek keimanan, aspek ibadah, aspek akhlak, baik yang terkait dengan kehidupan sosial, politik, ekonomi, hukum; pidana dan perdata. Sifat Taqwa tetap harus menjadi landasan dalam kehidupan setiap individu, keluarga maupun masyarakat; berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya integrasi (Persatuan) ummat islam harus dilaksanakan oleh ummat itu sendiri, supaya tidak terjadi disintegrasi (Perpecahan) ummat islam yangsekarang dengan kita alami bersama.

Hari ini kaum muslimin merayakan hari kemenangan yang fitri, hari kemenangan yang harus kita syukuri dengan cara menjaga dan semakin memantapkan serta mengokohkan keimanan kita, bahwa janji Allah untuk menolong dan memenangkan kaum muslimin adalah sebuah keniscayaan.

Diantara makna kemenangan yang bisa kita tangkap dari hari yang penuh kebahagiaan ini adalah :

Kemenangan Iman atas Kekufuran

Kenapa keimanan itu pasti menang? karena, keimanan adalah kehidupan, sementara kekufuran adalah sebuah kematian. Keimanan adalah kehidupan hati seseorang yang mendapatkan pancaran nur Robbani yang menerangi kehidupan, sehingga seorang muslim mengetahui tujuan hidupnya, makna kehidupan, mengetahui halal dan haram, dan itu semuanya merupakan suatu dinamika kehidupan yang memberikan energi yang besar dalam mengarungi hidup ini, sehingga dia bisa kontinyu, produktif, dan selalu mempunyai energi yang besar untuk membangun masyarakat dan negaranya yang mempertahankn Integrasi (Persatuan) Ummat Islam. Berbeda dengan watak kekufuran yang selalu menyeret manusia kepada kehancuran, tindakan anarkis, mandul dan Disintegrasi (Perpecahan) Ummat Islam dalam memproduksi kebaikan. Firman Allah yang Artinya:

“Wahai orang-orang yang berimana! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerukan kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi anatara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” (QS:Al-Anfal:24)

Kemenangan Akhirat atas Dunia

Pada dasarnya, islam adalah agama dunia dan akhirat tetapi lembaga shiyam (puasa) dimana didalamnya kita di training oleh Allah untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa kaum muslimin mampu atas izin Allah untuk membangun obsesi dan cita-cita terbesarnya yaitu memprioritaskan kebahagiaan ukhrawi yang abadi dan mempertahankan Integrasi (Persatuan) Ummat Islam daripada terjebak ke dalam Disintergasi (Perpecahan) ummat Islam khusunya di Kab. Bima dan kesenangan duniawi yang sementara.

Dan itu nampak jelas dalam ibadah ramadhan selama satu bulan dimana kaum muslimin bisa menahan diri bukan hanya dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan yang syubhat tapi juga mampu meninggalkan sesuatu yang mubah. Kemenangan obsesi akhirat yang abadi atas dunia yang sementara juga bermakna kemenangan luasnya nikmat ukhrawi terhadap sempitnya dunia juga mengandung arti kemenangan kenyamanan yang abadi atas suasana dunia yang letih dan melelahkan. Dan bisa bermakna kemenangan yang hakiki atas sesuatu yang semu dan menipu.

Oleh karena itu Allah menegur kaum muslimin yang terjebak dalam kungkungan Disintergasi (Perpecahan) ummat Islam khusunya di Kab.Bima dan Indonesia pada umumnya, sehingga terjadi gempa bumi, sunami, lumpur Lapindo, Kemiskinanan/Kelaparan dan dekadensi moral, itu semua karena perbuatan manusia yang selalu mengikuti hawa nafsu. Kesenangan duniawi inilah yang membuat ummat islam berat untuk bangkit berjuang di jalan Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah yang Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman!mengapa apabila dikatakan kepadamu “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah “ kamu merasa berat dan tinggal di tempatmu?apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat?padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)di akhirat hanyalah sedikit” (QS:At-Taubah:38).

Kemenangan Kesungguhan dan Keseriusan atas Kemalasan

Gelora kemenangan di hari yang fitri ini mengingatkan kita semua bahwa madrasah ramadhan mentarbiyah kaum muslimin untuk mampu mengalahkan seluruh bentuk kemalasan yaitu kemalasan dalam memperbaiki diri dilihat dari dimensi akidah, pemikiran, mentalitas, moralitas, dan ibadahnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan madrasah ramadhan mampu mengantarkan kaum muslimin untuk menyingkirkan kemalasan yang merintangi dirinya dari upaya Integrasi (Persatuan) Ummat Islam dan pembentukan rumah tangga islami yang diterjemahkan ke dalam wujud seorang bapak yang sholeh, ibu yang sholehah, dan anak-anak sholeh. Mereka semuanya itu merupkan pengejawantahan dari Qurratu A’yun dalam setiap doa yang dikumandangkan oleh setiap keluaraga yang surgawi, sebagaimana firman Allah yang Artinya:“ Dan orang-orang yang berkata, “ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”(QS:Al-Furqan:74).

Nuansa rumah tangga yang surgawi ini nampak jelas didalam bulan ramadhan dimana bapak, ibu, anal-anak dan anggota keluarga lainnya berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah melalui sholat berjaamah, tilawah Qur’an, semangat berinfaq, mendalami ilmu-ilmu agama dan kebaikan-kebaikan yang lainnya, sehingga bulan ramadhan sebagai bulan ibadah bukan sekedar wacana dan slogan tetapi benar-benar sebuah kurikulum kehidupan yang diamalkan oleh setiap keluarga muslim.

Kemenangan Kesabaran dan Pengendalian Diri

Hari raya idul fitri adalah hari dimana kaum muslimin merayakan kemenangan kesabaran dan pengendalian diri dari seluruh yang diharamkan, bentuk-bentuk syubhat, al-lahwu dan al-laghwu, bahkan kemenangan dalam menghindari dari Disintergasi (Perpecahan) ummat Islam khusunya di Kab. Bima dan memperbanyak perbuatan mubah, sebab kaum muslimin yang jujur dalam keislaman dan keimanannya mereka harus produktif dalam mencetak amal-amal sholeh dan seluruh kebijakan-kebijakan yang dianjurkan oleh islam sehingga mereka tidak punya cukup waktu untuk melakukan perbuatan yang sekedar mubah hukumnya, sebab kewajiban dan tugas-tugas agama itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Oleh karena itu patut untuk merenungi ungkapan Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu yang Artinya :

“Kami adalah masyarakat yang meninggalkan sembilan persepuluh yang (mubah) karena kami khawatir terjatuh ke dalam yang haram”

Dari sini terlihat jelas bahwa generasi terbaik sepanjang masa selalu produktif dalam mencetak kebajikan-kebajikan dan waktunya tidak terbunuh oleh cengkraman perbuatan yang mubah apalagi yang syubhat dan haram. Kemenangan kesabaran dan pengendalian diri tidak sekedar berimplikasi duniawi tetapi juga mencakup dimensi ukhrawi dimana pahala orang yang sabar tidak bisa dihitung.

Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas” (QS:Az-Zumar:10)

Kemenangan Kepedulian Sosial

Hari raya idul fitri hendaknya dijadikan oleh segenap kaum muslimin agar selalu menjaga asset dan modal yang sangat mahal yaitu sebuah kemenangan yang mempertahankan Integrasi (Persatuan) Ummat Islam serta berkaitan dengan kepedulian sosial. Selama bulan ramadhan kaum muslimin di training oleh Allah untuk selalu peduli terhadap dinamika sosialnya, hal itu terlihat jelas dalam aktifitas kebersamaannya seperti: sholat berjamaah baik yang fardhu, tarawih, dan witir, ifthor jama’i (buka bersama), waktu sahur, mendengarkan ceramah-ceramah agama, pengumpulan zakat shadaqah dan infaq, dan aktifitas lainnya.

Kebersamaan ini tidak boleh berhenti hanya dibulan ramadhan saja tetapi kebersamaan dalam amal islami menuntut adanya kesinambungan dan kontinyuitas terpadu, sehingga kaum muslimin dalam beribadah dan perjuangannya terutama menghadapi kedzaliman, kemaksiatan, Disintergasi (Perpecahan) ummat Islam dari musuh-musuh Allah lebih mendapatkan barakah dari Allah SWT, karena Al-barakah wa’aljamaah (keberkahan itu selalu menyertai kebersamaan) kepedulian social ini akan tetap eksis selamanya bilan ummat islam mempertahankannya.

a. Integrasi umat (persatuan)

Persatuan dan kesatuan yang melahirkan kepedulian social meliputi kesatuan niat yaitu semata-mata karena Allah SWT dan kesatuan munthalak (titik tolak), kesatuan Ghayatuna (tujuan), dan kesatuan dan persatuan untuk senantiasa bermusabaqah dalam kebajikan yang didalamnya terdapat khidmah ijtima’iyyah (melayani masyarakat) yang merupakan kata kunci dari setiap pemimpin sepanjang masa. Dimana kita mengimani dan memahami bahwa umat islam harus menjadi umat yang terbaik termasuk memimpin dan melayani seluruh masyarakatnya. Firman Allah yang Artinya:

“ Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman tentulah itu lebih bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik”(QS:Ali Imran:110)

b. Muqawamah (perjuangan/perlawanan)

Kepedulian social akan selalu eksis di dalam diri kaum muslimin dan agenda perjuangannya ketika kaum muslimin selalu membangun dan memelihara semangat perlawanannya dalam memerangi seluruh bentuk Disintegrasi (Perpecahan), kemaksiatan, kedzaliman, ketidakadilan, keterbelakangan dalam setiap dimensi kehidupan, dan juga dalam menghadapi konspirasi global yang selalu dilancarkan oleh musuh-musuh islam, Allah Berfirman yang Artinya:

“ Dan demikianlah untuk setiap nabi kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuahanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka adakan”(QS:Al-An’am:112).

Terakhir, melalui mimbar ini marilah kita berjanji untuk senantiasa menjaga kemenangan-kemenangan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT, sebab kemenangan itu anugerah Allah yang wajib kita syukuri bersama.Yang Artinya:

“ Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikamat-Ku maka pasti azabku sangat berat”(QS:Ibrahim:7)

Demikian khutbah pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama dan memacu kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan dengan sikap dan prilaku yang Islami. amien. Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ied kita dengan berdo’a yang Artinya :

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

Artinya : Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Ramadhan Pembawa Nikmat

FIMNY.org - Kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah secara khusyuk dan tertib, merupakan nikmat Allah yang besar. Ibadah bernilai spiritual menjadi akar pembentukan sikap terpuji seperti; disiplin waktu, cinta kebersihan, sehat fisik, taat aturan, tuma'ninah (teratur), memiliki kesadaran prima (kontroling), bersikap hati-hati, tabah dan setia.

Sikap-sikap yang diperlukan mengarungi kehidupan kini dan menatap keberhasilan masa depan (dunia dan akhirat). Teranglah orang yang lalai dalam ibadahnya, cenderung akan melalaikan tugas-tugas yang ada didepannya, dan amat mudah untuk mengkhianati amanah yang dipetaruhkan padanya.

Ramadhan adalah bulan mulia yang selalu dinanti secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Penyambutannya membekas pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya di beberapa daerah yang masih kokoh dengan budayanya.

Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan. Orang Minang menyebutnya "bulan basaha" (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).

Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan marhaban bil-muthahhir, artinya, "selamat datang wahai pembersih". Sahabat bertanya,"Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapa yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)". Rasulullah SAW menjawab "al-muthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma'ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma'shiyat)".

Marhaban adalah kata yang kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan itu tersirat makna yang dalam Kegembiraan menyambut bulan basaha itu, diiringi kesiapan dan kelapangan waktu, keluasan tempat untuk melakukan tindakan yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa menuju kebersihan bersamanya.

Bersihnya diri adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) sebagai satu ibadah khusus di bulan Ramadhan, berperan membersihkan diri pelakunya. Sesuai firman Allah:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)". (QS.2, Al Baqarah: 183).

Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran yang berisi petunjuk, bimbingan, pembeda antara benar dan salah, penjelasan tentang paradigma hidup manusia.

Memasuki bulan Ramadhan wajib melaksanakan ibadah shaum (puasa). Meski sakit sekalipun, kewajiban puasa tidak gugur. Allah memberikan keringanan( rukhsah), berupa keizinan untuk mengganti puasa Ramadhan dengan berpuasa dihari (bulan) lainnya. Kalaupun masih tidak sanggup, karena sakit menahun, yang menyebabkan tidak bisa berpuasa, maka dapat digantikan dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin). Kondisi ini berlaku terhadap orang sakit (tua),yang tidak sanggup untuk berpuasa. Ketentuan Allah ini merupakan kemudahan bagi manusia.

Ajaran agama (Islam) sama sekali tidak memberatkan. Sehingga tidak ada alasan seseorang menolak melaksanakannya jika ia sebenar-benar mempercayai (mukmin). Pada hakekatnya puasa adalah ibadah khas yang membuktikan seorang benar-benar beriman (mukmin) serta mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan dirinya dan memberikan segala sesuatu keperluan yang diperoleh dalam hidup ini (jelasnya baca: Al Quran,Surat Al Baqarah (2) ayat 184-187).

Berakhlak Mulia adalah Buah Amaliah Ramadhan

Wahyu Allah mengingatkan kita, antara lain:

Artinya: "Dan tiadalah kami mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi Semesta Alam". (QS.Al Anbiya: 107).

Jika Nabi Muhammad SAW tidak diutus sebagai Rasul, maka Alquran pun tidak akan pernah ada, dan kita tidak akan tahu, bagaimana bentuk kehidupan manusia di akhirnya. Kebuasan binatang adalah soal biasa. Tetapi, kebuasan manusia akan menyisakan persoalan-persoalan, antara lain perkosaan manusia terhadap lainnya, pengrusakan alam lingkungan di obrak-abrik oleh kebejatan moral manusia. Kita wajib bersyukur kepada Allah, yang mengutus Muhammad disertai Alquran, untuk mengangkat derajat manusia menjadi yang paling mulia di antara makhluk yang ada.

Ajaran Agama Islam, mengarah kepada perubahan watak manu­sia, dan kepada tingkah laku dalam kehidupan. Ajaran agama, akan mengikat gerak dan jalan manusia. Ilmu pengetahuan agama, mempunyai satu tuntutan agar orang mengubah sikap dan tingkah lakunya, sesuai dengan perintah agama (perin­tah-larangan dari Allah SWT), dalam semua persoalan hidup manusia, dengan menunjukkan cara menyelesaikan seluruh problematik kehidupan manusia. Ajaran agama (yang bersumber dari Allah, dengan pedoman Alquran), akan menyembuhkan penyakit yang melanda manusia, yang melanda masyarakat manu­sia, lantaran kejahatan atau kerusakan moral manusia sendiri. Segala penyakit dan wabah yang merusak nilai-nilai kemanusiaan, akan disembuhkan secara total oleh ajaran agama, jika masyarakat manusia itu benar-benar thaat mengikuti ajaran agama (Allah) itu.

Kitapun, sebagai manusia, berada di permukaan dunia ini, mempunyai satu tugas suci, selalu memelihara nilai-nilai kemanusiaan kita, dengan cara yang ditetapkan oleh Maha Pencipta."Dan tidaklah diciptakan manusia dan jin, melainkan hanya untuk pengabdian kepada KU (Allah)", (Alquran). Pengabdian kepada Allah (beribadah), adalah memung­sikan akal, dan menempatkan manusia pada konsentrasi yang benar. Di sini agama tidak hanya berurusan dengan masalah sesudah mati semata, namun juga mengatur hakekat hidup manusia di dunia. Sebuah pertanyaan, sudahkah kita hidup sesuai dengan harkat itu? Kenalilah, bahwa Allah SWT telah memanggil dengan penuh kasih sayang-Nya, masihkah hati mengelak jauh dari Ajaran agamaNya? Maka sahutilah segera, dengan amal kebaikan.

Dalam hubungan sesama manusia, ada ajaran agama agaru mengulurkan tangan membantu orang lain. Ketika banyak daerah kita dilanda musibah, maka membantu orang lemah sebenar­nya menjadi bukti akan kuatnya iman. Membiarkan orang yang lemah menjerit, sesungguhnya memberi tahukan bahwa orang kaya dan mampu secara materi itu sebenarnya lebih lemah dari para dhu'afak yang menjerit tadi. Mereka orang berada itu sedang lemah, tidak berdaya melepaskan dirinya dari belenggu harta bendanya, sehingga mere­ka tidak sanggup menggunakannya untuk meringankan beban orang lain. Enggan membantu orang yang miskin, akan beraki­bat lebih jauh yakni Allah tidak memperhatikan orang kaya itu. Ketika suasana itu tiba, maka beban derita akan datang menghimpit hatinya. Na'udzubillah.

Bertaubatlah dengan Segera

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, " Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. " (Q.S. At Thahrim : 8).

Setiap mukmin memerlukan pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan. Tentulah kita tahu bahwa tidak seorangpun terlepas dari dosa dan kesalahan. Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW yang bersumber dari Anas bin Malik r.a: "Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat." (HR. Ahmad).

Dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia akan mengotori hatinya, bagai noda hitam di atas kain putih, tiada dapat dibersihkan kecuali dengan taubat. Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabda beliau, "Orang yang meminta ampun dari dosa seperti orang yang tidak berdosa".(HR. Bukhari). Dan Allah SWT berfirman "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Q.S. Al Baqarah: 222).

Syetan telah menjebak manusia dalam seluruh aspek kehidupan, dan menyesatkannya dari jalan Allah Akibatnya manusia terjauh dari jalan keselamatan dan terbukalah dengan lebar pintu-pintu jahannam dengan bujuk rayu syaithan sehingga manusia terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan dan dosa. Karena itu semestinyalah manusia segera bertaubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak boleh berputus asa di dalam bertaubat menuju kepada keampunan dari Allah, meskipun dosa-dosa sufdah memenuhi kolong langit. Allah adalah Maha Pencipta semua makhluk dan menguji semua amal perbuatan makhluk manusia itu. Siapapun yang menyadari akan banyaknya dosa dan ingin bertaubat menyesali semua kesalahannya itu, maka pintu taubat kepada Allah selalu terbuka dengan syarat, harus menghentikan maksiat dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dia lakukan. Selanjutnya dia mesti berazam atau berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Dan manakala dosa yang pernah diperbuat itu ada berhubungan dengan hak manusia maka dianya harus menyelesaikannya dengan meminta maaf atau mengembalikan apa-apa barang yang wajib ia kembalikan.

Keutamaan bagi orang yang segera bertaubat ialah Allah akan menyibukkan para malaikat-Nya untuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat dan berdoa kepada Allah agar Dia melindungi mereka dari siksaan neraka jahannam, lalu memasukkan mereka ke surga yang penuh dengan kenikmatan, serta memelihara mereka agar terjauh dari kejahatan dan kesalahan. Para malaikat yang membawa 'Arsy di langit sibuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat.

Allah berfirman: "(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), Ya Rabb kami, Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam sorga 'And yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan … Dan, orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar. " (Q.S. Al Mukmin, 40 : 7-9).

Amat banyak ayat-ayat di dalam Al Quran al Karim yang mengabarkan diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat manakala dilakukan dengan tulus dan benar. Penerimaan taubat semata adalah karunia, ampunan dan rahmat Allah. Rahmat Allah itu diberikannya kepada hamba-hamba yang beriman. Taubat yang sesungguhnya adalah memperbaiki semua kesalahan dan menyertainya dengan beramal shaleh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifati diri-Nya dengan Asmaul Husana seperti ditemui di dalam Al Qur'an, dengan sebutan at Tawwab (Maha Menerima Taubat).

Firman Allah : " Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan yang hingga apabila datang ajal kepada seseorang, barulah ia mengatakan, " Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ". Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. " (Q.S. An Nisaa' 4 : 17-18).

Jangan menunda-nunda taubat hingga datang hari esok. Maut itu datang secara tiba-tiba. Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Al Fawaid menuliskan, "Bila kau berpulang ke alam baqa, tidak membawa bekal taqwa, kau lihat orang-orang yang membawanya pada hari perhimpunan. Kau akan menyesal, karena kau tidak seperti mereka. Mereka mempunyai persiapan sedangkan kau tidak memilikinya." Maka bersegeralah untuk mensucikan diri jiwa kita.

Nabi Muhammad SAW menasehat­kan kita semua dengan sabda beliau yang sangat dalam artinya "Man lam yahtamma bi ammril Muslimin falaisa minhum", artinya, Yang tidak mau tahu urusan sesama umat Muslim sebenarnya tidak pantas disebut kelompok Muslim. Begitulah Rasulullah SAW. Mudah-mudahan kita tidak tergolong kedalam klasifika­si yang disebut Rasulullah SAW ini. Mari kita bantu Sauda­ra kita yang sebenarnya sangat menunggu bantuan kita, bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Allahumma Amin.