Merayakan Hari Kemenangan dengan Indah

FIMNY.org - Dua hal yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri, yakni maaf memaafkan (raho maaf ro kangampu angi) dan hiburan/liburan (lao ndiha). Keduanya menjadi tradisi yang melegakkan (karena dimaafkan) dan menghibur (karena suka cita).

Saat injakan kaki pertama kita keluar dari masjid terasa sangat plong (taroa ade), selain karena telah menyempurnakan puasa dengan shalat Id, juga karena pada dasarnya kita terbebas dari segala dosa dan noda. Hal ini terasa sempurna ketika sentuhan lembut tangan kita berpindah dari tangan ke tangan, sepanjang jalan pulang, bahkan dari rumah ke rumah, hanya untuk menggapai ridhonya dan saling memaafkan.

Rasa kekeluargaan dan persaudaraan pun terasa akrab. Sungguh, merupakan kebahagiaan terbesar dapat berkumpul kembali dengan karib kerabat dan sanak famili (lenga ro iwa), terutama bagi kita yang memiliki karib kerabat dan sanak famili yang selama ini merantau ke luar daerah dengan berbagai kepentingannya.

Memang benar kata pepatah : “Salah dan khilaf adalah milik manusia”. Karena itu, tak jarang suasana keakraban di hari yang fitri terkadang tercemar oleh tingkah dan ulah sebagian dari para pemuda dan remaja kita, atau mungkin kita sendiri. Seakan telah menjadi tradisi, pemuda desa Ncera atau pemuda desa tetangga sering berbuat onar dan menciptakan keributan (ncao ro ncaka), bahkan karena persoalan sepele. Akibatnya, hari yang fitri atau bahkan beberapa minggu setelah itu, menjadi hari-hari yang mencekam. Warga kita dan warga desa tetangga pun tidak dapat melakukan aktivitas dengan rasa aman.

Salahkah para pemuda kita? Memang tidak ada yang perlu disalahkan, terlebih di hari yang fitri ini. Yang perlu dan sangat mendesak untuk dilakukan adalah menyadarkan dan mengingatkan diri kita dan anak-anak kita agar sebisa mungkin menghindari keributan seperti ini. Tentu saja, dukungan semua pihak sangat diperlukan, baik para pemuda desa Ncera sendiri maupun pemuda desa tetangga. Dari anak-anak, orang tua, para tokoh masyarakat dan aparat desa.

Bagaimana pun, mencegah terjadinya keributan tersebut jauh lebih baik daripada mencari kambing hitam (ngupa mancara). Banyak cara yang dapat ditempuh. Misalnya, para pemuda melakukan koordinasi (kaboro weki dan kasabua eli) dengan pihak-pihak terkait seperti aparat desa dan polisi sebelum Idul Fitri tiba.

Pemuda sebagai ujung tombaknya (fu’una), aparat desa dan polisi sebagai mediasi. Sebagai ujung tombak, pemuda Ncera melakukan berbagai upaya, seperti membentuk satu tim pengamanan pada titik-titik tertentu, terutama pada titik rawan seperti di Bombo Ncera, dan dibantu aparat keamanan. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, langsung ditangani agar tidak menimbulkan kericuhan (ncao ro lewa) yang lebih besar. Warga yang sedang ndiha pun turut andil dan tetap waspada, dan melaporkan dengan cepat jika terjadi keributan. Dengan demikian, Insya Allah hari lebaran ini dihiasi “ndiha” yang indah.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 07 Spesial Idul Fitri/01-03 Oktober 2008.

Sudahkah Saya Menang di Hari yang Fitri Ini?

FIMNY.org - Ya...!! Hari ini memang hari kemenangan bagi kita semua umat muslim seluruh dunia. Hari dimana tingkat keimanan kita (Insya Allah) mencapai derajad taqwa. Hari yang ditunggu dan dinanti, dimana semua mata bersinar, semua telinga mendengar, semua mulut bersaksi, dan semua hati merasa bahwa hari ini adalah hari kejayaan.

Tapi, tunggu dulu! Sudahkah dalam benak kita bertanya “Menangkah Saya Hari Ini?”

Sederhana memang pertanyaan itu. Namun, untuk menjawabnya, tidak cukup dengan ucapan lisan, namun hanya dapat diraba oleh rasa dan kepekaan mata hati. Sungguh, kita sangat paham dan sadar bahwa hati kita sangat peka terhadap yang hak dan yang bathil. Dengan kepekaan tersebut, hati mampu secara nyata membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak. Namun, justru karena kepekaan itu pula, hati sangat gampang ternoda. Dan jika hati sudah ternoda, maka kita sangatlah sukar untuk membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Jika demikian, dapatkah kita menjawab “Ya! Hari ini adalah Hari Kemenanganku!”

Kemenangan di hari Fitri hanya dapat diraih dengan kemantapan iman kita selama menjalankan ramadhan. Kemantapan iman dapat ditaksir dengan rumus 4M. M pertama, Menjaga lisan dari ucapan yang tak senonoh dan dari membicarakan aib orang lain. Lisan senantiasa berzikir mengagungkan-Nya. M kedua, Menjaga mata dari pandangan yang seronok, dan menghiasi pandangan dengan melihat dan membaca ayat-ayat-Nya, baik di alam maupun yang tersurat dalam Al-Quran dan Hadist. M ketiga, Menjaga telinga dari pendengaran yang tak bermanfaat.

M terakhir, Menjaga hati dari perasaan iri dan dengki. Hati sepantasnya bersih dari nafsu-nafsu rendah dan mengarahkannya pada kebajikan dan amal shaleh. Bukankah Allah secara tegas mengatakan bahwa kita semua tidak mendapatkan apa-apa dari puasa kita selain lapar dan dahaga? Berkah ramadhan hanya didapat oleh mereka yang menjaga lisan, mata, telinga dan hati untuk mencapai ridho-Nya.

Mari kita coba menoleh ke belakang. Pertama, kita tak pernah sadar bahwa satu kata yang kita ucapkan tentang orang lain berarti bencana besar bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Bayangkan apa yang akan terjadi jika terangkai dalam satu kalimat, atau mungkin satu paragraf. Bahkan selama ini, kita sungguh terbiasa membicarakan orang lain hingga mulut kita berbusa. Kita tak pernah sadar, bahwa buih-buih busa yang keluar dari mulut kita akibat membicarakan orang lain tersebut akan menjadi buih-buih api neraka di akherat kelak.

Dengan menyadari ini, mari merubah sudut-sudut rumah kita (sancaka ro kancale), pemandian (temba ro oi kanco) dari yang dulu sebagai ajang unjuk kebolehan ngegosip (nuntu ka’iha dou) menjadi wadah untuk membicarakan dan merancang kebaikan-kebaikan untuk masa depan diri, keluarga, masyarakat dan terutama untuk kebaikan anak-anak kita.

Kedua, serangan tren globalisasi dalam wajahnya yang cantik seperti kecanggihan teknologi telah menyeret mata hati dan pemandangan kita kepada tayangan-tayangan yang seronok melalui media televisi (tivi), komputer dan jaringan internet, dan yang sedang trend dalam masyarakat saat ini adalah Hand Phone (HP). Waktu kita, dan anak-anak kita, habis terkuras untuk melihat tayangan di tivi, komputer, internet dan bahkan untuk sekedar telepon dan SMS. Kecanggihan teknologi sebenarnya bukan momok (laina ndi dahukai ro ndipaki), melainkan perlu dimanfaatkan secara wajar dan seperlunya (kapentipa ma penti).

Ketiga, kita sangat terbiasa mendengar kabar tentang sesuatu hal dan langsung menelan tanpa mencari tahu kebenarannya (ringa nggahi dou ma datantu poda). Ibaratnya api, kabar tersebut bisa menyebar membakar apa saya yang dilaluinya. Kabar yang kecil kemudian dibesar-besarkan sehingga menimbulkan banyak penafsiran (ncara ka’ao), dan akhirnya permusuhan dan kericuhan pun tak terhindarkan.

Keempat, jika ketiga hal tersebut sudah menjadi bagian dari diri kita, maka hati dan perasaan kita (ade ro loko) akan tercemar, yang akhirnya kita akan jauh dari ridho-Nya; kemenangan di hari ini pun tinggal angan-angan. Hari ini dan hari-hari yang akan kita lewatkan setelah ramadhan ini akan membuktikan apakah kita sudah mencapai tingkat ketakwaan yang diimpikan setiap muslim yang menjalankan puasa. Demikian sedikit pencerahan ini. Semoga hari ini milik kita, hari kemenangan bagi kita semua.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 07 Spesial Idul Fitri/01-03 Oktober 2008.

Mengapa Harus Mengaji (Membaca Al-Qur'an)?

FIMNY.org - Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Al Quran di meja makan di dapurnya.

Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, “Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al Qur'An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Al Qur'An?

Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, “Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.

Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, “Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup, maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!” “Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.

Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur'An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.” (www.sigitsetiawan.wordpress.com).

*Buletin KIMJA (FIMNY).

Allah SWT Juga Berpuasa

FIMNY.org - Dulu... Dulu sekali, masih sangat terngiang di benakku ketika ku sangat riang menikmati suasana pegunungan yang begitu asri, udaranya segar, dan anginnya bertiup sepoi-sepoi.

SWT memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh siapa pun dan makhluk apa pun. Ia jauh dari sifat-sifat yang menyerupai manusia, binatang, tumbuhan, atau bahkan benda mati mengagungkan-Nya. M kedua, Menjaga mata dari pandangan yang seronok, dan menghiasi pandangan dengan melihat dan membaca ayat-ayat-Nya, baik di alam maupun yang tersurat dalam Al-Quran dan Hadist. M ketiga, Menjaga telinga dari pendengaran yang tak bermanfaat.

M terakhir, Menjaga hati dari perasaan iri dan dengki. Hati sepantasnya bersih dari nafsu-nafsu rendah dan mengarahkannya pada kebajikan dan amal shaleh. Bukankah Allah secara tegas mengaatakan bahwa kita semua tidak mendapatkan apa-apa dari puasa kita selain lapar dan dahaga? Berkah ramadhan hanya didapat oleh mereka yang menjaga lisan, mata, telinga dan hati untuk mencapai ridho-Nya.

Mari kita coba menoleh ke belakang. Pertama, kita tak pernah sadar bahwa satu kata yang kita ucapkan tentang orang lain berarti bencana besar bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Bayangkan apa yang akan terjadi jika terangkai dalam satu kalimat, atau mungkin satu paragraf. Bahkan selama ini, kita sungguh terbiasa membicarakan orang lain hingga mulut kita berbusa. Kita tak pernah sadar, bahwa buih-buih busa yang keluar dari mulut kita akibat membicarakan orang lain tersebut akan menjadi buih-buih api neraka di akherat kelak.

Dengan menyadari ini, mari merubah sudut-sudut rumah kita (sancaka ro kancale), pemandian (temba ro oi kanco) dari yang dulu sebagai ajang unjuk kebolehan ngegosip (nuntu ka’iha dou) menjadi wadah untuk membicarakan dan merancang kebaikan-kebaikan untuk masa depan diri, keluarga, masyarakat dan terutama untuk kebaikan anak-anak kita.

Kedua, serangan tren globalisasi dalam wajahnya yang cantik seperti kecanggihan teknologi telah menyeret mata hati dan pemandangan kita kepada tayangan-tayangan yang seronok melalui media televisi (tivi), komputer dan jaringan internet, dan yang sedang trend dalam masyarakat saat ini adalah Hand Phone (HP).

Waktu kita, dan anak-anak kita, habis terkuras untuk melihat tayangan di tivi, komputer, internet dan bahkan untuk sekedar telepon dan SMS. Kecanggihan teknologi sebenarnya bukan momok (laina ndi dahukai ro ndipaki), melainkan perlu dimanfaatkan secara wajar dan seperlunya (kapentipa ma penti).

Ketiga, kita sangat terbiasa mendengar kabar tentang sesuatu hal dan langsung menelan tanpa mencari tahu kebenarannya (ringa nggahi dou ma datantu poda). Ibaratnya api, kabar tersebut bisa menyebar membakar apa saya yang dilaluinya. Kabar yang kecil kemudian dibesar-besarkan sehingga menimbulkan banyak penafsiran (ncara ka’ao), dan akhirnya permusuhan dan kericuhan pun tak terhindarkan.

Keempat, jika ketiga hal tersebut sudah menjadi bagian dari diri kita, maka hati dan perasaan kita (ade ro loko) akan tercemar, yang akhirnya kita akan jauh dari ridho-Nya; kemenangan di hari ini pun tinggal angan-angan. Hari ini dan hari-hari yang akan kita lewatkan setelah ramadhan ini akan membuktikan apakah kita sudah mencapai tingkat ketakwaan yang diimpikan setiap muslim yang menjalankan puasa. Demikian sedikit pencerahan ini. Semoga hari ini milik kita, hari kemenangan bagi kita semua.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 05/Thn I/Jum’at, 19-25 September 2008.

Ketahanan Keluarga

FIMNY.org - Era globalisasi saat ini lebih didominasi oleh globalisasi kekufuran,kemungkaran dan kemaksiatan. Dan pemikiran dan idiologi kufur dan sekuler gencar dipasarkan, pergaulan bebas dan pornografi semakin menjadi-jadi dan merajalela. Penjajahan budaya hedonisme dan budaya asing yang amoral melalui media elektronik maupun media cetak semakin gencar, sementara peredaran narkoba semakin meluas ke masyarakat desa. "Fitnah dan bencana segera datang bagaikan malam yang kelam.

Pagi-pagi orang itu mukmin, petang hari telah menjadi kafir. Petang hari dia mukmin, pagi harinya ia sudah berubah menjadi kafir." Gambaran dari hadist ini salah satunya sudah mulai terjadi. Sekarang kita seakan-akan begitu sulit untuk tetap istiqomah dengan nilai-nilai Islam yang luhur yang diridhoi Allah. Bencana kerusakan idiologi, mental dan budaya datang menyerang dari berbagai penjuru. Dan mereka bergegas melakukan kerusakan yang mendunia. Sementara di sisi lain secara umum dakwah islamiyah yang rahmatan lil 'alamin masih dengan sarana yang tradisional dan belum banyak berkembang.

Sikap Keluarga Muslim

Dalam kondisi seperti di atas maka mempertahankan diri dan keluarga dari berbagai pengaruh yang negatif yang akan mengancam akidah dan perilaku kita sebagai seorang muslim merupakan suatu keharusan. Yang harus segera kita lakukan adalah membekali diri dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak yang islami, membuat diri dan keluarga dapat menjadi istiqomah. Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. 66 : 6). Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa "Membentengi diri dan keluarga yang fektif adalah dengan proses pendidikan dan pembinaan.

Dengan pendidikan dan pembinaan Islami yang intgral dan benar, akan terbentuklah kepribadian yang kokoh. Sekaligus memiliki imunitas yang kuat dalam menangkal berbagai pengaruh dan rangsangan negatif dari luar. Namun pembentengan diri ini tidak cukup hanya dengan menghindar dan megisolasi diri dari berbagai ancaman eksternal.

Di dalam tafsir Ibnu Katsir (jilid 4, hal 34-42) disebutkan bahwa : "Imam Mujahid mengatakan bahwa membentengi diri dan keluarga adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketaqwaan, sehingga dengan nilai tersebut dapat mendorong manusia meningkatkan komitmen dan ketaatannya, dapat menghindarkannya dari berbagai kemungkaran/ kemaksiatan".

Ketahanan keluarga agar tetap komitmen dengan nilai-nilai Islam yang luhur, tidak terpengaruh dengan krisis moral dan frustasi sosial akan semakin efektif jika proses pendidikan dan pembinaan dalam membentuk keluarga Islami terus berjalan secara optimal dan berkesinambungan.

Pembentukan Keluarga Islami

Untuk mewujudkan keluarga Islami yang memiliki ketahanan dan imunitas yang tinggi dalam menghadapi krisis mora dan frustasi sosial maka keluarga hendaknya dapat melakukan minimal lima unsur berikut ini :

1. Keluarga Harus Dibangun Atas Dasar Taqwa

Keluarga muslim harus menjadi keluarga teladan bagi terbentuknya masyarakatIslami yang diridhoi Allah SWT. Oleh karena itu azas pembentukan keluarga sakinah (keluarga Islami) adalah ketaqwaan. Maka kesuksesan suami istri dalam pembentukan keluarga Islami tergantung pada ketaqwaan mereka kpd Allah SWT. Dengan adanya taqwa dari suami-istri, maka terwujudlah kebahagiaan mereka yang sebenarnya, karena dibalik ketaqwaan itu terdapat pengarahan dari Allah terhadap hamba-Nya.

Selain itu dengan ketaqwaan suami istri akan terciptalah saling percaya antara satu sama lain, sehingga masing-masing akan mendapatkanketenangan.Suami istri yang bertaqwa kepada Allah akan melihat pernikahan itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah,sehingga masing-masing dapat melaksanakan wajibannya dan memenuhi hak-hak anggota keluarganya.

Seperti itulah keluarga sakinah (keluarga Islami) yang penuh cinta dan asih sayang. Taqwa kepada Allah membuat suami istri dan seluruh anggota keluarga tunduk patuh pada Allah SWT. Kelak jika terjadi suatu permasalahan keluarga, mereka akan mudah menyelesaikannya, karena semuanya telah tunduk pada peraturan Allah dan Rasul-Nya.

Maka kebahagiaan keluarga dan ketahanannya dari frustasi sosial kembali pada ketaqwaan suami istri sejak awal pernikahan. Kebahagiaan itu ada di dalam jiwa yang bukan disebabkan oleh terlepasnya seseorang dari beban dan kesulitan hidup, bukan pula karena harta yang berlimpah, tetapi kebahagiaan yang diperoleh karena kepuasan hati yang dilanda sicinta karena Allah SWT.

2. Memilih Pasangan Yang Shaleh

Jika seseorang ingin menikah, hendaknya ia mencari pasangan yang shaleh hingga masing-masing dapat saling mencintai dan berupaya untuk membesarkan anak-anaknya di atas prinsip-prinsip ketaqwaan dan akhlaq yg mulia. Di dalam keluarga yang Islami, seluruh anggotanya akan merasakn kenyamanan, ketenangan, ketentraman&kecintaan.

Suasana tersebut dirasakan oleh seluruh nggota keluarga karena keluarga tersebut didirikan oleh suami istri yg shaleh yang sama-sama ingin mewujudkan pengamalan nilai-nilai Islam. Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada para wali calon istri hendaklah memilih suami yg memiliki agama dan akhlaq agar ia dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam membimbing keluarga, menunaikan hak istri, pendidikan anak, tanggung jawab yg besar dalam menjaga kehormatan dan menjamin material keluarga Beliau bersabda : Artinya : "Jika orang yang engkau ridhai agama dan kahlaknyamelamar kepadamu, maka nikahkanlah dengannya, Jika kamu tidak menerima (lamarannya) niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi". (HR. Tirmidzi).

Secara sunatullah, wanita shalehah adalh pasangan bagi pria yang shaleh dan sebaliknya. Sebagaimana Allah berfirman: Artinya : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yg keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula)." Karena itu setiap pribadi hendakya dapat mewujudkan kepribadian yg islami, sehingga Allah akan menjodohkannya dengan pasangan yg berkepribadian islami pula.

3. Memenuhi Hak dan Kewajiban Suami Istri

Jika masing-masing suami istri dapat menjalankan kewajibannya & memenuhi hak-hak pasangannya maka akan terciptalah keluarga sakinah yg penuh dgn ketentraman dan kebahagiaan. Hak-hak dan kewajiban suami istri ada tiga, yaitu :

a. Hak bersama suami istri, yaitu :
- Mengadakan hubungan kenikmatan seksual
- Berperilaku dengan sebaik-baiknya
- Mendapatkan warisan

b. Hak istri terhadap suami, yaitu :
- Bersifat materi : diberi mahar & nafkah
- Bersifat moral : dicintai, dihormati, diringankan pekerjaan rumahnya, dinasehati, diajak bermusyawarah, diperlakukan dgn adil, bijaksana dan sikap yang lembut.

c. Hak suami terhadap istri, yaitu :
- Ditaati perintahnya yang bukan bermaksiat kepada Allah
- Diberikan pelayanan
- Anak-anaknya diberikan pendidikan yang islami
- Dijaga harta dan amanahnya
- Dibantu dalam melakukan kebaikan dan ketaatan
- Kerabatya diperlakukan dengan sebaik-baiknya

4. Menjunjung Tinggi Nilai-nilai Islam

Setiap keluarga hendaknya menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Hal itu hendaknya dimulai dgn keteladanan kedua orang tua yg selalu komitmen thdp pengamalan nilai-nilai Islam. Keteladanan orang tua sangat diperlukan, sebab proses interaksi anak-anak dan orang tua sangat dekat dalam keluarga. Anak-anak dapat mengetahui kondisi ideal yang diharapkan.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 04/Thn I/Jumat, 04 - 10 Juli 2008.

Saling Menyayangi Antar Sesama (Meci Angi)

FIMNY.org - Akhir-akhir ake, meci angi hampir wati perna weata eda. Meci angi wa'ura ndadi barang langka, laimpoana 'dei kota-kota na'e ‘bunese Jakarta, bahkan wa'ura lu'u 'dei rasa-rasa to'i.

Samenana dou selalu horuna weki ro lenga, ro kalompo ndaina, wati peduli weki ro lenga, ro kampo ndaina ede ncara ato ncihina. Samenana lampa ro rawina nakandaliku 'ba kapentina weki ro kalompo ndaina.

Hal-hal mandake tahoku ‘bandi sara ro refu ‘ba samenana ndai, naloara taho dana ro rasa ndai. Sapoda kaina, ndaita wa'ura 'bade mena, raringata nggahi ro eli dou ma tua-tua, guru ro haji, 'dei sakola ro ‘dei rasa-dana ndaita, bahawa meci angi ra karawi 'ba nabi-nabi ro sahabat ntoina ederu meci angi dalam arti luas.

Makasuna, meci angi laina mpoa meci weki ro labo, lenga ro angi (kelompok sendiri), iwa ro londo (keluarga dan keturunan). Sapoda-poda kaina meci angide, meci sara'aku samenana manusia, ta'be ncau edakai angi, natahopa dou lai dana ro rasa, natahopa lai agama ro nenti, natahopa lai suku ro negara.

Ro ndairauta tawa’uru ringa nggahi ro eli douma tua ro taho, douma alim ro ulama, bahwa samenana weki ndai ntau kewajiban ndima meci rau samenana jenis makluk (mamori), natahopa haju ro binatang, natahopa dana ro rasa (alam) ndingge’ekai ndai ake.

Samenana ndaita, nawa’uru ngoa ‘ba Ndai Ruma bahawa ndaita watiloata dahu salaina ‘dei Ndai Ruma. Dahu ‘dei Ndai Ruma berarti termasuk dahukaiku musu angi la’o randawi-Na. Samenana ra ndawi Ndai Ruma saisi alam ake, wara maksu ro tujua-Na. ‘Basupu ndedena, mecikai samenana randawi Ndai Ruma ederu kewajiban samenana weki ndai.

Nambui japo kawara ‘ba ndaita, bahawa ‘dei ade kanda’di kalai-laikai (bermacam-macam suku, ras dan agama) ‘ba Ndai Ruma samenana manusia ede wara makasuna, naloara meci mena kai angina. Dasamana rasa ro dana, agama ro nenti ndaita manusia loaku wehakai hikma, bahawa sapodakai ndedena ede, naloaru kama’ana ‘ba manusia bahawa Ruma napodaku Na’e ro Naru-Na (Maha Besar).

Nawa’ura warisi ‘ba samenana nabi ro rasul ‘dei samenana ndai, ra nggahi ro eli Ndai Ruma (Qur’an) ro ranggahi ro kalampa ‘ba samenana nabi ro rasul (hadis nabi). ‘Basupu ndedena, maira samenana ndai nenti kacia, kalampa ro karawi au-auru rapehe ‘dei Karo’a, ro au-auru ratunti ‘dei hadis. Sapoda kaina Karo’a ro Hadis ede ‘bandi makarombona lampa ro lao ndai ‘dei dunia ro ahera.

‘Basupu pentina meci angi ‘dei samenana manusia ra kaukai ‘ba Ndai Ruma ede, maira samenana ndai wa’a ro ouku lengaro iwa (keluarga), ro dou mamboto (masyarakat), ‘bandima karawi ro kalampana samenana rakau kai, ro katula samenana rakanta ‘ba Ndai Ruma. Ngoa ro tei, wa’a ro ou ede ‘bandi bukutikai meci angi ndaita, naloara lu’u sama-sama sara’a ndaita dei saroga rasadia ‘ba Ndai Ruma ndiru’u ‘ba cou-cou ma imbi Ndai Ruma Allah Ta’ala.

Sandake wa’upa ndiloa ngoaba mada. Samoga ndaita salalu mecita angi. Amin!

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 03/Thn I/Jumat, 27 Juni-03 Juli 2008.

Mendidik Anak Ala Aa Gym

FIMNY.org - Setidaknya ada tiga akhlak mulia yang harus diajarkan pada anak, yakni rumus 3A : Aku Aman Bagimu, Aku Menyenangkan Bagimu, dan Aku Bermanfaat Bagimu.

Pertama, Aku Aman Bagimu. Anak harus dilatih agar tidak merugikan orang lain. Sehebat apapun seorang anak, kalau kehadirannya selalu merugikan orang lain, maka kehebatan tersebut tidak ada artinya. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang Muslim yang baik adalah yang orang lain aman dari gangguan lisan dan tangannya".Karena itu, penyakit hati yang terangkum ke dalam kata TENGIL (Takabur, Egois, Norak, Galak, Iri Dengki, Licik), harus benar-benar dijauhi.

Kalau anak sudah terkena penyakit TENGIL, maka ia berpotensi menjadi manusia "berbahaya". Untuk menerapkan prinsip Aku Aman Bagimu, orangtua harus memulainya dengan menjadikan dirinya aman bagi anak-anak. Ciri berhasilnya orangtua menerapkan A yang pertama ini adalah saat anak mau curhat. Kalau anak tertutup atau tidak mau curhat, maka ada masalah dengan orangtuanya. Hal ini berpotensi melahirkan komunikasi yang tidak sehat di keluarga.

Setelah itu, pendidikan bisa dilanjutkan ke tahap kedua, yaitu Aku Menyenangkan Bagimu. Anak harus dilatih agar keberadaannya menyebabkan orang-orang di sekitarnya merasa tenang dengan nyaman. Rumus yang bisa diterapkan dengan tahap kedua ini adalah 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Bimbing anak-anak kita menjadi orang yang murah senyum, royal memberi salam, gemar menyapa, sopan dan santun dalam bergaul.

A yang ketiga adalah Aku Bermanfaat Bagimu. Anak harus diarahkan agar di mana ia ada, maka orang-orang di sekitarnya merasakan manfaat keberadaannya. Jadi, anak harus diarahkan agar ia mampu mencurahkan segala potensi yang dimilikinya untuk memberi manfaat bagi orang lain. Usahakan agar anak selalu berpikir bagaimana ia mampu memberi manfaat dan memberi manfaat. Kalau ia pintar, maka ia bisa memintarkan teman-temannya. Kalau ia kaya, maka kekayaannya tersebut bisa menjadi sarana membantu orang yang kesusahan.

Nah, kalau pikiran seseorang sudah diisi dengan keinginan untuk memberi manfaat bagi orang lain, maka ia sudah sukses menapaki tahap ketiga dalam pendidikan. Tidak mudah memang untuk sampai pada tingkatan seperti ini. Setidaknya ada lima tahapan yang harus dilalui. Tahap pertama adalah senang memperhatikan orang lain. "Ma, kasian ya anak itu...".

Bila anak sudah senang memperhatikan orang lain, maka tanda-tanda kesuksesan sudah tampak di depannya. Tahap kedua adalah senang menghargai orang lain. Sedikit apapun kebaikan yang diberikan orang, si anak harus diajarkan untuk mengucapkan berterima kasih. Tahap ketiga adalah senang memberi, tidak pelit, dan gemar berbagi dengan teman-temannya. Tahap keempat adalah senang memberdayakan orang lain. Dan tahap kelima adalah adalah senang menyukseskan orang lain. Ibaratnya, tahap ketiga baru sebatas memberi ikan, tahap keempat (memberdayakan) adalah melatih agar terampil mencari ikan.

Pada tahap kelima (menyukseskan) berupaya menjadikan ia pengusaha ikan. Inilah puncak kemandirian. Namun, saya jarang berpikir tentang kelakukan anak. Yang pertama kali dipikirkan adalah kelakuan ibu bapaknya. Karena itu, mendidik anak harus diawali dengan mendidik diri. Prinsip 3A sangat sulit dilakukan anak kalau orangtuanya TENGIL. Jadi, karunia Allah untuk mendidik anak harus dimulai dengan mendidik diri. Wallahu a'lam bish-shawab.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 03/Thn I/Jumat, 27 Juni-03 Juli 2008.

Pemuda Ncera Matu'u Rasa ro Dana

FIMNY.org - Untuk mencapai suatu kemajuan, hal utama yang diperlukan adalah pelaku kemajuan itu sendiri. Seperti halnya dalam sebuah organisasi, untuk mencapai kemajuan diperlukan para pelaku organisasi yang memiliki motivasi untuk itu. Begitu pun halnya di desa Ncera, dengan pelaku kemajuannya tiada lain adalah pemuda desa Ncera.

Pemuda desa terdiri dari : (1) pelajar (siswa SMP-SMA, terutama yang sekolah di dalam atau sekitar desa, atau pelajar yang setiap saat bisa kembali ke desa), (2) mahasiswa (baik yang studi di daerah maupun di luar daerah), (3) tamatan SMA yang belum memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi (tidak kuliah), terutama tamatan SMA yang masih berada di desa, (4) lulusan perguruan tinggi yang bekerja dan kembali ke desa atau sekitar desa, (5) pemuda/pemudi yang tidak/belum sekolah/kuliah dan masih berada di desa.

Berdasarkan pengelompokan di atas, dalam kasus desa Ncera, kelompok pertama adalah siswa/siswi SMP-SMA yang sekolah di Desa Ncera, Ngali, Cenggu, Tente, Raba Kodo, dan Kota Bima (Ari Mbojo). Kelompok kedua adalah mahasiswa yang kuliah di Padolo (Kampus II STKIP Kab. Bima), Kota Bima (Ari Mbojo), Mataram, Makassar, Jogja, Jakarta dll. Kelompok ketiga adalah tamatan SMA yang setiap hari hidup di desa maupun yang merantau ke luar desa untuk mencari pengalaman atau kerja (merantau ke Tente, Kota Bima (Ari Mbojo), Dompu, Sumbawa, Mataram, Makasar, Jakarta dll).

Kelompok keempat adalah tamatan perguruan tinggi (nggori kuliah) dari Padolo (Kampus II STKIP Kab. Bima), Kota Bima (Ari Mbojo), Mataram, Makassar, Jogja, Jakarta dll. Kelompok keempat ini biasanya kembali ke desa untuk bekerja, baik sebagai pengajar di SD, SMP dan SMA di desa Ncera, di desa lain dan di Kota Bima (Ari Mbojo), maupun bekerja di kabupaten lain atau bahkan di Mataram, namun setiap saat masih bisa pulang ke desa.

Sedang kelompok kelima adalah anak-anak putus sekolah, baik yang belum sempat tamat SD, SMP, SMA maupun tidak/belum mengenyam pendidikan sama sekali (watira sakola kou), baik karena keterbatasan ekonomi (darere), pengaruh lingkungan (pangaru rasa/dana/ pangaru lenga rewo) maupun karena ketidak-mauan (wati ngawa) dari anak/orang tua.

Pemuda desa memiliki potensi sebagai penggerak perubahan dan kemajuan. Hanya saja, kekurangan sarana dan prasarana di desa menjadi penghalang. Meski demikian, pengha-lang tersebut tidak mesti dijadikan alasan karena jika ingin maju, perubahan dan kemajuan pasti bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Di antara cara tersebut adalah mendorong kemajuan dengan segala potensi dan sarana-prasarana yang ada, terutama potensi ilmu (raloa), pengetahuan (rabae’ade), dan pengalaman (rakarawi) pada masing-masing kelompok tersebut. Potensi ini sangat tangguh mengatasi berbagai keterbelakangan dan kemunduran (darere, sampula-sampake, daloa baca ro tunti, dll).

Dengan potensi tersebut, pemuda dapat melakukan berbagai cara, antara lain pendidikan dan pengajaran (ngoa ro tei) baik dalam hal ilmu dan pengetahuan umum (ilmu sakola) maupun ilmu agama Islam, pelatihan dan keterampilan tentang pertanian (nggu’da ro congge/ntadi ro ntedi) yang baik, perikanan, pembuatan barang-barang kebutuhan rumah tangga, penanganan hasil panen, antisipasi dan penanganan bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi dll.

Ada banyak media yang dapat dilakukan, baik secara langsung terjun ke desa, maupun melalui media cetak seperti halnya buletin ini.

Terkait penanganan hasil panen, pemuda bertanggung jawab mengajarkan petani untuk dapat mengolah hasil panen seperti padi, bawang, cabe dll untuk menghindari kerugian karena harga murah (ma’bu co’i).

Langkah pertama yang dilakukan adalah mendirikan kelompok tani yang bertugas dan bertanggung jawab terutama pada perolehan hasil panen yang maksimal (mamboto ro mataho) dan penanganan hasil panen. Hasil panen seperti padi/beras, bawang, cabe dll jangan sampai keluar dari desa Ncera dengan harga murah. Caranya, semua hasil panen tersebut diolah sendiri oleh kelompok tani.

Bawang (’bawa ro ncuna) dan cabe dapat diolah menjadi bumbu dapur dan dipasarkan (landa) dalam keadaan siap pake dengan taksiran harga yang pantas, baik di Kota Bima maupun di Dompu, Sumbawa, Lombok/ Mataram, Bali bahkan ke pulau Jawa. Di pulau Jawa, bumbu dapur dari bawang (’bawa ro ncuna) sangat mahal karena sangat dibutuh-kan untuk konsumsi rumah tangga, rmh makan, restoran bahkan hotel berbintang. Olahan tersebut dapat dipasarkan (landa) di pasar2 tradisional maupun modern (supermarket, mall).

Selain mengolahnya, hasil panen yang murah dapat digudangkan (wi’i) dengan cara kelompok tani atau aparat desa membeli semua hasil panen warga dan kemudian disimpan dan dijual pada saat harganya meroket (nggali). Untuk mendapatkan modal usaha tersebut, dapat diusulkan ke Kabupaten atau Propinsi, tentu saja dengan beberapa persyaratan.

Persyaratannya adalah membentuk kelompok tani, telah mengembangkan usaha secara mandiri minimal setahun, membuat dan mengajukan proposal. Proposal yang diajukan harus benar-benar mampu meyakinkan pihak pemberi modal (pemerintah/swasta), baik terkait keutungannya bagi masyarakat desa maupun bagi pemberi modal. Proposal juga disertai dengan bukti-bukti yang kuat. Insya Allah, terutama pemerintah, akan mengabulkan-nya, karena memang pemerintah menyediakan modal (piti) khusus untuk kelompok tani.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 02/Thn I/Jumat, 20-26 Juni 2008.

Hutan Sumber Kehidupan bagi Manusia

FIMNY.org - Banyak hal yang dapat kita pelajari dari yang sudah-sudah, baik yang sudah kita sadari kesalahannya mau pun yang belum. Misalnya saja kebiasaan kita sehari-hari, baik yang berhubungan dengan sesama manusia, hewan, tumbuhan mau pun dengan alam kita secara keseluruhan.

Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa menebang pohon milik sendiri maupun pohon di hutan sebagai hal yang wajar. Terkadang kita tak menyadari bahwa hal itu akan membahayakan diri kita, keluarga, sawah/ladang, bahkan rumah kita sendiri. Akibatnya, di musim kering kita tak bisa lagi menyiram tanaman bahkan untuk kebutuhan harian akan semakin sulit karena kekurangan air.

Di musim hujan banjir melanda di mana-mana sehingga sawah dan ladang kita terbawa banjir, bahkan rumah tinggal kita pun menjadi sasarannya. Hal ini tentu sangat menyulitkan diri kita sendiri karena tiap hari kita butuh makan dan minum dari hasil tanaman kita sendiri, dari kemurahan alam.

Untuk itu, mari kita sama-sama menyadarkan diri kita masing-masing. Satu pohon yang kita tebang bisa saja menyebabkan seluruh kampung tidak mampu memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan akan air maupun kebutuhan akan pangan (makan). Tumbuhan dan hutan keseluruhan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, karena itu sangat tidak mungkin kita bisa hidup tanpanya.

Hutan yang membentang luas di sekeliling desa kita ini adalah mutiara berharga bagi kelangsungan hidup kita, pertanian, sawah ladang, binatang piaraan dan semua jenis makhluk hidup. Maka, sangat naif jika kita mengabaikan kelestariannya baik dengan tingkah dan ulah kita yang senonoh maupun dengan membiarkan orang lain merusaknya, menebangnya, membakarnya dll.

Mari memulainya dari diri kita sendiri, keluarga kita, tetangga kita dan semua orang yang merasa dan mengaku menjadi bagian dari desa ini, bahwa hutan dengan keanekaragaman di dalamnya juga butuh hidup. Allah SWT sudah begitu baik menganugerahkan dan mempercayakannya kepada kita. Tugas kita adalah menjaga kepercayaan itu sebelum alam punya pilihan sendiri, melenyapkan semua yang ada, melenyapkan semua kehidupan, melenyapkan semua yang tersisa, untuk menyadarkan bahwa kita salah dalam bertindak, bahwa kita salah memperlakukan hutan kita.

Selama ini, kebiasaan membuka hutan (ngoho) memang telah menjadi rutinitas warga kita tiap memasuki musim hujan. Secara sadar atau tidak, kebiasaan tersebut telah memenjara diri kita. Di satu sisi, warga melakukannya untuk memperoleh hasil panen (padi) yang melimpah. Di sisi lain, kita tak bisa mengelak dampaknya yang justru jauh lebih membahayakan:banjir melanda di musim hujan dan kekurangan air di musim kering. Kenyataan ini menunjukkan bahwa alam punya cara sendiri dlm menjawab keserakahan kita.

Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa menebang pohon milik sendiri maupun pohon di hutan sebagai hal yang wajar. Terkadang kita tak menyadari bahwa hal itu akan membahayakan diri kita, keluarga, sawah/ladang, bahkan rumah kita sendiri. Akibatnya, di musim kering kita tak bisa lagi menyiram tanaman bahkan untuk kebutuhan harian akan semakin sulit karena kekurangan air.

Di musim hujan banjir melanda di mana-mana sehingga sawah dan ladang kita terbawa banjir, bahkan rumah tinggal kita pun menjadi sasarannya. Hal ini tentu sangat menyulitkan diri kita sendiri karena tiap hari kita butuh makan dan minum dari hasil tanaman kita sendiri, dari kemurahan alam.

Untuk itu, mari kita sama-sama menyadarkan diri kita masing-masing. Satu pohon yang kita tebang bisa saja menyebabkan seluruh kampung tidak mampu memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan akan air maupun kebutuhan akan pangan (makan). Tumbuhan dan hutan keseluruhan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, karena itu sangat tidak mungkin kita bisa hidup tanpanya.

Hutan yang membentang luas di sekeliling desa kita ini adalah mutiara berharga bagi kelangsungan hidup kita, pertanian, sawah ladang, binatang piaraan dan semua jenis makhluk hidup. Maka, sangat naif jika kita mengabaikan kelestariannya baik dengan tingkah dan ulah kita yang senonoh maupun dengan membiarkan orang lain merusaknya, menebangnya, membakarnya dll.

Mari memulainya dari diri kita sendiri, keluarga kita, tetangga kita dan semua orang yang merasa dan mengaku menjadi bagian dari desa ini, bahwa hutan dengan keanekaragaman di dalamnya juga butuh hidup. Allah SWT sudah begitu baik menganugerahkan dan mempercayakannya kepada kita. Tugas kita adalah menjaga kepercayaan itu sebelum alam punya pilihan sendiri, melenyapkan semua yang ada, melenyapkan semua kehidupan, melenyapkan semua yang tersisa, untuk menyadarkan bahwa kita salah dalam bertindak, bahwa kita salah memperlakukan hutan kita.

Selama ini, kebiasaan membuka hutan (ngoho) memang telah menjadi rutinitas warga kita tiap memasuki musim hujan. Secara sadar atau tidak, kebiasaan tersebut telah memenjara diri kita. Di satu sisi, warga melakukannya untuk memperoleh hasil panen (padi) yang melimpah. Di sisi lain, kita tak bisa mengelak dampaknya yang justru jauh lebih membahayakan:banjir melanda di musim hujan dan kekurangan air di musim kering. Kenyataan ini menunjukkan bahwa alam punya cara sendiri dlm menjawab keserakahan kita.

Dihadapkan pada hal tersebut, yang dapat kita lakukan adalah kembali kepada sawah dan ladang kita masing2 yang memang sudah ada dan tersedia tanpa mengganggu kehidupan hutan. Sawah dan ladang kita cukup mampu memenuhi semua kebutuhan hidup kita dengan syarat kita harus berusaha mempelajari dan memahami bagaimana seharusnya sawah dan ladang kita perlakukan.

Jangan pernah menganggap sawah dan ladang adalah benda mati. Perlakukan ia sebagaimana kita perlakukan diri kita dan makhluk hidup. Artinya, tinggalkan kesalahan2 kita dalam mengolah/menggarap sawah dan ladang kita, baik dalam hal pengolahan tanah, pemakaian zat penyubur yang tidak tepat seperti pupuk dan pestisida, sampai kepada pemanfaatan hasil panen.

Pengolahan sawah yang baik adalah pengolahan yang mengutamakan kesuburan, yang berarti juga meninggalkan hal-hal yang mengganggu kesuburan tanah.

Memaksimalkan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, melakukan pengolahan yang baik sebelum masa tanam. Kedua, melakukan perawatan tanah dan tanaman selama masa tanam. Ketiga, melakukan penanganan tanah pasca panen. Hal pertama dilakukan dengan cara pembajakan dan penggarapan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kedua dengan jalan melakukan perawatan yang wajar dan tepat, baik terhadap tanaman maupun tanah. Selama ini, warga kita lebih peduli pada perolehan hasil panen yang melimpah dan mengabaikan perawatan tanah selama masa tanam.

Semua perhatian tertuju pada kesuburan tanaman dan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, termasuk pemanfaatan pupuk dan pestisida secara tidak tepat dan berlebihan. Menjaga kesuburan tanah selama masa tanam sangat penting selain mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, juga dapat menjamin tersedianya unsur hara yang dibutuhkan tanaman pada musim tanam berikutnya.

Ketiga, perawatan tanah pasca panen hampir tidak pernah kita lakukan. Perawatan tanah pasca panen penting untuk memulihkan kembali kondisi tanah, karena bisa saja selama masa tanam unsur hara sudah terserap habis. Sebelum memasuki masa tanam berikutnya, tanah memerlukan jedah waktu selama 1 - 3 minggu untuk pemulihan. Karena itu, segera memasuki masa tanam dengan jedah waktu yang kurang menyebabkan hasil panen berikutnya tidak maksimal.

Alternatif yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesuburan tanah dan tamanan sebelum, selama, dan pasca panen adalah beralih menggunakan pupuk dan pestisida alami. Pupuk dapat diganti dengan kotoran burung dan hewan ternak, sedang pestisida diganti dengan tanaman-tanaman pembasmi hama yang biasa kita peroleh di hutan.

Pupuk alami selain murah, juga secara alami mampu menjaga dan memulihkan unsur hara tanah yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan bermanfaat bagi segala jenis tanaman yang kita tanam. Memang, untuk mendapatkan pupuk alami yang baik memerlukan keahlian tertentu terutama dalam pengolahan kotoran hewan. Namun, jika terbiasa, Insya Allah semua akan menjadi gampang. Keterbatasan tempat jualah yang tidak memungkinkan kami menjelaskan bagaimana cara mengolah pupuk alami pada kesempatan ini. Lain kesempatan, Insya Allah kami akan menghadirkan tema tersebut.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 01/Thn I/Jumat, 13-19 Juni 2008.

Menjadi Remaja Berakhlak Terpuji

FIMNY.org - Setiap orang tua sudah pasti mendamba-kan anak yang memiliki akhlak terpuji. Bahkan saat masih dalam kandungan, hati dan bibir orang tua selalu gemetar dengan doa agar sang jabang bayi lahir dengan selamat dan kelak mewarisi akhlak yang mulia. Di waktu tangisan pertama saat melahirkan, tak henti-hentinya orang tua terus berdoa sambil mengucap rasa syukur di hati.

Lalu ringis-teriris hati orang tua, terutama ibu, ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa anaknya tumbuh dan besar dengan hingar-bingar pergaulan remaja masa kini yang menghambakan diri pada alkohol, minuman keras, sabu-sabu, ganja, heroin dan barang haram lainnya. Ditambah lagi judi, suka mengambil yang bukan haknya (maling/rampok), berpanas darah dengan saling menghujat, baku hantam, tusuk menusuk. Lengkap sudah penderitaan orang tua. Sungguh, itu semua di luar kehendak dan jauh dari doanya selama ini.

Namun, sungguh mulia hati orang tua yang meski nyata-nyata menyaksikan anaknya terjerumus, tetap selalu berdoa dan menyayanginya. Lalu, bagaimana mungkin seorang anak berani membentak orang tuanya meski dengan kata “ah”, apalagi sampai menghujat, memaki, mencibir, menampar atau bahkan sampai memukulnya hingga kepala di kaki, kaki di kepala (babak belur).

Ada memang anak seperti itu, tapi apakah pantas ia menyandang gelar “anak” dari kemuliaan hati seorang ibu, dari rasa pengayom seorang bapak. Sungguh, ia tidak pantas menyandang gelar anak, karena seorang anak tidak pernah tega melakukan hal sekejam itu.

Memang, kenyataan “menyimpang” seorang anak semacam ini sepenuhnya bukan kesalahan dari pihak anak itu sendiri. Banyak faktor yang turut mempengaruhi. Bisa dari lingkungan keluarga, pergaulan teman sebaya, masyarakat maupun keangkuhan dari anak itu sendiri. Ketiga pengaruh pertama sebagai faktor eksternal (datang dari luar), dan yang terakhir sebagai faktor internal (datang dari dalam diri anak).

Tentu saja, kedua faktor ini dapat dihindari dan diobati dengan menanamkan nilai-nilai moral dan agama semenjak bayi, menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung perkembangan mental, fisik dan kerohaniannya, sampai kepada pengawasan dan pengendalian pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar dan proporsional (sesuai dengan kemampuan anak) selama masa pertumbuhan, masa akil baliq, sampai melewati masa remaja. Ini semua adalah proses mendidik dan mengajar, memberi pemahaman dan penjelasan-penjelasan yang rasional (masuk akal) tentang segala hal dengan dukungan akidah yang kuat.

Yang perlu diperhatikan orang tua, bahwa mendidik adalah proses yang ilmiah (masuk akal dan sesuai dengan pengalaman/belajar dari pengalaman). Sifatnya mendidik adalah memberi penjelasan yang sesuai dengan kenyataan dan jalan pikiran anak. Karena itu, mendidik bukan memarahi, mencaci maki, bukan pula sumpah serapah (mendoakan yang bukan-bukan), apalagi memukul dan menghantam. Sebagian besar dari kita, mendidik dengan cara yang terakhir inilah yang sering diterapkan.

Untuk itu, marilah kita sama-sama sadar, baik yang berperan sebagai anak maupun sebagai orang tua bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk seperti itu justru menjadi sumber malapetaka selama ini. Mari kita mulai merubah peran kita. Mari kita mengasah dan merubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak membawa safaat, merugikan diri, keluarga, masyarakat, dunia dan akhirat.

Bagi yang baru berfikir untuk berubah mari segera merubahnya. Bagi yang sudah, mari terus meningkatkannya dengan terus mencari pengalaman dan ilmu agar terus berkembang. Kalau bukan sekarang, siapa yang menjamin esok kita masih melihat matahari terbit. Insya Allah, anak-anak kita akan tumbuh menjadi remaja berakhlak terpuji.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 01/Thn I/Jumat, 13-19 Juni 2008.

Ncao ro Lewa, Perlukah?

FIMNY.org - Ncao (ndempa) dalam pengertian bahasa Indonesia adalah berkelahi/berantam yang melibatkan kontak fisik (jagu ro ndempa) atau non fisik, baik dengan sarana/alat (haju ro wadu, cila ro ponggo, atau rima mpoa) maupun tanpa sarana/alat (kancao asa dan sejenis), antara satu individu dengan individu yang lain (kese-kese), antara individu dengan kelompok (kese labo dou ‘dua ato ncewi), atau antara kelompok dengan kelompok (weki ma remba) dalam satu komunitas (satu desa, satu organisasi, satu kelompok dll).

Sedangkan lewa adalah berkelahi/berantam yang pengertiannya cenderung kepada konsentrasi massa (mboto dou/dou ma rempa), yang melibatkan antara komunitas yang lebih besar (antar desa/lewa rasa, antar kecamatan, antar suku/ras, antar agama dll). Lewa biasanya menggunakan alat/sarana (cila ro ponggo, haju ro wadu, bedi, fana, dll). Dari kedua pengertian di atas, terdapat satu kesamaan, yakni sama-sama merupakan kondisi saling bermusuhan (musu angi/tiloa eda angi, ndempa ro ndampa).

Dalam kasus Ndai Ncera khususnya, kedua-duanya ada/pernah terjadi. Ndempa dapat terjadi dengan teman (lenga sama rewo atau lenga lai rewo), dengan tetangga, dan dengan pemuda desa lain (Soki, Lido, Ngali, Renda). Ndempa dengan teman (lenga) biasanya karena ada yang diperebutkan (lepi siwe, lepi piti dll) atau karena merasa tersinggung/tidak senang.

Ndempa dengan tetangga biasanya karena salah paham masalah anak, batas tanah (sarei), dll. Ndempa dengan pemuda desa lain terjadi karena peristiwa tertentu seperti mabuk-mabukan saat hajatan/pernikahan (ncao nika), kalah berjudi (ka’o ‘boto), gesek-menggesek berjoget saat hiburan nyanyi (rawa mbojo, orkes, dangdut).

Lewa biasanya terjadi dengan desa tetan-gga seperti Ngali (lebih sering), Lido/Renda (sangat jarang). Pertanyaannya adalah perlukah kita ber-kelahi/berantam (ncao ro lewa)? Jawabannya bisa ya, bisa tidak, tergantung kondisi/ situasi yang ada. Ncao ro lewa perlu bahkan wajib jika dilakukan untuk membela diri atau mempertahankan keamanan kelompok/desa. Namun hal ini hanya dilakukan untuk meng-hindari kerugian diri atau kelompok (weki, rasa ro dana), bukan untuk menimbulkan kekacauan atau kerugian baru yang lebih banyak dan lebih besar.

Hal ini juga dilakukan oleh para nabi dan para sahabat di saat harus berhadapan dengan kaum kafir yang sangat bengis dan kejam. Hakikatnya, Ncao ro lewa yang dilakukan para Nabi dan sahabat adalah untuk memerangi kesalahan dan kekeliruan akidah kaum kafir, bukan memusuhinya secara pribadi.

Kenyatan ini jauh berbeda dengan apa yang pernah kita alami. Bahkan tak segan-segan, kesalahan satu orang dapat dilimpah-kan kepada orang lain dalam satu keluarga, kampung atau satu desa sekalipun. Akibatnya, kerugian yang ditimbulkan pun semakin besar dan banyak, kerugian materi bahkan nyawa sekalipun.

Dengan demikian ncao ro lewa sangat tidak dibenarkan (wati loa) jika itu dilakukan untuk mempertahankan keegoisan (wa’a ne’e) diri, keluarga, kelompok atau desa. Apalagi ncao ro lewa tersebut dilakukan dengan sengaja dan direncanakan, yang nyata-nyata jelas menimbulkan kerugian dan bahaya bagi orang lain, keluarga, kelompok atau desa lain. Sudah sangat jelas bahwa ncao ro ndempa seperti ini sangat banyak kerugiannya.

Tak sedikit dari warga kita jadi korban, luka-luka maupun meninggal. Kerugian materi juga tak terhitung, baik milik pribadi maupun sarana umum seperti sekolah, jalan raya, jembatan dll. Yang lebih parah adalah kesulitan akses (lampa ro lao) ke kota (Cenggu, Tente, Kota Bima bahkan ke luar daerah).

Kesulitan lampa ro lao berakibat pada kekurangan kebutuhan hidup bagi warga, tidak dapat menjual hasil panen, anak-anak sekolah dan mahasiswa tidak dapat mengikuti pelajaran sekolah, dan rasa tidak tenang.

Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk menghindari ncao ro lewa? Yang pertama dan utama adalah penanganan anak muda, karena biasanya ncao ro lewa selalu melibatkan anak muda. Penanganan dilakukan bukan untuk menuduh apalagi menyalahkan anak muda, karena peristiwa ncao ro lewa bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Ini adalah kesalahan struktural, yakni kesalahan yang sudah mengakar dan berlangsung sejak lama. Karena sudah mengakar, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Meski demikian, tetap ada jalan keluar meski membutuhkan kerja keras dan waktu yang relatif lama (natani).

Penanganan bisa dimulai dari pendidikan dan penanaman nilai-nilai moral dan agama sejak dini, mulai dari lingkungan keluarga. Selain keluarga, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam proses penanaman nilai. Karena itu, keterlibatan semua pihak sangat diperlukan, dari pribadi, keluarga, tetangga, kerabat, masyarakat desa sampai kepada aparat desa, mulai detik ini.**

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 03/Thn I/Jumat, 27 Juni-03 Juli 2008.

Menata Hati Mensucikan Jiwa

FIMNY.org - SEMUA krisis yang muncul ke permukaan kehidupan manusia mulai krisis ekonomi, politik, sosial, hukum, keamanan dan moral, berawal dari krisis spiritual yang terjadi pada diri manusia. Karena itu dalam mengatasi berbagai krisis kehidupan yang menimpa umat manusia sepanjang sejarahnya, para nabi Allah senantiasa mengawali langkah mereka dengan Tazkiyatun Nafs.

Bahkan hal ini menjadi syarat mutlak untuk mengentaskan manusia dari berbagai krisis yang membelitnya. Langkah ini pula yang dilakukan oleh Imam Al Ghazali ketika menyaksikan berbagai krisis yang menimpa ummat manusia yaitu dengan menyusun kitab Ihya' Ulumuddin yang dimaksudkannya sebagai upaya “mensucikan jiwa“ dan mengisi kekosongan spiritual.

Jiwa adalah harta termahal. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri lahir batin, itulah kekayaan sejati. Banyak orang kaya harta tapi mukanya muram. Banyak yang miskin uang tapi wajahnya berseri.

Kebahagian memang bukan ditentukan oleh harta, tapi oleh jiwa yang ada di dalam diri. Membersihkan jiwa dari kemusyrikan dan cabang-cabangnya, merealisasikan kesuciannya dengan tauhid dan cabang-cabangnya, menjadikan nama Allah yang baik sebagai akhlaknya, disamping ubudiyah yang sempurna kepada Allah. Semua itu melalui peneladanan kepada Rasulullah SAW.

Pentingnya Tazkiyatun Nafs

Sesungguhnya penyebab timbulnya kotoran jiwa dan hati adalah kemusyrikan dan hal-hal yang berasal darinya. Pohon kemusyrikan mengeluarkan ranting-ranting yang banyak berupa ubudiyah kepada selain Allah kepada berbagai penyimpangan di jalan kesesatan, kepada akhlak yang rusak seperti ujub, sombong, dengki untuk taat kepada para thagut, maka hal pertama kali masuk tazkiyah adalah pembersihan hati dari kemusyrikan dan berbagai cabangnya.

Hati dan jiwa bisa saja masuk ke dalam berbagai kegelapan. Kegelapan nifaq, kekafiran, kefasikan dan bid'ah, kegelapan kebingungan dan keguncangan, kegelapan kemaksiatan untuk dosa, karena itu, terbebasnya hati dari berbagai kegelapan sehingga berada di dalam cahaya hidayah rabbaniyah dan bisa melihat segala sesuatu dengan cahaya tersebut termasuk tazkiyah. “Allah adalah pelindung orang-orng yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan pada cahaya” (QS Al Baqarah: 257).

Jiwa punya berbagai syahwat. Yang bersifat syahwat inderawi dan syahwat maknawi. Syahwat Inderawi adalah cinta makanan dan minuman. Syahwat Maknawi adalah senang balas dendam, cinta jabatan dan popularitas dan suka kultus diri. Pembersihan jiwa dari berbagai penyakit syahwat yang diharamkan itu termasuk tazkiyah.

Jiwa dan hati mengalami sakit sebagaimana jasad, lalu jiwa menderita berbagai penyakit ujub, sombong, terpedaya, dengki dan curang oleh karena itu pembersihan dari penyakit-penyakit ini termasuk tazkiyah.
Jiwa bisa terpengaruh oleh lingkungan, lintasan pikiran dan oleh rasa was-was karena itu tidak mengikuti hal itu termasuk tazkiyah.

Hati memiliki banyak penyakit, yaitu : (1) kufur, nifaq, kefasikan dan bid'ah; (2) kemusyrikan dan riya; (3) cinta kedudukan dan kepemimpinan; (4) kedengkian; (5) ujub; (6) sombong; (7) kebakhilan; (8) amarah dan zhalim; (9) cinta dunia; dan (10) mengikuti hawa nafsu.

Hati akan sehat jika di dalamnya mengandung : tauhid dan ubudiyah, ikhlas, shidiq kepada Allah, zuhud, tawakal, mahabbatullah, rasa takut dan harap, syukur, ridha, dan taubat.

Sarana-sarana Tazkiyah

Untuk mensucikan jiwa, diperlukan sarana-sarana :

Shalat. “Sesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar” (QS. Al Ankabut: 25).

Zakat dan Infaq. Membersihkan jiwa dari sifat bakhil, kikir, menyadarkan manusia bahwa pemilik harta sebenarnya adalah Allah. “Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya” (QS. Al Lail (92): 18).

Puasa. Pembiasaan untuk mengendalikan syahwat perut dan kemaluan. “Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al Baqarah: 183)

Membaca Al Qur'an. Mengingatkan jiwa kepada berbagai kesempurnaan. “Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya” (QS Al Anfal: 2)

Dzikir. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Ra'd: 28)

Haji. “Dan barang siapa mengagungkan syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS. Al Hajj: 32)

Tafakkur. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah? (QS. Al A'raaf: 185)

Marilah kita mensucikan jiwa dengan terus mengingat Allah, baik saat beribadah maupun di luar aktivitas ibadah. Karena, itu adalah bagian dari inti ajaran Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan tiga hal utama yang harus dijalani manusia, yaitu senantiasa mengingat Allah, mengembangkan sikap bersyukur dan mengerjakan ibadah sebaik-baiknya.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 02/Thn I/Jumat, 20-26 Juni 2008.