Integrasi "Kemenangan" Menyelamatkan Ummat

FIMNY.org - Berbahagialah dan bergembiralah kita, para hamba Allah yang beriman, di hari Idul Fitri yang mulia ini, sebagai ungkapan syukur kepada-Nya, atas keberhasilan dan kemenangan kita insya Allah dalam memperoleh anugerah besar berupa bulan Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita. Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah Ilahi Yang Maha Rahman dan Yang Maha Rahim-Nya. Ramadhan yang bersenandung dengan keindahan tadarus dan tilawatil Qur’an.

Ramadhan yang bernuansa kasih sayang dan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan, Ramadhan yang berpesan kepada setiap insan agar senantiasa dekat dengan Sang Pencipta semesta alam dan Ramadhan yang diistimewakan dengan malam Qadar yang diagungkan melebihi seribu bulan. Semoga semangat dan nuansa Ramadhan yang penuh dengan aktivitas ibadah dan pengabdian kepada Allah tersebut akan senantiasa hadir dan mewarnai hari-hari kita di bulan-bulan yang lain, dan semoga pada hari yang agung ini kita benar-benar kembali kepada fitrah (kesucian) kita, dan kita selaku individu maupun ummat mencapai derajat taqwa yang menjadi target utama disyariatkannya puasa di bulan Ramadhan. Seperti Firman Allah yang Artinya:

“Wahai orang-orang yang beiman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi bertaqwa”. (QS.Al-Bakarah:183)

Derajat taqwa merupakan capaian tertinggi dalam tangga pengabdian seorang hamba kepada Sang Khaliq, karena taqwa merupakan sifat ubudiyah yang hakiki, di dalamnya tercakup semua aspek kehidupan beragama. Manusia bertaqwa adalah yang salalu menghadirkan Allah dalam dirinya (Dzikrullah), ia merasa bahwa pengawasan Allah selalu melekat pada setiap aktivitas hidupnya (Muraqabatullah) sehingga ia senantiasa berada di atas jalan ketaatan kepada-Nya dan tidak melanggar aturan-aturan-Nya (Imtitsalul-Awamir wa ijtinabun-Nawahi). Taqwa mencakup aspek keimanan, aspek ibadah, aspek akhlak, baik yang terkait dengan kehidupan sosial, politik, ekonomi, hukum; pidana dan perdata. Sifat Taqwa tetap harus menjadi landasan dalam kehidupan setiap individu, keluarga maupun masyarakat; berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya integrasi (Persatuan) ummat islam harus dilaksanakan oleh ummat itu sendiri, supaya tidak terjadi disintegrasi (Perpecahan) ummat islam yangsekarang dengan kita alami bersama.

Hari ini kaum muslimin merayakan hari kemenangan yang fitri, hari kemenangan yang harus kita syukuri dengan cara menjaga dan semakin memantapkan serta mengokohkan keimanan kita, bahwa janji Allah untuk menolong dan memenangkan kaum muslimin adalah sebuah keniscayaan.

Diantara makna kemenangan yang bisa kita tangkap dari hari yang penuh kebahagiaan ini adalah :

Kemenangan Iman atas Kekufuran

Kenapa keimanan itu pasti menang? karena, keimanan adalah kehidupan, sementara kekufuran adalah sebuah kematian. Keimanan adalah kehidupan hati seseorang yang mendapatkan pancaran nur Robbani yang menerangi kehidupan, sehingga seorang muslim mengetahui tujuan hidupnya, makna kehidupan, mengetahui halal dan haram, dan itu semuanya merupakan suatu dinamika kehidupan yang memberikan energi yang besar dalam mengarungi hidup ini, sehingga dia bisa kontinyu, produktif, dan selalu mempunyai energi yang besar untuk membangun masyarakat dan negaranya yang mempertahankn Integrasi (Persatuan) Ummat Islam. Berbeda dengan watak kekufuran yang selalu menyeret manusia kepada kehancuran, tindakan anarkis, mandul dan Disintegrasi (Perpecahan) Ummat Islam dalam memproduksi kebaikan. Firman Allah yang Artinya:

“Wahai orang-orang yang berimana! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerukan kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi anatara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” (QS:Al-Anfal:24)

Kemenangan Akhirat atas Dunia

Pada dasarnya, islam adalah agama dunia dan akhirat tetapi lembaga shiyam (puasa) dimana didalamnya kita di training oleh Allah untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa kaum muslimin mampu atas izin Allah untuk membangun obsesi dan cita-cita terbesarnya yaitu memprioritaskan kebahagiaan ukhrawi yang abadi dan mempertahankan Integrasi (Persatuan) Ummat Islam daripada terjebak ke dalam Disintergasi (Perpecahan) ummat Islam khusunya di Kab. Bima dan kesenangan duniawi yang sementara.

Dan itu nampak jelas dalam ibadah ramadhan selama satu bulan dimana kaum muslimin bisa menahan diri bukan hanya dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan yang syubhat tapi juga mampu meninggalkan sesuatu yang mubah. Kemenangan obsesi akhirat yang abadi atas dunia yang sementara juga bermakna kemenangan luasnya nikmat ukhrawi terhadap sempitnya dunia juga mengandung arti kemenangan kenyamanan yang abadi atas suasana dunia yang letih dan melelahkan. Dan bisa bermakna kemenangan yang hakiki atas sesuatu yang semu dan menipu.

Oleh karena itu Allah menegur kaum muslimin yang terjebak dalam kungkungan Disintergasi (Perpecahan) ummat Islam khusunya di Kab.Bima dan Indonesia pada umumnya, sehingga terjadi gempa bumi, sunami, lumpur Lapindo, Kemiskinanan/Kelaparan dan dekadensi moral, itu semua karena perbuatan manusia yang selalu mengikuti hawa nafsu. Kesenangan duniawi inilah yang membuat ummat islam berat untuk bangkit berjuang di jalan Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah yang Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman!mengapa apabila dikatakan kepadamu “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah “ kamu merasa berat dan tinggal di tempatmu?apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat?padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)di akhirat hanyalah sedikit” (QS:At-Taubah:38).

Kemenangan Kesungguhan dan Keseriusan atas Kemalasan

Gelora kemenangan di hari yang fitri ini mengingatkan kita semua bahwa madrasah ramadhan mentarbiyah kaum muslimin untuk mampu mengalahkan seluruh bentuk kemalasan yaitu kemalasan dalam memperbaiki diri dilihat dari dimensi akidah, pemikiran, mentalitas, moralitas, dan ibadahnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan madrasah ramadhan mampu mengantarkan kaum muslimin untuk menyingkirkan kemalasan yang merintangi dirinya dari upaya Integrasi (Persatuan) Ummat Islam dan pembentukan rumah tangga islami yang diterjemahkan ke dalam wujud seorang bapak yang sholeh, ibu yang sholehah, dan anak-anak sholeh. Mereka semuanya itu merupkan pengejawantahan dari Qurratu A’yun dalam setiap doa yang dikumandangkan oleh setiap keluaraga yang surgawi, sebagaimana firman Allah yang Artinya:“ Dan orang-orang yang berkata, “ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”(QS:Al-Furqan:74).

Nuansa rumah tangga yang surgawi ini nampak jelas didalam bulan ramadhan dimana bapak, ibu, anal-anak dan anggota keluarga lainnya berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah melalui sholat berjaamah, tilawah Qur’an, semangat berinfaq, mendalami ilmu-ilmu agama dan kebaikan-kebaikan yang lainnya, sehingga bulan ramadhan sebagai bulan ibadah bukan sekedar wacana dan slogan tetapi benar-benar sebuah kurikulum kehidupan yang diamalkan oleh setiap keluarga muslim.

Kemenangan Kesabaran dan Pengendalian Diri

Hari raya idul fitri adalah hari dimana kaum muslimin merayakan kemenangan kesabaran dan pengendalian diri dari seluruh yang diharamkan, bentuk-bentuk syubhat, al-lahwu dan al-laghwu, bahkan kemenangan dalam menghindari dari Disintergasi (Perpecahan) ummat Islam khusunya di Kab. Bima dan memperbanyak perbuatan mubah, sebab kaum muslimin yang jujur dalam keislaman dan keimanannya mereka harus produktif dalam mencetak amal-amal sholeh dan seluruh kebijakan-kebijakan yang dianjurkan oleh islam sehingga mereka tidak punya cukup waktu untuk melakukan perbuatan yang sekedar mubah hukumnya, sebab kewajiban dan tugas-tugas agama itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Oleh karena itu patut untuk merenungi ungkapan Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu yang Artinya :

“Kami adalah masyarakat yang meninggalkan sembilan persepuluh yang (mubah) karena kami khawatir terjatuh ke dalam yang haram”

Dari sini terlihat jelas bahwa generasi terbaik sepanjang masa selalu produktif dalam mencetak kebajikan-kebajikan dan waktunya tidak terbunuh oleh cengkraman perbuatan yang mubah apalagi yang syubhat dan haram. Kemenangan kesabaran dan pengendalian diri tidak sekedar berimplikasi duniawi tetapi juga mencakup dimensi ukhrawi dimana pahala orang yang sabar tidak bisa dihitung.

Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas” (QS:Az-Zumar:10)

Kemenangan Kepedulian Sosial

Hari raya idul fitri hendaknya dijadikan oleh segenap kaum muslimin agar selalu menjaga asset dan modal yang sangat mahal yaitu sebuah kemenangan yang mempertahankan Integrasi (Persatuan) Ummat Islam serta berkaitan dengan kepedulian sosial. Selama bulan ramadhan kaum muslimin di training oleh Allah untuk selalu peduli terhadap dinamika sosialnya, hal itu terlihat jelas dalam aktifitas kebersamaannya seperti: sholat berjamaah baik yang fardhu, tarawih, dan witir, ifthor jama’i (buka bersama), waktu sahur, mendengarkan ceramah-ceramah agama, pengumpulan zakat shadaqah dan infaq, dan aktifitas lainnya.

Kebersamaan ini tidak boleh berhenti hanya dibulan ramadhan saja tetapi kebersamaan dalam amal islami menuntut adanya kesinambungan dan kontinyuitas terpadu, sehingga kaum muslimin dalam beribadah dan perjuangannya terutama menghadapi kedzaliman, kemaksiatan, Disintergasi (Perpecahan) ummat Islam dari musuh-musuh Allah lebih mendapatkan barakah dari Allah SWT, karena Al-barakah wa’aljamaah (keberkahan itu selalu menyertai kebersamaan) kepedulian social ini akan tetap eksis selamanya bilan ummat islam mempertahankannya.

a. Integrasi umat (persatuan)

Persatuan dan kesatuan yang melahirkan kepedulian social meliputi kesatuan niat yaitu semata-mata karena Allah SWT dan kesatuan munthalak (titik tolak), kesatuan Ghayatuna (tujuan), dan kesatuan dan persatuan untuk senantiasa bermusabaqah dalam kebajikan yang didalamnya terdapat khidmah ijtima’iyyah (melayani masyarakat) yang merupakan kata kunci dari setiap pemimpin sepanjang masa. Dimana kita mengimani dan memahami bahwa umat islam harus menjadi umat yang terbaik termasuk memimpin dan melayani seluruh masyarakatnya. Firman Allah yang Artinya:

“ Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman tentulah itu lebih bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik”(QS:Ali Imran:110)

b. Muqawamah (perjuangan/perlawanan)

Kepedulian social akan selalu eksis di dalam diri kaum muslimin dan agenda perjuangannya ketika kaum muslimin selalu membangun dan memelihara semangat perlawanannya dalam memerangi seluruh bentuk Disintegrasi (Perpecahan), kemaksiatan, kedzaliman, ketidakadilan, keterbelakangan dalam setiap dimensi kehidupan, dan juga dalam menghadapi konspirasi global yang selalu dilancarkan oleh musuh-musuh islam, Allah Berfirman yang Artinya:

“ Dan demikianlah untuk setiap nabi kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuahanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka adakan”(QS:Al-An’am:112).

Terakhir, melalui mimbar ini marilah kita berjanji untuk senantiasa menjaga kemenangan-kemenangan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT, sebab kemenangan itu anugerah Allah yang wajib kita syukuri bersama.Yang Artinya:

“ Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikamat-Ku maka pasti azabku sangat berat”(QS:Ibrahim:7)

Demikian khutbah pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama dan memacu kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan dengan sikap dan prilaku yang Islami. amien. Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ied kita dengan berdo’a yang Artinya :

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

Artinya : Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Ramadhan Pembawa Nikmat

FIMNY.org - Kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah secara khusyuk dan tertib, merupakan nikmat Allah yang besar. Ibadah bernilai spiritual menjadi akar pembentukan sikap terpuji seperti; disiplin waktu, cinta kebersihan, sehat fisik, taat aturan, tuma'ninah (teratur), memiliki kesadaran prima (kontroling), bersikap hati-hati, tabah dan setia.

Sikap-sikap yang diperlukan mengarungi kehidupan kini dan menatap keberhasilan masa depan (dunia dan akhirat). Teranglah orang yang lalai dalam ibadahnya, cenderung akan melalaikan tugas-tugas yang ada didepannya, dan amat mudah untuk mengkhianati amanah yang dipetaruhkan padanya.

Ramadhan adalah bulan mulia yang selalu dinanti secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Penyambutannya membekas pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya di beberapa daerah yang masih kokoh dengan budayanya.

Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan. Orang Minang menyebutnya "bulan basaha" (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).

Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan marhaban bil-muthahhir, artinya, "selamat datang wahai pembersih". Sahabat bertanya,"Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapa yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)". Rasulullah SAW menjawab "al-muthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma'ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma'shiyat)".

Marhaban adalah kata yang kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan itu tersirat makna yang dalam Kegembiraan menyambut bulan basaha itu, diiringi kesiapan dan kelapangan waktu, keluasan tempat untuk melakukan tindakan yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa menuju kebersihan bersamanya.

Bersihnya diri adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) sebagai satu ibadah khusus di bulan Ramadhan, berperan membersihkan diri pelakunya. Sesuai firman Allah:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)". (QS.2, Al Baqarah: 183).

Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran yang berisi petunjuk, bimbingan, pembeda antara benar dan salah, penjelasan tentang paradigma hidup manusia.

Memasuki bulan Ramadhan wajib melaksanakan ibadah shaum (puasa). Meski sakit sekalipun, kewajiban puasa tidak gugur. Allah memberikan keringanan( rukhsah), berupa keizinan untuk mengganti puasa Ramadhan dengan berpuasa dihari (bulan) lainnya. Kalaupun masih tidak sanggup, karena sakit menahun, yang menyebabkan tidak bisa berpuasa, maka dapat digantikan dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin). Kondisi ini berlaku terhadap orang sakit (tua),yang tidak sanggup untuk berpuasa. Ketentuan Allah ini merupakan kemudahan bagi manusia.

Ajaran agama (Islam) sama sekali tidak memberatkan. Sehingga tidak ada alasan seseorang menolak melaksanakannya jika ia sebenar-benar mempercayai (mukmin). Pada hakekatnya puasa adalah ibadah khas yang membuktikan seorang benar-benar beriman (mukmin) serta mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan dirinya dan memberikan segala sesuatu keperluan yang diperoleh dalam hidup ini (jelasnya baca: Al Quran,Surat Al Baqarah (2) ayat 184-187).

Berakhlak Mulia adalah Buah Amaliah Ramadhan

Wahyu Allah mengingatkan kita, antara lain:

Artinya: "Dan tiadalah kami mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi Semesta Alam". (QS.Al Anbiya: 107).

Jika Nabi Muhammad SAW tidak diutus sebagai Rasul, maka Alquran pun tidak akan pernah ada, dan kita tidak akan tahu, bagaimana bentuk kehidupan manusia di akhirnya. Kebuasan binatang adalah soal biasa. Tetapi, kebuasan manusia akan menyisakan persoalan-persoalan, antara lain perkosaan manusia terhadap lainnya, pengrusakan alam lingkungan di obrak-abrik oleh kebejatan moral manusia. Kita wajib bersyukur kepada Allah, yang mengutus Muhammad disertai Alquran, untuk mengangkat derajat manusia menjadi yang paling mulia di antara makhluk yang ada.

Ajaran Agama Islam, mengarah kepada perubahan watak manu­sia, dan kepada tingkah laku dalam kehidupan. Ajaran agama, akan mengikat gerak dan jalan manusia. Ilmu pengetahuan agama, mempunyai satu tuntutan agar orang mengubah sikap dan tingkah lakunya, sesuai dengan perintah agama (perin­tah-larangan dari Allah SWT), dalam semua persoalan hidup manusia, dengan menunjukkan cara menyelesaikan seluruh problematik kehidupan manusia. Ajaran agama (yang bersumber dari Allah, dengan pedoman Alquran), akan menyembuhkan penyakit yang melanda manusia, yang melanda masyarakat manu­sia, lantaran kejahatan atau kerusakan moral manusia sendiri. Segala penyakit dan wabah yang merusak nilai-nilai kemanusiaan, akan disembuhkan secara total oleh ajaran agama, jika masyarakat manusia itu benar-benar thaat mengikuti ajaran agama (Allah) itu.

Kitapun, sebagai manusia, berada di permukaan dunia ini, mempunyai satu tugas suci, selalu memelihara nilai-nilai kemanusiaan kita, dengan cara yang ditetapkan oleh Maha Pencipta."Dan tidaklah diciptakan manusia dan jin, melainkan hanya untuk pengabdian kepada KU (Allah)", (Alquran). Pengabdian kepada Allah (beribadah), adalah memung­sikan akal, dan menempatkan manusia pada konsentrasi yang benar. Di sini agama tidak hanya berurusan dengan masalah sesudah mati semata, namun juga mengatur hakekat hidup manusia di dunia. Sebuah pertanyaan, sudahkah kita hidup sesuai dengan harkat itu? Kenalilah, bahwa Allah SWT telah memanggil dengan penuh kasih sayang-Nya, masihkah hati mengelak jauh dari Ajaran agamaNya? Maka sahutilah segera, dengan amal kebaikan.

Dalam hubungan sesama manusia, ada ajaran agama agaru mengulurkan tangan membantu orang lain. Ketika banyak daerah kita dilanda musibah, maka membantu orang lemah sebenar­nya menjadi bukti akan kuatnya iman. Membiarkan orang yang lemah menjerit, sesungguhnya memberi tahukan bahwa orang kaya dan mampu secara materi itu sebenarnya lebih lemah dari para dhu'afak yang menjerit tadi. Mereka orang berada itu sedang lemah, tidak berdaya melepaskan dirinya dari belenggu harta bendanya, sehingga mere­ka tidak sanggup menggunakannya untuk meringankan beban orang lain. Enggan membantu orang yang miskin, akan beraki­bat lebih jauh yakni Allah tidak memperhatikan orang kaya itu. Ketika suasana itu tiba, maka beban derita akan datang menghimpit hatinya. Na'udzubillah.

Bertaubatlah dengan Segera

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, " Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. " (Q.S. At Thahrim : 8).

Setiap mukmin memerlukan pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan. Tentulah kita tahu bahwa tidak seorangpun terlepas dari dosa dan kesalahan. Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW yang bersumber dari Anas bin Malik r.a: "Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat." (HR. Ahmad).

Dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia akan mengotori hatinya, bagai noda hitam di atas kain putih, tiada dapat dibersihkan kecuali dengan taubat. Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabda beliau, "Orang yang meminta ampun dari dosa seperti orang yang tidak berdosa".(HR. Bukhari). Dan Allah SWT berfirman "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Q.S. Al Baqarah: 222).

Syetan telah menjebak manusia dalam seluruh aspek kehidupan, dan menyesatkannya dari jalan Allah Akibatnya manusia terjauh dari jalan keselamatan dan terbukalah dengan lebar pintu-pintu jahannam dengan bujuk rayu syaithan sehingga manusia terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan dan dosa. Karena itu semestinyalah manusia segera bertaubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak boleh berputus asa di dalam bertaubat menuju kepada keampunan dari Allah, meskipun dosa-dosa sufdah memenuhi kolong langit. Allah adalah Maha Pencipta semua makhluk dan menguji semua amal perbuatan makhluk manusia itu. Siapapun yang menyadari akan banyaknya dosa dan ingin bertaubat menyesali semua kesalahannya itu, maka pintu taubat kepada Allah selalu terbuka dengan syarat, harus menghentikan maksiat dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dia lakukan. Selanjutnya dia mesti berazam atau berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Dan manakala dosa yang pernah diperbuat itu ada berhubungan dengan hak manusia maka dianya harus menyelesaikannya dengan meminta maaf atau mengembalikan apa-apa barang yang wajib ia kembalikan.

Keutamaan bagi orang yang segera bertaubat ialah Allah akan menyibukkan para malaikat-Nya untuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat dan berdoa kepada Allah agar Dia melindungi mereka dari siksaan neraka jahannam, lalu memasukkan mereka ke surga yang penuh dengan kenikmatan, serta memelihara mereka agar terjauh dari kejahatan dan kesalahan. Para malaikat yang membawa 'Arsy di langit sibuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat.

Allah berfirman: "(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), Ya Rabb kami, Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam sorga 'And yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan … Dan, orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar. " (Q.S. Al Mukmin, 40 : 7-9).

Amat banyak ayat-ayat di dalam Al Quran al Karim yang mengabarkan diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat manakala dilakukan dengan tulus dan benar. Penerimaan taubat semata adalah karunia, ampunan dan rahmat Allah. Rahmat Allah itu diberikannya kepada hamba-hamba yang beriman. Taubat yang sesungguhnya adalah memperbaiki semua kesalahan dan menyertainya dengan beramal shaleh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifati diri-Nya dengan Asmaul Husana seperti ditemui di dalam Al Qur'an, dengan sebutan at Tawwab (Maha Menerima Taubat).

Firman Allah : " Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan yang hingga apabila datang ajal kepada seseorang, barulah ia mengatakan, " Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ". Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. " (Q.S. An Nisaa' 4 : 17-18).

Jangan menunda-nunda taubat hingga datang hari esok. Maut itu datang secara tiba-tiba. Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Al Fawaid menuliskan, "Bila kau berpulang ke alam baqa, tidak membawa bekal taqwa, kau lihat orang-orang yang membawanya pada hari perhimpunan. Kau akan menyesal, karena kau tidak seperti mereka. Mereka mempunyai persiapan sedangkan kau tidak memilikinya." Maka bersegeralah untuk mensucikan diri jiwa kita.

Nabi Muhammad SAW menasehat­kan kita semua dengan sabda beliau yang sangat dalam artinya "Man lam yahtamma bi ammril Muslimin falaisa minhum", artinya, Yang tidak mau tahu urusan sesama umat Muslim sebenarnya tidak pantas disebut kelompok Muslim. Begitulah Rasulullah SAW. Mudah-mudahan kita tidak tergolong kedalam klasifika­si yang disebut Rasulullah SAW ini. Mari kita bantu Sauda­ra kita yang sebenarnya sangat menunggu bantuan kita, bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Allahumma Amin.


Mempersiapkan Remaja Sebagai Potensi Pembangunan

FIMNY.org - Di tengah ketergantungan kita ini, ternyata remaja-remaja kita justru mencuatkan nama-nama kita diluar daerah, terbukti remaja-remaja atau anak-anak kita bisa sekolah tinggi sampai menjenjang pendidikan, sarjana S1 dan S2. Potensi dan jati diri mulai tumbuh dewasa terhadap remaja sebagai potensi regenerasi masa depan ncerah yang cerah.

Tinggal potensi yang sedang tumbuh ini diberi motifasi dan diasa terus dalam membina karakter kehidupan yang dijadikan contoh bagi orang lain di kemudian hari, bukan karakter seperti saling menjatuh antara satu dengan yang lain, maka dengan itu nertralisasi dalam kehidupan menjadi salah satu kemajuan peradaban suatu masyarakat dan bangsa. Langkah juang seperti ini membutuhkan komitmen yang serius dari masyarakat,

Persoalan Pembangunan

Kita sebagai masyarakat justru melihat atau mengukur remaja sebagai masalah pembangunan, karena orang atau kita hanya melihat sepintas dihadapan mata. Kenakalan sering terjadi pada tawuran pelajar, penyalah gunaan narkoba, pergaulan bebas dan macam-macam permasalahan sosial lainya.

Orangtua yang kesal dengan anak-anaknya juga cenderung melihat remaja sebagai biang atau pengacau dalam kehidupan sosial. Dimana pun di seluruh desa, masalah remaja memang terjadi di seluruh kota bima, soal narkoba misalnya hampir ±15% terlibat dalam penyalahgunaam zat-zat terlarang ini.

Fakta-fakta itu, di tambah pencitraan media, semakin mengarah kepada imej tentang remaja. Mereka dinobatkan sebagai generasi yang suka hura-hura, bebas, tak mau diatur, dan menganggap yang salah nenjadi benar dan begitupun sebaliknya yang benar menjadi salah. Dan masalah ini menjadi budaya yang sulit kita hapus. Kedekatan remaja dengan kebudayaan populer menambah kesan selagi mereka sebagai kaum yang jauh dari nilai-nilai etika, moral dan agama.

Alangkah indahnya kita memandang remaja tidak melihat pada satu sisi, tapi kita melihat dari potensi yang mereka miliki dan terus memberikan pencerahan serta terus menggali potensi yang mereka miliki. Melihat atau memandang seperti itu tidak baik untuk membangun kejiwaan para remaja.

Mereka mulai tumbuh dari anak-anak menuju kedewasaan dan masa ini ibarat badai atau tekanan. maka dengan ini mereka mencari jati diri dan oleh karena itu juga butuh mengerti, disayangi, memberikan pencerahan dengan macam-macam motifasi, dan didukung terus sesuai dengan kemaun selama dalam kebaikan. Maka apapun kita sebagai orang tua itu kewajiban yang harus tekuni dan semakin kita memberikan motifasi pasti akan ada hasilnya.

Potensi Pembangunan

Pendekatan untuk dimengerti , diarahkan, didukung dengan pendekatan seperti ini akan melahirkan remaja sebagai sumber daya manusia (SDM) yang mempuyai sifat usaha dan melahirkan suatu regenarasi baru untuk masa depan dan juga untuk orang lain. Kita melihat masalah itu bagian dari proses pertumbuhan. Dalam banyak hal merupakan bagian dari inofatif, dan kreatifitas untuk terus mencoba hal-hal sampai menemukan jati diri yang cerah.

Pendekatan seperti itu memberikan semangat dan orangtua terus mengarahkan untuk menemukan potensi dirinya. Remaja yang kita lihat hanya diam, harus membantu untuk menemukan proses pencarian jati diri, mungkin suatu saat akan menjadi pengarang. Remaja yang biasa ngobrol dan suka main-main misalnya, bisa jadi mempunyia potensi kecerdasan berkomunikasi dengan bidang wartawan yang handal.

Remaja yang menyendiri dan tertutup mempunyai potensi kecerdasan untuk melahirkan suatu hal baru dalam berkarya dalam berbagai bidang (kreatif). Remaja suka mengembara misalnya, barangkali menjadi budayawan dan ahli sastra. Remaja hobi olah raga mungkin suatu saat akan menjadi atlet terbaik yang mengharumkn nama daerah dan bahkan nama bangsa kejenjang internasional.

Artinya di balik kenakalan remaja secara negatif ternyata ada sifat-sifat terpendam yang harus digali dan bahkan harus terus diberi pemahaman agama supaya mengetahui adat kehidupan sosial dalam dirinya.

Kita orang tua terus mencoba, terus menggali potensi anak-anak dengan kerja keras. Sistem pendidikan kita semestinya membantu remaja untuk menggali, dan menumbuhkan potensi-potensi unik yang mereka miliki, karena apapun karakter dalam masa transisi seperti itu, kesabaran terus didukung oleh keihlasan pasti akan ada buahnya, ibarat kita menanam pohon kemudian di pupuk, di siram, dan dirawat terus menerus sampai menghasilkan buah yang manis. Tidak ada kata terlambat bagi orang tua untuk mendidik Anak-anaknya dan begitupun membina remaja sebagai potensi untuk mengasa terus kemampun untuk berkarya.

Membangun remaja sebagai potensi suatu awal dari kemajuan sehingga mencapai keindahan sifat abadi dan universal insan, dari keindahan tampaklah fitrah insan sejati untuk membagun peradaban. Membangun Peradaban tidak hanya semata-mata banyak wacananya, dan retorika yang tidak ada gunanya tapi menbutuhkan “Kenyataan Riil”, niat yang tulus untuk kepentinga masyarkat kemudian ikhlas, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah. “Ilmu tampa amal tidak ada gunanya dan amal tampa keikhlasan tidak ada gunanya”, maka segala tindakan, dan perbuatan lakukanlah dengan ikhlas hanya karena Allah SWT.

Sayangnya pendidikan disekolah disusun sedemikian rupa pada sebenarnya justru membatasi perkembangan potensi remaja yang tidak menonjol dalam sekolah, itu dinilai kurang potensi, padahal kepintaran dan kecerdasan itu banyak jenisnya dan bermacam-macam. Bukan pada matematikan dan bahasa inggris saja.

Dalam proses pembangunan maka peran besar orangtua terhadap anak-anak yaitu “Mendidik dengan sabar dan ikhlas”, sebagai cahaya regenerasi penerus, saling menghargai dan menghormati. Jika potensi-potensi ini tumbuh dewasa dengan kemampun dari berbagai bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan agama sehingga memberikan kontribusi untuk masa depan, terutama beradab dalam kehidupan sosial masyarakat bukan tidak mungkin desa yang kecil akan menjadi besar karena dibangun oleh generasi yang cerdas.

* Buletin FIMNY Edisi Ramadhan Tahun 2012.

Ramadhan Bulan Penuh Berkah

FIMNY.org - Tiada kata yang mampu menggambarkan suasana hati tatkala bulan yang penuh rahmat ini datang. Ibarat tamu agung yang selalu dirindukan oleh setiap perindu cahaya kasih sayang. Sebuah keagungan yang tiada henti bagi setiap individu yang haus akan ilham Sang Robb, muara pengharapan terujung dan penggenggap kolbu setiap insan”

Diantara dua belas bulan, yang paling mulia dan penuh berkah adalah bulan Ramadhan. Bulan ini adalah bulan yang paling di rindui oleh orang-orang yang mengaku diri sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Di bulan ini, Sang pencipta langit dan bumi telah menyediakan kesempatan bagi hamba-Nya untuk berbuat tiga kategori, yaitu : menunjukan kebaikan dengan perbuatan-perbuatan yang baik, bertaubat dan beristigfar, serta memperbanyak do'a. Karena harus kita yakini bahwa Allah SWT akan membalas kebaikan yang kita perbuat dengan menurunkan rahmat dan hidayah, menghapus dosa-dosa yang pernah terbuat, dan mengabulkan do'a-do'a kita.

Sebutir kecil kebaikan yang kita perbuat di bulan Ramadhan akan dibalas oleh Allah SWT di akhirat kelak dengan seribu, sepuluh ribu, bahkan bermiliaran kebaikan. Dari itu marilah kita semua berlomba-lomba menuju kebaikan, insya Allah perbuatan kita akan dilihat, dicatat dan di simpan baik-baik di Lauhul Mahfudh.

Bersama ini penulis terketuk dalam salah satu hadits, yang berbunyi : "Telah datang kepadamu Bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa, dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-malaikat-Nya, maka tunjukanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini." (HR. At-Tabhrani).

Subhanallah….! Sungguh hadits yang sangat menggelitik kalbu setiap insan. Semoga kita semua tergolong sebagai orang yang akan mendapat rahmat, dihapuskan segala dosanya, dan dikabulkan do'a-do'a kita. Sebagai hamba-Nya kita patut mengucap “Segala puji bagi Allah, Robb semesta Alam”. Dan semoga kita bukan termasuk orang yang tidak mendapatkan rahmat-Nya. Amiiieeeeen!

Banyak forum yang merasakan kenikmatan besar di bulan Ramadhan. Banyak keluarga yang meningkatkan kualitas menu makanan yang tentunya akan menambah ABRT (Anggaran Belanja Rumah Tangga). Padahal, secara logika kuantitas konsumsi yang kita makan lebih sedikit dibanding bulan-bulan biasa. Tapi, mengapa ABRT semakin membengkak. Sungguh nikmat Allah yang patut dan harus kita syukuri.

Oleh karena itu jangan biarkan hari-hari yang mulia ini berlalu dengan sia-sia, tanpa amal yang nyata. Marilah kita mengisi bulan penuh berkah ini dengan membaca Al-Qur'an dan zikrullah. Dan semoga Allah SWT melihat dan menyaksikan diri kita menjadi orang yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Ramadhan merupakan bulan dimana setiap umat islam mengispirasikan sikap dermawan, karena kita yakin dengan janji-Nya yang akan melipatgandakan setiap amalan dan tidak ada setiap harta yang kita infakkan disia-siakan oleh Allah SWT. Jadikan diri kita menjadi ahli sedekah, karena dengan sedikit harta yang kita ikhlaskan mampu mengangkat derajat fakir miskin, dan sebagainya.

Pada kesempatan yang mulia ini, kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Bila kita bernah berbuat jahat kepada orang lain baik yang sengaja mau pun yang tidak sengaja, patut kita minta maaf dan bila orang lain pernah berbuat jahat kepada kita, sebaliknya kita juga harus memaafkannya, baik dia sudah minta maaf dan atau belum minta maaf. “ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(QS. Ali Imran:133-134).

Nikmat Allah di dunia ini sangatlah luas, itu semua tergantung kita mau mencari dengan jalan mana? Kalau kita mencarinya dengan jalan yang benar maka akan mendapatkan berkah yang positif. Dan apabila kita mencarinya dengan jalan yang melenceng dari yang Dia perintahkan, maka itu semua akan sia-sia serta tidak akan mendapatkan berkah.

Sang Halik tidak akan rugi dengan kedurhakaan yang telah kita perbuat dan tidak akan lebih terhormat dengan ketaatan kita. Allah SWT tidak butuh kita melainkan hamba-Nya yang membutuhkan. Untuk itu, di bulan penuh berkah dan ampunan ini adalah saat yang sangat tepat untuk mendapatkan ampunan atas kesalahan yang kita lakukan selama ini, yaitu kufur akan nikmat-Nya.

Itulah kenikmatan dan keberkahan Bulan suci Ramadhan, pabrik dimana kita dapat memperoleh rahmat, menuai ampunan, dan menagih janji terbebas dari siksa api neraka. Hamparan luas telah terbentang untuk mengambil kesempatan menjadi orang-orang yang bertaubat. Semoga Allah yang Mahaperkasa lagi maha pengampun senantiasa menolong kita untuk selalu taat kepada-Nya. Niatkan semua ibadah kita untuk meraih ridha-Nya. Akhir kata, selamat berjuang mengendalikan hawa nafsu dan selamat menikmati jamuan Allah di bulan penuh berkah ini.

Kacang tidak akan lupa sama kulitnya. Sedikit ucapapan FIMNY buat para pelajar dan atau mahasiswa yang ada di Bima, Mataram, Makasar dan atau yang ada dimana saja selain Jogja, yang pernah berbakti dan mengabdikan dirinya di desa kita tercinta (Ncera).

Kami sangat berterima kasih yang sebanyak-banyaknya karena dalam kenyataannya kalianlah yang tahu bagaimana kondisi dan perubahan yang telah tercapai, itu semua karena kami belum pernah melakukannya. Maka dari itu, dengan datangnya selembar kertas yang tiada nilainya ini semoga dapat menambah wawasan dan sedikit mencerahkan kolbu, jiwa dan perasaan kita dari sekarang, besok sampai kita semua menghadapnya. Amiiieeeen….!

* Buletin FIMNY Edisi Ramadhan Tahun 2012.

Membangun Pribadi Yang Islami

FIMNY.org - Untuk memasuki dan mengawali bulan Ramadhan yang penuh ampunan, hidayah ini sangat baik bila kita membina jati diri yang Islami yang memancarka nilai – nilai dan etika yang sejuk serta akhlak mulia.

Kepribadian yang Islami merupakan suatu perwujudan dari komitmen untuk merealisasikan nilai-nilai Islami guna pembinaan mental spiritual, iman, akhlak dan etika dalam kehidupan sehari- hari. dimana hatinya merindukan suatu amalan yang fitri dengan memancarkan senyum iman, islam dalam kehidupan nyata.

Dalam bulan Ramadhan yang mulia dan penuh Ampunan, Berkah, juga bulan Pembeda antara yang baik dan benar, Pembeda antara orang kafir dan islam sekaligus bulan yang memancarkan jalan yang bercahaya bagi semua orang-orang beriman dan yakin sepenuh hati kepada Allah.

Pada bulan suci ini merupakan suatu momentum untuk mongoreksi diri dalam hal perbuatan buruk, seperti, suka membicarakan kejelekan dan kekurangan teman lain, suka memfitnah sana sini, berbuat yang kurang bermamfaat bagi masyarakat umum, mencuri barang yang bukan milik sendiri juga banyak hal-hal yang semestinya di tinggalkan. Untuk menjauhi serta meninggalkan suatu pekerjaan dan kebiasaan yang kurang positif memang perlu proses, untuk itu baiknya kita berpikir terlebih dahulu sebelum berbuat.

Apakah perbuatan tersebut menguntungkan diri atau justru membawa pada jurang kehancuran…? Apakah perbuatan itu baik dalam pandangan keluarga, masyarakan sekaligus juga baik bagi pembinaan akhlak dan moral...? Apakah kita siap untuk berpikir positif membangun pradaban baru...?

Hal ini akan terjawab dan menemui solusi jika kita mengutamakan jati diri yang Islami yaitu pribadi yang budiman.

Dalam hal pembinaan kepribadian yang memancarkan nilai – nilai Islami guna mewujukan pribadi yang fitri, pembentukan akhlak yang baik seperti: senyum sapa sesama kawan dan lawan, suka menolong, rajin ke Masjid, taat dan patuh kepada kedua orang tua serta banyak beramal di bulan Ramadhan yang pahalanya belipat ganda bagi pribadi yang beriman. Untuk pembinaan pribadi yang Islami, dalam Alqur'an Allah berfirman, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S : Al- Baqorah 208)

Dalam firman Allah diatas mengajak dan menganjurkan bagi orang - orang yang dalam hatinya tertanam keyakinan akan ke agungan Islam untuk menelusuri sekaligus memasuki Islam secara sempurna. Agar betul - betul terbina generasi yang mampu dan ikhlas mengamalkan ajaran yang agung dalam kehidupan sehari – hari. Dan berusaha menjauhi perbuatan dan langkah langkah syaitan sebagai musuh yang nyata alias lawan abadi bagi anak adam.

Pada dasarnya sejak lahir hingga tumbuh dewasa, kita di beri kebebasan oleh Allah untuk memilih dan memilah suatu jalan hidup, kebebasan akan berpikir dan berkarya guna untuk kebaikan diri, masyarakat serta bangsa dan Negara. Bila kita mencermati sistem dan pola hidup masyarakat kita. Dimana mengalami suatu kemunduran dan kehancuran Nilai-nilai moralitas, budaya dan agama. itu terbukti anak-anak muda senang berkelahi antar sesama Islam, senang minum – minuman keras, di satu sisi anak-anak wanita tidak lagi memperhatikan kewajiban untuk memakai jilbab, yang sebetulnya dengan menutup aurat kehormatan akan terpelihara dari ganngguan orang lain dan agar terhindar dari fitnah, terutama terhindar dari pergaulan bebas.

Dalam masalah budaya yang baik saling menghormati dan menghargai karya orang lain sudah tak di indahkan lagi. Lagi – lagi pelajar dan mahasiswa yang masih kurang memberikan suatu hal yang berarti bagi kebaikan dan perbaikan masyarakat umum. sebetulnya ini salah siapa??

Untuk menanggulangi problem tersebut kami Keluarga besar FIMNY, mengajak kaum Pelajar- Mahasiswa, aktifis dakwah serta orang tua dan guru agar berpartsipasi membangun suatu generasi baru {generasi Islam} yang di harapkan dapat mengharumkan nama baik masyarakat bangsa dan Negara. Yaitu membina dan membentuk sosok Islam sejati yang mampu berkarya dan bersaing dalam segala bidang. dengan cara melangkahkan kaki menuju jalan pengetahuan dan pradaban baru demi pembentukan generasi yang berani menegakan keadilan dan kebenaran-di atas bumi Allah sekaligus untuk menghindari kehancuran dan malapeta yang melanda kita.

Di samping pembinaan generasi yang berkualitas dan inovasi sangat perlu untuk merubah pola pikir kita dan masyarakat menuju kearah kemajuan pengetahuan, kecerahan, kedamaian hidup, kebersamaan dalam hal membalas dan menyumbangkan ilmu dan pengalaman yang kita miliki. Semoga hari – hari kita lewati dengan ilmu, iman dan amal kebaikan guna membawa suatu perubahan yang berarti bagi kehidupan masyarakat, sehingga kesuksesan dan Rahmat Allah menyertai langkah juang kita. Adapun kriteria pribadi yang senantiasa kita rindukan untuk membangun masyarakat, bangsa dan Negara yang selalu dalam lingkara hidup islami adalah:

Pertama, membangun sosok muslim yang senantiasa mencintai Allah dan Rasullullah dikala suka dan duka dengan mengupayakn segala kekuatan untuk menjalakan ajaran islam berupa aqidah, akhlak dan syariah. Dengan pribadi yang hatinya senantiasa patuh, tunduk, taat dan rindu hanya pada Allah semata akan mengantarkan seseorang kejalan yang lurus baik dalam mencari rezki yang halal lagi baik maupun menempuh jalan mencari dan menggapai ilmu pengetahuan yang benar. jika kita sadar akan ada kehidupan lain sesudah melalui hidup nyata sekarang {hidup di dunia ini} atau kita mengetahui bahwa segala bentuk perbuatan dan amalan yang kita perbuat akan mendapat ganjaran yang setimpal, maka hati kita akan betul - betul sadar dan segera ingat kepada Allah apan pun dan dimana pun kita berada.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula. (QS. Al-Zaljalah).

Kedua, mendidik dan membentuk pribadi yang selalu mengutamakan perbuatan hati dari pada akal dalam arti yang luas. Dalam kehidupan nyata kita sadar ada kebaikan dan keburukan, ada pahala dan dosa, ada siang dan adapula malam, juga di iringi kesusahan dan kesenagan. Yang ke semua itu menuntun manusia untuk menggunakan hati nurani dalam menambil keputusan agar langkah yang kita tempuh menguntungkan diri sendiri juga masyarakat yang kita cintai bersama.

Ketiga, mendidik generasi yang mencintai ilmu pengetahuan serta mampu berkarya dalam segala bidang . Bila kita telusuri lebih jauh bahwa kemajuan manusia seutuhnya bisa di lihat dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang mengarah pada suatu perubahan serta melahirkan generasi yang mampu berkarya. Suatu desa, kota serta bangsa dan Negara akan maju dan makmur bilamana disiplin ilmu pengetahuan di utamakan. Baik itu berupa ilmu Agama islam, ilmu pengetahuan umum seperti, ilmu ekonomi, politik, sosiologi, serta ilmu – ilmu lainya. Dalam Alqur,an Allah menegaskan kepada semua manusia tentang pentingnya budaya ''Membaca''.

Dengan kebiasaan membaca maka kita akan menemui dan menggapai ilmu pengetahuan tentang ke Esaan Allah, hakikat penciptaan Alam semesta serta menemukan rahasia yang ada di alam semesta. Bila kita melihat Negara- Negara maju sekarang seperti, Jerman, Inggris, Cina, Iran, Saudi Arabiah dll. kemajuan negara – negara tersebut karena sangat besarnya perhatian pemerintah untuk membina  dan mendidik para generasi bangsa untuk mencintai dan mendalami segala bidang ilmu pengetahuan. Seperti Cina misalnya, mengajarkan anak-anak bangsanya tentang bagaimana cara berdagang dan berbisnis secara professional.

Sehingga ekonomi dunia bisa di kuasai. begitupun dengan Negara jepang, dimana pemerintah selalu mendidik dan mengutamakan ilmu untuk menguasai tekhnologi yang canggih, seperti membuat pesawat olang Aling, pasawat perang, serta kendaraan yang modern. Bila kita bertanya pada diri kita masing – masing akankah kemajuan seperti Negara- Negara lain bisa kita raih dalam jangka waktu yang dekat.

Atau mampukah kita generasi islam bisa mengapai masa kegemilangan dan kecerahan seutuhnya yang dirasakan oleh masyarakat islam. Oleh karena demikian kami Keluarga besar FIMNY yang berada di Yogyakarta mengajak orang tua, Guru, mahasiswa, Aktifis dakwah serta tuan Guru untuk mengutakan ilmu pengetahuan, supaya dengan ilmu dan pengalaman yang di aplikasikan betul-betul membawa suatu perubahan yang berarti dalam kehidupan ini. Sehingga bisa menceta pemuda- pemuda baru yang mampu membawa dan mengarahkan masyarakat, bangsa dan Negara kearah yang lebih baik dan di Ridhoi Allah SWT.

* Buletin FIMNY Edisi Ramadhan Tahun 2012.

Filosofi Transformasi KIMJA Menjadi FIMNY



FIMNY.org - Perubahan nama organisasi Komunitas Intelektuanl Muda Ncera Yogyakarta {KIMJA} kearah Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta {FIMNY} berdasarkan hasil analisa yang mendalam dari makna huruf yang disepakati terutama KIMJA adalah huruf K= Komunitas, dengan tulisan JA=Jogja, yang mengandung arti segologan kelompok organisasi tertentu tanpa melibatkan semua kalangan muda Ncera.

Sedangkan Perubahan nama Oranisasi ke arah FIMNY bisa dipahami bersama dengan makna kata F= Forum dengan tulisan kata NY= Ncera Yogyakarta, yang mengandung arti yang lebih luas, sehingga kami semua keluarga Organisasi yang berjuang di Yogyakarta berkeinginan melibatkan semua pelajar-mahasiswa Ncera yang berjuang di berbagai daerah.

Berdasarkan kesepakatan bersama untuk menguatkan lagi sistem kerja organisasi menuju tujuan yang lebih jelas. segala bentuk perjuangan bersama betul – betul berwujud nyata sehingga memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan visi dan misi organisasi sekaligus memberikan arahan bagi perkembangan pelajar-Mahasiswa serta masyarakat menuju perubahan dan perbaikan untuk mensejahterakan masyarakat serta merealisasikan nilai-nilai ajaran islam serta menanamkan motifasi bagi generasi penerus bengsa dan Negara, melalui sumbangan ilmu dan pengalaman yang dimiliki.

Bentuk perjuangan kearah pencerahan merupakan dambaan semua kalangan mahasiswa dalam hal ini FIMNY berupaya menguatkan pondasi perjuangan untuk mencari dan menemukan jati diri yang Islami.

Merayakan Hari Kemenangan dengan Indah

FIMNY.org - Dua hal yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri, yakni maaf memaafkan (raho maaf ro kangampu angi) dan hiburan/liburan (lao ndiha). Keduanya menjadi tradisi yang melegakkan (karena dimaafkan) dan menghibur (karena suka cita).

Saat injakan kaki pertama kita keluar dari masjid terasa sangat plong (taroa ade), selain karena telah menyempurnakan puasa dengan shalat Id, juga karena pada dasarnya kita terbebas dari segala dosa dan noda. Hal ini terasa sempurna ketika sentuhan lembut tangan kita berpindah dari tangan ke tangan, sepanjang jalan pulang, bahkan dari rumah ke rumah, hanya untuk menggapai ridhonya dan saling memaafkan.

Rasa kekeluargaan dan persaudaraan pun terasa akrab. Sungguh, merupakan kebahagiaan terbesar dapat berkumpul kembali dengan karib kerabat dan sanak famili (lenga ro iwa), terutama bagi kita yang memiliki karib kerabat dan sanak famili yang selama ini merantau ke luar daerah dengan berbagai kepentingannya.

Memang benar kata pepatah : “Salah dan khilaf adalah milik manusia”. Karena itu, tak jarang suasana keakraban di hari yang fitri terkadang tercemar oleh tingkah dan ulah sebagian dari para pemuda dan remaja kita, atau mungkin kita sendiri. Seakan telah menjadi tradisi, pemuda desa Ncera atau pemuda desa tetangga sering berbuat onar dan menciptakan keributan (ncao ro ncaka), bahkan karena persoalan sepele. Akibatnya, hari yang fitri atau bahkan beberapa minggu setelah itu, menjadi hari-hari yang mencekam. Warga kita dan warga desa tetangga pun tidak dapat melakukan aktivitas dengan rasa aman.

Salahkah para pemuda kita? Memang tidak ada yang perlu disalahkan, terlebih di hari yang fitri ini. Yang perlu dan sangat mendesak untuk dilakukan adalah menyadarkan dan mengingatkan diri kita dan anak-anak kita agar sebisa mungkin menghindari keributan seperti ini. Tentu saja, dukungan semua pihak sangat diperlukan, baik para pemuda desa Ncera sendiri maupun pemuda desa tetangga. Dari anak-anak, orang tua, para tokoh masyarakat dan aparat desa.

Bagaimana pun, mencegah terjadinya keributan tersebut jauh lebih baik daripada mencari kambing hitam (ngupa mancara). Banyak cara yang dapat ditempuh. Misalnya, para pemuda melakukan koordinasi (kaboro weki dan kasabua eli) dengan pihak-pihak terkait seperti aparat desa dan polisi sebelum Idul Fitri tiba.

Pemuda sebagai ujung tombaknya (fu’una), aparat desa dan polisi sebagai mediasi. Sebagai ujung tombak, pemuda Ncera melakukan berbagai upaya, seperti membentuk satu tim pengamanan pada titik-titik tertentu, terutama pada titik rawan seperti di Bombo Ncera, dan dibantu aparat keamanan. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, langsung ditangani agar tidak menimbulkan kericuhan (ncao ro lewa) yang lebih besar. Warga yang sedang ndiha pun turut andil dan tetap waspada, dan melaporkan dengan cepat jika terjadi keributan. Dengan demikian, Insya Allah hari lebaran ini dihiasi “ndiha” yang indah.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 07 Spesial Idul Fitri/01-03 Oktober 2008.

Sudahkah Saya Menang di Hari yang Fitri Ini?

FIMNY.org - Ya...!! Hari ini memang hari kemenangan bagi kita semua umat muslim seluruh dunia. Hari dimana tingkat keimanan kita (Insya Allah) mencapai derajad taqwa. Hari yang ditunggu dan dinanti, dimana semua mata bersinar, semua telinga mendengar, semua mulut bersaksi, dan semua hati merasa bahwa hari ini adalah hari kejayaan.

Tapi, tunggu dulu! Sudahkah dalam benak kita bertanya “Menangkah Saya Hari Ini?”

Sederhana memang pertanyaan itu. Namun, untuk menjawabnya, tidak cukup dengan ucapan lisan, namun hanya dapat diraba oleh rasa dan kepekaan mata hati. Sungguh, kita sangat paham dan sadar bahwa hati kita sangat peka terhadap yang hak dan yang bathil. Dengan kepekaan tersebut, hati mampu secara nyata membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak. Namun, justru karena kepekaan itu pula, hati sangat gampang ternoda. Dan jika hati sudah ternoda, maka kita sangatlah sukar untuk membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Jika demikian, dapatkah kita menjawab “Ya! Hari ini adalah Hari Kemenanganku!”

Kemenangan di hari Fitri hanya dapat diraih dengan kemantapan iman kita selama menjalankan ramadhan. Kemantapan iman dapat ditaksir dengan rumus 4M. M pertama, Menjaga lisan dari ucapan yang tak senonoh dan dari membicarakan aib orang lain. Lisan senantiasa berzikir mengagungkan-Nya. M kedua, Menjaga mata dari pandangan yang seronok, dan menghiasi pandangan dengan melihat dan membaca ayat-ayat-Nya, baik di alam maupun yang tersurat dalam Al-Quran dan Hadist. M ketiga, Menjaga telinga dari pendengaran yang tak bermanfaat.

M terakhir, Menjaga hati dari perasaan iri dan dengki. Hati sepantasnya bersih dari nafsu-nafsu rendah dan mengarahkannya pada kebajikan dan amal shaleh. Bukankah Allah secara tegas mengatakan bahwa kita semua tidak mendapatkan apa-apa dari puasa kita selain lapar dan dahaga? Berkah ramadhan hanya didapat oleh mereka yang menjaga lisan, mata, telinga dan hati untuk mencapai ridho-Nya.

Mari kita coba menoleh ke belakang. Pertama, kita tak pernah sadar bahwa satu kata yang kita ucapkan tentang orang lain berarti bencana besar bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Bayangkan apa yang akan terjadi jika terangkai dalam satu kalimat, atau mungkin satu paragraf. Bahkan selama ini, kita sungguh terbiasa membicarakan orang lain hingga mulut kita berbusa. Kita tak pernah sadar, bahwa buih-buih busa yang keluar dari mulut kita akibat membicarakan orang lain tersebut akan menjadi buih-buih api neraka di akherat kelak.

Dengan menyadari ini, mari merubah sudut-sudut rumah kita (sancaka ro kancale), pemandian (temba ro oi kanco) dari yang dulu sebagai ajang unjuk kebolehan ngegosip (nuntu ka’iha dou) menjadi wadah untuk membicarakan dan merancang kebaikan-kebaikan untuk masa depan diri, keluarga, masyarakat dan terutama untuk kebaikan anak-anak kita.

Kedua, serangan tren globalisasi dalam wajahnya yang cantik seperti kecanggihan teknologi telah menyeret mata hati dan pemandangan kita kepada tayangan-tayangan yang seronok melalui media televisi (tivi), komputer dan jaringan internet, dan yang sedang trend dalam masyarakat saat ini adalah Hand Phone (HP). Waktu kita, dan anak-anak kita, habis terkuras untuk melihat tayangan di tivi, komputer, internet dan bahkan untuk sekedar telepon dan SMS. Kecanggihan teknologi sebenarnya bukan momok (laina ndi dahukai ro ndipaki), melainkan perlu dimanfaatkan secara wajar dan seperlunya (kapentipa ma penti).

Ketiga, kita sangat terbiasa mendengar kabar tentang sesuatu hal dan langsung menelan tanpa mencari tahu kebenarannya (ringa nggahi dou ma datantu poda). Ibaratnya api, kabar tersebut bisa menyebar membakar apa saya yang dilaluinya. Kabar yang kecil kemudian dibesar-besarkan sehingga menimbulkan banyak penafsiran (ncara ka’ao), dan akhirnya permusuhan dan kericuhan pun tak terhindarkan.

Keempat, jika ketiga hal tersebut sudah menjadi bagian dari diri kita, maka hati dan perasaan kita (ade ro loko) akan tercemar, yang akhirnya kita akan jauh dari ridho-Nya; kemenangan di hari ini pun tinggal angan-angan. Hari ini dan hari-hari yang akan kita lewatkan setelah ramadhan ini akan membuktikan apakah kita sudah mencapai tingkat ketakwaan yang diimpikan setiap muslim yang menjalankan puasa. Demikian sedikit pencerahan ini. Semoga hari ini milik kita, hari kemenangan bagi kita semua.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 07 Spesial Idul Fitri/01-03 Oktober 2008.

Mengapa Harus Mengaji (Membaca Al-Qur'an)?

FIMNY.org - Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Al Quran di meja makan di dapurnya.

Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, “Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al Qur'An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Al Qur'An?

Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, “Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.

Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, “Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup, maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!” “Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.

Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur'An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.” (www.sigitsetiawan.wordpress.com).

*Buletin KIMJA (FIMNY).

Allah SWT Juga Berpuasa

FIMNY.org - Dulu... Dulu sekali, masih sangat terngiang di benakku ketika ku sangat riang menikmati suasana pegunungan yang begitu asri, udaranya segar, dan anginnya bertiup sepoi-sepoi.

SWT memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh siapa pun dan makhluk apa pun. Ia jauh dari sifat-sifat yang menyerupai manusia, binatang, tumbuhan, atau bahkan benda mati mengagungkan-Nya. M kedua, Menjaga mata dari pandangan yang seronok, dan menghiasi pandangan dengan melihat dan membaca ayat-ayat-Nya, baik di alam maupun yang tersurat dalam Al-Quran dan Hadist. M ketiga, Menjaga telinga dari pendengaran yang tak bermanfaat.

M terakhir, Menjaga hati dari perasaan iri dan dengki. Hati sepantasnya bersih dari nafsu-nafsu rendah dan mengarahkannya pada kebajikan dan amal shaleh. Bukankah Allah secara tegas mengaatakan bahwa kita semua tidak mendapatkan apa-apa dari puasa kita selain lapar dan dahaga? Berkah ramadhan hanya didapat oleh mereka yang menjaga lisan, mata, telinga dan hati untuk mencapai ridho-Nya.

Mari kita coba menoleh ke belakang. Pertama, kita tak pernah sadar bahwa satu kata yang kita ucapkan tentang orang lain berarti bencana besar bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Bayangkan apa yang akan terjadi jika terangkai dalam satu kalimat, atau mungkin satu paragraf. Bahkan selama ini, kita sungguh terbiasa membicarakan orang lain hingga mulut kita berbusa. Kita tak pernah sadar, bahwa buih-buih busa yang keluar dari mulut kita akibat membicarakan orang lain tersebut akan menjadi buih-buih api neraka di akherat kelak.

Dengan menyadari ini, mari merubah sudut-sudut rumah kita (sancaka ro kancale), pemandian (temba ro oi kanco) dari yang dulu sebagai ajang unjuk kebolehan ngegosip (nuntu ka’iha dou) menjadi wadah untuk membicarakan dan merancang kebaikan-kebaikan untuk masa depan diri, keluarga, masyarakat dan terutama untuk kebaikan anak-anak kita.

Kedua, serangan tren globalisasi dalam wajahnya yang cantik seperti kecanggihan teknologi telah menyeret mata hati dan pemandangan kita kepada tayangan-tayangan yang seronok melalui media televisi (tivi), komputer dan jaringan internet, dan yang sedang trend dalam masyarakat saat ini adalah Hand Phone (HP).

Waktu kita, dan anak-anak kita, habis terkuras untuk melihat tayangan di tivi, komputer, internet dan bahkan untuk sekedar telepon dan SMS. Kecanggihan teknologi sebenarnya bukan momok (laina ndi dahukai ro ndipaki), melainkan perlu dimanfaatkan secara wajar dan seperlunya (kapentipa ma penti).

Ketiga, kita sangat terbiasa mendengar kabar tentang sesuatu hal dan langsung menelan tanpa mencari tahu kebenarannya (ringa nggahi dou ma datantu poda). Ibaratnya api, kabar tersebut bisa menyebar membakar apa saya yang dilaluinya. Kabar yang kecil kemudian dibesar-besarkan sehingga menimbulkan banyak penafsiran (ncara ka’ao), dan akhirnya permusuhan dan kericuhan pun tak terhindarkan.

Keempat, jika ketiga hal tersebut sudah menjadi bagian dari diri kita, maka hati dan perasaan kita (ade ro loko) akan tercemar, yang akhirnya kita akan jauh dari ridho-Nya; kemenangan di hari ini pun tinggal angan-angan. Hari ini dan hari-hari yang akan kita lewatkan setelah ramadhan ini akan membuktikan apakah kita sudah mencapai tingkat ketakwaan yang diimpikan setiap muslim yang menjalankan puasa. Demikian sedikit pencerahan ini. Semoga hari ini milik kita, hari kemenangan bagi kita semua.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 05/Thn I/Jum’at, 19-25 September 2008.

Ketahanan Keluarga

FIMNY.org - Era globalisasi saat ini lebih didominasi oleh globalisasi kekufuran,kemungkaran dan kemaksiatan. Dan pemikiran dan idiologi kufur dan sekuler gencar dipasarkan, pergaulan bebas dan pornografi semakin menjadi-jadi dan merajalela. Penjajahan budaya hedonisme dan budaya asing yang amoral melalui media elektronik maupun media cetak semakin gencar, sementara peredaran narkoba semakin meluas ke masyarakat desa. "Fitnah dan bencana segera datang bagaikan malam yang kelam.

Pagi-pagi orang itu mukmin, petang hari telah menjadi kafir. Petang hari dia mukmin, pagi harinya ia sudah berubah menjadi kafir." Gambaran dari hadist ini salah satunya sudah mulai terjadi. Sekarang kita seakan-akan begitu sulit untuk tetap istiqomah dengan nilai-nilai Islam yang luhur yang diridhoi Allah. Bencana kerusakan idiologi, mental dan budaya datang menyerang dari berbagai penjuru. Dan mereka bergegas melakukan kerusakan yang mendunia. Sementara di sisi lain secara umum dakwah islamiyah yang rahmatan lil 'alamin masih dengan sarana yang tradisional dan belum banyak berkembang.

Sikap Keluarga Muslim

Dalam kondisi seperti di atas maka mempertahankan diri dan keluarga dari berbagai pengaruh yang negatif yang akan mengancam akidah dan perilaku kita sebagai seorang muslim merupakan suatu keharusan. Yang harus segera kita lakukan adalah membekali diri dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak yang islami, membuat diri dan keluarga dapat menjadi istiqomah. Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. 66 : 6). Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa "Membentengi diri dan keluarga yang fektif adalah dengan proses pendidikan dan pembinaan.

Dengan pendidikan dan pembinaan Islami yang intgral dan benar, akan terbentuklah kepribadian yang kokoh. Sekaligus memiliki imunitas yang kuat dalam menangkal berbagai pengaruh dan rangsangan negatif dari luar. Namun pembentengan diri ini tidak cukup hanya dengan menghindar dan megisolasi diri dari berbagai ancaman eksternal.

Di dalam tafsir Ibnu Katsir (jilid 4, hal 34-42) disebutkan bahwa : "Imam Mujahid mengatakan bahwa membentengi diri dan keluarga adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketaqwaan, sehingga dengan nilai tersebut dapat mendorong manusia meningkatkan komitmen dan ketaatannya, dapat menghindarkannya dari berbagai kemungkaran/ kemaksiatan".

Ketahanan keluarga agar tetap komitmen dengan nilai-nilai Islam yang luhur, tidak terpengaruh dengan krisis moral dan frustasi sosial akan semakin efektif jika proses pendidikan dan pembinaan dalam membentuk keluarga Islami terus berjalan secara optimal dan berkesinambungan.

Pembentukan Keluarga Islami

Untuk mewujudkan keluarga Islami yang memiliki ketahanan dan imunitas yang tinggi dalam menghadapi krisis mora dan frustasi sosial maka keluarga hendaknya dapat melakukan minimal lima unsur berikut ini :

1. Keluarga Harus Dibangun Atas Dasar Taqwa

Keluarga muslim harus menjadi keluarga teladan bagi terbentuknya masyarakatIslami yang diridhoi Allah SWT. Oleh karena itu azas pembentukan keluarga sakinah (keluarga Islami) adalah ketaqwaan. Maka kesuksesan suami istri dalam pembentukan keluarga Islami tergantung pada ketaqwaan mereka kpd Allah SWT. Dengan adanya taqwa dari suami-istri, maka terwujudlah kebahagiaan mereka yang sebenarnya, karena dibalik ketaqwaan itu terdapat pengarahan dari Allah terhadap hamba-Nya.

Selain itu dengan ketaqwaan suami istri akan terciptalah saling percaya antara satu sama lain, sehingga masing-masing akan mendapatkanketenangan.Suami istri yang bertaqwa kepada Allah akan melihat pernikahan itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah,sehingga masing-masing dapat melaksanakan wajibannya dan memenuhi hak-hak anggota keluarganya.

Seperti itulah keluarga sakinah (keluarga Islami) yang penuh cinta dan asih sayang. Taqwa kepada Allah membuat suami istri dan seluruh anggota keluarga tunduk patuh pada Allah SWT. Kelak jika terjadi suatu permasalahan keluarga, mereka akan mudah menyelesaikannya, karena semuanya telah tunduk pada peraturan Allah dan Rasul-Nya.

Maka kebahagiaan keluarga dan ketahanannya dari frustasi sosial kembali pada ketaqwaan suami istri sejak awal pernikahan. Kebahagiaan itu ada di dalam jiwa yang bukan disebabkan oleh terlepasnya seseorang dari beban dan kesulitan hidup, bukan pula karena harta yang berlimpah, tetapi kebahagiaan yang diperoleh karena kepuasan hati yang dilanda sicinta karena Allah SWT.

2. Memilih Pasangan Yang Shaleh

Jika seseorang ingin menikah, hendaknya ia mencari pasangan yang shaleh hingga masing-masing dapat saling mencintai dan berupaya untuk membesarkan anak-anaknya di atas prinsip-prinsip ketaqwaan dan akhlaq yg mulia. Di dalam keluarga yang Islami, seluruh anggotanya akan merasakn kenyamanan, ketenangan, ketentraman&kecintaan.

Suasana tersebut dirasakan oleh seluruh nggota keluarga karena keluarga tersebut didirikan oleh suami istri yg shaleh yang sama-sama ingin mewujudkan pengamalan nilai-nilai Islam. Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada para wali calon istri hendaklah memilih suami yg memiliki agama dan akhlaq agar ia dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam membimbing keluarga, menunaikan hak istri, pendidikan anak, tanggung jawab yg besar dalam menjaga kehormatan dan menjamin material keluarga Beliau bersabda : Artinya : "Jika orang yang engkau ridhai agama dan kahlaknyamelamar kepadamu, maka nikahkanlah dengannya, Jika kamu tidak menerima (lamarannya) niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi". (HR. Tirmidzi).

Secara sunatullah, wanita shalehah adalh pasangan bagi pria yang shaleh dan sebaliknya. Sebagaimana Allah berfirman: Artinya : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yg keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula)." Karena itu setiap pribadi hendakya dapat mewujudkan kepribadian yg islami, sehingga Allah akan menjodohkannya dengan pasangan yg berkepribadian islami pula.

3. Memenuhi Hak dan Kewajiban Suami Istri

Jika masing-masing suami istri dapat menjalankan kewajibannya & memenuhi hak-hak pasangannya maka akan terciptalah keluarga sakinah yg penuh dgn ketentraman dan kebahagiaan. Hak-hak dan kewajiban suami istri ada tiga, yaitu :

a. Hak bersama suami istri, yaitu :
- Mengadakan hubungan kenikmatan seksual
- Berperilaku dengan sebaik-baiknya
- Mendapatkan warisan

b. Hak istri terhadap suami, yaitu :
- Bersifat materi : diberi mahar & nafkah
- Bersifat moral : dicintai, dihormati, diringankan pekerjaan rumahnya, dinasehati, diajak bermusyawarah, diperlakukan dgn adil, bijaksana dan sikap yang lembut.

c. Hak suami terhadap istri, yaitu :
- Ditaati perintahnya yang bukan bermaksiat kepada Allah
- Diberikan pelayanan
- Anak-anaknya diberikan pendidikan yang islami
- Dijaga harta dan amanahnya
- Dibantu dalam melakukan kebaikan dan ketaatan
- Kerabatya diperlakukan dengan sebaik-baiknya

4. Menjunjung Tinggi Nilai-nilai Islam

Setiap keluarga hendaknya menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Hal itu hendaknya dimulai dgn keteladanan kedua orang tua yg selalu komitmen thdp pengamalan nilai-nilai Islam. Keteladanan orang tua sangat diperlukan, sebab proses interaksi anak-anak dan orang tua sangat dekat dalam keluarga. Anak-anak dapat mengetahui kondisi ideal yang diharapkan.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 04/Thn I/Jumat, 04 - 10 Juli 2008.

Saling Menyayangi Antar Sesama (Meci Angi)

FIMNY.org - Akhir-akhir ake, meci angi hampir wati perna weata eda. Meci angi wa'ura ndadi barang langka, laimpoana 'dei kota-kota na'e ‘bunese Jakarta, bahkan wa'ura lu'u 'dei rasa-rasa to'i.

Samenana dou selalu horuna weki ro lenga, ro kalompo ndaina, wati peduli weki ro lenga, ro kampo ndaina ede ncara ato ncihina. Samenana lampa ro rawina nakandaliku 'ba kapentina weki ro kalompo ndaina.

Hal-hal mandake tahoku ‘bandi sara ro refu ‘ba samenana ndai, naloara taho dana ro rasa ndai. Sapoda kaina, ndaita wa'ura 'bade mena, raringata nggahi ro eli dou ma tua-tua, guru ro haji, 'dei sakola ro ‘dei rasa-dana ndaita, bahawa meci angi ra karawi 'ba nabi-nabi ro sahabat ntoina ederu meci angi dalam arti luas.

Makasuna, meci angi laina mpoa meci weki ro labo, lenga ro angi (kelompok sendiri), iwa ro londo (keluarga dan keturunan). Sapoda-poda kaina meci angide, meci sara'aku samenana manusia, ta'be ncau edakai angi, natahopa dou lai dana ro rasa, natahopa lai agama ro nenti, natahopa lai suku ro negara.

Ro ndairauta tawa’uru ringa nggahi ro eli douma tua ro taho, douma alim ro ulama, bahwa samenana weki ndai ntau kewajiban ndima meci rau samenana jenis makluk (mamori), natahopa haju ro binatang, natahopa dana ro rasa (alam) ndingge’ekai ndai ake.

Samenana ndaita, nawa’uru ngoa ‘ba Ndai Ruma bahawa ndaita watiloata dahu salaina ‘dei Ndai Ruma. Dahu ‘dei Ndai Ruma berarti termasuk dahukaiku musu angi la’o randawi-Na. Samenana ra ndawi Ndai Ruma saisi alam ake, wara maksu ro tujua-Na. ‘Basupu ndedena, mecikai samenana randawi Ndai Ruma ederu kewajiban samenana weki ndai.

Nambui japo kawara ‘ba ndaita, bahawa ‘dei ade kanda’di kalai-laikai (bermacam-macam suku, ras dan agama) ‘ba Ndai Ruma samenana manusia ede wara makasuna, naloara meci mena kai angina. Dasamana rasa ro dana, agama ro nenti ndaita manusia loaku wehakai hikma, bahawa sapodakai ndedena ede, naloaru kama’ana ‘ba manusia bahawa Ruma napodaku Na’e ro Naru-Na (Maha Besar).

Nawa’ura warisi ‘ba samenana nabi ro rasul ‘dei samenana ndai, ra nggahi ro eli Ndai Ruma (Qur’an) ro ranggahi ro kalampa ‘ba samenana nabi ro rasul (hadis nabi). ‘Basupu ndedena, maira samenana ndai nenti kacia, kalampa ro karawi au-auru rapehe ‘dei Karo’a, ro au-auru ratunti ‘dei hadis. Sapoda kaina Karo’a ro Hadis ede ‘bandi makarombona lampa ro lao ndai ‘dei dunia ro ahera.

‘Basupu pentina meci angi ‘dei samenana manusia ra kaukai ‘ba Ndai Ruma ede, maira samenana ndai wa’a ro ouku lengaro iwa (keluarga), ro dou mamboto (masyarakat), ‘bandima karawi ro kalampana samenana rakau kai, ro katula samenana rakanta ‘ba Ndai Ruma. Ngoa ro tei, wa’a ro ou ede ‘bandi bukutikai meci angi ndaita, naloara lu’u sama-sama sara’a ndaita dei saroga rasadia ‘ba Ndai Ruma ndiru’u ‘ba cou-cou ma imbi Ndai Ruma Allah Ta’ala.

Sandake wa’upa ndiloa ngoaba mada. Samoga ndaita salalu mecita angi. Amin!

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 03/Thn I/Jumat, 27 Juni-03 Juli 2008.

Mendidik Anak Ala Aa Gym

FIMNY.org - Setidaknya ada tiga akhlak mulia yang harus diajarkan pada anak, yakni rumus 3A : Aku Aman Bagimu, Aku Menyenangkan Bagimu, dan Aku Bermanfaat Bagimu.

Pertama, Aku Aman Bagimu. Anak harus dilatih agar tidak merugikan orang lain. Sehebat apapun seorang anak, kalau kehadirannya selalu merugikan orang lain, maka kehebatan tersebut tidak ada artinya. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang Muslim yang baik adalah yang orang lain aman dari gangguan lisan dan tangannya".Karena itu, penyakit hati yang terangkum ke dalam kata TENGIL (Takabur, Egois, Norak, Galak, Iri Dengki, Licik), harus benar-benar dijauhi.

Kalau anak sudah terkena penyakit TENGIL, maka ia berpotensi menjadi manusia "berbahaya". Untuk menerapkan prinsip Aku Aman Bagimu, orangtua harus memulainya dengan menjadikan dirinya aman bagi anak-anak. Ciri berhasilnya orangtua menerapkan A yang pertama ini adalah saat anak mau curhat. Kalau anak tertutup atau tidak mau curhat, maka ada masalah dengan orangtuanya. Hal ini berpotensi melahirkan komunikasi yang tidak sehat di keluarga.

Setelah itu, pendidikan bisa dilanjutkan ke tahap kedua, yaitu Aku Menyenangkan Bagimu. Anak harus dilatih agar keberadaannya menyebabkan orang-orang di sekitarnya merasa tenang dengan nyaman. Rumus yang bisa diterapkan dengan tahap kedua ini adalah 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Bimbing anak-anak kita menjadi orang yang murah senyum, royal memberi salam, gemar menyapa, sopan dan santun dalam bergaul.

A yang ketiga adalah Aku Bermanfaat Bagimu. Anak harus diarahkan agar di mana ia ada, maka orang-orang di sekitarnya merasakan manfaat keberadaannya. Jadi, anak harus diarahkan agar ia mampu mencurahkan segala potensi yang dimilikinya untuk memberi manfaat bagi orang lain. Usahakan agar anak selalu berpikir bagaimana ia mampu memberi manfaat dan memberi manfaat. Kalau ia pintar, maka ia bisa memintarkan teman-temannya. Kalau ia kaya, maka kekayaannya tersebut bisa menjadi sarana membantu orang yang kesusahan.

Nah, kalau pikiran seseorang sudah diisi dengan keinginan untuk memberi manfaat bagi orang lain, maka ia sudah sukses menapaki tahap ketiga dalam pendidikan. Tidak mudah memang untuk sampai pada tingkatan seperti ini. Setidaknya ada lima tahapan yang harus dilalui. Tahap pertama adalah senang memperhatikan orang lain. "Ma, kasian ya anak itu...".

Bila anak sudah senang memperhatikan orang lain, maka tanda-tanda kesuksesan sudah tampak di depannya. Tahap kedua adalah senang menghargai orang lain. Sedikit apapun kebaikan yang diberikan orang, si anak harus diajarkan untuk mengucapkan berterima kasih. Tahap ketiga adalah senang memberi, tidak pelit, dan gemar berbagi dengan teman-temannya. Tahap keempat adalah senang memberdayakan orang lain. Dan tahap kelima adalah adalah senang menyukseskan orang lain. Ibaratnya, tahap ketiga baru sebatas memberi ikan, tahap keempat (memberdayakan) adalah melatih agar terampil mencari ikan.

Pada tahap kelima (menyukseskan) berupaya menjadikan ia pengusaha ikan. Inilah puncak kemandirian. Namun, saya jarang berpikir tentang kelakukan anak. Yang pertama kali dipikirkan adalah kelakuan ibu bapaknya. Karena itu, mendidik anak harus diawali dengan mendidik diri. Prinsip 3A sangat sulit dilakukan anak kalau orangtuanya TENGIL. Jadi, karunia Allah untuk mendidik anak harus dimulai dengan mendidik diri. Wallahu a'lam bish-shawab.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 03/Thn I/Jumat, 27 Juni-03 Juli 2008.

Pemuda Ncera Matu'u Rasa ro Dana

FIMNY.org - Untuk mencapai suatu kemajuan, hal utama yang diperlukan adalah pelaku kemajuan itu sendiri. Seperti halnya dalam sebuah organisasi, untuk mencapai kemajuan diperlukan para pelaku organisasi yang memiliki motivasi untuk itu. Begitu pun halnya di desa Ncera, dengan pelaku kemajuannya tiada lain adalah pemuda desa Ncera.

Pemuda desa terdiri dari : (1) pelajar (siswa SMP-SMA, terutama yang sekolah di dalam atau sekitar desa, atau pelajar yang setiap saat bisa kembali ke desa), (2) mahasiswa (baik yang studi di daerah maupun di luar daerah), (3) tamatan SMA yang belum memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi (tidak kuliah), terutama tamatan SMA yang masih berada di desa, (4) lulusan perguruan tinggi yang bekerja dan kembali ke desa atau sekitar desa, (5) pemuda/pemudi yang tidak/belum sekolah/kuliah dan masih berada di desa.

Berdasarkan pengelompokan di atas, dalam kasus desa Ncera, kelompok pertama adalah siswa/siswi SMP-SMA yang sekolah di Desa Ncera, Ngali, Cenggu, Tente, Raba Kodo, dan Kota Bima (Ari Mbojo). Kelompok kedua adalah mahasiswa yang kuliah di Padolo (Kampus II STKIP Kab. Bima), Kota Bima (Ari Mbojo), Mataram, Makassar, Jogja, Jakarta dll. Kelompok ketiga adalah tamatan SMA yang setiap hari hidup di desa maupun yang merantau ke luar desa untuk mencari pengalaman atau kerja (merantau ke Tente, Kota Bima (Ari Mbojo), Dompu, Sumbawa, Mataram, Makasar, Jakarta dll).

Kelompok keempat adalah tamatan perguruan tinggi (nggori kuliah) dari Padolo (Kampus II STKIP Kab. Bima), Kota Bima (Ari Mbojo), Mataram, Makassar, Jogja, Jakarta dll. Kelompok keempat ini biasanya kembali ke desa untuk bekerja, baik sebagai pengajar di SD, SMP dan SMA di desa Ncera, di desa lain dan di Kota Bima (Ari Mbojo), maupun bekerja di kabupaten lain atau bahkan di Mataram, namun setiap saat masih bisa pulang ke desa.

Sedang kelompok kelima adalah anak-anak putus sekolah, baik yang belum sempat tamat SD, SMP, SMA maupun tidak/belum mengenyam pendidikan sama sekali (watira sakola kou), baik karena keterbatasan ekonomi (darere), pengaruh lingkungan (pangaru rasa/dana/ pangaru lenga rewo) maupun karena ketidak-mauan (wati ngawa) dari anak/orang tua.

Pemuda desa memiliki potensi sebagai penggerak perubahan dan kemajuan. Hanya saja, kekurangan sarana dan prasarana di desa menjadi penghalang. Meski demikian, pengha-lang tersebut tidak mesti dijadikan alasan karena jika ingin maju, perubahan dan kemajuan pasti bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Di antara cara tersebut adalah mendorong kemajuan dengan segala potensi dan sarana-prasarana yang ada, terutama potensi ilmu (raloa), pengetahuan (rabae’ade), dan pengalaman (rakarawi) pada masing-masing kelompok tersebut. Potensi ini sangat tangguh mengatasi berbagai keterbelakangan dan kemunduran (darere, sampula-sampake, daloa baca ro tunti, dll).

Dengan potensi tersebut, pemuda dapat melakukan berbagai cara, antara lain pendidikan dan pengajaran (ngoa ro tei) baik dalam hal ilmu dan pengetahuan umum (ilmu sakola) maupun ilmu agama Islam, pelatihan dan keterampilan tentang pertanian (nggu’da ro congge/ntadi ro ntedi) yang baik, perikanan, pembuatan barang-barang kebutuhan rumah tangga, penanganan hasil panen, antisipasi dan penanganan bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi dll.

Ada banyak media yang dapat dilakukan, baik secara langsung terjun ke desa, maupun melalui media cetak seperti halnya buletin ini.

Terkait penanganan hasil panen, pemuda bertanggung jawab mengajarkan petani untuk dapat mengolah hasil panen seperti padi, bawang, cabe dll untuk menghindari kerugian karena harga murah (ma’bu co’i).

Langkah pertama yang dilakukan adalah mendirikan kelompok tani yang bertugas dan bertanggung jawab terutama pada perolehan hasil panen yang maksimal (mamboto ro mataho) dan penanganan hasil panen. Hasil panen seperti padi/beras, bawang, cabe dll jangan sampai keluar dari desa Ncera dengan harga murah. Caranya, semua hasil panen tersebut diolah sendiri oleh kelompok tani.

Bawang (’bawa ro ncuna) dan cabe dapat diolah menjadi bumbu dapur dan dipasarkan (landa) dalam keadaan siap pake dengan taksiran harga yang pantas, baik di Kota Bima maupun di Dompu, Sumbawa, Lombok/ Mataram, Bali bahkan ke pulau Jawa. Di pulau Jawa, bumbu dapur dari bawang (’bawa ro ncuna) sangat mahal karena sangat dibutuh-kan untuk konsumsi rumah tangga, rmh makan, restoran bahkan hotel berbintang. Olahan tersebut dapat dipasarkan (landa) di pasar2 tradisional maupun modern (supermarket, mall).

Selain mengolahnya, hasil panen yang murah dapat digudangkan (wi’i) dengan cara kelompok tani atau aparat desa membeli semua hasil panen warga dan kemudian disimpan dan dijual pada saat harganya meroket (nggali). Untuk mendapatkan modal usaha tersebut, dapat diusulkan ke Kabupaten atau Propinsi, tentu saja dengan beberapa persyaratan.

Persyaratannya adalah membentuk kelompok tani, telah mengembangkan usaha secara mandiri minimal setahun, membuat dan mengajukan proposal. Proposal yang diajukan harus benar-benar mampu meyakinkan pihak pemberi modal (pemerintah/swasta), baik terkait keutungannya bagi masyarakat desa maupun bagi pemberi modal. Proposal juga disertai dengan bukti-bukti yang kuat. Insya Allah, terutama pemerintah, akan mengabulkan-nya, karena memang pemerintah menyediakan modal (piti) khusus untuk kelompok tani.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 02/Thn I/Jumat, 20-26 Juni 2008.

Hutan Sumber Kehidupan bagi Manusia

FIMNY.org - Banyak hal yang dapat kita pelajari dari yang sudah-sudah, baik yang sudah kita sadari kesalahannya mau pun yang belum. Misalnya saja kebiasaan kita sehari-hari, baik yang berhubungan dengan sesama manusia, hewan, tumbuhan mau pun dengan alam kita secara keseluruhan.

Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa menebang pohon milik sendiri maupun pohon di hutan sebagai hal yang wajar. Terkadang kita tak menyadari bahwa hal itu akan membahayakan diri kita, keluarga, sawah/ladang, bahkan rumah kita sendiri. Akibatnya, di musim kering kita tak bisa lagi menyiram tanaman bahkan untuk kebutuhan harian akan semakin sulit karena kekurangan air.

Di musim hujan banjir melanda di mana-mana sehingga sawah dan ladang kita terbawa banjir, bahkan rumah tinggal kita pun menjadi sasarannya. Hal ini tentu sangat menyulitkan diri kita sendiri karena tiap hari kita butuh makan dan minum dari hasil tanaman kita sendiri, dari kemurahan alam.

Untuk itu, mari kita sama-sama menyadarkan diri kita masing-masing. Satu pohon yang kita tebang bisa saja menyebabkan seluruh kampung tidak mampu memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan akan air maupun kebutuhan akan pangan (makan). Tumbuhan dan hutan keseluruhan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, karena itu sangat tidak mungkin kita bisa hidup tanpanya.

Hutan yang membentang luas di sekeliling desa kita ini adalah mutiara berharga bagi kelangsungan hidup kita, pertanian, sawah ladang, binatang piaraan dan semua jenis makhluk hidup. Maka, sangat naif jika kita mengabaikan kelestariannya baik dengan tingkah dan ulah kita yang senonoh maupun dengan membiarkan orang lain merusaknya, menebangnya, membakarnya dll.

Mari memulainya dari diri kita sendiri, keluarga kita, tetangga kita dan semua orang yang merasa dan mengaku menjadi bagian dari desa ini, bahwa hutan dengan keanekaragaman di dalamnya juga butuh hidup. Allah SWT sudah begitu baik menganugerahkan dan mempercayakannya kepada kita. Tugas kita adalah menjaga kepercayaan itu sebelum alam punya pilihan sendiri, melenyapkan semua yang ada, melenyapkan semua kehidupan, melenyapkan semua yang tersisa, untuk menyadarkan bahwa kita salah dalam bertindak, bahwa kita salah memperlakukan hutan kita.

Selama ini, kebiasaan membuka hutan (ngoho) memang telah menjadi rutinitas warga kita tiap memasuki musim hujan. Secara sadar atau tidak, kebiasaan tersebut telah memenjara diri kita. Di satu sisi, warga melakukannya untuk memperoleh hasil panen (padi) yang melimpah. Di sisi lain, kita tak bisa mengelak dampaknya yang justru jauh lebih membahayakan:banjir melanda di musim hujan dan kekurangan air di musim kering. Kenyataan ini menunjukkan bahwa alam punya cara sendiri dlm menjawab keserakahan kita.

Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa menebang pohon milik sendiri maupun pohon di hutan sebagai hal yang wajar. Terkadang kita tak menyadari bahwa hal itu akan membahayakan diri kita, keluarga, sawah/ladang, bahkan rumah kita sendiri. Akibatnya, di musim kering kita tak bisa lagi menyiram tanaman bahkan untuk kebutuhan harian akan semakin sulit karena kekurangan air.

Di musim hujan banjir melanda di mana-mana sehingga sawah dan ladang kita terbawa banjir, bahkan rumah tinggal kita pun menjadi sasarannya. Hal ini tentu sangat menyulitkan diri kita sendiri karena tiap hari kita butuh makan dan minum dari hasil tanaman kita sendiri, dari kemurahan alam.

Untuk itu, mari kita sama-sama menyadarkan diri kita masing-masing. Satu pohon yang kita tebang bisa saja menyebabkan seluruh kampung tidak mampu memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan akan air maupun kebutuhan akan pangan (makan). Tumbuhan dan hutan keseluruhan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, karena itu sangat tidak mungkin kita bisa hidup tanpanya.

Hutan yang membentang luas di sekeliling desa kita ini adalah mutiara berharga bagi kelangsungan hidup kita, pertanian, sawah ladang, binatang piaraan dan semua jenis makhluk hidup. Maka, sangat naif jika kita mengabaikan kelestariannya baik dengan tingkah dan ulah kita yang senonoh maupun dengan membiarkan orang lain merusaknya, menebangnya, membakarnya dll.

Mari memulainya dari diri kita sendiri, keluarga kita, tetangga kita dan semua orang yang merasa dan mengaku menjadi bagian dari desa ini, bahwa hutan dengan keanekaragaman di dalamnya juga butuh hidup. Allah SWT sudah begitu baik menganugerahkan dan mempercayakannya kepada kita. Tugas kita adalah menjaga kepercayaan itu sebelum alam punya pilihan sendiri, melenyapkan semua yang ada, melenyapkan semua kehidupan, melenyapkan semua yang tersisa, untuk menyadarkan bahwa kita salah dalam bertindak, bahwa kita salah memperlakukan hutan kita.

Selama ini, kebiasaan membuka hutan (ngoho) memang telah menjadi rutinitas warga kita tiap memasuki musim hujan. Secara sadar atau tidak, kebiasaan tersebut telah memenjara diri kita. Di satu sisi, warga melakukannya untuk memperoleh hasil panen (padi) yang melimpah. Di sisi lain, kita tak bisa mengelak dampaknya yang justru jauh lebih membahayakan:banjir melanda di musim hujan dan kekurangan air di musim kering. Kenyataan ini menunjukkan bahwa alam punya cara sendiri dlm menjawab keserakahan kita.

Dihadapkan pada hal tersebut, yang dapat kita lakukan adalah kembali kepada sawah dan ladang kita masing2 yang memang sudah ada dan tersedia tanpa mengganggu kehidupan hutan. Sawah dan ladang kita cukup mampu memenuhi semua kebutuhan hidup kita dengan syarat kita harus berusaha mempelajari dan memahami bagaimana seharusnya sawah dan ladang kita perlakukan.

Jangan pernah menganggap sawah dan ladang adalah benda mati. Perlakukan ia sebagaimana kita perlakukan diri kita dan makhluk hidup. Artinya, tinggalkan kesalahan2 kita dalam mengolah/menggarap sawah dan ladang kita, baik dalam hal pengolahan tanah, pemakaian zat penyubur yang tidak tepat seperti pupuk dan pestisida, sampai kepada pemanfaatan hasil panen.

Pengolahan sawah yang baik adalah pengolahan yang mengutamakan kesuburan, yang berarti juga meninggalkan hal-hal yang mengganggu kesuburan tanah.

Memaksimalkan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, melakukan pengolahan yang baik sebelum masa tanam. Kedua, melakukan perawatan tanah dan tanaman selama masa tanam. Ketiga, melakukan penanganan tanah pasca panen. Hal pertama dilakukan dengan cara pembajakan dan penggarapan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kedua dengan jalan melakukan perawatan yang wajar dan tepat, baik terhadap tanaman maupun tanah. Selama ini, warga kita lebih peduli pada perolehan hasil panen yang melimpah dan mengabaikan perawatan tanah selama masa tanam.

Semua perhatian tertuju pada kesuburan tanaman dan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, termasuk pemanfaatan pupuk dan pestisida secara tidak tepat dan berlebihan. Menjaga kesuburan tanah selama masa tanam sangat penting selain mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, juga dapat menjamin tersedianya unsur hara yang dibutuhkan tanaman pada musim tanam berikutnya.

Ketiga, perawatan tanah pasca panen hampir tidak pernah kita lakukan. Perawatan tanah pasca panen penting untuk memulihkan kembali kondisi tanah, karena bisa saja selama masa tanam unsur hara sudah terserap habis. Sebelum memasuki masa tanam berikutnya, tanah memerlukan jedah waktu selama 1 - 3 minggu untuk pemulihan. Karena itu, segera memasuki masa tanam dengan jedah waktu yang kurang menyebabkan hasil panen berikutnya tidak maksimal.

Alternatif yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesuburan tanah dan tamanan sebelum, selama, dan pasca panen adalah beralih menggunakan pupuk dan pestisida alami. Pupuk dapat diganti dengan kotoran burung dan hewan ternak, sedang pestisida diganti dengan tanaman-tanaman pembasmi hama yang biasa kita peroleh di hutan.

Pupuk alami selain murah, juga secara alami mampu menjaga dan memulihkan unsur hara tanah yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan bermanfaat bagi segala jenis tanaman yang kita tanam. Memang, untuk mendapatkan pupuk alami yang baik memerlukan keahlian tertentu terutama dalam pengolahan kotoran hewan. Namun, jika terbiasa, Insya Allah semua akan menjadi gampang. Keterbatasan tempat jualah yang tidak memungkinkan kami menjelaskan bagaimana cara mengolah pupuk alami pada kesempatan ini. Lain kesempatan, Insya Allah kami akan menghadirkan tema tersebut.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 01/Thn I/Jumat, 13-19 Juni 2008.