KEPMA Bima-Yogyakarta: Terimakasih Warga Jogja atas Kontribusinya untuk Korban Gempa Lombok

Suasana mahasiswa saat turun di jalan area Yogyakarta meminta sumbangan untuk korban Gempa Lombok NTB. 
Yogyakarta, FIMNY.or.id – Gerakan Peduli Bencana Gempa Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mengalir. Berbagai kalangan melalui beragam cara menggalang dana bantuan untuk korban bencana gempa Lombok yang terjadi beberapa waktu lalu.

Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta mengadakan kegiatan Penggalangan dana dengan beberapa cara salah satunya dengan turun kejalan/lampu merah, meminta solidaritas dari seluruh elemen masyarakat Yogyakarta yang tengah berlalu lintas di sore hari, selain itu KEPMA Bima-Yogyakarta juga membangun posko tanggap bencana gempa Lombok di Asrama Bima Yogyakarta  Jalan Gondosuli GK IV No 155 Kota Yogyakarta. Selain membuka posko di Yogyakarta, KEPMA Bima-Yogyakarta juga membuka posko di Lombok NTB.

Kegiatan penggalangan dana ini berlangsung dari taggal 6-11 Agustus 2018 dan Allhamdulillah dapat mengumpulkan dana bantuan berupa uang tunai sebesar RP. 105.051.600, selain uang tunai ada juga yang menyumbang berupa pakain-pakain bekas layak pakai seperti baju, celana, selimut dan sarung. Dari dana yang tersebutkan di atas, digunakan untuk pengadaan barang bantuan berupa beras 3 Ton 250 KG, air mineral, mie instan, susu, roti kering, sabun mandi, sabun cuci, obat-obatan, kebutuhan bayi, selimut, perlengkapan ibadah seperti sajadan, sarung, Al-Qur’an dan buku iqro. Barang bantuan ini di salurkan secara bertahap di di beberapa titik yang ada di lombok utara dan Lombok Barat.   

 Ketua posko Tanggap Bencana KEPMA Bima-Yogyakarta, Ismail, S.H. mewakili seluruh masyarakat lombok dan keluarga besar KEPMA Bima Yogyakarta  menyampaikan terimakasi kepada seluruh elemen masyarakat Yogyakarta yang telah membantu meringankan beban seluru warga masyarakat Lombok NTB. “Terimakasih yang tak terhingga pada seluruh warga Jogja yang telah rela menyisihkan rezekinya untuk membantu keluarga kita semua di Lombok NTB. Selain itu, kami mengajak seluruh masyarakat Jogja untuk bahu membahu menanggapi semua bencana yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” beber Ismail, 24/09/2018 di Yogyakarta.

 Lebih jauh, Ismail mengatakan, peristiwa yang menimpa warga NTB adalah peristiwa yang sudah ditakdirkan tuhan. Jadi, kata Ismail, kejadian tersebut tidak ada yang mampu mengelak. “Peristiwa di NTB sudah menjadi takdir, kita hanya bisa mendoakan seluruh korban, semoga seluruh korban tabah menghadapinya. Selanjutnya, tugas kita sebagai warga negara Indonesia adalah sama-sama membantu mereka agar bisa bangkit kembali, dan melanjutkan aktifitasnya seperti sedia kala,” ucap Ismail.

Sebuah Cita-Cita seorang Cak Imin?

Saat masih kecil, di bangku sekolah dasar, depan kelas pasti sering ditanyain guru-guru kita, "Apa cita-cita mu?", jawabannya pasti beragam. Ada yang bercita-cita sebagai guru, polisi, menteri, dosen, dan tidak jarang banyak juga yang bercita-cita sebagai presiden/wakil presiden. Apakah seorang yang masih bocah dipandang wajar bercita-cita setinggi langit? Mayoritas pasti bilang itu suatu kewajaran, walaupun secara nalar, sekilas kita bisa bilang, "masa seorang bocah bercita-cita setinggi langit. Apa bisa ia capai?" Namun secara akal sehat pula, sebuah cita-cita tidak ada yang tidak mungkin bila kita bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Apakah kita tidak menyadari, awal mula para Presiden Republik Indonesia seperti Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), SBY, dan lain-lainnya juga pada masa kecilnya pernah melewati masa-masa sebagai seorang bocah. Bahkan sebagian dari mereka, di masa kecilnya mungkin tidak bercita-cita sebagai presiden.

Pada prinsipnya, siapa pun manusia berhak bercita-cita setinggi langit. Apalagi cita-cita itu adalah sebuah cita-cita yang baik, cita-cita yang mulia, yakni ingin memimpin negara. Kita kontekskan dengan kondisi dewasa ini. Sebagai contoh, ada seorang insan, bisa dibilang tokon nasional (setidak-tidaknya menurut orang-orang yang mengakui ketokohannya, karena pada prinsipnya seberapa besar pun prestasi yang dilakukan, dimata orang yang tidak suka bukanlah apa-apa), Dr. (HC) Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si. namanya, yang biasa dikenal luas dengan sebutan Cak Imin. Cak Imin sudah malang melintang di jabatan mentereng nasional. Pernah Eksekutif yakni jadi salahsatu Menteri pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jabatan di Legislatif, saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Kondisi yang terjadi, banyak dibicarakan secara nasional, bahkan banyak pemberitaan yang kita saksikan, baik di media lokal serta media nasional (media cetak maupun media online) tentang keinginan Cak Imin tampil di bursa Calon Wakil Presiden (Capres) tahun 2019. Kondisi yang paling penting secara politis adalah seorang Cak Imin kini sedang menjabat sebagai ketua umum salahsatu partai politik, apalagi partai politik tersebut didirikan oleh para ulama, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selain itu, Cak Imin juga sudah terlatih sebagai pemimpin sejak kecil.

Keinginan Cak Imin akan jadi Cawapres tidak jarang yang nyinyir, bahkan tidak jarang juga yang bilang Cak Imin maju cuman dengan modal dengkul. Para penyinyirnya mungkin tidak sadar, bahwa Cak Imin punya modal politik yang sangat besar untuk itu. Cak Imin punya masa riil sebagai pendukungnya, selain ia bisa kerahkan mesin partainya dari dewan pimpinan pusat sampai tingkat ranting, ia juga punya massa riil warga Nahdlatul Ulama (NU). Karena disadari atau tidak perjuangan yang dilakukan NU dan perjuangan yang dilakukan PKB adalah sama. Sebagai pembedanya hanyalah PKB ditugaskan dalam ranah politik praktisnya.

Terkait Cak Imin, bahkan belum lama ini salahsatu tokoh Muhammadiyyah yakni Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengakui akan kehebatan dan peluang seorang tokoh bernama Cak Imin. Dahnil memandang bahwasannya seorang Cak Imin lebih pantas maju sebagai calon presiden (Capres) ketimbang menjadi calon wakil presiden (Cawapres). Dahnil memandang, Joko Widodo akan merugi bila tidak memilih seorang Cak Imin sebagai wakilnya pada kontestasi 2019 mendatang, bisa-bisa Jokowi game over alias hancur. Pandangan seorang Dahnil bukan tanpa dasar, karena unsur-unsur untuk itu melekat erat dan ada pada Cak Imin.

Keinganan Cak Imin sama halnya seperti keinginan-keinginan tokoh lain yang juga berkeinginan maju sebagai Capres/Cawapres, seperti Prabowo dengan kendaraan Gerindra-nya, Presiden Joko Widowo yang ingin maju lagi dua periode. Itu semua sah-sah saja, karena ikhtiar baik perlu kita dorong bersama. Siapa pun orangnya berhak mencalonkan diri sebagai presiden asalkan punya kapasitas untuk itu. Karena pada prinsipnya manusia di ciptakan dimuka bumi ini untuk menjadi seorang pemimpin. Seperti halnya sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, yang artinya:

Dari Abdullah, ia berkata: Nabi saw. bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. ....... Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Sahih al-Bukhori: 4789). Hadits tersebut mengisyaratkan bahwasannya siapa pun di muka bumi ini, lebih sempitnya siapa pun di Negara Indonesia ini berhak menjadi pemimpin --mencalonkan diri jadi Capres/Cawapres--, tidak terkecuali seorang Cak Imin.

Walaupun demikian, kita sebagai manusia (rakyat Indonesia), tidak bisa menjamin siapa yang akan memimpin Indonesia satu periode kedepan, seperti halnya  Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah: 247, yang artinya:

"Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah Kami, Padahal Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui." (QS. al-Baqarah: 247).

Dari ayat diatas mengisyaratkan bahwasannya Allah SWT pasti akan menetapkan seseorang pemimpin (raja) yang terbaik dari yang baik, siapa yang dititahkan oleh Allah sebagai raja/pemimpin (kita kontekskan dengan Indonesia, presiden), maka itulah yang terbaik dan yang akan terpilih jadi presiden dan wakil presiden 2019 mendatang. Untuk menggapai cita-cita, sebagai manusia kita hanya berupaya sekuat tenaga untuk menggapainya. Ending akhirnya, seberapa besar pun upaya yang kita lakukan untuk itu, tetap atas seizin Allah yang menjadi akhir dari apa yang menjadi hasil dari pencapaian tersebut. Karena sesungguhnya sang pencipta alam semesta maha mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.


Penulis: M. Jamil, S.H.
Mahasiswa Pascasarjana Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada