Pelatihan Pemuda Pelopor, Radikalisme dan Ustadz Instan

Suasana usai Pelatihan Pemuda Pelopor.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Fenomena keagamaan yang terjadi di bangsa kita akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Sebab di era milenial dewasa ini, semua orang dengan kemudahan akses tekhnologi yang begitu canggih. Siapapun mudah mengakses informasi dari internet. Baik itu informasi tentang berita, belajar agama, kumpulan ceramah agama pun dengan mudah kita dapatkan.

Dalam momentum acara Pelatihan Pemuda Pelopor yang diselenggarakan secara nasional oleh Dewan Koordinasi Nasional Gerakan Kebangkitan Santri (Gerbang Santri) dengan menggandeng Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (KEMENPORA RI) mengangkat tema "Membangun Kepemimpinan dan Patriotisme Pemuda dalam Menangkal Radikalisme".

Acara ini di gelar secara nasional hampir  seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Acara yang sama juga diselenggarakan di Masjid Rodhatul Huda, Celeban, Umbulharjo, Kota Yogyakarta pada tanggal 11 Desember 2017, jam 19.30 - selesai.

Panitia lokal dalam acara ini adalah Persatuan Remaja Masjid Jogjakarta (PRMJ), menggandeng Takmir Masjid Roudhatul Huda Celeban dan Remaja Masjidnya.

Dari Pelatihan Pemuda Pelopor ini ada hal yang menarik yang Penulis tangkap dari pemarapan pemateri tentang radikalisme. Radikalisme ini selalu menyasar rata-rata di kalangan anak muda untuk di rekrutnya. Karena pemuda dipandang strategis untuk memasifkan paham tersebut, dan biasanya hal semacam ini hanya terjadi di kota-kota.

Koordinator Nasional Densus 26 Nahdlatul Ulama Umaruddin Masdar yang tampil sebagai salahsatu pemateri dalam acara ini menyampaikan banyak hal yang berkaitan dengan radikalisme dan hal-hal penting lainnya. Dibawah ini akan coba Penulis uraikan ulang yang disampaikan kang Umar (sapaan akrab Umaruddin Masdar), sebagai berikut.

 Pertama, mereka (orang-orang) yang langsung belajar Al-Quran dan hadits dengan terjemahannya tanpa mempelajari tentang ilmu yang lainnya seperti ilmu hadits dan harus ada bimbingan dari guru yang jelas untuk menjelaskan tentang Qur'an dan hadits tersebut, supaya pemahaman kita terhadap teks tidak dangkal dalam menangkap makna-makna yang terkandung di dalamnya.

Kedua, belajar agama secara instan akan membuat sesorang atau kelompok itu mudah menghalal dan mengharamkan sesuatu, mudah mengkafirkan, mencaci dan membenci yang lainnya. Ini di ibaratkan seperti sebuah pernikahan kalau hanya sekedar bertemu di medsos atau baru (belum lama kenalnya), kebanyakan akan cepat berpisah pula. Sebab segala sesuatu yang instan itu efeknya lebih berbahaya. Seperti halnya mie instan ketika kita makan terlalu banyak aka membuat kita sakit.

Ketiga, dalam memahami agama tidak cukup dengan terjemahankannya tanpa kita mempelajari bahasa arab dan tata makna bahasa arab lainnya. Kita akan mempunyai pemahaman yang dangkal dan tidak bisa menunjukkan bahwa islam itu adalah agama yang damai, agama yang suci dan mampu merangkul semua manusia. Bukan kah di mata Tuhan yang membedakan manusia adalah takwa dan tidaknya. Ini ketika kita melihat yang terjadi dewasa ini, seperti halnya jauh panggang dari api.

Ulama-ulama besar dulu, kalau belajar agama bertahun-tahun, dan langsung di bimbing oleh kyai-nya. Nah, berbeda kondisinya dengan sekarang, dewasa ini orang dengan mudahnya mendapatkan gelar ustadz dan bisa memberikan ceramah kepada jamaah, padahal dia belajar dimana? Berguru sama siapa? Kok tiba-tiba jadi ustadz dadakan bermodalkan peci dan sorban cukup untuk menjadi ustadz.

Apa yang digambarkan diatas, tidak jarang terjadi pada dewasa ini, adanya caci maki dan ujaran kebencian. Sebagai muslim, seharusnya tidak demikian, seharusnya kita terus menyuarakan kedamaian dan keteduhan dalam bertutur kata. Sikap demikian, mungkin akibat kedangkalan berpikirnya. Sehingga tidak paham apa agama Islam yang seutuhnya. Seharusnya dalam berdakwah kita harus mampu memberikan kesejukan dan kedamaian kepada siapa pun, termasuk yang bukan agama Islam. Padahal kalau kita melihat kembali bagaimana cara berdakwah Rasulullah SAW yang begitu luar biasa, jangan kan sesama muslim, non muslim pun akan dia do'a kan yang baik. Seperti yang di uraikan oleh ustadz Usman, dalam sebuah kisahnya Rasulullah SAW ketika berdakwah sering di jahili oleh Abu Lahab dan suruhannya, terkadang di ludahi dan dicerca berbagaimacam penghinaan lainnya, tapi tindakan Rasulullah malah mendoakan yang baik-baik untuk Abu Lahab.  Rasulullah menganggap, biar pun Abu Lahab tidak mau masuk Islam, setidaknya ada anak cucunya nanti yang masuk Islam. Pada akhirnya, ketika Abu Lahab meninggal dunia, ada anaknya yang ahli perawi hadits. Begitu mulianya cara berdakwah Rasulullah.

Sebagai seorang muslim yang baik, kita harus mensyukuri nikmat Tuhan yang telah menganugerahkan Negeri Indonesia tercinta ini dengan semua kekayaan alam dan juga manusianya. Mari kita cintai sepenuh hati bangsa dan Negara ini, kita tebarkan kedamaian yang hakiki.

Adanya kegiatan Pelatihan Pemuda Pelopor ini juga disambut baik oleh Ketua Umum Persatuan Remaja Masjid Jogjakarta (PRMJ) M. Jamil, S.H., ia mengatakan adanya kegiatan ini bisa menjadi salahsatu benteng pemuda biar tidak gampang terpengaruh oleh paham-paham radikalisme.

"Acara ini sangat baik kita sambut untuk remaja masjid dan pemuda, karena di usia muda sangan rawan dimasuki beragam pemahaman, sebelum terjangkiti paham radikal, perlu pemurnian pemaknaan dalam memahami Islam, agar pemuda tidak memaknai islam secara sempit. Karena sejatinya Islam adalah rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Sebagai pemuda, mari kita jaga bersama kemurnian kita dalam memaknai Islam, dan juga kita jaga bersama bangsa dan negara ini dari penyebaran paham radikalisme," ucap M. Jamil yang juga sebagai Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Kota Yogyakarta.

Kegiatan tersebut, selain dihadiri 50 peserta, turut dihadiri juga oleh Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solikhul Hadi, Ketua Pengurus Cabang LESBUMI NU Kota Yogyakarta Ricco Survival Yubaidi, Ketua Remaja Masjid Celeban M. Tholib, Wartawan Senior Rochmad, dan Pengurus Cabang Fatayat NU Kota Yogyakarta Saniyatun.


Penulis: Hairul Rizal, S.H.
Pengurus LKBH Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta / Salahsatu Peserta Pelatihan Pemuda Pelopor

Legenda Dae La Minga akan Tampil dalam Acara Selendang Sutera 2017, Yuk Saksikan!

Yogyakarta, FIMNY.or.id -- Selendang Sutera merupakan sebuah acara pertunjukan beragam kesenian Budaya dari berbagai daerah mulai dari sabang sampai merauke salah satunya di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya Bima. Acara ini di persembahkan oleh Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia (IKPMDI) Yogyakarta. Dalam Acara ini, Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa NTB mempertunjukan salah satu cerita Rakyat yaitu tentang Legenda Dae La Minga yang akan di tampilkan pada (12/11/2017) besok di XT Square mulai jam 20.00 WIB.

“Besok IKPM NTB akan menampilkan sebuah drama ataupun Tari dari daerah Bima, yang dimana pentas ini merupakan salah satu kontribusi mahasiswa Bima pada wilayah tradisi dan kebudayaan. Walaupun pentas ini untuk memenuhi undangan dinas kebudayaan DIY lewat IKPMDI Yogyakarta, dan IKPMDI Yogyakarta mengkomunikasikan dengan IKPM dari berbagai dari 34 provinsi. IKPM NTB yang diwakili oleh KEPMA Bima-Yogyakarta. Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu ini Menampilkan tarian Legenda Dae La Minga yang di mana dalam cerita Dae La Minga ini di dalamnya terdapat tarian-tarian juga antara lain Tari wura bongi monca (Tarian Selamat Datang), Tari Dae La Minga dan Mpa’a Gantao (Silat Bima). Dengan adanya acara ini semoga kedepannya acara ini bisa di laksanakan oleh kita sendiri tentunya dengan dukungan dari semua elemen masyarakat, terutama pemerintah daerah Bima dan NTB maupun oleh para pemuda-pemuda yang peduli dengan tradisi dan Budayanya.” kata Agus Salim selaku Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta/IKPM NTB.     

Adapun sekilas Cerita tentang Legenda Dae Laminga ini yaitu di sebuah desa terdapat sebuah kerajaan bernama kerajaan Sanggar yang di pimpin oleh Ruma Sangaji, dan Ruma Sangaji mempunyai seorang anak gadis yang sangat cantik jelita bernama Dae La minga. Disuatu hari kesultanan sanggar menyelenggarakan sebuah pesta yang di hadiri oleh seluruh warga sanggar dan tamu-tamu kerajaan. Adapun dua tamu kerajaan atau pangeran kerajaan  yang hadir pada pesta itu antara lain pangeran-pengeran dari kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora. Dari kedua Pangeran kerajaan ini ingin mempersuntik Dae Minga dan mereka pun berselisih, melihat suasanya seperti itu Dae la Minga memilih untuk mengasingkan diri ke moti la Halo, sebelum di asingkan ke moti la Halo, Dae Minga melakukan tarian perpisahan bersama dayang-dayangnya, sehabis tarian itu Dae Minga mininggalkan sumpah. Adapun inti dari sumpah itu, Al Imanuddin menyebutkan, “Wahai seluruh warga sanggar, biarlah aku yang mengalami nasib seperti ini jangan lagi kalian, pesona dan kecantikan akan ku bawa semua, jika hanya untuk mengundang kerusuhan buanglah saya ke moti la Halo.” kata Al Imanuddin sekalu koordinator cerita legenda Dae La Minga saat memperagakan ulang kisah tersebut.

Mari kita sama-sama dukung pelestarian kebudayaan dan kesenian daerah di seluruh nusantara, salahsatu caranya dengan ikut meriahkan, datang menonton dan memberikan semangat, yuk besok kita rame-rame bergegas menonton pertunjukannya.


Penulis: Siti Hawa
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemudi asal Bima NTB.